
Hari-hari penuh kemesraan harus segera berakhir ketika mereka kembali kepada kesibukannya masing-masing. Cuti Anindita sudah habis dan harus segera kembali bekerja ke kantor. Begitupun Faisal, akhir-akhir ini sebetulnya sedang begitu banyak persiapan untuk pengurusan joint venture dengan salah satu perusahaan jepang, namun karena kedatangan Rio, semua itu menjadi urutan kedua prioritasnya. Menikahi Anindita berubah menjadi urutan pertama prioritasnya.
Kedatangan Anindita ke kantor disambut antusias oleh kedua sahabatnya. Rinda berkali-kali menggodanya begitupun Anita. Apalagi ketika mereka tahu jika Faisal adalah CEO dari grup perusahaan tempat mereka bekerja. Dan sepagi itu kantor sudah berisik dengan ulah kedua sahabat itu.
“Cieee pengantin baru, gimana malam pertamanya sukses?” Anita tanpa basa-basi menggoda dengan hal yang membuat gadis itu merona.
“Ibu CEO company grup, masih aja mau kerja sebagai staff biasa, kamu kenapa ga resign aja sih Nin, tinggal menikmati kekayaan suami aja,” seru Rinda.
“CEO apaan?” Anin mengkerutkan dahi karena dia memang masih belum tahu jika suaminya adalah pemilik perusahaan tempatnya bekerja.
“Lue sehat?” Anita memegang dahi Anindita. Anin menepis tangannya.
“Apaan sih?” Anin merasa teman-temannya begitu berlebihan menggodanya.
“Astaga, Rin, dia kayaknya memang belum tau siapa suaminya,” Anita melirik Rinda yang duduk berseberangan dengan Anin.
“Nin, Loe tau kan dimana tempat suami loe kerja, kerjaannya apa?” Rinda memastikan. Anin menatap bergantian dua sahabatnya itu, kemudian menggelengkan kepala.
“Astaga!” kedua gadis itu menepuk jidatnya berbarengan.
“Oh ya, kemarin Pak Hadi info katanya ada general meeting dengan kantor pusat terkait dengan joint venture dengan sebuah perusahaan jepang, agendanya hari ini, loe coba ikut, pastikan kalo Faisal CEO company grup tempat kita bekerja ini adalah suami Loe,” Rinda kemudian memberikan saran kepada gadis itu. Anin berfikir sejenak, dia memang tidak pernah bertanya detail tentang pekerjaan Faisal selama ini. Dan ucapan kedua rekannya membuat gadis itu penasaran juga apakah betul informasi yang dia dapatkan itu.
“Bentar ya, gue ke ruang pak Hadi dulu, mau infoin kalo loe harus ikut dia,” Anita bergegas menuju ruangan Hadi tanpa meminta persetujuan sahabatnya itu. Anin hanya mengangguk.
Tak berapa lama, Anita keluar bersama dengan Hadi. Hadi sudah menenteng laptopnya. Memakai setelan jas yang sepadan dengan sepatu pantopelnya. Aura ketampanannya memancar membuat Rinda tak henti-henti mencuri-curi pandang pada atasannya tersebut.
“Ayo Anin, katanya mau ikut?” Hadi berhenti beberapa langkah di sekitar meja tempat anak buahnya bekerja.
“Emang beneran boleh Pak?” Anin masih menatap tak percaya.
“Kamu ini, mana ada yang bisa ngelarang istrinya CEO untuk pergi ke perusahaannya sendiri.” Hadi terkekeh melihat ekspresi Anindita yang terlihat masih linglung. Dia cukup kaget mengetahui kebenaran yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya itu.
“Ya udah Pak, ayo!” Anin bergegas merapikan mejanya dan membawa tasnya kemudian mengikuti Hadi menuju lobi. Sebuah mobil dinas sudah terparkir disana, kali ini mereka diantar oleh sopir dari perusahaan.
__ADS_1
***
Sementara itu di kantor pusat, Faisal tengah disibukkan dengan setumpukan berkas. Dia tengah mempelajari beberapa bahan untuk meeting besar hari ini. Semua perwakilan cabang di undang untuk meeting ke kantor pusat karena akan mensosialisasikan program joint venture dengan sebuah perusahaan jepang. Selain itu Faisal juga tengah memeriksa ringkasan hasil internal audit dari semua divisi. Dia harus memastikan semua sudah berjalan sesuai dengan SOP yang sudah ditentukan. Sementara untuk urusan pernikahannya termasuk mengurus tempat resepsi, WO, dan lain-lain sudah dia limpahkan pada Ferdi untuk mengurusnya.
Faisal masih berkutat dengan berkas ketika suara telepon di mejanya berdering.
“Hallo,” Faisal mengangkat telepon.
“Maaf Pak, ini saya dari bagian receptionist, ada seseorang yang mau ketemu Bapak, tapi belum ada janji, tadi saya telepon ke ruangan Pak Ferdi ga diangkat,” ucap resepsionist dengan sopan.
“Siapa? dan ada keperluan apa?” Faisal bertanya.
Terdengar resepsionis berbicara pelan kepada tamunya namun masih terdengar samar.
“Emhh katanya cuma teman lama Pak, mau mengantarkan kartu ucapan selamat atas pernikahan Bapak,” ucap resepsionist.
“Teman lama? Suruh tunggu di ruang meeting satu, saya kesana,” ucap Faisal.
“Baik Pak,” resespsionis itu menutup panggilan telepon.
Tring
Faisal segera masuk dan menutup pintu lift. Faisal berdiri sambil memeriksa notifikasi pada ponselnya yang bergetar. Sebuah pesan whatsapp masuk.
“Abang sedang apa?” Anin.
“Lagi persiapan meeting, persiapan JV harus segera di rampungkan sayang,” ketik Faisal.
Tring
Pintu lift terbuka. Faisal bergegas keluar lift dan menuju meja resepsionist.
“Dimana tamu saya?” Faisal memastikan apakah resepsionist itu sudah menjalankan insturksinya.
__ADS_1
“Di ruang meeting satu pak,” jawab resepsionist itu.
“OK,” ucap Faisal singkat.
Dia bergegas menuju ruang meeting satu yang ukurannya hanya tiga kali empat meter dan hanya ada empat kursi, satu meja bundar, satu line telepon dan white board. Faisal bisa melihat sosok seorang wanita dari balik dinding kaca. Wanita itu tengah duduk membelakanginya. Faisal mendorong pintu itu sehingga menarik perhatian tamunya.
“Hai,” gadis itu menoleh seraya melemparkan senyuman pada lelaki yang tampak terkesiap kaget.
“Kenapa bengong?” gadis itu melambaikan tangan didepan wajah lelaki yang sudah lama tidak pernah ditemuinya itu.
“Ada perlu apa?” Faisal menatapnya dingin.
“Segitunya ya sama aku, aku kesini cuma mau minta maaf atas perbuatan yang dulu aku lakuin, mungkin karma itu memang ada, dan kini berlaku padaku,” gadis itu menatap serius pada lelaki yang masih berdiri itu.
“Icha, aku sedang sibuk, kalau sudah selesai boleh langsung pulang, yang lalu sudah kuanggap selesai,” ucap Faisal sambil hendak berbalik, namun tiba-tiba gadis itu meraih lengannya.
Namun sebuah ketukan di daun pintu kaca itu membuat dua manusia yang masih berpegangan tangan itu menoleh bersamaan. Terlihat seorang wanita cantik dengan blezer warna hitam sedang menatap mereka. Faisal segera menepis lengannya yang masih dipegang Felissa. Daun pintu terbuka, tatapan wanita itu menatap heran.
“Mba Felisha?” ucapnya sambil menatap tidak percaya. Gadis itu seolah lupa akan sosok lelaki yang kini terlihat heran menatapnya.
“Anin! kamu kerja disini rupanya,” wanita yang tidak lain adalah Felisha itu berhambur memeluk sosok yang baru datang.
“Engga Mba, aku kerja di kantor cabang, Mba Felisha lagi ngapain disini?” Anindita berkerut merasa heran, seingatnya Felisha tidak pernah berurusan dengan dunia perkantoran.
“ Aku lagi ada perlu, oh iya gimana kabar Rio, kapan kalian akan menikah, duhh sejak dia pergi kuliah ke singapura udah ga pernah ketemu kalian lagi,” Felisha masih menggenggam lengan Anindita.
***
Like, komen, saran, rate bintang lima juga yaaa.... kalo ada lebihan poin boleh di vote, kalo engga vote juga gak apa-apa, eman-emane ga bakal melonjak ke rank atas juga hihihi.... makasih udah mampir.
Oh iya kalo ada yang bingung, label end kho masih lanjut?
Iya, kemarin nikahnya belum resepsi, jadi kasian tukang cateringnya engga laku... hehehe...
__ADS_1
Ini tinggal part-part ringan aja ga ada konflik....