
Bu Tati sudah sejak tadi selesai menyiapkan makan malam, beragam menu masakan sudah memenuhi meja makan lengkap dengan menu pembuka dan menu penutup. Setelah beres dia kembali menuju kamar belakang untuk makan malam bersama suami tercintanya. Sebetulnya Bu Windarti mengajaknya bergabung makan di ruang makan keluarga, tetapi baginya menghabiskan makan malam berdua dengan suaminya jauh lebih bermakna. Karenanya hanya tiga orang saja yang terlihat sudah duduk dan mulai menikmati makan malamnya. Tidak banyak percakapan yang terjadi diantara mereka, sesekali Faisal menawarkan menu makanan dan menyendokannya ke piring Anindita.
Meja makan sudah dibereskan kembali, Anindita hanya membawa satu mangkuk salad sayur dan buah ketika bergabung dengan Bu Windarti dan Faisal yang sedang selonjoran di ruang keluarga. Sebuah televisi berukuran besar sudah menyala, beberapa kali berganti channel karena tidak ada acara yang menarik untuk ditonton. Anindita mendudukan tubuhnya disamping Bu Windarti sambil meletakkan salad dan buah potong yang dibawanya.
“Bu, eh Mah, ini salad sama buahnya sayang kalau dibuang,” jiwa anak kontrakan Anin rupanya masih melekat, ketika Bu Tati sibuk membereskan meja dan hendak membuang makanan tersebut, sontak Anindita menyelamatkannya.
“Wah Anin suka salad ya, bagus buat kesehatan Nak, lain kali Ibu buatin salad spesial kalau kamu kesini lagi,” mata Bu Windarti berbinar melihat sosok gadis yang akan segera menjadi bagian dari keluarganya tersebut.
“Bu Tati itu ga suka makanan-makanan kaya gitu, pasti dibuangnya kalau ga habis, oia gimana kabar Bu Wanti?” ujarnya lagi.
“Baik Mah, kemarin sewaktu Anin telpon, suaranya terdengar baik-baik saja cuma merasa kesepian katanya dan keingetan terus Rizki,” jawab Anin sambil menyuapkan salad ke mulut mungilnya.
“Nanti kamu jemput saja Fay ibunya Anin, ajak berlibur kesini,” ujar wanita itu sambil melirik kearah putranya yang sedang berbaring di sofa menatap gadis yang sedang asyik makan salad.
“Nanti saja Mah, ibu masih mengenang suasana kampung, maklum udah lama banget baru pulang,” cegah Anindita tanpa sadar kalau ada sepasang mata yang sedari tadi menatapnya dalam diam.
“Anin sering-sering nginep kesini ya, kalau kamu ga disini mana ada Faisal mau nemenin mamah diruang keluarga kayak gini, kalau ga di ruang kerja, di kamar,” keluh Bu Windarti sambil memicingkan mata menatap putranya yang belum berubah posisinya.
“Jangan gitu dong Bang, kasian mamah, kamu harus punya waktu juga buat keluarga,” ujar Anindita melemparkan protes sambil melirik kearah lelaki tersebut, sontak Faisal mengalihkan pandangannya ke sembarang tempat.
“Makanya kamu sering kesini, biar mamah ga kesepian,” Faisal malah melempar balik perangkap sambil matanya mengerling jahil yang dibalas oleh cebikan dari gadis itu.
“Coba dulu saudara kembarnya Faisal bisa ditemukan, mungkin rumah ini ga sesepi ini,” ujar Bu Windarti sementara matanya menerawang hampa.
“Emang Abang punya saudara kembar mah?” Anindita memastikan.
__ADS_1
“Iya, sewaktu kecelakaan itu terjadi, Papah sedang mengantar Fardan berobat ke rumah sakit karena Fardan mendadak muntah-muntah dan panas, Mamah mempercayakan pada baby sister karena mamah harus menjaga Faisal juga di rumah,” ujar Bu Windarti.
“Entah dimana sekarang bayi Mamah yang malang tersebut, yang ditemukan hanyalah almarhum papah dan baby sisternya, sementara Fardan tidak diketahui keberadaannya sampai hari ini,” Bu Windarti tidak bisa menahan tangis setiap kali memikirkan putranya yang entah dimana dia sekarang.
Anindita memeluk untuk menenangkan wanita itu, tak sampai hati untuk bertanya lagi perihal kejadian yang pastinya sangat melukai hati dan perasaannya. Selebihnya dia lebih memilih diam sambil menghabiskan saladnya. Mata bulatnya menatap layar besar yang sedang menampilkan liputan utama kondisi ekonomi negara.
Malam itu akhirnya Anindita menginap di rumah mantan majikan ibunya tersebut. Bukan pilihan yang bijak untuknya jika harus menolak permintaan seorang wanita yang hatinya sedang terluka tersebut. Ada sebuah ketulusan dan kesepian yang mendalam dari pupil hitamnya. Darisana Anindita memahami seberapa besar luka yang selama ini terpendam. Harta, uang dan segala kemewahan itu tidak bisa mengembalikan kebahagiaan yang terenggut begitu saja.
Anindita bergidik sendiri membayangkan betapa beratnya perjuangan Bu Windarti dalam mempertahankan perusahaan demi anak semata wayangnya. Disatu waktu harus menjadi setegar karang sementara disisi lain dia harus mengobati luka yang menganga terbuka lebar.
***
Pagi itu setelah sarapan, Anindita tampak sudah siap dengan setelan baru pakaian kerjanya. Ternyata Bu Windarti telah menyiapkan semua pernak-pernik kebutuhannya bahkan sampai hal-hal yang sangat detail. Anindita tampak begitu menawan dengan setelan blezer warna pastel, rambutnya digerai memperlihatkan gelombangnya. Gadis itu menggerai rambut karena tidak ada pilihan, kuncir rambut yang dibawanya tanpa sengaja jatuh dikamar mandi dan basah. Akhirnya dia memutuskan untuk menggerai rambutnya.
Faisal menatapnya penuh arti, dia sudah rapi dengan pakaian santainya. Dia hanya mengenakan celana selutut dengan kaos putih polos. Tampilan simpelnya membuat ketampanannya memancar sempurna dan tampak lebih muda beberapa tahun dari usianya. Tidak ada percakapan panjang yang terjadi di meja makan, karena Anindita harus berangkat lebih awal mengingat jarak rumah Faisal dengan tempat kerjanya lumayan jauh.
“Fay, kamu anterin Anin sampai tempat kerjanya kan?” wanita itu melirik kearah putranya yang sedang memakai sepatu.
“Ya iyalah mah,” jawabnya cuek.
“Hati-hati ya bawa mobilnya,”ujar wanita itu sambil menatap putranya yang sekarang sudah bersiap dengan kunci mobilnya.
“Assalamu’alaikum,” Anindita dan Faisal berpamitan dan menuju keluar diantar oleh tatapan berbinar dari wanita paruh baya itu.
“Wa’alaikumsalam” Bu Windarti menjawab salam mereka dan mengantarnya dengan tatapan sampai mobil itu tak terlihat lagi.
__ADS_1
***
Jalanan masih lumayan sepi karena masih cukup pagi dan belum mulai sibuk. Yang terlihat sudah ramai hanya para penjual makanan untuk sarapan. Anindita menyandarkan bahunya santai sambil menatap teduhnya pemandangan kota diawal pagi. Kendaraan yang mereka tumpangi berbelok ke arah berlawanan dan masih belum keluar area perumahan. Gadis itu menatap heran pada lelaki yang berada di sampingnya.
“Abang kho muter-muter disini saja sih? lagi nyari apa?” tanyanya sambil mengernyit.
“Ada lah, nanti kamu juga tahu,” jawab Faisal santai.
Akhirnya mobil yang mereka tumpangi berhenti didepan sebuah sekolah dasar yang sudah terlihat beberapa pedagang berjajar berjualan dengan jarak yang lumayan jauh dari gerbang sekolah. Faisal memarkirkan mobilnya dan meminta gadis itu menunggunya. Dia kemudian pergi menghampiri penjual mainan dan aneka akeseoris rambut. Tak berapa lama, lelaki itu sudah kembali dan memberikan sesuatu pada Anindita.
“Nih pakai,” ujarnya sambil menyodorkan benda berwarna pastel senada dengan setelan kerja gadis tersebut.
“Ikat rambut? untuk apa Bang?” Anindita bingung.
“Mulai hari ini, kamu ga boleh gerai rambut kamu kecuali di depan abang, abang ga rela kalau ada lelaki lain yang semakin mengagumi kecantikan kamu” ujarnya penuh perintah.
“Kekanak-kanakan,” gumamnya perlahan hampir tidak terdengar.
“Apa?” Faisal melirik dan menajamkan pandangannya.
Anindita hanya menggeleng kepala, kemudian mengikuti perintah lelaki tersebut tanpa banyak bertanya lagi. Karena akan sia-sia jika hanya untuk berdebat dengannya, sementara dirinya harus segera tiba sampai kantor tepat waktu. Setelah Anindita mengikat rambutnya barulah alphard itu melaju kembali menyusuri jalanan menuju tempat kerja Anindita.
***
TERIMAKASIH YANG UDAH MAMPIR KE NOVEL INI.. AUTHOR YANG MASIH BELAJAR INI MINTA MAAF JIKA BELUM MEMBUAT KARYA SEBAGUS AUTHOR-AUTHOR YANG LAINNYA.
__ADS_1
TETAPI JANGAN LUPA UNTUK LIKE, KOMEN DAN VOTE YA... DAN KASIH BINTANG LIMA JUGA... MAKASIH.