Perjalanan Dan Takdir Cinta

Perjalanan Dan Takdir Cinta
PTDC2 - Tidur


__ADS_3

“Iya Bang bentar,” dengan malas dia menjawab, namun tiba-tiba tubuhnya merasa melayang, gadis itu mengerjap mengumpulkan kesadaran.


“Abang mau ngapain?” Mata Anin terbuka sempurna ketika tangan kekar itu ternyata membopongnya kekamar mandi.


“Mandiin kamu,” bisik Faisal sambil menyeringai menggoda istrinya. Seketika gadis itu meronta dan melepaskan diri dari pangkuan suaminya. Dia berlari ke kamar mandi dan menguncinya. Lelaki itu hanya terkekeh sambil menggeleng-gelengkan kepala.


Faisal bergegas menuju kamarnya, untuk membersihkan diri, badannya sudah terasa lengket. Setelah selesai membersihkan diri, dia kembali ke kamar Anindita sudah mengenakan piyama. Setengah jam sudah berlalu, ternyata gadis itu masih betah berendam di air hangat yang disiapkannya tadi. Faisal merebahkan tubuhnya di ranjang yang seolah-olah memanggil-manggilnya.


Lima menit berlalu, namun gadis itu seperti sedang memuaskan diri dengan guyuran air hangat. Anindita merasakan badannya lebih segar setelah berendam dengan air dan minyak aromaterapi. Dia lupa membawa pakaian ganti, untungnya ada kimono yang ditinggalnya di kamar mandi. Anindita keluar dengan mengenakan kimono dan rambut basahnya digulung menggunakan handuk.


Terlihat Faisal tengah memejamkan mata, sepertinya lelaki itu telah tertidur karena menunggunya begitu lama. Anindita bergegas menuju lemari pakaian dan mengambil pakaian tidurnya. Dengan cepat dia mengenakan pakaian itu. Menggantungkan kimono dan handuk bekas mengeringkan rambutnya pada kastop, menggunakan hunger yang tersedia disana.


Anindita mendaratkan tubuhnya yang sudah terasa lebih segar pada kursi didepan meja rias. Dituntaskannya mengeringkan rambut menggunakan hair dryer, benda yang hanya digunakannya pada waktu tertentu saja, biasanya kalau siang hari dia lebih suka rambutnya kering dengan sendirinya. Dia menyisir rambut dan mengikatnya, dipakainya cream malam pada wajahnya, terasa dingin masuk kedalam pori-pori.


Setelah ritualnya selesai, Anindita memeriksa jendela kamar dan memastikan jika pintu sudah terkunci. Kebiasaan sewaktu mengontrak sendiri masih terbawa. Dan benar saja, Faisal tidak mengunci pintunya.


“Mentang-mentang di rumah sendiri,” gumam Anindita.


Kemudian dia melangkah menuju satu sisi ranjang yang masih kosong. Dengan sangat hati-hati dia mendaratkan tubuhnya agar tidak mengganggu lelaki yang tengah terpejam di sampingnya. Diamblnya guling dan dibuatkan sebagai pembatas. Gadis itu meringkuk membelakangi guling pembatas. Pikirannya menerawang, tiba-tiba terkenang pada masa awal-awal kehidupannya. Baginya dan Bu Wanti mengenal keluarga Faisal merupakan sebuah keberuntungan.


Matanya terpejam namun kantuk yang tadi menggelayut sepertinya sudah pergi terusir dengan guyuran air di kamar mandi. Semua kelebat bayangan sambung menyambung, terlintas sosok almarhum ayahnya, teringat Murod, Winah dan keponakan lucunya yang kini sudah mendapatkan kehidupan yang lebih baik juga.

__ADS_1


“Terimakasih ya Allah, Engkau telah mengirimkan orang-orang baik dan penuh kasih kesekeliling aku, terimakasih Rio sudah mau memaafkanku, semoga kamu bisa bahagia juga,” tiba-tiba ingatannya tertaut pada tatapan menyayat dari seorang lelaki yang masih mengharapkannya. Air matanya entah kenapa menetes begitu saja.


Greb


Tiba-tiba sebuah lengan kekar melingkar dipinggangnya, mendekap begitu erat. Anindita terkejut, dia lupa bahwa ada orang lain juga yang kini berada di kasur yang sama dengannya. Anin menyeka airmata dengan punggung telapak tangannya. Dia berusaha mengembalikan emosinya senormal mungkin.


“Kamu nangis yang?” suara bass itu menggelitik telinga Anindita, jarak yang begitu dekat membuat debar jantungnya berpacu seketika.


“Eng, engga Bang,” Anin menjawab sambil berusaha mengulas senyum. Telapak tangannya mengelus pipi Faisal yang terbenam ditengkuknya.


“Maafin abang ya, pernikahannya begitu mendadak dan sederhana, nanti kita siapkan resepsi kita ya, kamu mau dimana? didalam negeri? diluar negeri?” Faisal meminta maaf begitu tulus, dalam hati kecilnya merasa bersalah juga begitu terburu-buru sehingga pernikahan mereka hanya di laksanakan alakadarnya.


“Lagian abang kenapa coba kayak gitu, udah kayak MBA aja, pasti tetangga mikirnya gitu,” ucap Anin sambil cemberut. Faisal makin gemas melihat tingkah istrinya itu. Lengan kekarnya menarik tubuh istrinya agar mengahadap kearahnya.


“Iya, tapi ga grasah grusuh kayak ditangkap nikah sama pak RT, “ Anin masih kesal rupanya dengan keputusan mendadak dari Faisal.


“Takut kamu diambil orang,” ucap Faisal sambil masih memasang wajah manisnya.


“Siapa juga yang mau ngambil aku, emang aku barang yang bisa diambil siapa aja,” Anin masih menumpahkan kekesalan yang terpendam beberapa hari ini.


“Mantan kamu,” ucap Faisal, akhirnya tanpa sengaja dia membocorkan kekhawatirannya.

__ADS_1


“Ih, jadi abang kayak gini hanya gara-gara Rio, ya Allah Bang,” Anin menguyel-uyel pipi Faisal dengan kesal.


“Terus ngapain tadi sebelum akad, Abang sok suruh aku milih siapa, kalau aku milih Rio Abang gimana tadi?” Anin membahas ulang kejadian tadi pagi.


“Ya karena abang yakin, kamu pasti milih Abang lah,” ucapnya sambil tersenyum penuh percaya diri.


“By the way, makasih ya sayang udah milih abang, tadi abang takut kalau tiba-tiba kamu menyebut nama lelaki itu,” Faisal berubah menjadi begitu serius. Direngkuhnya tubuh mungil itu dalam dekapannya.


Anindita hanya mengangguk, berada dalam posisi sedekat itu membuatnya begitu gugup. Ada desir-desir hangat menjalar kehatinya. Kini kepalanya bersandar pada dada bidang suaminya. Ternyata ada kenyamanan yang berbeda ketika dalam dekapan suami tercinta. Ada rasa tenang, nyaman dan riak-riak yang tidak bisa digambarkan.


Cup Cup Cup


Faisal mengecupi pucuk kepala istrinya. Pelukannya semakin erat seolah tak hendak membiarkannya lepas lagi. Lengan Anin melingkar memeluk tubuh lelaki yang kini sudah sah menjadi imamnya. Kantuknya mulai menyerang perlahan dia mulai terlelap, deru nafasnya mulai teratur, gadis itu tertidur.


“Sayang, yang,” Faisal mencoba memanggilnya.


“Yanggg,” dia ulangi namun masih membuahkan hasil yang sama, gadis itu sudah terbang kealam mimpi melepas semua lelahnya.


Faisal akhirnya ikut memejamkan mata, dia tidak begitu tega mengganggu istrinya hanya untuk meminta haknya. Masih banyak waktu yang akan mereka lewati berdua. Dia melihat kelelahan memang benar-benar tergurat dari wajah manis gadis yang kini dalam dekapannya. Kekasihnya dunia akhirat. Lelaki itu masih tak bisa memejamkan mata, berkali-kali dikecupinya pucuk kepala istrinya. Rasa sayangnya membuncah luar biasa.


Waktu memutar, semakin malam dan sunyi, hingga akhirnya lelaki itupun terlelap dengan masih mendekap erat wanitanya. Mereka menghabiskan malam pertama mereka benar-benar untuk tidur melepas lelah, mengusir penat, mengisi energi untuk memulai hari baru esok pagi. Hanya cicak yang berlari-lari kecil diatap langit-langit kamar, sesekali terdengar samar suara burung yang dipelihara mang omon di taman belakang.

__ADS_1


Ditunggu dukungan LIKE, KOMEN nya ya..... terus kalau ada sedikit kelebihan poin kasih VOTE dongsss, biar semangat nulisnya – Upsss satu lagi, jangan lupa klik ikon (❤) agar cerita ini jadi Favorite.


Makasih banyak udah mampir dicerita ini... jangan lupa tinggalkan jejakmu.


__ADS_2