Perjalanan Dan Takdir Cinta

Perjalanan Dan Takdir Cinta
Bab 31 - Sosok Misterius


__ADS_3

Setelah kejadian malam itu, hubungannya dengan Faisal semakin membaik. Bahkan dengan sedang hati dia menerima kehadiran Sierra yang diperkenalkan sebagai keponakan Faisal yang artinya suatu hari nanti akan menjadi keponakannya juga. Anindita memang melihat sorot mata yang berbeda dari Sierra tapi dia tidak pernah berfikir kalau gadis itu pernah menganggap tunangannya sebagai seorang lelaki. Anindita berfikir jika Sierra hanya menganggap Faisal sebagai saudara. Sierra akan tinggal beberapa lama di rumah Faisal, karenanya Faisal memiliki alasan untuk mengajak wanitanya itu menginap di rumahnya dengan alasan untuk menemani Sierra.


“Sayang, nanti pulang kerja abang jemput ya,” terdengar suara Faisal dari balik ponsel genggamnya.


“Iya iya bawel, nanti Anin siap-siap, sekarang udah dulu nih lagi banyak kerjaan,” ujar gadis itu yang menjepit ponsel genggamnya antara pundak dan kepala, sementara tangannya masih sibuk menari di kekeyboar.


“Ok, baik-baik kerjanya sayang, sampai jumpa nanti sore,” ujar Faisal.


“Iya abang, bye,” Anindita kemudian meletakkan ponsel genggamnya dan kembali fokus menatap layar komputer yang ada didepannya.


Karena pekerjaan yang menumpuk, hari itu berlalu dengan sangat cepat. Anindita sudah bergegas ketika tepat pukul lima sore ponsel genggamnya sudah berdering. Faisal pasti sudah menunggunya disana. Lelaki itu kini lebih posesif, dia bahkan tidak menerima alasan gadisnya membuatnya menunggu terlalu lama karena alasan pekerjaan. Anindita bergegas sambil melambaikan tangan kearah dua sahabatnya, sementara dari balik sebuah ruangan sepasang mata memandang punggungnya yang kemudian menghilang dibalik pintu. Tatapan yang tidak terbaca maknanya dari seorang Hadi Adi Praja.


Anindita bergegas menghampiri mobil yang sudah tidak asing lagi. Dia segera memasukinya dan duduk disamping pemuda itu. Dilihatnya ke belakang tetapi ternyata kali ini Faisal menjemputnya sendirian.


“Rara ga ikut bang, biasanya dia ikut kan?” Anindita mencari-cari keponakan barunya.


“Ini kan weekend sayang,” ujarnya sambil memacu kendaraan yang ditumpanginya perlahan meninggalkan perusahaan.


“Terus?” Anindita mengernyit.


“Abang ga mau kencan kita keganggu Rara lah,” ujar Faisal sambil mencubit gemas hidung kekasihnya itu, yang membuat rona wajah Anindita semakin kentara.


Obrolan mereka terputus oleh getar ponsel Anindita dari dalam tasnya. Siapakah yang mengganggu momen kebersamaan mereka saat ini? Anindita segera melihat layar teleponnya yang ternyata panggilan dari ibunya.

__ADS_1


***


Di sebuah rumah mungil di perkampungan yang perlahan wajahnya berubah, seorang wanita sedang menutup warungnya karena waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Bu Wanti kini sudah menjalani kehidupannya secara normal. Dia menikmati masa tuanya di rumah mungil itu bersama sejuta kenangan. Warung yang dibukanya cukup untuk menyambung kehidupan tanpa harus lagi pontang-panting menjadi kuli ataupun menjual tenaga seperti dulu lagi. Terlebih anak gadisnya setiap bulan selalu mengiriminya uang untuk kebutuhan harian. Kehidupan sederhana yang merupakan impiannya sejak lama.


Bu Wanti melempar kembali pandangannya kearah pohon tua yang tumbuh besar yang begitu rindang di tepi jalan utama. Dia mencari-cari sosok itu kembali namun dia tidak menemukannya. Sudah hampir tiga kali dia melihat sosok seorang lelaki sedang mengawasi kearahnya setiap selesai menutup warungnya. Awalnya dia curiga kalau lelaki itu pencuri dan hendak berbuat jahat sehingga wanita itu melapor kepada pak RT. Akan tetapi walaupun ronda sudah dijalankan kembali akan tetapi sosok pencuri itu belum lagi tertangkap.


Pada awal shubuh Bu Wanti dikejutkan ketika sosok yang selalu mengawasinya dia temukan sedang berdiri begitu dekat dengan warungnya. Tubuhnya tinggi tegap, pakaiannya sederhana, dia memakai sorban yang menutup kepalanya dan menyembunyikan mukanya. Bu Wanti memberanikan diri menegurnya, mungkin seseorang yang hendak membeli sesuatu di warungnya.


“Bapak mau beli apa?” tanya Bu Wanti dengan masih menjaga jarak aman, pandangan mata tuanya tidak bisa menangkap wajah terhalang kain sorban itu dengan jelas dalam remang shubuh.


“Tidak Bu, maaf permisi,” sosok itu terlihat kaget, dan kemudian berjalan tergesa-gesa. Kakinya tampak tidak bisa melangkah dengan sempurna, dia terpincang-pincang dan berjalan cepat sampai menghilang pada belokan pertama.


Bu Wanti tertegun beberapa lama. Meski sudah bertahun-tahun tetapi suara itu mengingatkan pada sosok seseorang yang akan selalu dia rindukan. Suara itu begitu mirip dengan putranya yang hilang. Apakah itu Murod? Akan tetapi kenapa jika itu memang dia, dia malah pergi? Apakah Murod sudah tidak mengenalinya?


Berkecamuk pertanyaan Bu Wanti dalam hatinya. Terlebih sosok badan tinggi tegapnya memang tak jauh berbeda dengan lelaki yang dirindukannya itu. Hanya saja, Murod tidak ada kecacatan apapun dikakinya dan tidak mungkin jalannya terpincang-pincang. Karena semua rasa pensarannya itu akhirnya sore itu dia menelpon Anindita. Bu Wanti menceritakan semuanya kepada putrinya dan tentang kecurigaannya terhadap sosok misterius yang akhir-akhir ini sering dia jumpai sedang mengawasinya.


***


“Bang, malam ini Anin ga nginep ya, bilangin Rara minta maaf ga bisa,” ujarnya sambil masih terlihat memikirkan sesuatu.


“Kenapa sayang, apakah sesuatu terjadi dengan ibu?” tanya Faisal menelisik.


“Bukan, tetapi Anin harus pulang akhir weekend ini untuk memastikannya,” ujar Anindita.

__ADS_1


“Memastikan apa?” dahi Faisal mengernyit.


“Ada sosok yang selalu mengawasi kediaman ibu, dan sudah berkali-kali kepergok, akan tetapi ketika ibu menegurnya, sosok itu malah pergi begitu aja Bang,” ujar Anindita.


“Kalau begitu besok abang anter kamu pulang, tapi bolehin abang nginep disana, bolak-balik capek sayang,” Faisal memberikan penawaran sekaligus permintaan.


“Asal abang bisa menjinakkan Pak RT, mau nginep seminggu juga ga masalah, tapi ingat tidurnya diruang tengah, rumah Anin kan cuma ada dua kamar,” ujar gadis itu sambil memicingkan mata kearah kekasihnya.


“ Iya, biasanya kan abang tidur di ruang tengah, tapi kalau malam boleh kan abang pindah ke kamar” Faisal menggoda wanitanya dengan seringai jahil yang membuahkan cubitan diperut lelaki yang duduk disampingnya tersebut.


“Awas ya kalau macem-macem,” tegas Anindita sambil melotot kearah Faisal yang ditanggapi dengan kekehan santai oleh lelaki itu.


“Makin gemes kalau lihat kamu kayak gitu,” ujarnya sambil meneruskan suapan terakhir nasi gorengnya.


“Ayo cepetan dimakan, nanti kita pergi jalan-jalan setelah ini,” ujar Faisal melirik kearah piring yang masih penuh. Anindita mengangguk dan segera memakan nasi gorengnya yang sudah dingin.


“Sayang, sekalian ke rumah Ibu, abang mau berbicara dengan ibu masalah perayaan pertunangan kita, biar semua orang tau kalau abang ini calon menantunya ibu,” ujarnya serius.


“Emang harus ya Bang? cincin ini bukannya udah cukup membuktikan?” ujarnya sambil menunjukkan cincin yang melingkar dijarinya.


“Iya, abang mau semua orang tau, nanti kita adakan dua kali pesta pertunangannya, di rumah kamu sama di rumah abang ya, biar kolega mamah pada hadir dan semuanya tahu kalau kamu calon menantunya,” ujar Faisal serius. Anindita hanya mengangguk-angguk sambil terus melahap makanannya. Rasa lapar yang sejak tadi tertunda segera diselesaikannya.


***

__ADS_1


TERIMAKASIH YANG UDAH MAMPIR KE NOVEL INI.


TETAPI JANGAN LUPA UNTUK LIKE, KOMEN DAN VOTE YA... DAN KASIH BINTANG LIMA JUGA... .MAKASIH.


__ADS_2