
“Kring, kring, kring,” alarm berdering berulang kali dan terabaikan, kelelahan dan tidur terlambat membuat Anindita tidak menyadari jika sekarang sudah waktunya bangun dan bersiap ke kantor.
Mata Faisal mengerjap karena terkena sinar matahari, bagaimanapun dia tertidur dengan kondisi pintu rumah terbuka. Semalam Anindita membiarkannya karena dia merasa tidak enak dengan tetangga jika harus menutup rapat semuanya sementara didalam ada lelaki yang bukan muhrimnya. Lelaki itu duduk dan meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku, badannya terasa pegal meskipun lelah dan kantuknya sudah sepenuhnya menghilang. Dia mencari keberadaan Anindita, apakah sudah berangkat kerja tanpa membangunkannya.
Faisal berjalan menghampiri pintu kamar yang tertutup, didorongnya perlahan. Gadis itu masih berselimut dan terlelap. Dia tidak ingin mengganggu tidur wanitanya, dia kemudian pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri setelah menemukan handuk gadis itu. Badannya menjadi lebih segar setelah mandi. Faisal berinisiatif membangunkan gadis itu dan mengajaknya sarapan bersama, dia mencari-cari makanan atau sesuatu yang bisa dimasak diatas rak makanan tetapi tidak menemukan apapun selain beberapa bungkus mie instan.
“Ah mie instan,” seketika Faisal teringat sesuatu, tadi malam dia memesan dibuatkan mie instan akan tetapi entah apa yang terjadi setelah itu.
Faisal kembali ke ruang tengah, dia duduk dan menyalakan televisi dengan santainya. Diambilnya ponsel genggam yang tergeletak sembarang. Segera dihubunginya Ferdi untuk mengosongkan jadwal hari ini dan dialihkan ke hari lain. Dia masih ingin bersantai di rumah baru bersama Anindita yang sampai saat ini belum bangun. Faisal mencari-cari aplikasi online untuk memesan makanan, dia memesan dua porsi lengkap dengan minuman hangatnya. Tak berapa lama, makanan yang dia pesan sudah datang, ditatanya diatas tikar ruang tengah. Anindita benar-benar kelelahan, Faisal berencana membangunkannya karena waktu sudah menunjukkan hampir pukul sembilan pagi.
Dia berjalan pelan menghampiri gadis itu yang masih terlelap. Dia begitu anggun dan menyejukkan dipandang ketika sedang tidur. Kecantikan naturalnya tidak memudar meskipun rambut yang terlihat kusut justru menambah kesan seksi dimata Faisal. Dia duduk ditepi ranjang tempat tidur Anindita, hampir sepuluh menit Faisal hanya terduduk sambil memandangai wajah kekasihnya, ingin rasanya lelaki itu berbaring disampingnya dan memeluknya. Dia segera menepis pikiran-pikiran yang mulai tidak terkontrol, digoyang-goyangkannya bahu Anindita perlahan.
“Sayang, bangun,” ucapnya lembut, tetapi wanita itu hanya menggeliat dan memutar tubuhnya menjadi membelakanginya.
“Sayang, udah siang, bangun,” Faisal kembali membangunkan kekasihnya dengan guncangan yang lebih keras, perlahan mata gadis itu mengerjap menyesuaikan dengan cahaya yang sudah begitu terang masuk celah ventilasi jendela kamarnya. Dia mengernyit ketika melihat Faisal sedang terduduk ditepi tempat tidurnya, matanya terkunci dengan pandangan hangat kedua mata Faisal yang menatapnya.
“Cup” sebuah kecupan mendarat di kening wanita itu tanpa permisi. Wajah Anindita merona menahan malu, baru di ingatnya jika lelaki itu tertidur di ruang tengah semalam, tapi kenapa sepagi ini sudah berada dikamarnya.
“Abang ga macem-macem kan?” Anindita membesarkan matanya dan memeriksa seluruh pakaiannya yang membuat Faisal terkekeh atas tingkahnya yang menurutnya menggemaskan.
“Kalau abang macem-macem, kamu udah abis dari semalem,” ujar Faisal.
“Atau mau Abang macem-macemin,” lelaki itu malah mencondongkan tubuhnya menjadi lebih dekat dengan wanitanya dengan seringai jahil. Sontak tangan Anindita mendorong dada bidang yang ada didepannya dengan wajah yang masih merona.
__ADS_1
“Ih, nyebelin,” ujarnya sambil kemudian turun terburu-buru dari ranjang setelah tubuh Faisal menjauh.
“Sarapan dulu sayang, abang udah siapin,” Faisal menahan lengan Anindita yang sudah tergesa untuk mengambil langkah meninggalkannya.
“Anin harus bersiap-siap, harus kerja hari ini Bang,” ujarnya yang masih belum sadar sudah sesiang apa saat itu. Faisal terkekeh melihat tingkah gadisnya.
“Udah mau setengah sepuluh siang sayang, udah ga usah masuk kerja, yuck sarapan,” tangannya menggenggam pergelangan Anindita dan menariknya ke ruang tengah untuk menikmati sarapan yang sudah dibelinya.
“Aduh udah siang banget ya, bentar Bang,” salah satu lengan gadis itu menyambar ponsel yang tergeletak di tepi ranjang kemudian mengikuti langkah Faisal yang menarik lengan satunya.
“Ayo duduk,” Faisal mendudukan wanitanya dengan lembut.
Anindita segera duduk tetapi pikirannya tidak terfokus pada lelaki yang sekarang sedang berada disampingnya maupun makanan yang tersedia disana. Dia memeriksa ponsel genggamnya. Ternyata ada beberapa pesan masuk dari Rinda dan Anita dan ada beberapa panggilan tak terjawab dari Hadi. Dia segera mengirimkan pesan singkat kepada Rinda mengabarkan kalau dia tidak bisa masuk hari ini dan seperti biasanya meminta menangani hal-hal yang urgent terkait pekerjaannya. Hampir lima belas menit dia tidak mengacuhkan Faisal yang sedari tadi menatapnya gemas.
“Anin bisa sendiri Bang, tapi Anin mau mandi dulu,” ujarnya dengan seringai yang menurut Faisal menggemaskan.
“Ya udah gih, cepetan,” Faisal kembali menurunkan sendok yang berisi makanan ke piringnya.
***
Tak berapa lama, Anindita sudah keluar dari kamar mandi dengan memakai piyama tidur lagi, dia tidak berniat kemana-mana hari ini. Setelah terlanjur kesiangan dan mengambil cuti, dia hanya akan bersantai di rumah dan tiduran sepuasnya. Dia duduk disamping Faisal dan segera meneguk minuman yang sudah dingin tersebut.
“Abang udah selesai sarapannya?” tanya Anindita melirik kearah piring makanan Faisal yang sudah kosong.
__ADS_1
“Iya, Abang laper, nungguin kamu kelamaan yang,” ujarnya sambil melirik ke arah Anindita.
“Hehehe, maaf ya Bang,” ujar Anindita.
“Eh, Abang udah mandi ya?” gadis itu baru tersadar jika wajah Faisal sudah terlihat segar meskipun masih memakai pakaian yang semalam.
“Udahlah,” jawab lelaki itu cuek.
“Jangan-jangan Abang mandi pake handuk Anin ya?” Mata gadis itu membelalak mengingat tadi menemukan handuknya yang kondisinya tidak kering sempurna. Faisal hanya menjawabnya dengan tertawa.
“Ih, Abang jorok, masa kita sehanduk bareng?” Anindita mencebik dan menyipitkan matanya tanda complain atas perbuatan kekasihnya tersebut.
“Harus udah terbiasa lah sayang, nanti juga akan lebih dari itu,” seringai jahil terlintas pada tarikan kedua sudut bibirnya yang membuat gadis itu mengerucutkan bibirnya tanda kesal.
Tiba-tiba ponsel Anindita berdering menampilkan sebuah panggilan video dari seseorang yang sangat dia rindukan. Matanya berbinar dan menunda suapan yang sedang melayang kearah mulutnya.
“Ah Kak Winah, Rizki,” ujarnya histeris sesaat setelah menekan tombol jawab pada layar ponselnya, dan berlanjut dengan obrolan panjang yang membuat keberadaan Faisal menjadi transparan.
Faisal menengok dan melihat seorang wanita cantik dan anak yang begitu tampan sedang berada dilayar ponsel Anindita. Tapi kenapa wajah anak lelaki itu terlihat sedikit familiar. Tiba-tiba Faisal terkesiap sendiri, wajah Rizki yang berusia balita tersebut hampir mirip dengan photo masa kecilnya. Kenapa anak itu bisa begitu mirip dengannya, Faisal tidak pernah tahu jika Murod yang notabene kakak angkat Anindita memiliki tujuh puluh lima persen kemiripan dengannya. Faisal hanya melongo memperhatikan setiap jengkal wajah anak itu dengan seksama selama Anindita melakukan panggilan videonya.
***
TERIMAKASIH YANG UDAH MAMPIR KE NOVEL INI.
__ADS_1
TETAPI JANGAN LUPA UNTUK LIKE, KOMEN DAN VOTE YA... DAN KASIH BINTANG LIMA JUGA... .MAKASIH.