
Kehamilan Anindita berjalan normal, hanya sesekali merasakan morning sickness yang masih dalam batas wajar. Sesekali ngidam dan menguji kesabaran Faisal. Terkadang tengah malam, dia merengek meminta bubur ayam yang dijual didekat sekolahan. Terkadang meminta dibuatkan rujak dengan mangga yang tumbuh didepan rumah tetangga. Dan hal yang membuat Faisal kerepotan yaitu perasaan Anin menjadi begitu sensitif, bahkan dia bisa menangis ketika melihat seorang lelaki tua yang berkeliling menjajakan jualannya. Hal yang merepotkan karena Anin akan membeli semua dagangannya dan membawanya pulang. Sehingga menambah pekerjaan Mang Omon dan Bi Tati untuk membagi-bagikan setiap majikannya membeli dagangan penjual keliling.
Usia kehamilannya kini menginjak bulan ke sembilan, hanya menunggu beberapa hari lagi menuju hari perkiraan lahir. Waktu itu kebetulan hari senin ketika Faisal tengah sibuk-sibuknya di kantor, sebuah dering telepon dari nomor rumah membuat aktivitasnya berhenti.
“Fay, cepetan kamu langsung ke RS XXX, Mamah sama Anin lagi kesana naik mobil online, Anin udah mules-mules terus dari pagi,” terdengar suara Bu Windarti, sesekali terdengar rintihan istrinya samar.
“Kho ngedadak sih Mah, tadi malem ga kenapa-kenapa,” ucap Faisal.
“Namanya mau ngelahirin itu ga ada yang bisa direncanain dulu mau besok atau lusa kecuali mau SC, udah, cepetan kamu susul, kabarin ibu mertuamu, Mamah belum sempet ngasih kabar ke siapa-siapa,” ucap Bu Windarti langsung menutup teleponnya.
Faisal langsung menghubungi Ferdi meminta mengcancel semua jadwal meetingnya hari itu. Termasuk membatalkan rencana makan siang dengan beberapa petinggi perusahaan Jepang yang baru saja deal bekerjasama dengan perusahaan mereka. Faisal segera mengabari Fardan, dan menghubungi Bu Wanti. Dia pun menugaskan satu supir perusahaan yang sedang kosong jadwalnya untuk menjemput mertuanya itu.
Lelaki itu terlihat panik, meskipun dia sudah terbiasa menyambut tamu-tamu besar namun tidak serta merta membuatnya menjadi tenang untuk menyambut tamu kecil yang selama sembilan bulan ini ditunggunya. Jasnya dia lempar keatas sofa, dasinya dilepas dan dilempar asal. Faisal menggulung lengan kemejanya agar tidak terlalu formal, dia hanya tidak mau menyita perhatian ketika tiba di rumah sakit melihat penampilannya yang mencolok.
Lelaki itu berjalan tergesa menuju lobi, kemudian mengambil mobil dan menyetirnya sendiri. Pikirannya sudah tidak karuan, dia memikirkan bagaimana keadaan istrinya disana. Aura kekhawatiran jelas terpancar dari wajahnya, jalanan mendadak menjadi tidak bersahabat. Sepertinya ada kecelakaan didepan dan memerlukan waktu untuk proses evakuasi. Berkali-kali dia menelpon Bu Windarti untuk mengetahui kondisi terkini istrinya. Sudah hampir satu jam, tapi jalanan masih belum bergerak juga.
“Anin, sudah masuk ruang persalinan, tadi mulesnya udah dari jam enam, kamu aja ga peka,” Bu Wanti mengomeli putranya yang setiap beberapa menit sekali menelponnya. Faisal hanya mengacak rambutnya, kesal pada dirinya sendiri. Memang tadi pagi Anin sempat mengeluh berasa kram dan mules, Cuma dia mana tahu kalau itu gejala awal persalinan.
Beruntung kepadatan kendaraan mulai terurai, Faisal kini bisa memaksimalkan kecepatan kendaraannya. Tak berapa lama, dia sudah tiba di RS yang dimaksud. Faisal langsung menghubungi ibunya.
“Oeeee, Oeeee, Oeeee,” tepat Faisal menginjakkan kakinya di lorong rumah sakit area bersalin, terdengar suara tangisan bayi. Lelaki itu bergegas menghampiri suster yang terdekat.
“Mba, ruangan bersalin Bu Anindita dimana?” Faisal memastikan.
“Mba cantik yang dua jam lalu masuk ya? disana Mas,” ucapnya ramah.
__ADS_1
“Makasih Sus,” Faisal setengah berlari menghampiri pintu ruang yang tertutup itu. Dan kembali terdengar suara tangisan bayi.
“Oeeee, Oeeeee, Oeeee,” kali ini suaranya lebih keras.
Faisal menerobos masuk tanpa permisi, didalam terlihat ibunya tengah menggendong seorang bayi. Namun ada bayi yang lain juga yang tengah digendong oleh salah satu suster yang membantu persalinan.
“Sayang,” Faisal memburu istrinya yang terlihat bersimbah keringat, wajahnya terlihat pucat dan lelah. Namun ada senyuman yang begitu menyejukkan ketika dia menatapnya.
“Anak kita kembar Bang, alhamdulilah sesuai dengan hasil USG terakhir,” ucap Anindita melihat Faisal yang masih linglung dengan kondisi yang ada di ruang persalinan.
“Ini suaminya Mba ya?” dokter bertanya. Anindita hanya mengangguk.
“Selamat Mas, anaknya kembar laki-laki sama perempuan,” ucap dokter itu sambil tersenyum.
Ceklek
Baru saja Faisal selesai mengadzankan kedua bayinya, pintu ruangan terbuka. Bu Wanti memburu putri kesayangannya. Matanya terlihat sembab, rupanya wanita itu sudah menangis sejak dalam perjalanan. Dia begitu terharu atas semua keajaiban dan nasib baik yang terjadi pada hidupnya. Bu Wanti memeluk putrinya, mengucap pucuk kepalanya dan menciumi dahinya.
“Mulai sekarang kamu sudah menjadi seorang ibu Nak, didiklah putramu dengan sebaik-baik didikan agar kelak menjadi anak yang bisa dibanggakan,” ucapnya.
Wanita itu beralih pada keranjang bayi yang Faisal mintakan khusus agar tetap disimpan dalam satu ruangan dengan istrinya.
“Alhamdulilah, kembar?” Bu Wanti menoleh dan membagi pandangan pada semua yang ada disitu.
“Iya Bu, kembar,” ucap Anindita.
__ADS_1
“Kalian udah nyiapin nama?” Bu Wanti bertanya, Faisal sejenak berfikir.
“Nawasena Andra Dinata dan Nareswari Andra Dinata,” ucap Faisal sambil menatap lekat kedua nayi yang tengah tertidur dalam keranjang bayi itu.
“Artinya apa Bang?” Anin yang memang belum mempersiapkan nama untuk buah hatinya penasaran, ternyata suaminya sudah mempersiapkan nama untuk mereka.
“Nareswari itu diambil dari bahasa sansakerta artinya permaisuri, untuk Nawasena itu juga dari bahasa sansakerta artinya masa depan yang cerah,” jawab Faisal sambil mengecup kening putra-putrinya bergantian.
***
2 tahun kemudian
Akhirnya Fardan berhasil meluluhkan hati mertuanya dan memberinya kepercayaan kembali. Fardan dan keluarga sudah tinggal di Jakarta. Anindita memintanya untuk menempati rumahnya yang memang belum disewakan. Fardan tidak mau diserahi urusan perusahaan yang membuat kepalanya pusing. Dia hanya meminta pada saudara kembarnya untuk menjadi kepala keamanan, dan diberikannya jabatan sebagai kepala security. Kepala security yang memiliki saham kepemilikan di perusahaan.
Sementara itu, kehidupan rumah tangga Faisal dan Anindita menjadi semakin berwarna semenjak kehadiran sepasang anak kembar itu. Nawasena dan Nareswari tumbuh menjadi bayi yang sehat dan lincah. Bu Windarti menjadi punya kesibukan baru yaitu membantu menantunya mengurus si kembar yang sudah mulai aktif.
Semenjak kehadiran dua buah hatinya, Anindita sudah memutuskan untuk belajar menutup aurat. Dia perlahan berjilbab, meski awalnya hanya sesekali namun semakin kesini semakin terbiasa. Dia teringat ucapan Faisal yang ingin mengajaknya hidup bahagia bukan hanya di dunia melainkan sampai akhirat.
“Abang adalah imam, meskipun ilmu agama abang terbatas, tapi abang tahu jika kalian adalah tanggungjawab abang. Rumah tangga ini adalah sebuah perahu, dimana abang adalah nahkodanya, jika salah satu dari kalian tenggelam, maka yang harus bertanggungjawab adalah abang, bantu abang untuk menjaga dan mendidik mereka sayang, menjadi madrasah pertama agar mereka tumbuh dan mengenal agama sejak awal, dan menyeimbangkan perahu kita hingga bisa berlayar dengan tenang sampai tujuan.” Faisal berkata sambil mengusap pucuk kepala istrinya yang sudah ditutupi oleh kerudung. Anin mengangguk.
“Terimakasih sudah mau menutup auratmu sayang, semoga menjadi teladan untuk Nareswari kelak,” ucapnya lagi lembut. Anindita menyandarkan kepalanya pada dada bidang Faisal sambil menikmati semilir angin sore ditaman belakang. Sementara Nawasena dan Nareswari sedang berlarian berkejaran.
*Kebahagiaan itu Tuhan yang membagikan, namun kita yang memutuskan, tidak perlu alasan untuk bahagia, tapi buanglah segala alasan yang bisa membuatmu sedih dan luka, maka kebahagiaan itu akan datang dengan sendirinya*
*T A M A T*
__ADS_1