
Mario sudah memarkir mobilnya di halaman restaurant tersebut, sedikit canggung baginya jika harus menanyakan langsung kepada resepsionis atau bagian sumber daya manusia. Dia masih ingat jika dulu Anindita sudah pindah kerja ke sebuah kantor yang belum sempat dia ketahui alamatnya. Lelaki itu berharap bisa mendapatkan informasi tempat kerja Anindita dari para pegawai disini.
“Mbak, mau pesan teh lemon hangat dan iga bakar mentega,” ucap Mario, sambil memilih tempat duduk yang berada di tempat startegis sehingga beberapa pelayan akan mondar-mandir kesana kemari melewatinya.
“Ini Mas pesanannya, ada lagi?” seorang waitress dengan senyum mengembang bertanya padanya. Mario menggeeleng setelah mengucapkan terimakasih. Belum berapa jauh waitress itu melangkah, dia memanggilnya kembali.
“Hmmm, Mba maaf, ada yang mau saya tanyakan.” Mario berdiri dan mengambil dompet dari sakunya, dia tampak mengeluarkan sesuatu.
“Iya Mas, apa?” Waitress itu dengan mata berbinar menghampiri Mario, ketampanannya yang oriental dan mirip dengan opa-opa korea membuat para waitress sedari tadi mencuri-curi pandang terhadapnya.
“Mba kenal ga gadis ini,” Mario menyodorkan sebuah photo. Waitress itu tampak mengerutkan dahi dan mengingat-ingat sesuatu.
“Oh, kenal Mas, ini namanya Anin, temen saya dulu Mas, Cuma sekarang udah ga kerja disini.” Ujarnya datar, raut mukanya seketika berubah ketika mengetahui pemuda itu tengah mencari seorang gadis yang dikenalnya.
“Oh, Mbak tahu dia kerja dimana sekarang?” ucap Mario penuh harap. Waitress itu menggeleng. Raut wajah lelaki berparas tampan itu berubah murung dan mengucapkan terimakasih kepada waitress itu. Namun waitress itu tak kunjung pergi, sehingga Mario menatapnya heran.
“Mas, tapi sudah beberapa kali Anin pernah berkunjung kesini untuk makan tapi maaf ya Mas dia datang dengan seorang cowok, cowok itu tampan juga, sama lah tampannya kayak Mas gitu,” ujarnya tanpa menyadari kalau orang yang diajak bicara moodnya sudah berubah.
DEG
Ada sesuatu yang seolah menonjok ulu hatinya. Begitu menyakitkan mendengar seseorang yang dulu selalu bersandar padanya bersama orang lain. Tapi Mario segera belajar menguasai dirinya. Dia mengeluarkan sebuah kartu nama dan memberikannya kepada pelayan tersebut.
“Minta tolong, kalau ada Anin kesini, hubungi saya,” ujarnya seraya menyelipkan dua lembar uang seratus ribuan dibelakang kartu namanya.
“Wah, makasih mas, nanti pasti saya kabarin, oh iya nama saya Sinta Mas,” ujar waitress itu sambil mengambil kartu nama dan uang yang Mario sodorkan.
__ADS_1
“Oh ok, makasih ya Sinta,” Lelaki itu tersenyum sambil kembali duduk dan melanjutkan makannya.
Setelah selesai makan, Mario bergegas menuju kasir, gadis yang tadi diberinya kartu nama dengan ramah mempersilahkannya. Mario hanya membalsa sapaan Sinta dengan anggukan. Setelah pembayaran selesai dia berjalan menuju pintu keluar yang tembus langsung ke parkiran. Siang itu pengunjung restoran cukup lengang, mungkin karena pengaruh weekend juga. Tiba-tiba seseorang memanggilnya dari belakang.
“Mas Mario!” terlihat Sinta setengah berlari mengejarnya, sementara dari arah depan seorang pemuda bertubuh tinggi dengan pakaian casual tiba-tiba menoleh dan menatap lelaki itu dengan seksama.
“Ada apa?” Mario menoleh, terlihat gadis itu sedikit terengah-engah.
“Ini ketinggalan Mas,” gadis itu menyodorkan sesuatu yang langsung disambar cepat oleh tangan Mario.
“Astaga, untung kamu yang nemuin, makasih ya,” ujar lelaki itu sambil memasukan lembar kertas yang tidak lain adalah photo Anindita.
“Iya Mas, sama-sama,” ujar Sinta sambil tersenyum-senyum sendiri, masih saja gadis itu mengagumi ketampanan Mario walaupun dia tahu ada gadis lain yang sudah mengisi hatinya.
Sinta masih tertegun menatap punggung Mario yang berjalan menjauh, sementara pikirannya melayang entah kemana. Tiba-tiba pundaknya ditepuk oleh seseorang yang membuatnya terperanjat.
“Anu, itu Mas, dia Mario,” ujarnya gugup, gadis itu tergugup bukan karena tahu kalau Faisal pemilik restoran tersebut, karena hanya jajaran para petinggi yang mengetahuinya. Sinta terkejut karena dia mengenali kalau lelaki yang sekarang sedang mengintrogasinya sering makan disana bersama Anindita, gadis yang dicari oleh Mario.
“Siapa pacar kamu?” ujar Faisal menelisik lagi.
“Bukan, Mas, dia nyari temen saya yang dulu kerja disini, yang sering datang bareng Mas nya,” ujar Sinta seolah terhipnotis dan mengatakan semuanya.
DEG
Ada sesuatu yang tiba-tiba membuat Faisal tidak nyaman. Sejak pertama melihat, dia sudah merasakan familiar dengan wajah lelaki itu, karena dulu sempat beberapa kali memergoki Anindita sedang berboncengan dengannya ketika pulang kuliah.
__ADS_1
“Oh ok, makasih informasinya,” Faisal berlalu meninggalkan waitress itu yang masih tertegun. Bagaimanapun Sinta memiliki tanggung jawab atas uang dua ratus ribu yang kini sudah terlipat rapi di sakunya, tapi dia ragu apakah jika dia memutuskan untuk memanggil Mario kembali dan bertemu Faisal tidak akan ada pertengkaran diantara mereka. Setelah berdiam selama kurang lebih sepuluh menit, akhirnya dia memutuskan untuk menuntaskan tanggungjawabnya. Gadis itu berlari menuju pintu keluar yang terhubung ke parkiran untuk mengejar Mario.
Dengan nafas tersengal-sengal akhirnya dia tiba di parkiran, matanya mencari sosok lelaki itu diantara mobil-mobil yang berjejer. Tetapi waktu yang digunakan untuknya berfikir terlalu lama, sepertinya lelaki yang dicarinya sudah tidak ada. Sinta berbalik meninggalkan parkiran untuk melanjutkan kerjanya.
Mario baru saja keluar dari toilet dan dengan santai berjalan menuju mobilnya ketika sosok tinggi tegap itu sedang berjalan keluar menuju parkiran. Matanya langsung menatap tajam dan tidak melepaskan sedikitpun pergerakan orang yang masih belum menyadari kalau sedang diperhatikan. Faisal mempercepat jalannya untuk memastikan kalau wajah itu memang lelaki yang pernah dilihatnya waktu itu. Kebetulan mobilnya terparkir tidak jauh dari mobil Mario.
Kini jarak mereka menjadi semakin dekat. Mario sudah membuka pintu mobilnya ketika tiba-tiba pundaknya ditepuk dari belakang.
“Mas, kamu anak alumni kampus XXX ya?” lengan Faisal masih menempel pada pundak Mario.
“Iya, siapa ya? Kita satu angkatan?” Mario mengernyit sambil menatap lekat wajah lelaki yang belum pernah dia lihat sebelumnya.
“Bukan, saya cuma beberapa kali berkunjung kesana, sepupu saya dosen disana, bukannya kamu sedang kuliah di luar negeri?” Faisal menyelidik, sebuah dorongan kuat memaksanya untuk bersiaga dan mengetahui hal apapun yang akan mengancam hubungannya.
“Mas nya tahu juga, saya seterkenal itu ya?” senyum sarkas dari Mario yang merasa terganggu dengan pertanyaan lelaki itu.
“Saya ada keperluan Mas, makanya pulang dulu, saya mau menjemput seseorang, mungkin Mas nya juga tahu siapa pasangan saya di kampus dulu,” ucap Mario tersenyum sinis sambil menepis halus lengan Faisal yang masih di pundaknya tanpa permisi.
Kemudian tanpa basa-basi lagi, lelaki itu mengemudikan mobilnya meninggalkan Faisal yang masih berdiri memastikan apa yang tadi didengarnya. Jika benar yang dikatakan Mario, berarti gadis yang dicari itu adalah Anindita calon istrinya. Giginya gemeretak, Fisal segera mengemudikan mobilnya dengan cepat.
“Aku harus segera menikahinya,” gumamnya sendiri dalam hati sambil mengemudi dalam kecepatan yang tidak biasa. Perasaannya dihantui rasa was-was, bagaimanapun Mario adalah cinta pertama Anindita, jadi masih mungkin jika perasaan itu masih tersisa dalam hati sanubarinya.
***
TERIMAKASIH YANG UDAH MAMPIR KE NOVEL INI.
__ADS_1
TETAPI JANGAN LUPA UNTUK LIKE, KOMEN DAN VOTE YA... DAN KASIH BINTANG LIMA JUGA... .MAKASIH.