
Sudah dua kali dua puluh empat jam Mario berada di Indonesia, liburan kuliah yang tidak lama itu, dia gunakan untuk pulang. Pemuda tampan itu hendak memastikan sesuatu yang tiba-tiba menghilang. Setiap hari dia mengunjungi beberapa teman kampusnya yang dulu dekat dengannya dan Anindita. Menanyakan kesana kemari, sempat juga berkunjung ke kampus dan menemui dosen pembimbing TA mereka untuk sekalian silaturahmi, akan tetapi hasilnya nihil. Gadis itu bak ditelan bumi.
Dalam dua hari ini sudah dua kali juga dia mengunjungi bekas kontrakan Anindita, karena si pak penjaga kontrakan tak kunjung menghubunginya. Dan hasilnya masih tetap sama, gadis itu hilang bak ditelan bumi. Mario mengemudikan mobilnya sedang, menyusuri jalanan kota yang tidak seberapa macet. Waktu liburannya hanya tinggal lima hari, dan harus segera kembali. Hari sudah menjelang sore ketika dia mampir ke sebuah tempat perbelanjaan untuk sekedar mencari makan. Dulu tempat itu paling sering dikunjunginya diwaktu senggang bersama seseorang yang istimewa.
Mario memarkirkan mobilnya, dia berjalan memasuki mall tersebut sambil tetap matanya menelisik setiap orang yang berlalu lalang. Namun wajah yang dia begitu rindukan itu tak jua dia temukan. Pikirannya yang carut marut membuatnya tidak fokus, tiba-tiba tubuhnya menabrak tubuh seseorang.
“Aww!” gadis itu menjerit terkaget karena cofee yang tengah dibawanya tumpah mengenai bajunya.
“Maaf,” Mario terkesiap dan segera meraih lengan wanita itu yang hampir terjatuh.
“Kalau jalan hati-hati dong, bajuku kotor jadinya,” gadis itu dengan gaya manjanya memarahi Rio.
“Aku akan bertanggungjawab, ayo mba saya anter ke toko pakaian,” ujar Mario merasa bersalah.
“Mau ngapain?” ucapnya sambil melotot.
“Mau mengganti baju mbaknya yang kotor,” ujar Mario sambil berusaha bersikap ramah.
“Namaku Sierra, panggil mbak, emangnya mukaku setua itu,” ujar gadis manja itu dengan juteknya.
“Oh iya Sierra, perkenalkan namaku,” belum selesai Mario menyebutkan namanya gadis itu sudah memotong pembicaraannya sambil berjingkat.
__ADS_1
“Ayo cepetan, ke butik langgananku, pastikan uangnya cukup, aku sedang ada acara,” gerutunya sambil mendahului Rio menuju lantai dua mall tersebut, menuju satu butik branded langganannya.
Mario mengikutinya sambil menggeleng-gelengkan kepala. Ternyata ketidak fokusan bisa membawa malapetaka. Setelah tiba di butik itu, Sierra langsung memilih pakaian yang disukainya, dia tidak peduli apakah orang yang akan membayarinya memiliki uang yang cukup atau tidak. Setelah merasa ada yang pakaian yang pas, gadis itu terus menuju ruang ganti. Sementara menunggu Sierra berganti pakaian, mata Mario masih menjelajahi setiap orang yang berlalu lalalng, berharap menemukan seseorang yang berhutang sebuah penjelasan terhadapnya. Tiba-tiba dalam jarak yang cukup jauh, sudut matanya menangkap bayangan gadis itu sedang berjalan membelakanginya bersama seorang pria. Ingin rasanya Mario berlari untuk memastikan akan tetapi dia masih harus menyelesaikan tanggungjawabnya yaitu membayar baju Sierra.
“Udah, tinggal bayarin ke kasir, nih,” Sierra memberikan barcode pakaian yang sudah dia lepas karena pakaian baru itu sudah langsung dikenakannya. Mario menerimanya kemudian berjalan menuju kasir untuk membayar pakaian wanita yang baru dikenalnya itu.
“Yah, gara-gara kamu aku ditinggalin nih,” ucap gadis itu setelah memeriksa ponselnya yang berisi beberapa panggilan dari Faisal dan Anindita.
“Hmmmmmm,” Mario menarik nafas panjang, baginya merupakan ketidak beruntungan bertemu dengan gadis manja itu.
“Kamu harus tanggungjawab untuk anterin aku pulang,” rengek Sierra, merupakan hal yang paling dia tidak sukai jika harus naik transportasi umum.
“Ya udah, rumahmu jauh enggak? tapi aku mau makan dulu, laper,” ujar Mario sambil berjalan meninggalkan Sierra yang masih cemberut. Gadis itu mempercepat langkah kakinya mengekori lelaki tampan yang baru dikenalnya itu bahkan belum diketahui namanya.
Dalam hatinya diam-diam mengagumi lelaki yang sedang lahap menghabiskan makanan tanpa mengaggapnya ada. Dalam pikiran Mario yang berkelebatan hanyalah Anindita. Dan bagaimana caranya agar dia bisa menemukan keberadaannya sekarang. Setelah makan, terpaksa dia menyelesaikan tanggungjawabnya, memang kebaikan dan kelembutan hatinya itu akan kerap disalah artikan oleh kaum hawa yang dekat dengannya.
Sierra sudah duduk nyaman di mobil Mario yang akan mengantarkannya pulang. Setelah memastikan alamatnya, Mario melaju dengan kecepatan sedang, sekesal apapun dengan wanita itu, dia tetap memperhatikan keamanan berkemudi dan berhati-hati. Dia harus menjaga nyawanya sendiri agar bisa kembali mencari gadisnya yang hilang. Setelah beberapa puluh menit tenggelam dalam keheningan, Mario memecah suasana.
“Kalau dari google maps, rumahnya sekitar lima belas menit lagi ya?” tanya Mario sambil tetap fokus pada jalanan yang ada didepannya.
“Iya,” Sierra masih menjawab dengan angkuh, sebetulnya ada sebuah ketertarikan sendiri dari gadis itu kepada lelaki yang sedang mengatarnya pulang, tapi gengsinya tetap lebih tinggi dari segalanya.
__ADS_1
Tidak berapa lama, mereka tiba di sebuah rumah mewah berpagar lebar. Sierra memintanya berhenti, sedikit menurunkan gengsi dengan menawari lelaki itu untuk masuk. Akan tetapi Mario menolaknya, perjalanannya baru setengah hari dalam pencarian hari ketiganya.
“Kamu punya ponsel ga?,” Sierra masih bergeming dan belum turun dari kursinya.
“Punya,” jawab Mario singkat.
“Mungkin nanti kamu akan butuh bantuanku, sini mana nomor telponmu?” Sierra dengan nada yang masih tinggi meminta nomor ponsel lelaki itu. Mario terdiam sejenak, sebetulnya malas untuknya berbagi nomor ponsel dengan orang lain akan tetapi mungkin yang dikatakan gadis itu ada benarnya. Akhirnya dia menyetujuinya.
“Baiklah, kebetulan aku sedang mencari seseorang di kota ini, mungkin nanti kamu bisa bantu,” ujarnya sambil kemudian menyebutkan nomor ponselnya dan dengan semangat Sierra mengetiknya dan menyimpannya.
“Namanya?” Sierra bertanya.
“Rio,” jawab lelaki tampan itu singkat.
Setelah menyimpan nomor ponsel Mario, Sierra bergegas turun memasuki halaman rumah Faisal, dari gerbang sudah terlihat mobil yang tadi ditumpanginya bersama Faisal dan Anindita sudah terparkir disana. Dalam hatinya Sierra masih mengumpat karena kedua orang itu malah meninggalkannya. Tapi tidak sepenuhnya bisa menyalahkan juga, karena waktu mereka sedang terburu-buru, sore ini akan ada makan malam keluarga untuk membahas rencana pernikahan Faisal dan Anindita.
Sementara itu, Mario segera memutar kendaraannya kembali menyusuri jalanan, berharap mendapati sosok wanita yang begitu dia rindukan. Tiba-tiba pikirannya teringat pada suatu tempat yaitu restorant tempat Anindita bekerja sewaktu masih kuliah dulu. Dengan sebuah harapan, lelaki itu menginjak gas menuju tempat yang dia harapkan bisa memberi petunjuk tentang keberadaannya saat ini.
***
TERIMAKASIH YANG UDAH MAMPIR KE NOVEL INI.
__ADS_1
TETAPI JANGAN LUPA UNTUK LIKE, KOMEN DAN VOTE YA... DAN KASIH BINTANG LIMA JUGA... .MAKASIH.