Perjalanan Dan Takdir Cinta

Perjalanan Dan Takdir Cinta
Bab 21 - Nonton


__ADS_3

Hadi terlihat sedang duduk sambil memainkan ponsel genggamnya. Sesekali matanya menatap kearah pintu masuk food court yang dipilihnya. Dia tampak sedang menunggu seseorang. Tidak berapa lama senyumnya tampak terkembang ketika seorang wanita bertubuh tinggi dan berparas cantik menghampirinya. Dia berdiri menyambut sosok yang baru datang tersebut.


“Hai, Dew gimana kabarnya sekarang? Jadi dokter pasti sibuk mulu ya?” Hadi memulai percakapan, seraya mempersilahkan tamunya duduk.


“Baik Mas, kamu gimana?” ucap wanita itu sambil duduk diseberang Hadi.


“Aku baik banget,” jawab Hadi sambil memamerkan senyumannya. Sejenak mereka terdiam, Hadi kembali memecah keheningan.


“Mau pesen apa Dew?” tanyanya. Wanita yang tidak lain adalah dokter Dewi tersebut tampak sibuk membolak balikan menu. Akhirnya dia memilih sebuah makanan ringan dan minumannya. Begitupun dengan Hadi, dia memesan makanan yang sama dengan wanita yang ada didepannya itu.


“Perjodohan kamu benar-benar dibatalkan?” Hadi memulai kembali percakapan, sesaat setelah pelayan meninggalkan mereka dan menyiapkan pesanan mereka. Wanita itu mengangguk sambil tersenyum hambar.


“Iya,” singkat sambil menghela nafas panjang.


“Kenapa? bukannya dulu orang tua kamu sampai sebegitunya melarang hubungan kita karena perjodohan itu?” Lelaki itu kembali bertanya.


“Entahlah, tetapi beberapa hari yang lalu ibunya orang tua lelaki tersebut meminta pembatalan perjodohan,” ucapnya sendu.


“Kamu sedih atau senang?” tanya Hadi lembut sambil menatap paras cantik wanita yang sedang duduk didepannya.


“Entahlah, satu sisi aku harusnya senang karena sekarang aku bebas lagi memilih orang yang kuanggap tepat sebagai pasangan aku, tapi disatu sisi aku sedih, sekarang kondisi kesehatan ibu menjadi buruk kembali, dia sangat berharap banyak pada perjodohan itu,” ujarnya menghela nafas panjang.


“Aku tahu, alasan ibu terlalu naif, dia hanya memilih lelaki itu karena memiliki segalanya, meskipun dia egois tapi aku tahu ibu selalu ingin memberikan yang terbaik untukku,” ujarnya lagi sambil menyesap ice coffee yang baru saja diletakkan oleh pelayan bersama makanan ringan yang dipesannya.


“Dan beruntungnya aku belum sempat bertemu mereka lagi, cuma bayangan samar waktu aku masih kecil dulu beberapa kali aku ikut berkunjung ke rumah tante Windarti,” ucapnya lagi.


“Sabar ya Dew, jodoh itu rahasia Allah, semoga ibumu lekas pulih kembali,” tutur Hadi turut prihatin kepada nasib seseorang yang dulu pernah dekat dengannya, meskipun masih berstatus teman. Dewinta adalah wanita yang sempat dekat dengan Hadi semenjak kepergian Citra, seseorang yang menitipkan lelaki itu pada sahabatnya sebelum meninggal. Akan tetapi dilemma bagi Dewinta karena disatu sisi bersama Hadi adalah permintaan terakhir sahabatnya, tetapi disisi lain dia harus menjaga kondisi emosi ibunya yang sangat berpengaruh kepada kesehatannya.

__ADS_1


“Iya Mas, terus katanya kamu mau cerita sesuatu,” Dewi menatap lekat lelaki yang ada dihadapannya tersebut.


“Aku bertemu lagi dengan sosok itu, gadis itu benar-benar mirip dengannya,” ujar Hadi sambil menerawang membayangkan senyuman lembut seseorang yang sudah berada di surga.


“Kamu bertemu dia dimana lagi Mas?” Dewi tampak tertarik dengan cerita Hadi.


“Dia staff dikantor baruku ternyata, takdir mempertemukan kami kembali dengan caranya” jawabnya datar.


“Wah, bagus dong kalau gitu, bisa lebih banyak waktu untuk mendekatinya,” Dewinta memberikan semangat kepada sahabatnya itu.


“Iya, tapi sepertinya dia sudah memiliki seseorang yang spesial,” ujarnya sambil menghela nafas.


“Mas tahu darimana?” tanya Dewi sambil menyeruput Ice cofee kesukaannya.


“Aku melihat ada sebuah cincin melingkar dijemarinya setelah kemarin mengambil tiga hari cuti, dan hari ini ketika aku mengajaknya pulang bareng ternyata dia sudah ada janji sama temannya, barusan aku ketemu dibawah, dia sedang menunggu jam tayang bioskop sambil memegang dua ticket,” ujar Hadi tersenyum masam.


“Atau sebetulnya Mas hanya merindukan sosok Citra dan tidak mencintai gadis itu sebagai dirinya sendiri?” Pertanyaan Dewi telak membuat keraguan hati Hadi yang kemarin sempat memudar menyeruak kembali.


“Masih butuh waktu juga untuk mencari jawaban itu, cuma takutnya waktu itu tidak singkat dan aku khawatir jika nanti menyadari kebenarannya terlambat,” ucapnya lagi.


“Ah Citra,” desahnya sambil memejamkan mata.


“Semoga Mas bisa segera yakin dengan perasaan Mas yang sebenarnya,” Dewi menyemangati lelaki tersebut.


Obrolan mereka berlanjut hingga orang-orang di foodcourt tersebut perlahan semakin sepi. Hadi dan Dewi merupakan pelanggan terakhir yang akhirnya meninggalkan foodcourt tersebut. Sudah lama mereka tidak pernah meet up berdua seperti itu lagi semenjak orang tua Dewi mengultimatum keras kedekatan mereka. Mereka pulang terpisah seperti ketika mereka datang ke tempat itu.


***

__ADS_1


Faisal masih menggenggam erat jemari gadis yang ada disampingnya yang terlihat sudah menguap berkali-kali. Anindita masih belum bisa mengartikan perasaan yang sesungguhnya, apakah kini hatinya sudah benar-benar mengakui keberadaan Faisal sebagai seseorang yang spesial. Akan tetapi setiap kali bersamanya, perasaan nyaman dan terlindungi itu tumbuh. Sementara rona bahagia terpancar dari pemuda yang berada disampingnya, bagaimanapun baginya Anindita sudah menjadi tujuan hidupnya sejak lama.


“Biar abang yang ambil mobil di parkiran, kamu disini saja,” Faisal melepas genggaman tangannya dan meninggalkan gadis itu sendirian di Lobi mall.


Tanpa disadarinya seorang pemuda menatap punggung gadis itu lekat, seolah hendak memastikan sesuatu. Langkah pemuda itu dipercepat untuk menghampirinya di lobi mall, akan tetapi tinggal beberapa langkah lagi jarak yang memisahkan mereka, gadis itu berlari kecil menuju Alphard yang melaju lambat dan berhenti tepat didepannya. Lelaki itu menghentikan langkahnya dengan mata membelalak sempurna.


“Tidak salah lagi, sainganku kali ini bukan main-main sepertinya,” gumamnya sambil memperhatikan mobil itu melaju meninggalkan area parkiran dan berbaur dengan kendaraan lainnya menuju gerbang.


***


“Besok pulang kerja ada acara ga?” Faisal memulai percakapan setelah mobil melaju dijalan raya. Anindita menggelengkan kepala.


“Kenapa emang Bang?” tanyanya.


“Nanti abang jemput lagi ya, kita makan malam di rumah, ibu mau membahas pesta pertunangan kita,” ujar Faisal.


“Anin masih butuh waktu Bang, kita jalani saja dulu, biar hati Anin yakin dulu dengan pilihan ini,” ucap gadis itu sambil melirik kearah lelaki yang ada disampingnya.


“Maaf ya Bang,” ujarnya lagi merasa tidak enak karena lelaki itu masih terdiam.


“OK abang ngerti, besok makan malam aja kalo gitu, ga ada bahas acara apa-apa,” ujarnya masih tetap dengan ajakannya yang dijawab dengan anggukan oleh gadis yang ada disampingnya tersebut.


Malam sudah cukup larut ketika alphard tersebut tiba didepan gerbang kontrakan sederhana. Gadis itu turun dengan membawa sebuah parsel berpita pink yang terlihat penuh dengan batang-batang cokelat berkualitas. Dia melangkah setelah melempar senyum kepada lelaki yang masih menatapnya dari balik kaca mobil. Tidak ada ciuman selamat malam selayaknya pasangan muda-mudi lainnya. Waktu beberapa hari belum bisa merubah posisi lelaki yang menggantungkannya itu dihatinya. Rio masih selalu hadir dan mengganggu pikiran gadis itu.


***


TERIMAKASIH YANG UDAH MAMPIR KE NOVEL INI.. AUTHOR YANG MASIH BELAJAR INI MINTA MAAF JIKA BELUM MEMBUAT KARYA SEBAGUS AUTHOR-AUTHOR YANG LAINNYA.

__ADS_1


TETAPI JANGAN LUPA UNTUK LIKE, KOMEN DAN VOTE YA... DAN KASIH BINTANG LIMA JUGA... MAKASIH.


__ADS_2