
Lelaki bertubuh tinggi kurus itu kini tengah terbaring diruang tengah rumah Bu Wanti. Setelah para aparat bisa menenangkan suasana, akhirnya Pak RT membantu Faisal untuk membawa lelaki yang dianggap pencuri itu menuju rumah Bu Wanti. Sejak kedatangan mereka sampai sekarang tangis bahagia wanita paruh baya itu tak mau berhenti, baginya sudah seperti sebuah mimpi bisa bertemu putranya dalam keadaan hidup-hidup. Sementara Murod masih tergeletak merasakan sakit yang menjalar disekujur tubuhnya.
“Maafin abang De, maafin aku Bu,” dari sudut matanya menetes cairan bening tanda penyesalan.
“Sekarang aku sudah taubat Bu, sudah satu tahun terakhir ini aku memiliki pekerjaan tetap sebagai pengelola kebun, aku tinggal terhalang beberapa kampung dari sini, awalnya aku datang hanya ingin melihat Winah dan anakku Bu, tapi setiap kali kesini, rumah ini selalu terlihat kosong, aku tidak memiliki keberanian bahkan hanya untuk bertanya pada tetangga.” Murod berbicara pelan dan tersendat.
“Winah udah pulang ke kampungnya, anak kamu lelaki ganteng, dan sangat pintar,” Bu Wanti masih terisak dan bersimpuh sambil mengobati beberapa luka memar ditubuh putranya. Murod terlihat memejamkan mata, sepertinya taring lelaki berandal yang dulu dia miliki sudah hilang sepenuhnya, hanya sosok wajah yang penuh kesedihan dan pantas dikasihani yang terlihat kini.
“Kalau kamu udah sembuh, jemput mereka, kamu selama ini kemana saja Nak?” ujar Bu Wanti dengan airmata yang tak berhenti mengalir, setiap melihat wajah putranya membuat kepedihan bertahun-tahun lalu menghujam kembali.
“Semua karena kesalahanku Bu, aku disekap oleh komplotan mereka, hampir dua tahun aku dijadikan budak dan disiksa hingga kakiku patah dan tidak bisa berjalan normal kembali, beruntung para polisi akhirnya mengendus gudang penyimpanan barang-barang haram tersebut, akhirnya kami semua berhamburan melarikan diri, beruntung aku tidak tertangkap dan bisa kembali, semua yang tertangkap sampai kini masih mendekap dalam sel Bu,” ujar Murod dengan suara parau penuh penyesalan.
“Aku sadar itu karma, semoga bisa menebus dosaku kepada Bapak, Ibu sama kamu De,” ujarnya sambil terisak.
“Kami selalu menyayangimu, Anin kabari kakakmu, bagaimanapun Rizki harus mengenal sosok ayahnya,” ujar Bu Wanti meminta putrinya untuk menghubungi Winah dan Rizki.
Anindita mengangguk dan segera mengambil ponsel. Setelah Murod bisa duduk kini Bu Wanti mengganti pakaiannya yang kotor dan lusuh itu dengan kaos milik Faisal yang Anindita ambilkan di koper tunangannya itu.Murod bersandar di dinding sambil mendengarkan petuah-petuah ibunya. Sementara Faisal sedang menemani Pak Ketua RT dan beberapa warga yang mengantarnya tadi di teras depan. Beberapa cangkir kopi sudah terlihat mengering ketika mereka selesai meluruskan kesalahfahaman yang sudah terjadi.
Murod bukan sedang mencuri akan tetapi sedang mengawasi adik kesayangan dan tunangannya itu. Akhirnya Murod menjelaskan perihal niat jahat Lia kepada Faisal meskipun tidak sampai hati Faisal menceritakan semuanya kepada Warga, akan tetapi warga akhirnya mengerti dan tidak mempermasalahkannya lagi. Setelah Pak RT dan warga pamit, Faisal masuk kedalam ruang tengah dengan membawa cangkir kopi bekas dalam nampan kemudian dia letakkan.
“Sudah baikkan Bang?” tanyanya pada Murod yang masih bersandar yang hanya dijawab oleh anggukan.
__ADS_1
DEG
Sesuatu seolah menghantam dadanya. Ketika dilihat dari jarak dekat wajah Murod ternyata memiliki begitu banyak kemiripan dengannya, hanya saja dia terlihat lebih kurus, tua dan tidak terawat. Tetapi garis ketampanan keluarga Andra Dinata melekat diwajahnya. Faisal teringat obrolan ibunya dengan Bu Wanti tentang anak angkat Bu Wanti, tapi dia tidak tahu apakah ini waktu yang tepat atau bukan. Akan tetapi rasa penasaran ternyata mengalahkan pemikirannya yang biasanya penuh pertimbangan.
“Bang Murod, saya punya suadara kembar tapi menghilang,” ujar Faisal, Murod hanya melirik karena dia belum mengetahui kalau dia hanyalah anak angkat di keluarga Anindita.
“Kemiripan wajah kita hampir tujuh puluh lima persen Bang, besok Bang Murod ikut saya ke Jakarta, kita test DNA,” ujar Faisal lugas tanpa berbelit-belit yang dijawab oleh sorotan mata heran dari Murod.
“Siapa nama kamu?” ujarnya yang memang belum sempat berkenalan dengan Faisal, dia hanya tahu kalau sosok itu adalah calon suami adiknya.
“Faisal Bang,” ujar Faisal datar.
“Emhh, Murod ada hal yang harusnya ibu sampaikan sejak lama, maafkan ibu menyembunyikannya dari kalian waktu itu,” ujar Bu Wanti setelah berhasil menangkan hatinya.
“M maksud ibu?” ucap Murod terbata, tatapannya menyipit penuh selidik.
“Kamu bukan anak kandung ibu dan Bapak,” ujar Bu Wanti sambil kembali tak bisa membendung airmatanya, baginya begitu menyakitkan harus memberitahu putranya tentang sebuah kebenaran yang selama ini disembunyikan.
“Aku bukan anak kandung Bapak dan Ibu,” ujar Murod lirih mengulangi pernyataan yang menyita kembali kebahagiaan yang baru beberapa detik didapatkannya. Tubuhnya terasa lemas, bersandar, tulang-tulangnya seolah lepas dari persendian. Kenyataan ini baginya lebih menyakitkan daripada memar-memar yang masih membiru diwajahnya.
“Tapi ibu akan tetap menyayangimu seperti dulu,” ujar Bu Wanti sambil memeluk putranya.
__ADS_1
Murod memejamkan mata sejenak, butuh keberanian untuknya menghadapi semua kenyataan ini. Perasaan bersalah semakin membuncah mengingat kekurangajarannya yang menyebabkan keluarga yang selama ini merawatnya menjadi menderita.
“Maafin Murod Bu,” Lelaki itu kembali sesenggukan dipelukan wanita paruh baya itu.
“Bang Murod,” sebuah suara yang tidak asing membuat Murod mengangkat wajahnya, terlihat seorang wanita yang ditinggalkannya sedang memaksakan tersenyum kearahnya ditengah derai tangis. Anak lelaki berusia sekitar lima tahun yang montok menatap polos wajahnya dibalik layar kamera ponsel genggam Anindita.
“Winah, anakku, maafin abang Nah, maafin ayah,” Murod kembali sesenggukan dengan menutup wajahnya, dia tak kuasa berkata apa-apa melihat kedua orang yang selama ini sangat ingin dilihatnya kini ada diseberang sana.
Faisal menghela nafas, hatinya teriris melihat kejadian memilukan yang ada didepannya. Dia bergegas keluar dan menenangkan diri. Sepertinya belum saatnya dia memberitahu ibunya terkait ini, dia masih butuh waktu untuk meyakinkan Murod agar mau test DNA. Dan sepertinya butuh waktu buat lelaki yang baru ditemukannya itu untuk berdamai dengan masalalu dan semua kenyataan yang baru diketahuinya.
“Abang,” Anindita menepuk pundaknya dari belakang, wajahnya tampak menahan kepedihan. Faisal merengkuhnya dan membiarkan gadis itu menangis dibahunya.
“Abang, bisa bantu Anin buat jemput Kak Winah dan Rizki besok? Anin hanya ingin Rizki merasakan pelukan seorang ayah, sudah waktunya Kak Winah dan Rizki bahagia.” Gadis itu berbicara terbata ditengah isak tangisnya. Sementara tangan Faisal dengan lembut menepuk-nepuk pundak gadisnya.
“Iya, besok pagi kita jemput Kak Winah dan Rizki, biar Ibu yang jaga Bang Murod disini, hmm abang juga ingin segera mengajaknya test DNA, hati abang yakin dia mewarisi garis wajah keluarga Andra Dinata, dia pasti saudara kembar abang yang hilang,” ujar Faisal lirih sambil mengecup pucuk kepala kekasihnya.
***
TERIMAKASIH YANG UDAH MAMPIR KE NOVEL INI.
TETAPI JANGAN LUPA UNTUK LIKE, KOMEN DAN VOTE YA... DAN KASIH BINTANG LIMA JUGA... .MAKASIH.
__ADS_1