Perjalanan Dan Takdir Cinta

Perjalanan Dan Takdir Cinta
Bab 22 - Customer Complain


__ADS_3

Seperti biasa suasana kantor pagi itu penuh dengan tumpukan pekerjaan. Diruangannya terlihat Anindita, Rinda dan Anita berwajah serius dan tidak terdengar guyonan santai seperti biasa. Hari itu mereka mendapat customer complain yang cukup berpengaruh terhadap performance perusahaan. Team-team terkait sedang mencoba berkoordinasi dengan sang customer terkait complain tersebut. Sebagai divisi marketing yang bertugas berkomunikasi langsung dengan customer, maka Anindita memiliki tugas yang cukup signifikan. Setelah melakukan negosiasi yang cukup lamban, dan penolakan undangan makan siang oleh customernya, dengan berbagai cara akhirnya customer tersebut bisa bertemu mereka di restoran dan waktu yang mereka tentukan sendiri. Pastinya dengan dibayarkan pihak perusahaan supplier.


“Gimana?” tanya Hadi setelah melihat Anindita menutup gagang telponnya, lelaki itu sedari tadi menungguinya menelpon dan duduk di kursi kosong yang biasanya ditempati anak magang.


“Alhamdulilah Pak, mereka bisa, akan tetapi mereka memilih tempat ini,” Anindita menunjukkan catatan tempat dan waktu yang disebutkan oleh customernya tadi.


“Ok, kalau gitu kamu booking tempat itu sesuai waktu yang mereka minta, terus koordinasikan kepada finance terkait masalah biayanya,” perintah Hadi.


“Baik Pak,” jawab gadis itu.


Anindita segera menghubungi restaurant yang dipilih oleh customernya dan memesan ruangan VIP dengan fasilitas karaoke terbaik. Dia juga meminta dikirimkan daftar menu sehingga bisa memesan main menu terlebih dulu agar tidak menunggu lama nantinya. Setelah selesai, gadis itu pergi ke bagian finance untuk mengkoordinasikan masalah pembayarannya.


“Makasih Mba Selfa,” ucap Anindita setelah staff finance tersebut memberikan sejumlah uang kepadanya.


Anindita kembali duduk di meja kerjanya, Rinda dan Anita terlihat sedang dipanggil ke ruangan Hadi. Gadis itu mendaratkan tubuhnya di kursi kerjanya, menghela nafas panjang setelah berhasil menaklukan customer yang cukup rese tersebut.


“Mungkin tuhan menciptakan orang-orang seperti mereka untuk memberikan latihan kesabaran,” gumam Anindita dalam hati, sambil kembali fokus pada layar laptopnya untuk menyelesaikan pekerjaan lainnya yang tertunda.


Trrrrt Trrrt Trrrt


Sebuah notifikasi pesan whatsapp masuk kedalam ponselnya, segera dia melihat ke layar whatsapp web yang masih terbuka di layar laptopnya. Rupanya pesan dari seseorang yang sudah dia berikan janji kemarin malam.


“Nanti abang jemput jam lima sore ya, kita makan malam di rumah saja, mamah udah masak yang spesial buat calon mantunya,” pesan whatsapp dari Faisal. Anindita menepuk jidatnya sambil menghela nafas, dia melupakan sesuatu, tidak mengabari insiden yang terjadi hari ini.

__ADS_1


“Aduh, maaf Bang Anin lupa info, hari ini ada masalah customer yang cukup signifikan. Anin udah membujuk mereka untuk meeting sambil makan siang, tapi keukeuh mereka maunya dinner, mana ditempat kaya gitu lagi, huh,” ucap Anindita.


“Masalah customer? Mereka minta dinner dimana emangnya?” pesan whatsapp Faisal.


“Di Hotel XXX, iya customer yang paling menyebalkan Bang, PT XXX,” Anindita tanpa menaruh curiga kalau Faisal sebetulnya sedang mengorek informasi yang terjadi di cabang perusahaannya.


“Ok kalau gitu hati-hati, makan malamnya ganti lain kali, Bye,” pesan whatsapp dari Faisal.


Anindita menghela nafas, perasaannya sungguh tidak enak mengingat ucapan Faisal kalau Bu Windarti sudah menyiapkan masakan spesial untuknya. Akan tetapi ini tuntutan tanggung jawab dan pekerjaan yang harus diselesaikannya. Hampir satu jam Rinda dan Anita berada diruangan Hadi, sepertinya mereka sedang membahas pendingan-pendingan pekerjaan yang sudah mendekati dateline. Ketika pintu ruangan manager terbuka, Anindita segera berdiri untuk menginformasikan jika plan untuk dinner sudah terjadwal dengan baik. Akan tetapi baru saja hendak melangkahkan kaki, telepon di mejanya berdering.


“Hallo,” jawabnya, terdengar suara resepsionis di seberang sana.


“Bu, ini ada telepon dari PT XXX, dia mau bicara sama ibu terkait meeting,” ujar resepsionis kemudian telepon tersambung langsung dengan yang dituju.


“Haloo, Mba Anin ya, saya mau follow up masalah meeting kita malam ini,” ujarnya.


“Bukan begitu Mba, sepertinya malam ini tidak bisa, saya mendadak ada kepentingan, minta tolong diganti menjadi siang ini saja bisa? Pukul 12.30 di tempat ya,” ucap lelaki diseberang sana dengan suara datar.


“Oh gitu, baik Pak Robert, saya sampaikan dulu kepada Pak Hadi ya,” ucap Anindita sambil menutup sambungan telepon. Kemudian dia bergegas ke ruangan Hadi dengan pikiran yang bertanya-tanya, kenapa tiba-tiba orang itu mengubah sendiri tempat dan waktunya.


Setelah mendapatkan konfirmasi dari Hadi, Anindita segera menghubungi Hotel XXX untuk mengganti waktu, ruangan dan jam meetingnya menjadi siang ini. Beruntung waktu masih menunjukkan pukul sebelas, sehingga Anindita masih memiliki waktu untuk mempersiapkan meeting dan makan siang itu dengan baik.


***

__ADS_1


Meeting berlangsung cukup lama, obrolan serius santai dan basa-basi dengan mereka cukup menyita waktu. Pukul lima sore, Anindita baru sampai di kantornya. Mobil yang ditumpanginya bersama Hadi perlahan berbelok memasuki gerbang perusahaan, seorang security membukakan gerbang seraya membungkuk memberi hormat. Dengan perasaan heran, Anindita melirik sebuah mobil Alphard putih yang terparkir di pinggir jalan tidak jauh dari sana. Sesampainya di ruangan, Anindita bergegas membereskan meja kerjanya, Rinda dan Anita sudah meluncur sejak tadi menuju mesin finger untuk scan pulang. Anindita mengambil ponselnya untuk memastikan sesuatu. Sebelum dia melakukan panggilan keluar, tiba-tiba sebuah panggilan masuk datang.


“Hallo, iya Bang,” jawab gadis itu.


“Abang tunggu didepan gerbang ya,” suara Faisal.


“Hmm ok Bang, kho tau aku ga jadi meeting nanti malam?” Anindita mengernyit bingung.


“Berarti Tuhan tahu kalau kamu udah ada janji yang lebih penting, ayo buruan ditungguin ga usah banyak nanya,” kemudian panggilan telepon terputus.


Anindita sudah menenteng tasnya dan menuju pintu keluar ketika didengarnya suara Hadi memanggilnya dari belakang.


“Anin, mau pulang bareng ga? saya ada keperluan lagi ke arah kontrakan kamu,” lelaki itu sungguh tidak pandai mencari alasan lain yang menurutnya masuk akal untuk bisa mengantar staffnya pulang.


“Oh sering banget Pak ada urusan disana? tapi saya dijemput hari ini dan udah ada janji lagi,” ucap Anindita sambil tersenyum.


“Iya, ada project yang belum selesai,” ucap Hadi berbohong, sambil berjalan menjejeri gadis itu menuju pintu exit.


“Ok Pak, saya permisi ya, semoga projectannya sukses,” ucap gadis itu ketika mereka terpisah di depan pintu keluar kantor.


Hadi menatap punggung gadis itu yang berjalan cepat menuju gerbang, bisa dilihatnya dengan jelas alphard putih yang sama dengan yang dilihatnya ketika habis makan malam itu. Kali ini dia benar-benar yakin jika saingannya bukan orang sembarangan. Hadi bergegas mempercepat langkah menuju mobilnya di parkiran. Lain kali dia akan memikirkan alasan yang lebih masuk akal selain ada urusan yang searah dengan kontrakan Anindita.Baginya sebelum gadis itu diikat oleh yang namanya pernikahan, masih halal untuk dia mengejarnya.


***

__ADS_1


TERIMAKASIH YANG UDAH MAMPIR KE NOVEL INI.. AUTHOR YANG MASIH BELAJAR INI MINTA MAAF JIKA BELUM MEMBUAT KARYA SEBAGUS AUTHOR-AUTHOR YANG LAINNYA.


TETAPI JANGAN LUPA UNTUK LIKE, KOMEN DAN VOTE YA... DAN KASIH BINTANG LIMA JUGA... MAKASIH.


__ADS_2