Perjalanan Dan Takdir Cinta

Perjalanan Dan Takdir Cinta
Bab 23 - Teh Lemon Hangat


__ADS_3

Flashback


Faisal menyimpan ponselnya diatas meja setelah membalas pesan whatsapp gadis pujaannya itu. Dia masih terduduk di ruangan kerjanya. Setelah termenung sejenak, dia menekan tombol extention ke nomor Ferdi yang ruangannya berada di samping ruangannya.


“ Yes, bos,” Ferdi menjawab dengan cepat.


“Bisa bantu check PT xxx, di customer di perusahaan cabang A, seberapa kuat posisinya?” perintah Faisal kemudian menutup teleponnya.


Tak berapa lama Ferdi datang keruangannya membawa selembar salinan perjanjian kerja dari PT xxx dengan perusahaan cabang, dan jenis-jenis part yang mereka beli. Faisal membacanya dan mengamati setiap poin perjanjian.


“Perusahaan ini memang salah satu customer besar, akan tetapi kerjasama ini simbiosis mutualisme, dia hanya mendapat pasokan part tersebut dari perusahaan kita dan part ini hanya ada di dua pabrik anak cabang kita, di cabang A dan cabang B. Jika mereka memblok anak cabang maka mereka pun akan otomatis tidak bisa lanjut produksi,” gumam Faisal.


“Ferdi, minta sambungkan saya dengan direktur perusahaan XXX,” ucapnya. Ferdi bergegas kembali ke ruangannya dan meminta resepsionis menyambungkan telepon PT XXX tersebut ke ruangan Faisal.


“Hallo Pak Edward, kami sedang ada sedikit masalah di lapangan dengan perusahaan anda, bisakah Anda mengirim tim purchasing anda siang ini sekalian lunch, karena kami tidak ada waktu lagi dan harus menyegerakan action untuk perbaikan kedepannya,” Faisal berbicara langsung dengan direktur perusahaan tersebut.


“Oh Pak Faisal jangan khawatir, saya bisa suruh team purchasing saya siang ini untuk menemui team Bapak, merupakan kehormatan dapat langsung mendapat perhatian dari Bapak yang supersibuk ini.” Ucap lelaki bernama Edward tersebut.


“Baik Pak, jangan sampai lewat jam makan siang ya, atau konsekuensi menjadi tanggungjawab team Bapak, semoga kerjasama kita selalu menguntungkan,” Faisal menekankan kembali ucapannya kemudian menutup sambungan telponnya.


“Ferdi, minta bantu pastikan ke kantor cabang A kalau team marketing berangkat meeting dengan perusahaan XXX pada jam makan siang, nanti update ke saya ya,” ujar Faisal.


“Ok, akan saya update after lunch,” jawaban singkat dari Ferdi.


Setelah jam makan siang, Ferdi mendapatkan laporan dari seseorang di kantor cabang A yang menginformasikan bahwa team marketing sudah berangkat untuk meeting. Sehingga dia bisa bernafas lega dan memberikan informasi pada sahabat sekaligus bosnya tersebut dengan membusungkan dada. Tugas sudah dilaksanakan dengan baik.


Flashback off


***

__ADS_1


Alphard yang dikendarai Faisal dan Anindita sudah memasuki gerbang cluster. Sesekali Anindita menarik nafas untuk menghilangkan rasa gugupnya karena bertemu Bu Windarti untuk pertama kalinya sebagai seorang calon menantu. Faisal hanya melirik sesekali pada gadis yang sedang mencoba membuat terlihat biasa itu dengan senyum yang disembunyikan.


“Yuck turun,” ujarnya ketika mobil yang dikendarainya terparkir dengan mulus didepan rumah mewah tersebut. Anindita mengikuti langkah Faisal memasuki rumahnya.


“Assalamualaikum Mah!” Faisal setengah berteriak.


“Wa’alaikumsalam, akhirnya yang mamah tunggu udah datang, ayo Anin kamu istirahat dulu, mandi dan sholat,” dengan senyum yang bercahaya wanita itu langsung memeluk dan menggandeng Anindita, meninggalkan Faisal yang masih berdiri dan diabaikan.


“Yang anak mamah siapa sih?” gerutunya sambil berjalan ke lantai atas menuju kamarnya.


“Jadi cowok kho ngambekan, udah cepetan kamu mandi juga,” jawab Bu Windarti sambil melirik kearah putranya yang berjalan mendahuluinya.


Bu Windarti menggandeng calon menantunya menuju sebuah kamar di lanta dua. Kamar tersebut berdampingan dengan kamar yang di tempati Faisal. Di lantai atas tidak hanya ada dua kamar tetapi ada enam kamar utama, satu ruang keluarga, satu ruang musik dan perpustakaan serta ada balkon yang menghadap langsung ke taman.


“Nanti kamu ganti saja, bebas pilih pakai baju yang mana, mamah beli semua ini ketika Faisal mengabarkan kalau lamarannya diterima, ini akan jadi kamar kamu selama belum resmi menikah sama Faisal, nanti mamah mau kamu sering-sering nginep kesini,” Bu Windarti menjelaskan semua dengan mata berbinar-binar.


“Mulai hari ini kamu panggil mamah saja biar sama kayak Faisal ya,” ucap wanita paruh baya itu sambil menepuk-nepuk pundak Anindita.


“I iya Bu, eh Mah,” jawab Anindita canggung.


“Sekarang istirahat dulu ya, nanti habis isya kita makan malam bareng,” ucap wanita itu sambil tersenyum kemudian meninggalkannya sendirian.


Anindita menghempaskan diri diatas kasur yang empuk, badan dan pikirannya begitu lelah mengingat semua kejadian tadi dikantor. Pressure yang tinggi membuatnya semakin terlatih dalam setiap situasi sulit dipekerjaannya. Tetapi meski semakin terlatih bukan berarti jiwanya sudah sekuat baja, ada satu titik yang sebetulnya didambakannya yaitu sebuah kedamaian dan kenyamanan. Terkadang dia berfikir andai almarhum ayahnya masih ada, mungkin saat ini dia masih hidup di kampung dengan alakadarnya, akan tetapi tetap merasakan kenyamanan dan perlindungan dari seorang ayah. Sekarang gadis itu harus selalu tegar dan menyelesaikan semuanya dengan sekuat kemampuannya, kehidupan masa depan ibu, tujuan masadepannya, Rizki dan Winah yang selalu dia sebut namanya dalam doa semua tanggungan itu kini dia taruh di pundaknya.


Gadis itu membuka pintu yang terhubung kebalkon kamar, hembusan angin ibukota menjelang maghrib membelai jiwanya, matanya terpejam merasakan setiap sentuhan sejuk yang membuat rambutnya yang tergerai bergelombang menari-nari. Balkon tersebut langsung menghadap ke taman yang ada dilantai bawah, tempat dulu dia menyendiri ketika sedang galau mencari pekerjaan yang tanpa disadarinya kalau dari atas balkon yang ada disampingnya, Faisal memperhatikan setiap gerak geriknya.


“Tok Tok Tok” pintu kamarnya diketuk dari luar.


“Iya, masuk saja ga dikunci,” teriak Anindita sambil masih bersandar di dinding kamar bagian luar menatap jingga yang mulai menyapu cakrawala.

__ADS_1


Daun pintu kamarnya terbuka, tampak sosok lelaki yang tadi pulang bersamanya dengan pantulan wajah yang sudah segar dan pakaian santai menghampirinya dan membawa segelas teh lemon hangat. Lelaki itu terus melewati kamar dan menghampirinya dibalkon, diletakkannya gelas itu diatas meja bundar kecil yang diapit dua kursi rotan minimalis. Faisal tersenyum melihat gadisnya yang masih bersandar tak mengacuhkannya.


“Ini teh lemon hangat, Abang ingat dulu sering lihat kamu bikin ini kalau waktu senggang,” ucapnya sambil berdiri dan ikut bersandar ditembok kamarnya bersama gadis itu.


“Repot-repot sih Bang,” ucap Anindita sambil melirik lelaki yang sedang menatapnya dengan jarak yang cukup dekat.


DEG


Ada sesuatu yang berdebar ketika pandangan matanya terkunci dengan tatapan Faisal yang hanya berjarak beberapa senti. Anindita segera memalingkan wajahnya dan beralih duduk disalah satu kursi rotan untuk menetralkan detak jantungnya. Ini kali pertama dia merasakan debaran setelah sekian lama mengenal lelaki itu.


“Aku minum ya Bang teh nya,” Anindita menempelkan bibirnya pada gelas teh lemon yang diletakkan Faisal tadi.


“Awww” Anindita seketika menjauhkan kembali bibirnya dari gelas itu.


“Hati-hati dong yang, kan ini masih panas,” Faisal menarik satu kursi rotan dan duduk bersebelahan dengan gadis itu. Dia mengambil sendok yang berada di tatakan gelasnya, diambil teh itu dengan sendok dan diangin-anginkan sebentar.


“Aaaaa,” ucapnya sambil menyodorkan sendok kearah bibir mungil gadisnya.


Wajah Anindita merona karena tidak terbiasa diperlakukan seperti itu, dia mengambil sendok yang ada ditangan Faisal.


“Sini Bang, Anin bisa sendiri,” ucapnya, tangannya menempel pada jemari Faisal yang juga menggenggam sendok tersebut.


“Kamu mau megang-megang Abang ya?” Faisal malah menggodanya yang membuat bibir wanita itu mengerucut sempurna dan mengumpat pelan. Sementara Faisal terus menggodanya dan menciptakan gelak tawa sampai adzan maghrib memisahkan kebersamaan mereka. Entah seperti apa nasib teh lemon hangat tersebut selanjutnya.


***


TERIMAKASIH YANG UDAH MAMPIR KE NOVEL INI.. AUTHOR YANG MASIH BELAJAR INI MINTA MAAF JIKA BELUM MEMBUAT KARYA SEBAGUS AUTHOR-AUTHOR YANG LAINNYA.


TETAPI JANGAN LUPA UNTUK LIKE, KOMEN DAN VOTE YA... DAN KASIH BINTANG LIMA JUGA...

__ADS_1


__ADS_2