
“Tapi, apakah kamu sudah yakin kalau Kak Anin akan bahagia dengan Kak Faisal? Bukankah kalian sudah menjalin hubungan lebih dulu sebelum akhirnya mereka bertemu?” Sierra masih belum kehabisan akal untuk mempengaruhi lelaki yang ada didepannya. Mario tertegun meresapi kata-kata wanita yang ada didepannya.
“Rio, asal kamu tahu ada seseorang yang sudah lebih dulu mencintai Kak Faisal dan cinta itu pastinya lebih besar dari sisa cinta Kak Anin yang pastinya dulu diberikan padamu, aku mencintai Kak Faisal bahkan sudah jauh lebih dulu, dan kamu mencintai Kak Anin juga kan? kita pasti bisa melakukan sesuatu untuk mendapatkan cinta kita kembali.” Sierra yang selalu bersikap manja kini terlihat begitu serius dan sungguh-sungguh dengan perkataannya.
Mario memejamkan mata beberapa detik, kemudian membukanya kembali sambil menghembuskan nafas panjang. “Bagiku mencintainya adalah membuatnya bahagia, jika dia bisa bahagia dengan pilihannya maka aku rela melepaskannya, jangan pernah memaksakan sesuatu dan mencoba mengubah takdir, takdir dan cinta itu sepenuhnya kekuasaan Tuhan, maaf Sierra, aku tidak bisa bekerja sama denganmu.” Lelaki itu beranjak berdiri dan menghampiri gadis yang masih tertegun mendengar penjelasannya, dia menepuk-nepuk pundak Sierra lembut kemudian berlalu meninggalkannya.
“Dan jika aku tahu ada orang yang membuatnya terluka, aku pastikan aku adalah salah satu orang yang akan berdiri untuk melindunginya,” Mario menghentikan langkah dan mengucapkan satu kalimat lagi sebelum akhirnya langkah kakinya membawa punggung lebarnya menghilang ditengah keramaian.
***
Persiapan pernikahan alakadarnya versi Faisal sudah siap, sore itu semua keluarga inti sudah berkumpul di rumah Bu Windarti. Semua sudah disana kecuali Fardan yang masih bertahan di sumatera untuk meluluhkan hati calon mertuanya. Faisal hanya mengabari saudara kembarnya tersebut melalui panggilan video.
Semua terlihat begitu berbahagia untuk menyambut hari pernikahan Faisal dan Anindita yang akan dilaksanakan besok di mesjid komplek perumahan, kecuali Anindita sendiri. Sejak mendengar semua penjelasan Rio mengenai kesalahfahaman itu, hatinya menjadi tidak karuan, entah karena perasaan merasa bersalah atau memang karena sesungguhnya hatinya masih menyimpan nama lelaki yang sudah menjadi cinta pertamanya tersebut. Dia menjadi lebih banyak diam daripada biasanya.
“Assalamu’alaikum,” Sierra membelah obrolan diruang tengah ketika dia baru tiba setelah berjumpa Mario.
“Wa’alaikumsalam,” jawab semuanya serempak.
“Mah, Bu, Anin mau istirahat dulu,” Anindita mencoba menghindarkan diri dari kerumunan dan memilih untuk pergi ke kamarnya.
__ADS_1
“Ra, duduk sini,” Bu Windarti melambaikan tangan kepada keponakannya tersebut sambil tersenyum.
“Rara capek, mau istirahat dulu,” Sierra membalas dengan senyum alakadarnya dan berlalu meninggalkan semua orang, namun kakinya terhenti pada pijakan anak tangga pertama.
“Kak Fay, ada yang mau Rara sampein, temuin Rara di balkon ruang tamu atas,” ujar gadis itu sambil berlalu melanjutkan pijakan demi pijakan menuju kamarnya untuk beristirahat.
“Disini aja sih Ra!” Faisal menjawab malas, namun tak mendapat respon dari gadis yang punggungnya kini sudah menghilang dalam tikungan tangga.
“Ya udah kamu temuin dulu sana, mungkin ada yang penting yang mau dia sampein,” Bu Windarti meminta putranya untuk memenuhi keinginan keponakannya. Faisal berjingkat malas, namun dia tetap menuruti perintah ibunya tersebut.
Tubuh tegapnya mengikuti ayunan langkah dengan malas menuju ke lantai dua. Dia berjalan menuju balkon ruang tamu. Terlihat Sierra sedang duduk bersandar pada sofa dan memainkan ponsel genggamnya.
“Duduk dulu Kak Fay,” ujar Sierra sambil memasang senyuman tulusnya.
“Iya udah duduk, ada apaan?” Faisal kembali melontarkan pertanyaan.
“Dengarkan ini baik-baik Kak, biar Kakak bisa belajar dari dia,” ujarnya sambil meletakkan ponselnya diatas meja dan memutar sebuah rekaman percakapan. Faisal mendengarkan dengan seksama setiap obrolan yang berhasil diputar. Matanya memicing tajam kearah Sierra.
“Kamu bermaksud mau mengacaukan pernikahan Kakak besok?” Tatapannya mengintimidasi. Sierra menarik nafas panjang.
__ADS_1
“Bukan itu maksudku Kak,” ujar gadis itu.
“Aku belajar banyak dari Rio, setiap kalimatnya menyadarkan satu titik keegoisanku selama ini, akupun akan mengikhlaskan kalian dan merelakan atas kebahagiaan itu, tapi aku mau tanya sama Kak Fay, apakah Kak Fay mempedulikan perasaan Kak Anin saat ini, apakah dia benar-benar bahagia dengan pernikahan dadakan kalian?” Sierra berucap begitu dewasa, berbalik dengan sikap manjanya yang selama ini dia tunjukkan. Faisal tersentak kaget mendengar ucapan adik sepupunya tersebut. Dia akui, memang dia egois. Sejak pertemuan Anin dengan Rio dia tidak memberikan satu kesempatanpun untuk gadis yang dicintainya itu mengatakan perasaannya. Terlalu banyak ketakutan yang ada dalam dirinya.
“Kak Anin sudah pasti mencintai Kakak, kamu tidak usah mengkhawatirkan itu.” Ucapan Faisal terdengar jelas meskipun sebenarnya hatinya mulai dilanda keraguan. Dia meninggalkan sepupunya tersebut menuju kamarnya. Namun perlahan langkah kakinya terhenti di kamar Anindita yang pintunya masih setengah terbuka, dia mengintip namun wanita yang dicintainya itu tidak terlihat sedang berada didalam kamar. Kakinya perlahan masuk dengan hati-hati agar tak mengakibatkan suara berisik. Matanya menyapu seluruh sudut ruangan termasukp pintu kamar mandi yang terbuka, berarti gadis itu tidak sedang disana. Pintu menuju balkon terlihat terbuka sedikit, Faisal mendekatinya dengan hati-hati. Dari balik celah pintu itu terlihat Anindita sedang duduk dengan wajah menghadap keluar menuju awan lepas. Dia melihat ada genangan bening disetiap sudut mata wanitanya yang berkali-kali disekanya dengan lengannya.
Fasial berdiri untuk beberapa menit memperhatikan orang yang tidak mengetahui keberadaannya. Berputar-putar kembali ucapan Sierra dan setiap percakapannya dengan Mario yang tadi diperdengarkannya. Lelaki itu menghela nafas panjang, dia berbalik dengan hati-hati dan berjalan menuju kamarnya.
***
Pagi itu beberapa tetangga yang memang di undang Bu Windarti sudah berkumpul diteras. Beberapa tim panitia sudah mempersiapkan kondisi masjid yang akan dilaksanakan untuk akad nikah. Faisal tidak mengundang banyak orang dalam pernikahan dadakan ini, hanya ada Ferdi yang selalu setia menemani perjalanan hidup dan karirnya selama ini. Begitupun Anindita, hanya Bu Wanti satu-satunya keluarga dari pihak mempelai wanita dan seorang paman jauhnya yang pagi itu dijemput oleh supir yang sudah Faisal siapkan. Lelaki itu akan menjadi wali hakim mewakili almarhum ayah Anindita.
Ketika semua formasi sudah terlihat lengkap, semua tetangga yang diundang beriringan menuju masjid komplek perumahan tersebut dengan berjalan kaki. Hanya keluarga inti yang menggunakan mobil. Ferdi menjadi supir kedua mempelai tersebut. Sierra duduk disamping Ferdi, Anindita dan Faisal di kursi tengah sementara Bu Wanti dan Bu Windarti duduk di kursi belakang. Perjalanan mereka hanya memakan waktu lima menit. Mereka sudah sampai dan parkir dipelataran masjid. Anindita tampak begitu cantik dengan polesan make up minimalis hasil kerja keras MUA yang dipilih sendiri oleh calon mertuanya. Faisal tampak begitu tampan dan gagah, kharismanya terpancar jelas.
Sierra dan Ferdi berjalan didepan, entah sebuah kebetulan atau memang jodoh, pakaian yang mereka gunakan memiliki warna senada. Mereka terlihat serasi seperti seorang pasangan muda-mudi pada umumnya. Sementara Bu Wanti dan Bu Windarti mengenakan kebaya berwarna salem yang mereka pesan mendadak dari butik langganan Bu Windarti, Kedua wanita kuat tersebut terlihat begitu berbahagia hendak menghadiri pernikahan putra-putri yang sangat mereka cintai.
***
TERIMAKASIH YANG UDAH MAMPIR KE NOVEL INI.
__ADS_1
TETAPI JANGAN LUPA UNTUK LIKE, KOMEN DAN VOTE YA... DAN KASIH BINTANG LIMA JUGA... .MAKASIH.