Pergilah Mas

Pergilah Mas
Bab 27


__ADS_3

Arya dan Hanan akhirnya pergi dari pantai mencari taman ataupun wahana bermain yang ada di dekatnya.


Tempat yang yang di cari pun akhirnya ketemu, sebuah taman yang ada banyak wahana bermain anak-anak dan juga banyak pedagang yang menggunakan gerobak sebagai tempat berjualan. Tidak terlalu ramai orang yang ada di taman ini, mungkin karena mereka lebih bermain di pantai dan hal inilah yang membuat Hanan merasa nyaman karena tidak terlalu sesak seperti yang di pantai.


Dan di sini tersedia berbagai macam makanan, di tambah lagi sekarang anak-anak libur sekolah jadi para pedagang memilih taman sebagai tempat berjualan karena mereka tahu akan ada banyak orang ke sini.


Saat Arya dan Hanan bermain perosotan, Hanan tiba tiba saja berlari menuju pedang lukisan khusus untuk anak-anak yang ingin belajar menggambar ataupun mewarnai.


Arya tahu jika Hanan sangat menyukai segala hal yang berbau tentang lukisan, bahkan ketika masih bersama Siti dulu Arya selalu menyediakan peralatan untuk melukis dan mewarnai, itu di lakukan karena ingin agar Hanan bisa mengasah bakatnya tanpa merasa di perintah dan dia melakukannya dengan senang hati.


Saat Arya menemani Hanan melukis tiba-tiba saja datang seorang pengamen.


Pengamen ini adalah waria, di lihat dari postur tubuhnya Arya yakin jika waria ini umurnya masih lah muda.


Sang waria mulai bernyanyi dengan nada cemprengnya.


Aku tak mau


Kalau aku di madu


Pulang kan saja


Ke rumah orang tua ku


Tereng... Tereng...


Sang waria terus saja bernyanyi dan berjoget, Arya yang melihatnya hanya diam dan tersenyum dia membiarkan saja apa yang di lakukan oleh waria tersebut. Bukan karena Arya merasa tidak terganggu tapi karena Arya tau jika sang waria sedang mencari rezekinya dengan cara bernyanyi di dekat orang-orang yang ada di taman.


Terkadang banyak di antar mereka mendapat perlakuan kurang mengenakan yang tidak seharusnya kita lakukan kepada mereka.


Setelah bernyanyi sang waria menengadahkan telapak tangan kanannya kepada Arya.


Arya memberikan beberapa lembar uang lima puluh ribuan. Arya memberikannya bukan karena dia sombong ingin di lihat oleh orang yang ada di sekitarnya. Arya memberikannya karena dia selalu menanamkan jika memberi tidak akan membuat kita rugi.

__ADS_1


Sang waria yang melihat banyaknya uang yang di berikan oleh Arya mengembalikannya lagi. Baginya ini terlalu banyak, biasanya mereka mendapat uang dengan pecahan dua ribu rupiah dan terkadang lima ribu ataupun sepuluh ribu rupiah.


Dan yang Arya berikan saat ini begitu banyak sehingga dia tidak berani untuk menerimanya.


Arya meminta sang waria menerima pemberiannya. Siapa yang tidak merasa senang karena mendapat uang yang begitu banyak dan hal itu membuat sang waria menangis sesenggukan.


Arya kemudian menepuk pundak sang waria memintanya untuk berhenti menangis dan mencium tangannya.


Sang waria akhirnya tersadar dari tangisannya dan menghapus jejak air mata yang tersisa di pipinya.


"Terima kasih banyak mas"


"Sama-sama. Sekarang kamu ambil saja unang ini karena ini adalah rejeki dari Allah yang di titipkan kepada saya untuk memberikannya kepadamu. Sekarang ayo kita makan dulu" Arya pun mengajak sang waria mengikutinya menuju pedagang bakso yang tidak jauh dari tempat mereka


Sementara Hanan memilih untuk tetap melakukan pekerjaannya mewarnai dan menggambar, dia tidak mau ikut Arya makan bakso.


Arya pun meninggalkan Hanan dan menitipkannya kepada penjual lukisan, bukan karena ingin menyia-nyiakan Hanan, tapi Arya melakukannya karena dia masih bisa melihat Hanan. Sebab tempat penjual bakso tidak lah jauh.


Saat sampai di tempat pedagang bakso Arya pun langsung memesan dua porsi bakso. Setelah baksonya siap mereka pun langsung memakannya.


"Nama saya Diki mas. Kalau mas sendiri namanya siapa?"


"Nama saya Arya. Maaf kalau boleh tau apa kamu sudah lama melakukan pekerjaan ini?"


"Tidak apa apa mas. Saya melakukan pekerjaan ini baru dua bulan mas. Itu pun saya lakukan karena saya sudah ke sana ke sini mencari pekerjaan dan tidak ada yang mau menerima saya. Apalagi saya tidak punya ijazah, tapi saya dan adik saya harus tetap makan"


"Kalau boleh tau orang tuamu kemana?"


"Bapak sudah meninggal satu tahun yang lalu mas, akibat kecelakaan. Sedangkan ibu lebih memilih pergi bersama pacar barunya dan meninggalkan kami di rumah yang sudah hampir roboh karena, rumah lama yang kami tinggali saat bapak masih hidup sudah di jual oleh ibu dan tidak memberikannya sedikitpun kepada kami"


Arya dapat melihat ada begitu banyak luka yang telah di lalui oleh Diki sang waria.


"Apa kamu mau bekerja yang lebih baik dari pekerjaan mu sekarang ini?"

__ADS_1


"Mau mas. Tapi pekerjaannya apa mas, soalnya saya tidak punya ijazah mas. Saya takut mas"


"Kamu tenang saja, kamu tidak perlu memikirkan ijazah karena tempatnya tidak memerlukan ijazah"


"Memangnya pekerjaan apa itu mas? Pekerjaannya halalkan mas?"


"Pekerjaannya halal, saya ingin kamu menjadi lebih baik dari sekarang. Kamu akan bekerja sebagai karyawan di restoran saya. Yang saya perlukan adalah ketekunan dan juga kejujuran kamu dalam bekerja. Bagaimana apa kamu mau?"


"Mau mas, memangnya restoran mas namanya apa?"


"Hanan food. Kamu bisa datang ke sana besok pagi dan nanti akan ada yang namanya Anton yang akan mengajarkan semuanya kepadamu. Dan say ingin kamu berdandan seperti kodrat kamu yang sesungguhnya, bisa?"


"Baiklah mas besok saya akan ke sana, dan saya akan memakai pakaian terbaik saya. Sebenarnya saya juga merasa risih berdandan sepeti ini mas, tapi mau bagaimana lagi saya harus mencari makan untuk saya dan adik saya"


"Baiklah saya tunggu besok. Bang bungkus baksonya dua ya"


Arya meminta sang pedagang bakso untuk membungkus bakso lagi. Setelah di bungkus Abang pedagang bakso memberikannya kepada Arya.


"Sekarang kamu bawalah bakso ini pulang. Kamu harus istirahat karena besok kamu akan menyambut hari yang baru."


"Baik mas, terima kasih karena sudah mau membantu saya."


Arya pun menganggukkan kepalanya. Setelah itu Diki pamit pergi untuk pulang ke rumah menemui adiknya yang berada di rumah.


Arya pun membayar baksonya, setelah itu menemui Hanan.


Arya melihat apa yang Hanan lukiskan sungguh membuatnya menitikkan air mata. Di mana di dalam lukisan tersebut dua orang dewasa laki laki dan perempuan memegang tangan seorang anak kecil yang sedang tertawa.


Arya merasa bersalah karena dia yang sudah memisahkan anaknya dari dirinya. Arya juga merasa bersalah karena anak sekecil Hanan di minta untuk mengerti akan keadaan orang tuanya yang sudah berpisah.


Seperti yang di katakan oleh orang orang, apa yang sudah di takdirkan untuk kita, tidak akan pernah di takdirkan untuk orang lain. Begitu juga dengan rezeki, jika itu memang untuk kita orang lain tidak akan bisa mengambilnya.


Rejeki sudah tertakar dan tak tak akan tertukar.

__ADS_1


Mohon untuk dukungan ya🥰🥰🥰


__ADS_2