Perjalanan Dan Takdir Cinta

Perjalanan Dan Takdir Cinta
Bab 34 - Pesta Pernikahan


__ADS_3

Pagi itu Anindita dikejutkan oleh sebuah kabar mengenai pernikahan Lia. Seorang ibu yang bebelanja di warungnya yang membawa kabar tersebut. Pernikahan yang membuat semua orang bertanya-tanya, keluarga pak Harnan cukup rapat menyimpan rahasia perihal hal memalukan yang dilakukan anaknya.


“Lusa Lia menikah bang, kita datang engga ya?” Anindita memulai pembicaraan ketika Faisal duduk di bangku panjang membiarkan kulit bersihnya terkena sinar matahari.


“Memangnya di undang?” Faisal balik bertanya sambil menyimpan kopi panas yang masih berasap.


“Kalau di kampung kayak gini, kalau rumahnya dekat biasanya tidak di undang pun ya harus datang Bang,” ujar Anindita mengerucutkan bibirnya, sebetulnya diapun malas menghadiri acara itu terlebih ini untuk seseorang yang sejak dulu selalu merendahkannya.


“Ya udah kalau gitu kita datang, kan kita masih beberapa hari lagi liburan disini,” ujar Faisal.


“Disini pasar yang paling deket dimana?” tanya Faisal pada gadis yang kini duduk menemaninya berjemur merasakan hangatnya mentari pagi dan udara bersih pedesaan.


“Ada pasar kecil Bang, lima belas menitan dari sini, emang mau ngapain?” Anindita menoleh kearah lelaki tampan yang sedang meneguk kopinya.


“Sayang, masa kita menghadiri pernikahan ga bawa kado,” Faisal melirik kearah wanita cantik yang masih menatapnya tersebut. Anindita hanya menjawab dengan kekehan kecil sambil menggeleng-gelengkan kepala menertawakan dirinya sendiri.


“Ayo,” tiba-tiba Faisal berdiri dan mengulurkan lengannya kearah Anindita.


“Kemana?” gadis itu menatap heran.


“Beli kado lah, kan pernikahannya besok,” ujar Faisal.


“Jalan kaki?” Anindita memastikan.


“Mumpung masih pagi sekalian olah raga,” ujar lelaki itu sambil menganggukan kepala.


Akhirnya Anindita bergegas mengganti pakaian dengan pakaian olah raga, sementara Faisal masih mengenakan pakaian yang sama. Mereka berjalan beriringan sambil menikmati segarnya udara pagi. Waktu lima belas menit terasa begitu cepat jika dilalui dengan kebahagiaan. Hati berbunga-bunga membuat semua menjadi lebih ringan. Dua sejoli itu sudah tiba di pasar kecil yang hanya memiliki beberapa ruko sederhana yang berjejer didepan dan luas pasarnya hanya seluas lapangan sepak bola. Karena memang dulu disana adalah lapangan sepak bola yang kemudian dialih fungsikan menjadi pasar untuk warga.

__ADS_1


“Ini kembaliannya,” seorang penjaga toko dengan ramah memberikan sebuah kado yang sudah terbungkus rapi dan dimasukkan kedalam plastik besar seraya memberikan uang kembalian kepada Anindita.


“Iya, makasih mba,” ujar Anindita sambil mengangguk dan kemudian menghampiri Faisal yang sedari tadi hanya menunggunya di luar toko sambil berjemur.


“Ade!” suara seorang lelaki menghentikan langkahnya, dia menoleh kearah datangnya suara.


“Eh calon penganten ada disini,” Anindita tersenyum ketika dilihatnya Romi yang sedang berjalan kearahnya.


“Calon penganten?” Romi berkerut bingung, namun sesaat sebuah tawa akhirnya pecah.


“Kamu pasti salah mengira, Lia bukan nikah sama Kakak De,” ujarnya sambil terlihat wajahnya begitu sumringah tanpa beban.


“Terus?” Anindita mengerutkan dahinya.


“Dia menikah dengan Ardan,” ujar Romi sambil memasang wajah bahagia seolah terlepas dari beban yang begitu berat.


“Jodoh ditangan tuhan, bertunangan bukan berarti selalu berjodoh,” ujar Romi sambil memicingkan mata kearah Faisal yang sudah berdiri dibelakang Anindita.


“Anin ga ngerti Kak,” gadis itu menggeleng kepala.


“Jodoh itu bukan hanya masalah hati, semuanya ditangan tuhan, bisa saja kita bertunangan dengan siapa tetapi menikah dengan siapa,” ujarnya dengan senyum penuh makna menatap wajah gadis yang sejak dulu sudah mencuri hatinya itu.


“Sayang, ayo kita pulang,” Faisal menggandeng lengan Anindita dan memaksanya menjauhi Romi. Pemuda itu hanya menatapnya dan menghela nafas panjang ketika gadis itu berpamitan dan berlalu meninggalkannya.


***


Sore itu kediaman pak Harnan sudah cukup ramai. Setelah akad nikah dilaksanakan semua tamu undangan dipersilahkan mengambil hidangan yang sudah disediakan. Lia tampak terlihat cantik dengan balutan kebaya pengantin, namun tidak ada aura kebahagiaan terpancar dari wajahnya. Sementara Ardan terlihat biasa namun terlihat senyumnya yang singkat mengembang penuh makna. Bagaimana buruknya sifat Lia, Ardan adalah satu-satunya laki-laki yang selalu menjadi fans gadis itu sejak duduk di sekolah SMP. Lia baginya adalah bidadari, sementara Ardan bagi Lia adalah kurcaci.

__ADS_1


“Selamat ya,” Anindita memberikan kado yang sudah dibelinya kemarin dipasar, sementara Faisal masih berdiri tanpa ekspresi disampingnya. Lelaki itu bisa menjadi sangat angkuh jika berhadapan dengan orang yang tidak disukainya.


“Iya makasih,” Ardan yang menyambut kado dari Anindita dan menyambut ucapannya penuh senyuman, sementara sudut mata Lia yang sembab masih sempat mencuri pandang kearah Faisal. Harusnya lelaki itu yang tertangkap dengannya malam itu, dan harusnya lelaki itulah yang ayahnya paksa menikahinya bukan Ardan. Giginya gemeretak, tatapan matanya semakin menyiratkan tatapan tidak suka kepada gadis yang ada didepannya.


“Silahkan dinikmati jamuannya Mas, Mba,” suara Ardan dengan ramah sambil menggiring Faisal dan Anindita kearah meja hidangan, sebelum suasan canggung berubah menjadi beku.


“Buk Buk Buk” terdengar suara ricuh dihalaman samping yang tidak jauh darisana, area yang dijadikan tempat parkir para tamu undangan.


Anindita dan Faisal meletakkan kembali piring yang baru hendak di isi makanan. Beberapa undangan juga berkerubung menuju pusat kericuhan. Terlihat seorang lelaki berpakaian lusuh sedang dipukuli oleh beberapa warga. Faisal menangkap lekat bayangan itu, setelah memastikan sesuatu dia berlari menuju kerumunan warga yang masih memberikan tendangan-tendangan pada tubuh yang sudah tergeletak itu.


“Berhenti Bapak-Bapak!” suara tegas Faisal yang berkharisma menarik perhatian warga, tubuh tegapnya memburu melerai kericuhan yang terjadi.


“Jangan main hakim sendiri, Kita bisa membahasnya dengan para penegak hukum,” ujar Faisal yang sudah berjongkok meraih sosok yang tergelepar itu, dia sudah memastikan kalau laki-laki itulah yang datang padanya malam itu.


“Dia sejak tadi mencurigakan, mungkin hendak mencuri sepeda motor tamu pak,” ujar lelaki yang berpakaian satpam.


“Baik, sekarang lepaskan dia, kita tanyakan dulu baik-baik, jangan main hakim sendiri,” tegas Faisal sambil membantu lelaki yang tubuh tegapnya hampir berimbang dengannya untuk berdiri.


Dia memapahnya ke tempat yang lebih terang dan ada beberapa bangku panjang disana. Kerumunan warga itu mengikutinya hendak melihat apa yang akan pemuda tampan itu lakukan pada buruannya. Sementara tubuh mungil Anindita mencoba menerobos para tamu yang semakin mengerubung penasaran akan apa yang telah terjadi. Setelah bersusah payah akhirnya dia melihat Faisal sedang mencoba mendudukan lelaki berpakaian lusuh itu, penutup kepala yang selalu dipakai untuk menutup sebaian wajahnya terlepas, ada darah segar mengalir dari ujung bibirnya.


“Bang Murod!” Anindita setengah berteriak sambil berlari dan memeluk lelaki berpakaian lusuh itu. Tangisnya pecah dalam kerumunan orang-orang.


Semua mata memandang tidak percaya. Mereka sudah hampir lupa wajah seseorang yang menghilang bertahun-tahun lalu dan tidak ditemukan sampai hari ini. Apakah benar lelaki yang mereka anggap pencuri itu adalah Murod. Apakah setelah menghilang lelaki itu menjadi seorang pencuri.


***


TERIMAKASIH YANG UDAH MAMPIR KE NOVEL INI.

__ADS_1


TETAPI JANGAN LUPA UNTUK LIKE, KOMEN DAN VOTE YA... DAN KASIH BINTANG LIMA JUGA... .MAKASIH.


__ADS_2