
Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi, ketika Bu Wanti tiba di kediaman Bu Windarti. Sepulang dari restoran kemarin, Faisal benar-benar memutuskan untuk mempercepat pernikahannya dengan Anindita. Bu Windarti terlihat kaget dengan keputusan anak lelakinya itu akan tetapi raut wajah bahagia tidak bisa disembunyikan.
“Assalamualaikum Warohmatullohi Wabarokatuh,” Faisal mulai berbicara ketika semua orang sudah berkumpul di ruang tengah.
“Wa’alaikumsalam Warohmatullohi Wabarokatuh,” semua menjawab serempak.
“Ibu, Mamah, maksud Faisal mengumpulkan semuanya disini hari ini, untuk mengumumkan kalau Faisal sudah sangat yakin dan serius untuk menikahi gadis yang Faisal pilih yaitu Anindita,” ucapnya terjeda sambil melirik kearah gadis yang duduk di sampingnya.
“Dan pernikahan itu, akan dilaksanakan lusa,” ujarnya membuat semua orang mebelalakan mata terkecuali Bu Windarti yang memang sudah mengetahui dari awal.
“Kenapa mendadak? kalian tidak melakukan hal-hal yang melanggar aturan kan?” Bu Wanti memicing tajam kearah anak gadisnya yang sama-sama terkaget juga.
“Enggak Bu, Anin ga ngapa-ngapain, Abang kenapa ngedadak? ini pernikahan Bang, bukan main-main.” Anindita menatap tajam lelaki yang baru saja memutuskan secara sepihak sesuatu yang begitu sakral.
“Karena Abang ga main-main makanya pernikahan ini harus dilaksanakan,” ujar Faisal tanpa menceritakan kepada siapapun kalau kekhawatiran utamanya adalah kemunculan kembali Rio di Indonesia.
“Bang, kita belum ngurus apa-apa, undangan, Catering bahkan baju pengantin kita sama sekali belum pernah membahasnya, jangankan itu, untuk pernikahan inipun kita belum pernah membahasnya,” ujar Anindita dengan wajah keberatan.
“Abang yang akan urus semuanya sayang, kamu tinggal duduk manis ya,” ujar Faisal yakin.
“Lagian, kan Abang tidak bilang kita akan resepsi sekarang, kita nikah saja dulu, resepsi bisa sebulan atau dua bulan lagi,” ujarnya lagi sambil tersenyum dan menatap lembut wanitanya.
__ADS_1
“Sudah, sudah, kalian kenapa malah berdebat?” lerai Bu Wanti sambil menggeleng-geleng kepala.
“Nak, Faisal ibu tidak keberatan kalau kalian akan segera melanjutkan ke jenjang pernikahan, karena memang seharusnya niat baik harus disegerakan meskipun tidak harus semendadak ini,” ujar Bu Wanti lagi.
“Besok kita pergi ke butik langganan Mamah ya sayang, Abang sudah menelpon pemiliknya untuk mencari pakaian kebaya pengantin untuk kamu pakai lusa, maaf ya tidak mendesain khusus, nanti pas resepsi baru kamu bebas pilih gaun pengantinnya ya,” Faisal berbicara dengan begitu lembut namun terasa tegas seakan sebuah perintah yang tidak boleh ditolak.
Anindita hanya menarik nafas panjang, saat ini dia tidak bisa berfikir jernih dan tidak mampu menebak arah pemikiran calon suaminya itu. Dia hanya menunduk menatap motif taplak meja yang diatasnya tersedia minuman yang sudah semakin dingin yang Bi Tati siapkan sejak tadi. Hatinya belum bisa menjawab apakah dia sudah menyanggupi pernikahan ini atau belum. Ini terlalu cepat dari apa yang dia pikirkan. Sebetulnya dia masih butuh waktu untuk seutuhnya mengubur masalalu dan semua kenangannya. Meskipun kini Faisal sudah mulai menempati salah satu sisi dihatinya, akan tetapi selalu ada perasaan menggangtung setiap kali kenangannya saling bertautan dengan masalalu.
Sementara diujung sofa sana, ada mata yang berkaca-kaca. Hatinya memang sudah belajar menerima kalau Anindita adalah wanita yang Faisal pilih, akan tetapi mendengar semuanya secepat ini membuat hatinya teriris, bagaimanapun perasaan itu tidak bisa pergi secepat itu. Dia pun menunduk dengan perasaan yang terluka, dan berusaha menyembunyikan arimatanya yang mulai menggenang. Setelah dia bisa sedikit menguasai diri, dia mengangkat kepalanya dan memberanikan diri bersuara.
“Kak Fay, Kak Anin, Sierra tiba-tiba kebelet, permisi dulu ya,” ujar gadis itu sambil bergegas pergi tanpa menunggu jawaban. Bu Windarti menatap punggung Sierra, dia bisa mengerti seperti apa perasaan gadis itu.
“Faisal, tapi Fardan belum lama pergi ke sumatera, kasian dia kalau suruh datang kesini lagi, bolak-balik capek dijalan,” ujar Bu Windarti teringat putranya yang satu lagi.
“Menikah itu tidak perlu banyak orang, yang penting ada penghulu, wali dan saksi, kan?” ucapnya dengan enteng.
Akhirnya pertemuan itu selesai, Bu Wanti menginap di rumah calon menantunya yang sekaligus anak bekas majikannya itu. Kini kamar yang ditempatinya yaitu di lantai atas, bukan lagi di kamar belakang tempatnya dulu sewaktu bekerja. Kini dia bukan lagi pembantu melainkan ibu dari calon nyonya muda di rumah besar itu.
***
Waktu sudah menunjukkan pukul delapan ketika Anindita mendengar ketukan dari pintu kamarnya. Dia bergegas berjalan malas sambil membukakan pintu. Wajah sumringah itu kini tengah menyeringai penuh kemenangan. Ditangannya membawa nampan berisi sarapan. Tanpa menunggu perintah untuk masuk, dia sudah menerobos kedalam kamar dan meletakkan barang bawaannya. Anindita mengikutinya dengan malas, hari ini dia sudah mengabari Hadi untuk kembali mengambil cuti, karenanya setelah sholat shubuh dia memutuskan untuk tidur kembali.
__ADS_1
“Sepagi ini udah rapi Bang, udah mandi?” tanya gadis itu sambil duduk di samping tempat tidur memperhatikan Faisal yang sedang menata sarapan untuknya di meja kecil. Lelaki itu duduk di sofa minimalis yang memang tersedia disana.
“Kita hari ini kan mau fitting baju pengantin buat akad besok, harus semangat dong,” ujarnya sambil menyeringai dan mengangkat satu alisnya.
“Katanya nanti habis makan siang?” dengan malas Anindita kembali meringkukan tubuhnya diatas ranjang yang masih berantakan.
Faisal berdiri dari duduknya, dia menghampiri wanitanya yang terlihat begitu menggemaskan. Dengan wajah polos bangun tidur dan rambut acak-acakan menurutnya Anindita terlihat begitu seksi. Dia duduk ditepi ranjang dimana gadis itu sedang meringkuk, tiba-tiba dia merebahkan tubuhnya dan memeluk Anindita dari belakang.
“Abang,” gadis itu dengan spontan menepis lengan Faisal yang melingkar diperutnya dan menjauhkan badannya.
“Makanya cepetan mandi dan sarapan, atau kamu mau abang temenin tidur disini?” ujarnya sambil tersenyum usil, baginya menggoda Anindita memiliki kepuasan tersendiri ketika melihat setiap ekpresinya.
Gadis itu mendengus kesal sambil menggelindingkan tubuhnya menjauh dan turun dari satu sisi ranjang yang lainnya. Dia bergegas menuju kamar mandi dengan umpatan-umpatan kecil mengutuki kejailan kekasihnya. Sementara Faisal hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil masih rebahan diatas tempat tidur dengan kepala bersandar pada beberapa bantal.
“Maafkan abang membuat semuanya serba mendadak, abang hanya belum yakin dihatimu sudah tidak ada dia, abang hanya takut kalau apa yang abang jaga selama ini harus menjadi milik orang lain,” gumamnya dalam hati sambil menatap langit-langit kamar yang berwarna putih bersih.
Anindita masih berdiri bingung di belakang pintu kamar mandi, setelah melakukan ritual mandi singkatnya kini dia tengah kebingungan karena lupa membawa pakaian ganti. Sementara pakaian tidurnya tadi sudah dia masukkan kedalam bak cuci. Perlahan kepalanya melongok mengintip kedalam kamar, apakah Faisal masih ada atau tidak. Terlihat olehnya lelaki itu tengah terlentang sambil memejamkan mata.
***
TERIMAKASIH YANG UDAH MAMPIR KE NOVEL INI.
__ADS_1
TETAPI JANGAN LUPA UNTUK LIKE, KOMEN DAN VOTE YA... DAN KASIH BINTANG LIMA JUGA... .MAKASIH.