Pergilah Mas

Pergilah Mas
Bab 26


__ADS_3

Malam harinya Ari datang ke rumah makan, memang beberapa hari ini Ari agak sering terlambat datang ke rumah makan karena dia sibuk menekuni pekerjaannya yang sebagai relawan untuk mengunjungi panti-panti bersama teman-temannya.


"Hai mbak ku yang cantik, apa kabar?"


"Baik, oh ya ada mau mbak tanyakan sama kamu"


"Memangnya mbak sayang ku ini mau bertanya tentang hal apa?" Ari mengucapkannya sambil mencolek dagu Siti. Siti langsung menepis tangan adiknya yang sering kali mencolek hidungnya.


"Kamu duduk dulu, kan di dalam ada bapak yang menunggu kasir jika ada orang yang ingin membayar"


Siti mengajak Ari untuk duduk di dekat kolam ikan.


Akhirnya mereka berdua duduk di dekat kolam ikan.


"Ari, siapa sebenarnya Rian?"


"Tumben mbak nanya tentang Rian ada apa nih?"


"Tadi siang mbak ngobrol bersama Rian dia bilang jika dia suka sama mbak. Lucu Kan bercandanya teman kamu itu"


"Mungkin mbak menganggap jika Rian hanya bercanda tapi itu adalah hal yang sebenarnya. Rian sudah lama menyukai mbak"


"Dari mana kamu tahu jika dia suka sama mbak? Dan juga mbak itu gak cocok sama dia"


"Gak cocok kenapa?"


"Ari kamu tau kan jika mbak ini hanyalah seorang janda dan juga usia mbak lebih tua dari Rian, kamu dan Rian seumuran jarak umur kita saja terpaut sekitar 5 tahun lebih, dan itu Artinya Rian lebih cocok ketimbang menjadi suami mbak, ya kan"


"Mbak umur itu hanyalah angka, banyak wanita yang memiliki pasangan yang usianya lebih muda tapi itu bukanlah masalah utamanya mbak. Asalkan mbak mau membuka hati dan menerimanya maka semua itu tidak perlu lagi di pikirkan"


"Kamu benar jika umur bukan lah masalah utama, tapi di tempat kita hal itu tentulah masih awam, dan orang-orang akan berbicara yang tidak-tidak tentang mbak dan juga Rian nantinya"


"Mbak, jika hati mbak sudah menerima makan omongan orang lain tidak perlu di pikirkan lagi. Terus selain umur hal apa lagi yang membuat mbak tidak mau menerima Rian?"


"Mbak juga bilang karena dia kere tapi itu hanya gurau aja"

__ADS_1


"Hah, mbak bilang jika Rian itu kere. Ck ck ck mbak mbak seandainya mbak tau Rian itu siapa mungkin mbak akan berpikir lagi untuk mengatakan dia kere"


"Memangnya di itu siapa? Yang mbak tau dia itu hanyalah teman kamu."


"Mbak Rian itu duitnya banyak, dia itu di sebut juragan sayur dan buah di tempat tinggalnya dan juga Rian itu seorang Arsitek walaupun waktu itu dia bilang hanya Arsitek abal-abal dan itu bukanlah hal yang sebenarnya. Terus tadi mbak bilang apa lagi"


"Mbak juga jika mbak itu matre dan dia gak akan sanggup memenuhi kebutuhan mbak"


"Mbak ini belum begitu kenal sudah bilang orang kere aja. Aku rasa jika mbak menikah sama Rian hidup mbak akan terjamin"


"Rian juga bilang begitu sama mbak tadi, bahkan buat villa mewah untuk mbak saja dia mampu katanya"


"Ya mampu lah mbak, orang dia banyak duitnya. Tapi meskipun Rian itu orang kaya tapi dia selalu sederhana orangnya"


"Kamu kayaknya setuju jika mbak menikah sama Rian"


"Ya setuju lah mbak, kan aku kenal siapa Rian. Memangnya mbak mau menjadi janda selamanya atau jangan-jangan mbak belum bisa melupakan mas Arya"


"Entah lah mbak bingung dengan perasaan mbak sendiri. Jujur mbak belum bisa melupakan mas Arya sepenuhnya, mas Arya itu orangnya baik dan dia kemarin di jebak oleh Lilis"


"Kemaren ada orang yang menelepon mbak, dan orang itu adalah orang tuanya Lilis. Mereka minta maaf kepada mbak dan mereka juga mengatakan kalau Lilis yang sudah menjebak Arya. Hal ini membuat mbak merasa di lema, mbak gak tau harus bagaimana"


"Tanyakan sama hati mbak, jika mbak masih menyayangi mas Arya apa salahnya kalian berdua kembali bersama di tambah lagi kalian sudah punya anak"


"Tapi bagaimana dengan bapak?"


"Aku rasa bapak pasti setuju, kan ini hidup mbak jadi ya terserah mbak"


Siti sungguh merasa di lema dia tidak tau harus memilih siapa, apa dia harus menerima Rian atau kembali kepada Arya, Siti juga tahu jika Arya masih ingin tetap bersamanya.


Ari yang melihat kakaknya melamun beranjak pergi meninggalkan tempat duduk mereka, Ari akan membiarkan mbaknya untuk berpikir menentukan jalan hidupnya tanpa campur tangan dari orang lain.


Ari tau jika kita memaksakan orang lain untuk melakukan hal apa yang kita suka sementara orang tersebut tidak menyukainya maka hal buruk tentu akan terjadi.


Ari dan orang tuanya menyerahkan semua ini kepada Siti sepenuhnya. Siti sudah dewasa dalam menentukan jalan hidupnya dan dia sendiri juga yang akan menjalaninya.

__ADS_1


****************


Di sisi lain Lilis sedang bekerja di klub malam tempatnya yang biasa.


Lilis sudah berhenti bekerja si kafe setelah memikirkan ucapan Riko tempo waktu lalu yang mintanya untuk berhenti sehingga bisa punya banyak waktu bersama Zia.


"Kenapa lagi kamu Lis? Kok lesu begitu"


"Aku sebenarnya udah capek kerja Rik, tapi kalau gak kerja aku gak bisa makan. Andai saja aku menjadi orang kaya tentunya aku tidak akan capek-capek seperti ini banting tulang untuk mendapatkan sesuap nasi"


Lilis menghembuskan nafasnya dengan berat .


"Kamu dulu dapat suami kaya tapi gunakan kepercayaannya dengan cara yang salah"


Riko memang sudah mengetahui apa yang terjadi kepada Lilis karena Lilis sendiri lah yang mengatakan semuanya.


"Dulu itu aku khilaf" ucap Lilis berusaha membela diri.


"Kamu itu bukannya khilaf tapi, emang dasarnya kamu aja yang bodoh. Mudah di bohongin orang"


Lilis mencebikkan bibirnya ketika Riko menyebutnya bodoh.


"Ya kan, kamu itu bodoh, suami sudah kaya, baik tapi malah di sia-siakan kepercayaannya. Masih mending Arya tidak memukul dan melaporkan mu ke kantor polisi."


Lilis bertambah kesal saja mendengar ucapan Riko.


"Anggap saja sekarang semua yang telah kamu lalui menjadi pelajaran untuk dirimu. Agar jika punya suami lagi nanti kamu tidak melakukan hal bodoh lagi."


"Iya iya" Lilis menjawab dengan malas.


Riko menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah laku Lilis selalu seperti ini jika di kasih tau dan Riko tidak terlalu ambil pusing akan hal itu karena Lilis bukan lah istrinya jadi tidak perlu terlalu repot-repot untuk memikirkannya terserah dia mau melakukan apa yang penting sebagai teman sudah mengingatkannya begitulah pikir Riko.


Lilis sepertinya belum insaf kira-kira hal apa yang bisa membuat Lilis insaf ya...


Mohon untuk dukungannya🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2