Perjalanan Dan Takdir Cinta

Perjalanan Dan Takdir Cinta
PTDC 2 - Hamil


__ADS_3

Mengalun suara Sierra memenuhi ball room. Lagu yang dilantunkan dengan sepenuh hati diiringi petikan akustik dari gitaris dadakan yang sama-sama sedang berusaha melepas seseorang dari hatinya. Memang terkadang mencintai itu tidak selalu bisa memliki. Terkadang seseorang datang hanya untuk dijaga sebelum bertemu dengan jodoh sebenarnya. Itulah yang dirasakan Mario. Sementara Felisha tengah duduk sambil menikmati hidangan bersama Rinda yang masih memicing tidak suka pada kebersamaan atasannya.


Sementara dari pihak keluarga seperti tidak terpengaruh, Bu Wanti, Bu Windarti, Winah dan Fardan masih terlihat berbaur dengan euforia suka cita. Rizki terlihat semakin tampan dan selalu menempel pada sosok ayah yang beberapa tahun lamanya menghilang. Mereka semua menempati kursi khusus untuk keluarga mempelai. Termasuk Mang Omon dan Bi Tati terlihat serasi mengenakan seragaman batik yang dibelikan oleh majikannya.


Suasana berlangsung santai dan penuh kebahagiaan. Setelah dentingan gitar Rio berhenti, tiba-tiba Sierra berbisik pada koordinator band untuk memainkan sebuah aransemen musik. Dia mulai menyanyi lagi dan menahan Rio untuk tetap disana. Sebuah lirik indah yang dia lantunkan dari hati. Sepertinya lirik lagu itu memang menggambarkan kondisi hatinya saat itu. Dia menyanyikan lagu cinta karena cinta yang dipopulerkan oleh judika.


Aku hanyalah manusia biasa


Bisa merasakan sakit dan bahagia


Izinkan kubicara


Agar kau juga dapat mengerti


Kamu yang buat hatiku bergetar


Rasa yang telah kulupa kurasakan


Tanpa tahu mengapa


Yang kutahu inilah cinta


Cinta karena cinta


Tak perlu kau tanyakan


Tanpa alasan cinta datang dan bertahta


Cinta karena cinta


Jangan tanyakan mengapa


Tak bisa jelaskan karena hati ini telah bicara


Kamu yang buat hatiku bergetar


Senyumanmu mengartikan semua


Tanpa aku sadari

__ADS_1


Merasuk didalam dada


Cinta karena cinta


Tak perlu kau tanyakan tanpa alasan cinta datang dan bertahta


Cinta karena cinta


Jangan tanyakan mengapa


Tak bisa jelaskan karena hati ini telah bicara


Ooo.....ye.....ye.....


Cinta karena cinta


Tak perlu kau tanyakan tanpa alasan cinta datang dan bertahta


Cinta karena cinta


Jangan tanyakan mengapa


Tak bisa jelaskan karena hati ini telah bicara


Tak bisa jelaskan karena hati ini telah bicara


Felisha menyambut dua rekannya dengan senyuman. Mereka bergabung dengan Rinda yang sejak tadi hatinya merasakan kesal. Sementara Anita terlihat masih asyik bersama Ferdi, sesekali terlihat tawa pecah diantara keduanya.


“Dasar sahabat ga peka,” gumam Rinda dalam dada sambil sesekali melirik Anita yang asik dengan dunianya sendiri.


Akhirnya acara resepsi hari itu selesai. Waktu sudah menunjukkan pukul dua siang, ketika penata rias mulai melepas akeseoris pengantin yang dipakai oleh kedua mempelai. Waja Anindita terlihat pucat ketika riasan make up nya sudah di hapus. Matanya terlihat begitu lelah karena berdiri selama itu.


“Sayang, ayo kita makan,” Faisal yang sudah berganti kostum mengenakan pakaian santai menghampiri Anindita yang kini sudah memakai dress simple dengan rok dibawah lutut. Rambutnya Diikat bund dengan aksen berantakan menambah kesan seksi.


“Iya Bang,” wanita itu mengikuti suaminya menuju sebuah meja yang khusus untuk keluarga, tempat yang terpisah dengan ballroom tempat pesta tadi.


Anin memilih duduk disamping winah dan Faisal memlilih duduk bersebelahan dengan saudara kembarnya Fardan. Bu Wanti dan Bu Windarti duduk berseberangan sementara Rizki masih menggelayuti lengan Bu Wanti yang duduk disamping Winah.


“Sayang mau ini?” Faisal menunjuk steak, Anindita hanya mengangguk, sepertinya dia tak memiliki tenaga lagi bahkan hanya untuk bicara.

__ADS_1


Faisal mengambil steak itu dan memotongnya diatas piringnya, kemudian dia tambahkan beberapa sayuran juga nasi pada piring yang diperuntukkan buat istrinya itu.


“Nih,” Faisal menyodorkan piring yang sudah lengkap itu. Anin meraihnya dengan malas. Sepertinya akhir-akhir ini selera makannya mengalami penurunan.


Faisal mengambil sendiri nasi dan lauk untuk piringnya. Segera dia menyantap dengan lahap, karena sudah merasakan lapar sejak tadi. Lelah dan kaki pegal mulai terasa akibat begitu banyaknya tamu undangan yang menyalaminya sampai tak sempat-sempatnya dia duduk.


“Hoek” tiba-tiba Anin menutup mulutnya dan berlari menuju toilet ketika satu suapan mendarat di mulutnya. Semua orang saling bertatapan, hanya Faisal yang langsung panik dan berlari mengikuti istrinya.


Terlihat tubuh mungil itu tengah membungkuk diwastafel, Faisal meminta izin cleaning service untuk ikut masuk ke toilet perempuan. Cleaning service itu mengangguk dan berjaga di depan. Setelah dirasa perutnya mulai nyaman, Anin keluar dari toilet dipapah oleh Faisal. Dia begitu khawatir sesuatu terjadi dengan istrinya itu. Mereka kembali duduk bergabung di meja makan, dengan mendapatkan tatapan penuh pertanyaan.


“Anin, kamu terakhir kapan datang bulan?” Winah bertanya sambil memperhatikan wajah pucat adik iparnya itu.


“Hmmm terakhir, sebelum akad nikah Kak,” Anin mengingat-ingat.


“Berarti sampai sekarang belum dapat datang bulan lagi?” Winah bertanya kembali. Anin berpikir sejenak kemudian mengangguk.


“Wahhh, sepertinya cucu kita akan nambah,” Bu Windarti terlihat begitu bersemangat, dengan mata berbinar menatap kearah besannya yang sedang tersenyum juga mendengar penuturan anak perempuannya.


“Rizki mau punya adek bayi,” ucap Bu Wanti mengelus pucuk kepala Rizki. Rizki berlonjak-lonjak senang.


“Rizki seneng ga?” Bu Windarti menambahkan.


“Iya Omah, seneng, Rizki bisa maen nanti sama adek bayi,” ucap anak lelaki yang berusia menginjak enam tahun itu.


“Makanya bujuk nenek biar ngebolehin Rizki, Bunda sama Ayah tinggal di Jakarta bareng Omah, Om Faisal sama Tante Anin,” bujuk Bu Windarti.


“Iya, nanti Rizki mau bicara, Rizki mau tinggal di Jakarta biar bisa maen sama adek bayi,” ucapnya bersemangat.


“Belum tentu aku hamil Mah,” ucap Anin khawatir harapan mereka sia-sia. Bisa jadi dia mual-mual karena kelelahan dan telat makan.


“Mamah yakin, kamu pasti hamil,” ucap Bu Windarti.


“Fay, habis ini kamu langsung anter Anin ke rumah sakit buat periksa,” Bu Windarti melirik Faisal.


“Iya Mah,” Faisal menjawab singkat karena dia sedang kembali fokus dengan makananya.


“Keren Sal, langsung jadi,” Fardan berbisik sambil tertawa di telinga saudara kembarnya.


“Gue gitu Bang,” Faisal menepuk dada sambil melirik kearah Fardan.

__ADS_1


“Uhuk uhuk,” tiba-tiba dia terbatuk, karena tidak bisa mengkondisikan makanan yang belum sepenuhnya tertelan.


“Abang ihh, hati-hati, kayak anak kecil aja,” Anin menyodorkan minum sambil mengerucutkan bibirnya. Faisal hanya terkekeh dan meneguk air putih yang diterimanya.


__ADS_2