Perjalanan Dan Takdir Cinta

Perjalanan Dan Takdir Cinta
PTDC2 - Mandi


__ADS_3

Anindita dan Faisal memilih kursi yang tadi diduduki Sierra dan Mario. Mereka melepas rasa lapar dengan menikmati sajian hidangan. Ada pancaran sinar kebahagiaan dari setiap garis senyuman yang melengkung dari bibir lelaki itu. Sebuah kebahagiaan dan kelegaan karena yang selama ini dikhawatirkannya tidak terjadi. Gadis yang dicintai itu kini menjadi miliknya, meskipun dia tahu masih butuh waktu untuk membuat gadis itu mencintai seutuhnya akan tetapi dia akan melakukan apapun untuk mendapatkan itu.


Pandangan itu kian lekat, binar-binar mata Faisal tidak bisa membohongi dunia, hari itu semua kebahagiaan seolah-olah miliknya. Faisal menggenggam jemari lembut wanita yang sudah sah menjadi istrinya beberapa jam yang lalu. Diciumnya punggung telapak tangan itu membuat pemiliknya menjadi merona. Lelaki itu tidak menghiraukan para tetangga dan kolega-kolega dekat yang sedang ramai menikmati hidangan.


“Bang, ih malu,” Anin tersipu sambil menarik tangannya dari genggaman sang suami. Faisal terkekeh, dengan gemas dia melihat istrinya yang terlihat semakin lucu ketika tersipu.


“Lagi makannya yang?” Faisal melirik piring berisi puding yang tinggal setengah. Anindita menggeleng, dia sudah cukup menghabiskan makanan sore itu.


“Bentar ya abang ambilkan buah potong, biar seger,” Faisal berlalu tanpa menunggu persetujuan sang istri. Tak berapa lama dia kembali dengan membawa semangkuk buah potong yang disiram oleh saus mayones kesukaan istrinya.


“Abang, itu banyak banget, aku udah kenyang,” mata Anindita mendelik kesal kepada lelaki yang suka memaksakan kehendaknya itu.


“Harus banyak makan biar kuat, bentar lagi tamu bubar,” bisik Faisal menggoda istrinya.


“Ih, apaan sih,” wajahnya semakin merona menahan malu bercampur gugup. Faisal semakin terkekeh melihat tingkah istrinya.


“A,” Faisal menyendok salad dan hendak menyuapi gadisnya. Dia menyuapi layaknya sedang membujuk anak kecil yang susah makan.


“Satu suap aja ya, sisanya abang yang habisin,” akhirnya gadis itu mengalah atau makan malam itu tak akan pernah selesai nantinya.


Potongan buah premium yang segar dan manis bercampur gurih salad membuat selera makannya datang kembali. Setelah kunyahannya selesai, Anindita kembali membuka mulutnya meminta suapan berikutnya. Faisal yang tengah menyendokan salad ke mulutnya terkekeh. Dia sengaja berlama-lama menyelesaikan kunyahannya membiarkan sang istri cemberut, baginya menggoda Anin menciptakan kebahagiaan tersendiri. Bibir gadis itu mengerucut kesal.


Cup


Tiba-tiba sebuah kecupan singkat mendarat dibibirnya yang membuat mata Anin mebulat dan melempar sendok kearah Faisal. Ditengah hiruk pikuk para tamu undangan masih sempat-sempatnya lelaki berbuat hal yang baginya tabu dilakukan didepan umum.

__ADS_1


“Abang ih, malu lho, masih banyak orang,” Anin protes sambil melemparkan benda-benda yang ada didekatnya, sendok, tusuk gigi, terakhir kotak tissue yang dengan sigap ditangkapi Faisal sambil terkekeh.


“Iya nanti kalau udah ga banyak orang ya,” lelaki itu makin sengaja menggoda istrinya, membuat wajah itu makin merona.


“Fay , itu para tamu undangan mau pada berpamitan,” tiba-tiba suara Bu Windarti memecah perseteruan mereka. Rupanya para tamu undangan merasa segan untuk menghampiri pasangan yang sejak tadi mengumbar kemesraan disudut tempat pesta.


“Iya Mah, ayo sayang,” Faisal meraih lengan Anindita dan menggamitnya untuk berjalan beriringan menemui para tamu yang sudah selesai menyantap hidangan.


“Mas Faisal, Mba Anin, kami pamit dulu ya, semoga jadi keluarga yang sakinah, mawaddah, warrohmah,” ucap Pak RT yang diaminkan oleh beberapa orang tetangga yang hendak berpamitan juga.


Akhirnya satu per satu tamu itu meninggalkan kediaman megah Bu Windarti. Kini tinggalah keluarga inti, Bi Tati dan Mang Omon yang tengah sibuk membereskan bekas jamuan dibantu oleh beberapa karyawan catering. Bu Windarti dan Bu Wanti tengah berselonjor santai di ruang keluarga mendengarkan televisi yang menyala ketika Anin dan Faisal turut duduk berbaur dengan mereka.


“Fay, Mamah dengar dari Bu Wanti, Anin udah beli rumah ya? kalian ga akan tinggal disana kan?” Bu Windarti langsung menuju pokok permasalahan yang sejak tadi dia pikirkan.


“Iya Mah, rumah itu biar disewakan saja biar ada yang urus, Fay berencana ambil rumah yang dekat kantor pusat aja Mah,” Faisal menjawab pertanyaan ibunya tanpa menanyakan dulu kepada sang pemilik rumah yaitu istrinya. Anindita hanya menarik nafas dan membuangnya.


“Gimana sayang?” Faisal menoleh kepada istrinya.


“Iya Nak, kasian Bu Windarti, kalau di kota tetangganya beda sama di kampung, pasti merasa sangat sepi,” Bu Wanti menimpali.


“Anin sih terserah Bang Faisal aja Bu, Mah,” Anindita menatap kedua wanita mulia dihadapannya bergantian.


“Ya udah, ga usah dipikirin dulu Mah, nanti Faisal pikirkan bagaimana baiknya,” ucap Faisal sambil tersenyum.


“Ya udah, kalian istirahat sekarang udah malem, mamah sama Ibu juga sudah ngantuk,” ucap Bu Windarti sambil mematikan televisi. Kedua wanita itu kemudian bersiap menuju kamarnya masing-masing karena waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.

__ADS_1


Faisal dan Anindita menuju kamar mereka dilantai dua, kamar yang bersebelahan dan perdebatan terjadi didepan pintu kamar.


“Sayang, kho kamu masuk kesitu,” tangan Faisal menahan tangan istrinya yang hendak memutar handel pintu kamar yang biasa ditempatinya.


“Lah ini kan kamarku Bang,” Anin tidak terima.


“Terus abang?” tanyanya menatap lekat pupil hitam yang hanya berjarak beberapa senti dari wajahnya.


“Ya terserah,”Anindita memutar handel pintu ketika lengan yang mencegahnya itu lengah, sehingga pintu itu terbuka, gadis itu langsung melarikan diri.


Faisal mengikutinya dari belakang. Anindita menjatuhkan tubuhnya di kasur yang seperti sudah memanggilnya. Rasa lelah dan ngantuk berkombinasi membuatnya tak sadar jika tubuh tegap itu mengikutinya dari belakang. Dia sudah meringkuk dengan memejamkan mata beberapa saat, sampai sebuah kecupan mendarat didahinya.


Cup


“Mandi dulu sana, abang sudah siapkan air hangatnya di bathub,” suara Faisal menyadarkannya yang sudah setengah terlelap.


“Aku ngantuk Bang, mandinya besok aja,” Anin menggeliat tak menghiraukan suaminya.


“Badan kamu nanti pegel-pegel, udah seharian kena keringat, banyak kuman tau,” Faisal bersikap seolah menjadi seorang ahli kebersihan. Anin masih bergeming dan memejamkan mata yang masih terasa bagitu berat untuk dibuka.


“Iya Bang bentar,” dengan malas dia menjawab, namun tiba-tiba tubuhnya merasa melayang, gadis itu mengerjap mengumpulkan kesadaran.


“Abang mau ngapain?” Mata Anin terbuka sempurna ketika tangan kekar itu ternyata membopongnya kekamar mandi.


“Mandiin kamu,” bisik Faisal sambil menyeringai menggoda istrinya. Seketika gadis itu meronta dan melepaskan diri dari pangkuan suaminya. Dia berlari ke kamar mandi dan menguncinya. Lelaki itu hanya terkekeh sambil menggeleng-gelengkan kepala.

__ADS_1


Ditunggu dukungan LIKE, KOMEN nya ya..... terus kalau ada sedikit kelebihan poin kasih VOTE dongsss, biar semangat nulisnya – Upsss satu lagi, jangan lupa klik ikon (❤) agar cerita ini jadi Favorite.


__ADS_2