Pergilah Mas

Pergilah Mas
Bab 11


__ADS_3

Pagi ini Siti, Ari dan pak Ali sudah siap untuk memulai tugas mereka membuat rumah makan. Ari sudah menelepon temannya Rian untuk datang ke rumahnya pagi ini untuk membicarakan tentang pembangunan rumah makan. Dan pak Ali sudah mendapatkan beberapa orang yang bekerja sebagai tukang bangunan untuk membantu membuatkan rumah makan yang di rekomendasikan oleh pak Mahmud.


Dan ibu Samsiah di tugaskan untuk mencari beberapa orang untuk bekerja sebagai karyawan nanti. Ibu Samsiah sudah mendapatkan tiga orang anak gadis tetangganya yang akan membantu Siti, dan tiga orang laki-laki yang masih lajang untuk membantu Siti juga. Ibu Samsiah tidak asal pilih, dia memilih mereka yang benar-benar ingin bekerja dan jujur. Mereka yang di pilih rata-rata ekonominya menengah ke bawah karena mereka yang memiliki ekonomi menengah ke atas tidak mau, katanya malu jika harus bekerja di rumah makan. Padahal kalau di pikir-pikir pekerjaan apapun asalkan halal dan tidak merepotkan orang lain apa salahnya dari pada menganggur di rumah.


Tidak lama setelah itu terdengar suara orang yang mengetuk pintu.


"Biar aku aja yang buka, mungkin itu Rian" jawab Ari dan berjalan untuk membukakan pintu.


"Assalamualaikum bro, apa kabar?" Tanya Rian kepada Ari.


"Waalaikumsalam , kabar baik sekarang masuk dulu, sudah di tungguin sama mbak Siti dan bapak di dalam"


Mereka pun masuk ke dalam rumah, di ruang keluarga sudah ada pak Ali, Siti, ibu Samsiah dan juga Hanan yang sedang menonton tv.


Rian langsung menghampiri pak Ali dan juga ibu Samsiah dan langsung mencium punggung tangan mereka.


"Sudah lama kamu tidak main ke sini Rian. Apa kabar kamu sekarang? apa masih sendiri atau sudah berdua?" tanya pak Ali kepada Rian yang di tanggapi dengan tawa oleh mereka.


"Alhamdulillah kabar saya baik pak. Saya sekarang masih sendiri belum berdua, makanya jarang ke sini karena saya sibuk nyari istri di lampu merah pak" jawab Rian yang pada akhirnya menimbulkan gelak tawa lagi.


Rian adalah teman Ari mereka bertemu saat menuntut ilmu di perguruan tinggi, rumah Rian pun hanya berbeda komplek dengan rumah orang tua Siti. Rian sudah memiliki usaha sendiri yaitu menjadi juragan karena di memliki beberapa usaha seperti sayur-sayuran dan buah-buahan yang jumlah berhektar-hektar, namun Rian tidak pernah sombong dengan apa yang dia miliki, dia selalu membantu setiap orang yang kesusahan bahkan kadang mereka meminjam uang pun dia beri.


Rian tinggal sendiri di rumah pemberian orang tuanya, karena jika bukan dia yang menempatinya maka siapa lagi, adik dan kakak perempuannya sudah menikah dan mereka ikut suaminya pergi ke kota lain.

__ADS_1


"Oh ya Rian, mbak mau minta tolong sama kamu tolong bantu mbak untuk membuat sketsa gambar rumah makan yang akan mbak bangun, kamu mau kan membantu mbak?"


"Saya mau mbak, tapi saya bukan arsitek yang seperti di tv-tv mbak, saya hanya arsitek abal-abal" jawab Rian.


"Ternyata kamu bisa merendah juga ya, terserah aja pokoknya mau arsitek yang abal-abal atau apalah namanya, yang jelas mbak percaya sama kamu."


"Baik lah mbak, jika mbak percaya sama saya, saya akan berusaha membuat sketsa rumah makan mbak sebagus dan semenarik mungkin" ucap Rian dengan yakin.


Oh ya Rian kira-kira berapa yang haru mbak bayar untuk menggunakan jasa mu ini, bukan maksud mbak.. kamu tahu sendiri lah maksud mbak apa"


"Saya tahu maksud ucapan mbak tadi, seikhlas mbak saja saya tidak pernah mematokkan harga, saya senang jika ada orang yang mau menggunakan jasa saya, berarti masih ada orang yang mau percaya dengan kemampuan saya, dan saya pun bisa menyalurkan hobi saya, mbak"


"Baik lah, kalau begitu mbak minta tolong sama kamu untuk membuat posisi untuk taman bermain anak-anak dan juga kolam ikan, di tambah lagi panggung mini agar siapa saja yang mau menjadi penyanyi dadakan kita persilahkan. Dan satu lagi, kamar untuk karyawannya tolong buat senyaman mungkin ya, dan kamar mandi umum pria dan wanitanya juga harus nyaman ya."


"Bagus itu, bapak setuju sama ide kamu Rian, kita harus membuat orang-orang betah di rumah makan nantinya" jawab pak Ali.


"Gimana bagusnya kamu aja Rian, mbak ikut aja, mbak tau kamu akan membuat yang terbaik untuk rumah makan yang akan mbak kelola nantinya"


"Baiklah mbak, kalau begitu saya pulang dulu, saya akan langsung memulai pekerjaan saya. Mbak tunggu aja sekitar dua atau tiga hari lagi InsyAllah nanti jika sudah siap saya akan mengabari mbak secepatnya. kalau begitu saya pamit undur diri dulu assalamualaikum" Ucap Rian sembari menyalami mereka yang ada di sana.


"Satu tugas sudah selesai, sekarang kita masuk kepada tugas berikutnya, aku dan bapak akan mencari tempat di mana orang-orang yang menjual bambu hitam untuk rumah makan nantinya" Ucap Ari yang langsung di jawab oke oleh pak Ali menggunakan jempol tangannya.


"Ibuk juga sudah mendapatkan orang yang akan membantu Siti di sana, dan mereka masih lajang-lajang semua" jawab ibu Samsiah.

__ADS_1


"Kita harus membuat rumah makan ini maju dan nyaman untuk semua orang, tanpa membedakan status mereka" ujar pak Ali lagi.


"Oh ya mbak, kita nantinya memang membuka rumah makan tapi, nanti mbak bisa menjual apa saja, bahkan makanan dan minumannya yang kekinian pun tidak masalah, kita akan membuat rumah makan merangkap menjadi kafe gimana?"


"Mbak sih setuju-setuju aja asalkan nanti kamu mau membantu mbak untuk mengurusinya bersama gimana?"


"Kalau itu gak perlu mbak tanyakan lagi, sudah pasti aku akan membantu mbak, kita akan membuatnya maju bersama-sama" jawab Ari dengan penuh semangat.


Mereka sekarang sedang sibuk dengan pikiran masing-masing. Jika pak Ali memikirkan di mana dia harus mencari tempat penjualan bambu hitam maka berbeda dengan Ari dia memikirkan bagaimana cara menarik perhatian orang-orang agar mau berkunjung ke rumah makan mereka nantinya. Siti dan ibu Samsiah sama-sama memikirkan apa saja menu makanan dan minuman yang mereka jual dan harganya, mereka berpikir agar semua orang bisa membelinya dengan harga yang terjangkau.


Tiba-tiba saja pikiran mereka ambyar saat mendengar suara orang yang sedang buang gas..


preeettt... preeett... preeett...


kira-kira begitulah bunyinya. hehehe...


Semua orang menoleh ke sumber suara, dan pelakunya adalah Hanan yang sedang menonton tv sambil makan gorengan ubi jalar.


Semua orang pun tertawa, sementara Hanan hanya nyengir saja karena malu.


...****************...


...Mohon untuk terus dukung karya author amati ini ya, jangan bosan-bosan untuk terus mampir ya......

__ADS_1


__ADS_2