
Setelah berdebat dengan Arya di restoran akhirnya Lilis kembali ke rumah tetapi sebelum itu dia menjemput Zia di rumah ibunya dan langsung membawanya pulang kembali.
Lilis masih memikirkan bagaimana caranya agar dia bisa menguasai harta milik Arya.
Aha, Lilis mendapat ide jika dia akan menelepon Siti dan meminta Siti mengembalikan sawah dan juga rumah kontrakan yang sekarang sepenuhnya menjadi milik Siti.
Tut.. Tut.. Tut..
Lilis mulai menelepon Siti. Siti yang mendengar hp-nya berdering langsung menghentikan pekerjaannya yang sedang menulis menu apa saja yang akan ia jual nanti. Siti sebenarnya malas untuk mengangkat panggilan dari Lilis, namun jika tidak di angkat mungkin saja ada hal penting yang ingin dia sampaikan.
"Halo Lis, ada apa kamu menelepon ku?"
"Siti aku minta kamu menyerahkan kontrakan dan juga sawah yang kamu ambil dari mas Arya"
Siti tertawa mendengar permintaan Lilis.
"Hahaha Lilis Lilis, kamu itu lucu ya. Apa hak mu memintaku untuk menyerahkan itu semua sama kamu, itu adalah hak ku hasil yang aku dapat selama menjadi istri mas Arya. Asal kamu tau aku dan mas Arya sudah membagi harta yang telah kami miliki bersama secara adil. Mas Arya mendapatkan rumah dan juga restoran sedangkan aku mendapatkan sawah dan juga kontrakan. Sekarang kamu urus saja urusanmu sendiri jangan sibuk mengurusi apa yang aku miliki. Jika kamu mau punya rumah kontrakan dan juga sawah makanya kerja jangan cuma dandan aja bisanya dadan pun hasilnya selalu menor, hahaha" setelah mengatakan itu Siti langsung mematikan panggilannya secara sepihak.
Siti begitu kesal dengan permintaan Lilis, bisa-bisanya wanita itu ingin mengambil apa yang dia miliki setelah merebut suaminya dasar wanita yang tidak punya rasa malu. Begini nih, jika orang yang sudah putus urat malunya, meminta yang bukan hak dan miliknya kepada orang lain dia berani melakukannya.
Di seberang sana Lilis begitu geram dengan ucapan Siti, dia tau jika Siti sedang mengejeknya.
"Awas kamu Siti, tunggu pembalasanku" monolog Lilis sambil memegang erat handphone miliknya.
__ADS_1
Jika Siti tidak mau memberi apa yang Lilis minta maka dia akan berusaha menguasai restoran milik Arya, persetan dengan cinta yang penting Lilis tidak kembali ke kehidupan sebelumnya.
...****************...
Setelah Lilis pulang Arya kembali ke restoran, saat dia memasuki ruangannya Arya mendengar suara handphone-nya berbunyi yang menandakan jika ada pesan yang masuk. Arya pun mengecek handphone_nya dan melihat siapa yang mengirim pesan kepadanya, setelah di cek Arya begitu senang mendapati nama sang pengirim yang ternyata adalah mantan istrinya. Arya pun buru-buru membuka isi pesan tersebut, namun Arya sungguh terkejut sekaligus malu kepada Siti setelah membaca apa pesannya.
"Assalamualaikum mas, maaf jika aku mengganggu waktumu. Aku cuma mau bilang jika Lilis tadi meneleponku dan meminta aku mengembalikan kontrakan dan sawah kepada mu. Aku tau jika kamu tidak mengetahui ini semua, maaf bukan maksudku untuk menganggu rumah tanggamu, namun kita sudah sepakat membagi harta gono gini yang kita dapat selama berumah tangga di bagi dengan rata dan juga adil. Aku memintamu untuk memberi pengertian akan hal ini kepada Lilis.
Terima kasih"
Setelah membaca pesan yang di kirim Siti, Arya merasa geram dengan tingkah laku Lilis yang terang-terang meminta kontrakan dan juga sawah yang sudah menjadi hak Siti sepenuhnya mereka sudah membaginya secara adil dan Arya juga akan tetap mengirimkan uang belanja untuk Hanan.
"Lilis benar-benar sudah keterlaluan, tunggu saja kamu di rumah nanti Lilis akan aku kasih pelajaran untukmu agar kamu sadar bahwa jangan pernah mengusik hidup anak dan mantan istriku. Dasar wanita licik menjebak dan menghancurkan rumah tangga ku karena ingin memiliki hartaku, tak kan ku biarkan kamu mengambil yang bukan hak mu Lilis" ucap Arya di dalam hatinya sambil menahan amarah yang sedang bergejolak di dalam dadanya.
...****************...
Setelah menutup restoran Arya pun langsung menuju mobilnya yang terparkir di depan restoran, Arya hari ini sungguh lelah dan dia ingin cepat sampai ke rumah agar bisa membersihkan tubuhnya dan istirahat.
Saat sampai di depan rumah Arya langsung memasukkan mobilnya ke dalam garasi.
Dia melihat Lilis sudah berdiri di depan pintu sambil tersenyum kepadanya, sementara Arya hanya berlalu masuk begitu saja karena dia masih kesal dengan tingkah Lilis yang seenaknya meminta yang bukan hak dan miliknya kepada orang lain.
Arya masuk ke kamar dan terlihat Zia sudah tertidur di atas ranjang, Arya termenung mengingat jika dulu Hanan tidur di antara dia dan juga Siti. Setelah puas memandangi Zia Arya langsung menuju ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
__ADS_1
Lilis yang melihat Arya berlalu begitu saja hanya bisa menghentak-hentakkan kakinya ke lantai, Lilis berpikir jika Arya masih kesal dengan kejadian di restoran tadi siang dan dia akan membujuk Arya nantinya.
"Aku akan membuat mu melayang malam ini mas, dan setelah itu kamu akan melupakan kejadian tadi siang di restoran"
Setelah itu Lilis pun langsung ke kamar karena dia tau jika Arya sedang berada di dalam kamar mandi, Arya tidak akan tidur sebelum membersihkan tubuhnya meskipun hari audah larut.
Saat Arya keluar dari kamar mandi dia sudah melihat Lilis duduk di atas ranjang dengan mengerlingkan mata kepada Arya, malam ini baju dinas Lilis berwarna hitam cantik sih tapi karena Arya masih marah jika mengingat pesan yang Siti kirimkan kepadanya tadi membuat darahnya kembali mendidih, Arya berjalan menuju lemari untuk mengambil pakaiannya karena saat ke kamar mandi Arya lupa membawanya.
Lilis yang melihat Arya membuka lemari langsung memeluk punggung Arya yang kekar dari belakang.
"Mas ayo kita lakukan apa yang seharusnya kita lakukan. Setelah kita menikah kamu belum pernah menyentuh ku, hanya malam itu saja kamu menyentuh ku mas" kata Lilis dengan nada yang di buat manja.
"Seandainya malam itu kamu tidak memberiku obat perangsang tentu aku tidak akan menyentuhmu, sekarang lepaskan pelukan mu aku mau memakai baju" ucap Arya dengan ketus.
Lilis yang mendengar ucapan Arya merasa sakit hati dia tau jika dia telah mencurangi Arya dengan memasukkan obat perangsang ke dalam minumannya, namun apakah harus Arya mengatakannya lagi setelah semua yang terjadi.
"Oh ya Lis, apa maksud mu menelepon Siti dan meminta dia mengembalikan kontrakan dan juga sawah kepada mu? apakah ada hak mu di dalamnya sehingga kamu dengan lancang meminta sesuatu yang bukan milikmu? Asal kamu tau aku mengumpulkan semuanya saat aku dan Siti masih menjadi suami istri, tidak ada campur tanganmu ataupun orang lain di dalamnya. Ingat jangan pernah kamu mencoba mengusik kehidupan Siti, sudah cukup kamu memberi luka kepadanya dengan merebut ku dari Siti wanita yang amat aku cintai, jika kamu masih mencoba mengganggunya maka aku tak akan segan menceraikan mu dan juga jangan lagi kamu berpakaian seperti ini aku jijik melihatnya!" Arya mengatakan semua itu dengan penuh emosi.
Lilis sungguh tidak percaya dengan apa yang Arya katakan barusan jika Arya akan menceraikannya jika dia berani mengusik kehidupan Siti dan Arya merasa jijik melihat dia berpakaian seperti ini. Sungguh hati Lilis begitu sakit air matanya sudah jatuh ke pipinya, namun Arya tidak peduli dia langsung membaringkan tubuhnya dan langsung memejamkan matanya terserah apa yang akan Lilis lakukan sungguh dia tidak akan peduli.
Lilis menyangka jika dia merebut Arya dari Siti makan hidupnya akan senang, dia selalu melihat Arya begitu perhatian kepada Siti dan dia merasa cemburu melihat hal itu. Oleh sebab itu lah ketika suaminya meninggal Siti menjalankan aksinya untuk menggoda Arya, dulu suaminya sudah memperingatkan Lilis agar tidak mengganggu rumah tangga Arya. Ya, suami Lilis tahu jika selama ini Lilis hanya menyukai Arya tapi Arya hanya menganggap Lilis sebagai teman masa kecil karena Arya begitu mencintai istrinya.
Cinta memang anugerah apalagi jika kita mencintai seseorang yang dia pun mencintai kita sungguh itu adalah hal yang paling indah. Namun jika mencintai bisa menghancurkan orang yang kita cinta maka itu bukanlah cinta melainkan sebuah obsesi untuk memilikinya tanpa memikirkan apakah dia bahagia atau tidak.
__ADS_1