
Sesampainya di kantor, Anindita bergegas masuk dengan berjalan cepat, karena keisengan Faisal mencari-cari ikat rambut dulu akhirnya dia tiba di kantor dengan waktu yang sudah hampir terlambat. Gadis itu setengah berlari menuju mesin finger. Baginya merupakan hal yang tidak biasa ketika datang bekerja terlambat. Sementara Faisal sudah meluncur kembali menuju rumahnya.
“Abang ga usah jemput aku sore ini ya, aku ada acara,” itulah pesan dari Anindita sebelum gadis itu turun dari mobilnya.
Sesampainya di kantor, gadis itu langsung menuju tempat duduknya. Rinda dan Anita sudah ada disana dengan masing-masing satu gelas kopi panas kesukaan mereka. Anindita memberi salam kepada dua rekannya.
“Tumben Nin mepet, ga biasanya?” tegur Anita.
“Iya, tadi beli ikat rambut dulu,” ujar gadis itu sambil meneguk air putih yang sudah tersedia di mejanya.
“Hah, bela-belain hampir telat gegara ikat rambut, loe sehat?” Rinda memicingkan mata memancing penjelasan lebih dari sahabatnya itu. Anin hanya menggeleng mengingat kekonyolan lelaki yang terkadang kekanak-kanakan tersebut.
“Rin, Nit, tar sore free ga? aku mau pindahan rumah, pada bantuin yuck,” ajak Anindita pada kedua sahabatnya itu.
“Emang udah selesai rumahnya?” Anita menoleh kearahnya sambil menyesap kopi yang sudah menghangat.
“Ya udah lah, makanya mau dipindahin,” jawab Anindita.
“Kenapa ga weekend saja sih?” Rinda menimpali, sementara matanya sudah mulai terfokus pada layar komputer didepannya.
“Maunya sih gitu, tapi sayang nanti harus keburu bayar kontrakan, besok udah tanggalnya lagi,” Anindita menjawab sambil memperlihatkan deretan gigi putihnya.
“Loe bayar lembur ya,” ucap Anita.
“Tinggal minta pak Hadi,” jawab Anindita ringan, tak menanggapi serius ucapan sahabatnya. Tanpa dia sadari, orang yang disebut ternyata beberapa langkah lagi akan sampai di meja kerja mereka.
“Minta apa sama saya?” Hadi sudah berdiri disamping meja kerja mereka. Ketiga gadis itu menoleh bersamaan, karena fokusnya mengobrol mereka tidak sadar kalau atasannya sudah berjalan kearahnya.
“Itu pak, kita diminta nganterin dia tuh pindahan, pulang kerja lagi, makanya kita mau minta bayarin lembur,” ucap Anita dengan mencebik menggoda sahabatnya. Anin membesarkan kedua bola matanya agar mulut sahabatnya berhenti mengoceh, akan tetapi bukan Anita namanya kalau bisa berhenti bicara begitu saja.
“Oh Anin pindahan ke rumah yang tempo hari itu?” Hadi menoleh kearah Anindita, yang kemudian dijawab oleh anggukan kepala.
__ADS_1
“Ok, nanti saya traktir makan malam saja ya, jam berapa kalian kesana?” Tanpa diduga, lelaki tersebut menanggapi guyonan Anita yang sebetulnya hanya bercanda.
“Pas banget jam pulang kerja Pak, wah jadi semangat nih,” mata Rinda berbinar mendapati kenyataan kalau atasannya yang tampan itu akan mentraktirnya makan.
“Ga usah Pak, saya udah siapin umpan kho buat mereka,” sanggah Anindita merasa tidak enak karena sahabatnya harus melibatkan atasannya dalam urusan pribadi.
“Emangnya kita ikan, kalo kamu ngga mau, biar Pak Hadi traktir kita saja sih,” Rinda membulatkan matanya sempurna kearah sahabatnya itu agar tidak menolak tawaran Hadi. Gadis yang satu itu memang terobsesi berat akan ketampanan atasannya tersebut.
Anindita yang mengerti kode dari Rinda akhirnya mengalah dan setuju dengan kemauan mereka. Seperti biasa, jam kerja berlanjut dengan segala karakternya. Selalu ada pekerjaan yang tiba-tiba menjadi top urgent padahal belum dijawdalkan, selisih faham, keja-kejaran date line dan sebagainya. Akhirnya tepat pukul lima sore, ketiga gadis itu sudah merapikan meja kerjanya, selesai tidak selesai, mereka hari itu sudah memutuskan untuk pulang awal.
“Ayo,” Tiba-tiba suara yang familiar tersebut sudah berada diantara mereka dengan membawa tas kerjanya. Ketiga gadis yang sedang merapikan meja kerja mereka serentak menoleh.
“Pak Hadi mau kemana?” tanya Anindita.
“Mau nganterin kalian, bukannya tadi udah sepakat mau ditraktir makan malam,” jawabnya datar sambil tersenyum.
“Aduh, ga usah Pak, saya sudah pesan kendaraan online,” Anindita menunjukkan layar ponselnya.
Akhirnya mereka beriringan menuju kontrakan Anindita. Gadis itu tidak ikut bergabung dengan mobil yang ditumpangi Hadi, Rinda dan Anita. Sesampainya di gerbang kontrakan, mereka turun dan langsung menuju petakan kontrakan yang akan segera ditinggalkan tersebut.
Ceklek
Kunci kontrakan dibukanya, tampak beberapa barang pernak-pernik sudah menumpuk di ruang depan. Ada dua koper pakaian, dan ada beberapa kardus yang sudah diikat rapi. Anindita meminta bantuan supir kendaraan yang dipesannya untuk membantu mengangkat barang-barang, kedua sahabatnya membantu mengangkut benda-benda ringan, Hadi pun tak mau kalah, kemeja lengan panjangnya di gulung setengah, dia membantu pak sopir mengangkat benda-benda yang cukup berat. Keringat terlihat membanjiri dahi lelaki itu, bagaimanapun Hadi tidak terbiasa melakukan pekerjaan berat seperti itu.
Tidak sampai satu jam, barang-barang tersebut sudah berpindah semua kedalam mobil. Setelah berpamitan kepada pemilik kontrakan, akhirnya mereka melaju menuju perumahan yang jaraknya tidak seberapa jauh darisana meski cukup memakan waktu karena kepadatan jalan yang tidak bisa diprediksi.
***
“Makan dimana?” Hadi bertanya kepada ketiga anak buahnya sesaat setelah semua barang masuk kedalam rumah dengan selamat. Semua disimpan sekenanya, hanya kamar tidur saja yang terlihat sudah manusiawi, minimalnya sudah layak ditempati bermalam.
“Di restaurant A Pak,” dengan tidak tahu malunya Anita menyebut satu restaurant yang cukup terkenal disana, memang jaraknya tidak terlalu jauh tapi rate harga makanan disana lumayan.
__ADS_1
“Saya saja pak yang traktir, lagian saya berhutang banyak sama Bapak,” Anindita merasa tidak enak hati dengan atasannya yang terlalu baik tersebut.
“Udahlah gak apa-apa, itung-itung syukuran karena permasalahan customer complain yang kemarin berhasil kita selesaikan dengan baik berkat kerjasama team,” Hadi memangkas perdebatannya dengan Anindita.
“Tetapi saya lagi ga pengen makanan restoran Pak, kayaknya enak kalau makan sate di warung lesehan yang baru buka itu pak, yang dekat gerbang perumahan, mana ada menu es krim kelapa muda yang enak banget lho” Anindita sengaja memancing Rinda, karena dia tahu kalau salah satu makanan kesukaan sahabatnya itu ialah sate.
“Wahhh bener tuh apa kata Anin, habis capek kayak gini enaknya makan sate yang panas terus menikmati es krim yang suegeerrr,” ucapnya dengan mata berbinar.
“Huh,” Anita mengerucutkan bibirnya karena dia tahu suaranya akan kalah pada akhirnya.
“Jadinya kemana?” Hadi menatap ketiganya bergantian.
“Pastinya ambil suara terbanyak lah Pak, dua lawan satu, warung makan sate lah yang menang,” ucap Anindita penuh kemenangan. Yang didukung oleh tepukan Rinda pada bahu sahabatnya tersebut.
“Baiklah ayo,” akhirnya mereka bertiga menuju tempat makan yang sudah disepakati setelah memberikan uang tips pada bapak sopir online yang sudah bersusah payah membantunya dari tadi.
Tak sampai sepuluh menit, fortuner milik Hadi sudah terparkir didepan warung sate lesehan tersebut. Udara malam mengajak mereka berdamai, semuanya duduk sambil menikmati es krim kelapa muda sambil menunggi sate mereka datang. Semuanya menikmati makan malam dengan diselingi canda tawa, terlihat kebahagiaan terpancar dalam mata Hadi yang hatinya semakin yakin dengan perasaannya. Sementara senyuman Rinda yang dimanis-maniskan hanya Anindita yang tahu betapa gadis itu mengagumi atasannya. Drama mulai terjadi ketika mereka hendak pulang, Rinda dan Anita pastinya dengan tidak sungkan meminta tumpangan atasannya untuk pulang. Sementara yang dia ingin mengantarnya pulang justru malah menolaknya secara halus.
“Udah gini saja, nanti keburu malem semua, besok telat dan akan jadi urusan saya, rute saya yang atur ya, semuanya naik,” akhirnya lelaki itu mengambil alih keputusan untuk mempersingkat waktu.
***
Anindita mengucapkan terimakasih ketika fortuner tersebut sudah mengantarnya kembali dengan selamat. Dia melambaikan tangannya kepada Hadi dan kedua sahabatnya ketika sudah selesai berputar balik dan bersiap melajukan kendarannya. Namun tiba-tiba sudut mata Anindita menatap sebuah mobil yang tidak asing baginya sedang menuju kearahnya berdiri. Mobil itu sudah menepi dan terparkir dihalaman pinggir jalan tepi rumahnya. Sosok yang dia kenal keluar dengan ekspresi yang dingin. Gadis itu terlihat kaget karena tidak menyangka jika lelaki yang tadi pagi dia minta jangan menjemputnya sekarang sudah ada di depannya. Lelaki itu menghampirinya dan menatapnya tajam.
“Oh jadi karena dia, kamu ga mau abang jemput pulang?” Sorot matanya yang tajam membuat gadis itu hanya terpaku dan diam.
***
TERIMAKASIH YANG UDAH MAMPIR KE NOVEL INI.. AUTHOR YANG MASIH BELAJAR INI MINTA MAAF JIKA BELUM MEMBUAT KARYA SEBAGUS AUTHOR-AUTHOR YANG LAINNYA.
TETAPI JANGAN LUPA UNTUK LIKE, KOMEN DAN VOTE YA... DAN KASIH BINTANG LIMA JUGA... MAKASIH.
__ADS_1