Perjalanan Dan Takdir Cinta

Perjalanan Dan Takdir Cinta
Bab 29 - Sierra


__ADS_3

Mobil yang dikendarai Bu Windarti dan Faisal melaju sedang, membelah kepadatan jalan raya. Mereka sedang menuju bandara untuk menjemput adik angkat almarhum Kusuma Andra Dinata yaitu Wardana Andra Dinata. Wardana selama ini tinggal di Jepang untuk mengurus bisnis keluarga yang diluar negeri. Semenjak Tuan Kusuma meninggal, konsentrasi perusahaan terpaksa dipecah menjadi dua, Bu Windarti memegang semua kendali perusahaan yang ada didalam negeri sementara untuk cabang yang ada di luar negeri yang berpusat di jepang terpaksa diberikan kekuasaan penuh kepada Wardana. Bu Windarti memiliki keterbatasan waktu karena harus mengurus bayi Faisal sendirian. Dulu dia merupakan sosok wanita tegar dan cerdas sehingga sampai Faisal mampu mengendalikan perusahaan dialah yang bekerja keras mempertahankan eksistensi perusahaan yang selama ini dibangun oleh suaminya.


Raut wajah Bu Windarti terlihat begitu bercahaya, penuh semangat, bagaimanapun dia sangat menyayangi keponakan yang sudah dia anggap seperti putrinya sendiri itu. Sierra sejak kecil sering sekali menginap dirumahnya, diajaknya jalan-jalan, dibelikannya mainan bahkan terkadang prioritas kepada gadis itu membuat Faisal sesekali cemburu pada kasih sayang ibunya. Sementara wajah lelaki yang sedang mengemudi disampingnya terlihat ditekuk, sejak dia mendengar kabar kalau Sierra akan datang moodnya langsung berubah menjadi tidak baik. Hal ini bukan disebabkan karena kasih sayang ibunya yang terbagi akan tetapi karena lelaki itu sangat tidak menyukai sikap Sierra yang sangat manja dan kekanak-kanakan terlebih dia tahu kalau Wardana sangat menginginkan putrinya bisa menjadi menantu ibunya.


Kendaraan yang mereka tumpangi sebentar lagi tiba dibandara soetta, mereka langsung menuju pintu kedatangan internasional di terminal yang sudah diinformasikan. Sejak tadi Sierra sudah berkali-kali menelpon Bu Windarti untuk menanyakan posisi sudah sampai dimana, karena pesawat yang mereka tumpangi sudah landing sejak dua jam yang lalu.


“Kamu sih tadi suruh mandi aja lama,” ujar Bu Windarti setelah mematikan telepon dari Sierra.


“Iya sih Mah, ini juga udah sampe, tuh mereka disana, aku tunggu dimobil saja,” ujar Faisal sambil menunjuk kearah Sierra dan Wardana yang tengah berdiri menunggu mereka dengan ekor matanya.


“Turun dong Sal, masa sama om sendiri kayak gitu,” Bu Windarti menasehati putranya.


Dengan wajah malas, Faisal akhirya mengikuti ibunya. Mereka memarkir mobil di tempat yang tidak terlalu jauh. Terlihat wajah Sierra begitu berbinar ketika melihat kedua orang yang sudah begitu ia rindukan. Gadis itu berlari menuju kearah Faisal dan Bu Windarti.


“Mamih, aku kangen,” ucap Sierra dengan manjanya, dia terbiasa memanggil mamih kepada Bu Windarti karena sejak Sierra kecil wanita itu begitu memanjakannya.


“Sierra, Ya Allah, kamu semakin cantik saja sekarang, anak mamih udah dewasa, ya Allah,” ucap Bu Windarti dengan mata berkaca-kaca menahan haru. Mereka berpelukan cukup lama, sementara Faisal langsung menuju Wardana dan mendapat pelukan singkat dan tepukan dibahu dari lelaki itu.


“Om apa kabar? tante pasti kesepian ditinggal sendiri disana?” ujar Faisal sambil tersenyum dan memeluk singkat om nya.

__ADS_1


“Wah ponakan om makin ganteng aja,” ucap Wardana sambil menepuk-nepuk bahu Faisal setelah pelukan mereka terlepas.


“Kak Fay, Rara kangennn,” tiba-tiba seseorang memeluknya dengan erat dari belakang.


“Lepas Ra, bukan muhrim,” Faisal menepis tangan Sierra yang melingkar erat dipinggangnya.


“Ih Kak Fay masih saja jutek kayak gitu, awas nanti Rara pasti bisa buat Kak Fay jatuh cinta sama Rara, huh,” ujarnya sambil cemberut dan melepaskan pelukannya dengan terpaksa. Faisal hanya meliriknya sekilas.


“Sal, cepetan ambil mobilnya kasian Om sama Sierra pasti capek, biar kita segera bisa sampe rumah dan istirahat,” ujar Bu Windarti setelah menyalami adiknya tersebut.


Tanpa banyak bicara, Faisal segera meninggalkan mereka. Selang beberapa menit Range rover berwarna silver metalik itu sudah sampai didepan mereka. Faisal memang memiliki hampir sepuluh mobil mewah yang terparkir di garasi rumahnya. Rata-rata mobil koleksinya berwarna putih, silver metalik atau warna lembut lainnya. Faisal tidak menyukai warna-warna mencolok yang menarik perhatian. Setelah mobil berhenti sempurna, tanpa aba-aba Sierra langsung masuk dan duduk disebelah lelaki tersebut yang hendak turun untuk membantu Wardana memasukkan koper-koper ke bagasi belakang. Faisal hanya menoleh dingin kemudian meneruskan niatnya. Setelah semua barang masuk ke bagasi, Wardana dan Bu Windarti segera masuk kedalam mobil dan Faisal segera mengemudikannya meninggalkan bandara.


“Ra, Kakak lagi nyetir, udah kamu tidur saja jangan berisik,” ketus Faisal merasa risih dengan rengekan manja Sierra.


“Tuh Mami, Kak Fay masih sama kayak dulu, mana laku dia sama cewek kalau jutek kayak gitu terus, tapi bagus juga sih, Kak Fay kan cuma milik Rara,” ujarnya mengadu pada Bu Windarti dengan suara manjanya yang khas.


“Oh iya Ra, sekarang Faisal udah punya pacar lho, nanti mami kenalin, dia baik kayak kamu,” ujar Bu Windarti dengan mata berbinar mengingat akan ada satu anak perempuan lagi yang nanti akan tinggal di rumahnya.


“Bukan pacar Mah, tapi calon istri,” ujar Faisal menekankan tanpa menatap kearah wanita yang ada disampingnya.

__ADS_1


Sierra terdiam sejenak, seperti sesuatu tercekat ditenggorokannya. Wajahnya yang sejak tadi berbinar mendadak berubah. Ada rona kesedihan yang dia coba sembunyikan. Faisal tidak menyadarinya akan tetapi Wardana yang kenal betul dengan sifat putrinya merasakan ada aura kecemburuan yang menyeruak. Dia begitu menyayangi putrinya tersebut, dengan lembut dia mencoba menghiburnya.


“Baru calon Ra, masih ada kesempatan, kamu masih bisa berjuang, jangan sedih gitu dong, putri ayah ga boleh sedih,” ucap lelaki paruh baya itu menghiburnya.


Tidak ada jawaban dari gadis kesayangannya, membuat Wardana menoleh kepada Kakaknya. Bu Windarti mengerti, dia segera mencari topik pembicaraan lain untuk mencairkan suasana. Perjalanan menuju ke kediaman Bu Windarti memakan waktu lebih lama dari waktu keberangkatan, hal ini karena jalanan begitu sesak dengan kendaraan. Akhirnya mereka memutuskan untuk mencari restoran terdekat setelah keluar dari tol untuk mengobati rasa lapar yang sudah melanda.


Bu Windarti dan Om Wardana masih terlibat dengan perbincangan seru, mereka tidak terlihat seperti saudara ipar tetapi lebih terlihat seperti saudara kandung. Faisal keluar dari mobil dan menoleh kearah Sierra yang masih duduk didalam mobilnya. Dia kemudian membuka pintu depan tersebut dan mengajaknya turun. Rasa iba terlintas sekilas dalam tatapannya, bagaiamanpun dia sudah menganggap Sierra seperti adiknya sendiri.


“Ayo makan,” ucap Faisal. Sierra masih berdiam tak menjawab.


“Ayo,” Faisal menarik lengan Sierra untuk keluar dan mengikuti kedua orang tuanya yang sudah memasuki restoran. Gadis itu beringsut dengan malas.


“Jangan cemberut gitu dong, Kakak sayang kamu juga kho Ra,” ucapan Faisal belum berlanjut ketika tiba-tiba gadis itu memeluknya kembali.


“Tapi sayang sebagai Kakak kepada adiknya,” lanjut Faisal sambil menepuk-nepuk pundak gadis manja itu. Tanpa mereka sadari ada sepasang mata indah yang menatapnya dengan berkaca-kaca. Berkali-kali dia mengerjapkan matanya untuk tidak mempercayai apa yang dilihatnya, akan tetapi itu bukan halusinasi. Itu kenyataan, lelaki yang selama ini selalu mengatakan mencintainya sedang memeluk wanita lain.


***


TERIMAKASIH YANG UDAH MAMPIR KE NOVEL INI.

__ADS_1


TETAPI JANGAN LUPA UNTUK LIKE, KOMEN DAN VOTE YA... DAN KASIH BINTANG LIMA JUGA... .MAKASIH.


__ADS_2