
Setelah semua kebenaran terungkap, kini Fardan tengah dalam perjalanan menemui menuju bandara setelah Faisal memesankan mereka ticket penerbangan domestik untuk pulang ke sumatera. Fardan sudah membulatkan tekad untuk melamar Winah kembali dan mengajaknya rujuk, meskipun dia tidak tahu apakah kehadirannya akan diterima atau tidak oleh keularga besarnya, akan tetapi dia tetap harus mencoba untuk mengetahui hasilnya.
Satu tas berisi makanan untuk bekal mereka tak mampu ditolaknya. Setelah dirinya resmi menjadi seorang keluarga Andra Dinata dan mendapatkan kartu identitas baru, Fardan dan Winah sempat menginap selama satu minggu di rumah orang yang sudah merawatnya yaitu Bu Wanti. Dan wanita itu begitu antusias memasakkan bekal untuk anak menantunya. Kini Winah tengah sibuk menyuapi Rizki yang sudah mulai rewel karena lapar. Perjalanan cukup berjalan lambat, jalanan padat merayap.
“Hoammz,” Rizki terlihat mengantuk setelah menghabiskan dua biji nasi lemper isi ayam.
“Bobo sini,” Fardan membiarkan anak lelakinya meringkuk di pangkuannya. Anak lelaki itu menurut dan tak lama tertidur dengan nyaman.
“Kenapa menangis?” Fardan melirik kearah Winah yang sedang mencoba menyembunyikan tetesan airmatanya. Dia bukan lelaki romantis yang akan menyeka airmata wanitanya. Namun dia sudah memutuskan untuk menjadi lelaki yang bertanggung jawab untuk anak dan istrinya.
“Bertahun-tahun dia selalu menanyakan ayah, setiap aku melihat kemanjaan dia padamu, aku selalu teringat masa-masa pahit itu,” ujar Winah sambil menyeka airmatanya.
“Maafkan abang, tidak bisa menjaga kalian, belum bisa membuat kalian bahagia, bahkan abanglah yang membuat kalian, ibu dan Anin menjadi menderita,” ujar Fardan sambil menghela nafas.
“Tapi abang sungguh-sungguh ingin menebus semua kesalahan ini kepada kalian, telah cukup banyak pelajaran yang abang petik dari kebodohan dan ke egoisan abang selama ini, maafin abang ya,” Fardan panjang lebar kembali mengutarakan tekadnya yang sudah dia ucapkan berulang-ulang, dari tatapannya terlihat rasa penyesalan itu begitu dalam.
Winah hanya mengangguk sambil menepuk-nepuk kaki Rizki yang dia naikkan ke pangkuannya. Dia mencoba mengalihkan perhatian pada apapun agar kesedihan itu tak selalu meluap ke permukaan. Seperti halnya Murod yang kini sudah hidup dengan identitas baru sebagai Fardan, diapun sama masih begitu tidak percaya atas semua yang seperti mimpi namun sesungguhnya inilah kenyataan.
“Mas, kita sudah sampai,” ujar sopir taxi yang disewanya, sambil memberhentikan mobilnya didepan pintu masuk.
Fardan bergegas menggendong anak lelakinya yang masih belum terbangun, namun guncangan itu membuat Rizki mengerjap dan menggeliat. Anak lelaki itu meronta meminta turun meski terlihat kantuk masih menggelayut. Fardan menurunkan tubuh montok Rizki dan menepuk-nepuk pucuk kepalanya. Kemudian mengambil semua barang-barang bawaannya setelah membayar ongkos kepada sopir taxi yang mengantarnya.
***
Sopir taxi online itu tampak sejenak mengecheck aplikasi yang ada pada ponselnya. Kemudian dia berputar menuju pintu kedatangan internasional, sepertinya rejeki nomplok untuknya hari ini. Setelah mendapat booking ekslusif dari Bu Windarti untuk mengantar anak menantunya, belum beranjak dia sudah mendapatkan orederan baru. Taxi itu melaju menuju pintu kedatangan karena seseorang sudah menelponnya dan menginformasikan kalau dia sudah menunggu.
Setelah memarkir kendaraannya dengan benar, sopir itu menghampiri seorang pemuda tampan berhidung mancung yang mirip artis korea lee min hoo. Sambil membungkuk sopir taxi itu menyapa dan memastikan jika dia benar-benar orang yang memesannya melihat kriteria pakaian yang disebutkan sesuai.
__ADS_1
“Dengan Pak Mario,” ucapnya dengan sopan. Lelaki itu mengangguk sambil tersenyum.
“Iya saya Rio, Bapak taxi online yang saya pesan ya?” Lelaki itu memastikan.
“Iya pak, mari pak,” ujar lelaki itu sambil membantu Rio membawa barang-barang bawaannya kedalam taxi. Lelaki itu mengikutinya dari belakang.
Taxi kemudian melaju perlahan meninggalkan pintu kedatangan internasional. Sementara Mario terlihat memandang kesekeliling dan berkali-kali menarik nafas panjang. Kepulangannya kali ini untuk memastikan sesuatu. Tentang gadis yang belum sepenuhnya dia berikan kepastian. Tentang alasannya menghilang dan tidak bisa dihubungi bahkan akses ke semua akun sosial medianya terkunci.
Kini taxi yang ditumpangi Mario sudah sampai, dia tak langsung menuju rumahnya namun ke sebuah kontrakan. Dia meminta sopir taxi itu menunggunya sebentar. Kedatangannya cukup menarik perhatian karena wajah tampannya yang oriental. Dia memijit bel masuk di pintu gerbang kontrakan yang terkunci. Saat siang hari dan semua orang beraktivitas, penjaga kontrakan akan mengunci gerbangnya untuk keamanan.
“Cari siapa Mas?” tanyanya setelah gerbang terbuka setengah.
“Saya mau ketemu Anindita, apakah masih mengontrak disini?” Dengan ramah Mario bertanya untuk memastikan sesuatu.
“Hmm, saya baru disini Mas, sebentar saya tanya dulu kedalam, kebetulan ada beberapa orang lama yang ada di kontrakannya, mungkin mereka tahu,” ujarnya sambil berlalu meninggalkan Mario yang masih berdiri didepan gerbang yang terbuka.
“Mas Mario ya?” seorang pedagang tahu gejrot tiba-tiba menghampirinya sambil menepuk pundaknya.
“Udah lama baru keliatan Mas, kemana aja?” ujarnya.
“Saya kan kuliah di luar negeri Pak Karto, ini baru pulang mau liburan sebentar,” ujar Mario sambil tetap tersenyum.
“Oalaahhh, saya kira Mas Mario udah putus sama Mba Anin makanya waktu itu dia pindahan dari sini,” ujar Pak Karto.
“Oh, jadi Anin udah pindah dari sini pak?” wajah Mario tampak kecewa.
“Iya Mas, udah lama,” ujar Pak Karto.
__ADS_1
“Bapak tahu pindahnya kemana?” wajah Mario penuh harap.
“Nda, Mas lha wong saya tahu dia pindah saja dari tetangga kontrakannya, saya tanyain itu juga karena dia ga pernah lagi beli tahu gejrotnya Mas,” ujar Pak Karto.
“Ya udah Pak Karto makasih informasinya, buatin tahunya Pak sekalian untuk sopir taxinya, sambil saya tunggu penjaga kontrakan Pak.” Pak Karto dengan gesit membuat dua porsi tahu gejrot pesanan Mario.
Tidak berapa lama, penjaga kontrakan datang setelah mencari-cari informasi dari beberapa penghuni kontrakannya. Dia menghampiri Mario yang tengah membayar makanan penuh kenangan bersama wanitanya dulu.
“Maaf Mas, orang yang dicarinya sudah pindah,” ujarnya terengah-engah.
“Apakah ada yang tahu pindahnya kemana?” ujar Mario, sambil memberikan uang lembaran seratus ribu rupiah kepada Pak Karto.
“Tidak ada yang tahu mas,” ujar penjaga kontrakan itu. Mario berfikir sejenak.
“Mas Mario maaf, uangnya belum cukup buat kembalian, ada uang kecil,” ujar Pak Karto.
“Kembaliannya buat Pak Karto saja,” ujar Mario.
“Wah makasih banyak Mas, mari mas mau ngider lagi,” Pak Karto mendorong gerobaknya menjauh.
“Pak, nanti kalau ada informasi tentang kemana pindahnya Mba Anindita kasih tau saya ya, hubungi ke nomor ini,” Mario mengeluarkan sebuah kartu nama dan uang selembar seratus ribuan.
“Baik Mas, nanti saya segera carikan informasinya,” ujar lelaki paruh baya itu berbinar, sambil menerima kartu nama dan lembaran uang seratus ribuan dari Mario.
Lelaki berparas orinetal itu berlalu bersama taxi biru menuju kediamannya. Sepanjang perjalanan, tak henti pikiran lelaki itu melayang memikirkan cara untuk menemukan Anindita. Dia benar-benar tidak memiliki sumber informasi untuk ditanyai. Hanya helaan nafas berulang-ulang sampai taxi itu tiba di sebuah gerbang rumah mewah milik orang tuanya.
***
__ADS_1
TERIMAKASIH YANG UDAH MAMPIR KE NOVEL INI.
TETAPI JANGAN LUPA UNTUK LIKE, KOMEN DAN VOTE YA... DAN KASIH BINTANG LIMA JUGA... .MAKASIH.