
Anindita masih berdiri bingung di belakang pintu kamar mandi, setelah melakukan ritual mandi singkatnya kini dia tengah kebingungan karena lupa membawa pakaian ganti. Sementara pakaian tidurnya tadi sudah dia masukkan kedalam bak cuci. Perlahan kepalanya melongok mengintip kedalam kamar, apakah Faisal masih ada atau tidak. Terlihat olehnya lelaki itu tengah terlentang sambil memejamkan mata.
Setelah menarik nafas panjang, akhirnya dia memutuskan untuk keluar. Dengan berjingkat-jingkat dia menuju lemari pakaian agar tak mengusik lelaki yang tengah memejamkan mata itu. Anindita menyelinap kedalam celah antara lemari dan dinding dengan cekatan dan dalam waktu yang sangat singkat akhirnya dia sudah berhasil mengenakan pakaian lengkap. Dia segera keluar dari celah namun seketika terkesiap ketika melihat sosok Faisal yang tengah melongo menatapnya.
“Abang!” dilemparnya handuk yang dipegangnya ke wajah lelaki itu yang masih terkesima. Faisal seketika beristighfar dan menjauhkan diri dari gadis itu. Dengan wajah bersemu merah Anindita melewati lelaki itu dan mendorongnya kesal.
“Sejak kapan abang berdiri disitu?” sambil mengerucutkan bibir gadis itu melempar pertanyaan dengan kesal.
“Baru saja, abang kira suara apa keresek-keresek dicelah lemari, lagian kenapa kamu ga bilang kalau sedang ganti baju,” lelaki itu mengikuti Anindita setelah meletakkan handuk pada gantungan pakaian.
“Anin lupa bawa baju ganti tadi, makanya sembunyi disitu, abang lihat apa tadi?” dengan cemberut wanita itu begitu tidak rela jika calon suaminya sudah mendahului melihat apa yang seharusnya tidak dilihat.
“Sudahlah, abang ga lihat apa-apa, maafin abang, tadi ga sengaja,” Faisal tampak merasa bersalah.
“Udah ayo sarapan, kita pergi jalan dulu terus fitting gaun pengantin,” Faisal membujuk gadisnya.
Dengan wajah cemberut, gadis itu memakan sarapannya. Sementara Faisal hanya menatapnya dengan tatapan penuh makna. Baginya, wajah gadis itu terlihat lebih imut ketika sedang merajuk. Faisal bisa menjadi orang yang usil jika dia sedang bersama gadisnya itu. Setelah sarapan habis, Anindita menatap lekat lelaki yang masih duduk bersandar di tempat tidurnya.
“Katanya mau cepet-cepet pergi, abang ngapain masih disini?” tegur Anindita.
“Nungguin kamulah sayang,” ujar Faisal sambil mengubah posisi tidurnya menjadi miring.
“Abang gak apa kalau aku pake baju ini saja keluarnya?” Anin membulatkan matanya sambil mencebik kearah lelaki itu.
“Ya ganti dong, kan mamah udah banyak beliin baju tuh dilemari,” ujar Faisal dengan wajah sok manis.
“Ya abang keluarlah, emangnya mau lihat aku ganti baju lagi?” gerutu gadis itu.
“Kalau boleh,” Faisal malah menggodanya dengan seringai usil.
Anindita berjingkat dan mendekat kearah lelaki itu, dengan seketika dia menarik lengan lelaki itu untuk beranjak dari tempat tidurnya. Namun tenaganya kalah kuat, tubuh kokoh itu tak bergeser. Dengan satu hentakan malah tubuh mungilnya kini terjatuh dalam pelukan lelaki itu.
__ADS_1
Cup
Faisal mengecup pucuk kepala gadisnya yang berada dalam dekapannya. Lengannya beralih memeluk pinggang gadisnya. Anindita terkesiap, setelah beberapa detik kesadarannya terkumpul dia menggelindingkan tubuhnya agar terlepas dari dekapan lelaki itu. Namun lengan kokoh itu menariknya.
“Semenit saja, meluk kekasih sendiri ga boleh?” suaranya berbisik, dengan jarak yang begitu dekat hembusan nafasnya membuat gadis itu merinding.
“Abang, jangan kayak gini, nanti ada setan lewat gimana?” gadis itu memberontak hingga akhirnya berhasil melepaskan diri.
“Ya gak apa-apa, setan lewat ya lewat saja, asal jangan nimbrung.” Ujar Faisal sambil terkekeh dan menatap gemas wajah imut gadisnya yang merona.
“Udah pergi sana,” Anindita mendorong tubuh tegap lelaki itu setelah dia beranjak dari tempat tidurnya. Sampai menghilang dibalik pintu. Dia kemudian menutup pintunya dan menguncinya dari dalam.
“Jangan lama ya sayang, abang tunggu dibawah!” teriak Faisal sambil berlalu menuju lantai satu untuk menunggu gadisnya. Sementara Anindita bergegas mengganti pakaian dan merias wajahnya. Tak butuh waktu lama kemudian gadis itu segera menyusul Faisal ke lantai bawah.
Mereka berdua segera berpamitan pada Bu Wanti dan Bu Windarti yang sedang mengobrol di ruang tengah. Faisal mengambil salah satu mobilnya dari garasi, sementara Anindita menunggunya di teras rumah. Gadis itu bergegas menghampiri mobil berwarna putih itu setelah sampai di halaman rumah. Belum sempat Anindita menutup pintu tiba-tiba dari dalam rumah berlari seorang gadis mengejarnya.
“Kak Anin! tunggu!” Sierra berlari kecil dengan pakaian rapi, dia mengenakan minidress berwarna maroon dengan hilss tinggi dan tas selempang bermerk.
“Ayo, mau pergi Ra?” Anin mengangguk dengan senyuman mempersilahkan calon sepupunya itu untuk ikut kedalam mobilnya.
“Dasar pengganggu,” samar namun terdengar ucapan ketidaksukaan Faisal melihat Sierra yang langsung masuk dan duduk di kursi belakang.
“Kak Anin aja ngebolehin, Kak Fay gitu amet sih,” Sierra cemberut tapi tetap saja duduk bergeming di kursi belakang.
“Udahlah Bang, sama adek sendiri ih,” ucap Anindita sambil mencubit pinggang lelaki yang tengah duduk dibelakang kemudi.
Dengan wajah masih cemberut, Faisal melajukan kendaraannya keluar dari komplek perumahan megah itu. Kendaran itu melaju dengan tersendat karena jalan raya sudah mulai padat merayap. Faisal masih fokus mengemudi, Anindita duduk bersandar sambil menikmati music yang sengaja diputarnya, sementara Sierra tampak sibuk dengan ponselnya.
“Ra, kamu ikut sampai mana?” Anin menoleh ke kaca penumpang untuk melihat wajah lawan bicaranya.
“Mau ikut ke butik Kak, mau nyari pakaian buat besok,” ujar Sierra tanpa menoleh masih fokus kedalam ponselnya.
__ADS_1
“Emang baju kamu habis Ra? besok kan bukan resepsi, Kakak cuma mau nikah aja, ga ada pesta juga, berlebihan,” gerutu Faisal sambil tetap fokus mengemudi.
“Ih Kak Fay, nyebelin banget sih, nanti aku juga ga bakal ganggu kalian kho.” Mata Sierra membulat menatap punggung lelaki yang tengah mengemudi tersebut.
Perdebatan kecil itu terus berlangsung sepanjang perjalanan. Bagaimanapun Faisal paling tidak suka jika privasinya merasa terganggu. Apalagi yang mengganggunya Sierra, sepupunya yang manjanya tidak ketulungan. Anindita disibukkan menjadi penengah diantara kedua orang itu. Sampai akhirnya mereka tiba ditempat yang dituju.
“Ayo,” Anindita membuka pintu mobil setelah mobil mewah itu terparkir sempurna. Sierra bergegas keluar, dia sudah lelah berdebat dengan kakak sepupunya sepanjang jalan.
Mereka bertiga memasuki butik yang berada dilantai dua mall besar di jakarta itu. Butik itu memang langganan Bu Windarti serta Sierra. Designnya yang unik dan berbeda membuat setiap modelnya yang terbatas bernilai ekslusif. Sesampainya disana, penjaga butik yang memang sudah dikabari sebelumnya menyambut mereka dengan senyum ramah dan mempersilahkan Anindita untuk memilih kebaya pengantin yang sudah tersedia.
Gadis itu terlihat bingung karena begitu banyak model berbeda dengan desain yang menawan. Sementara Sierra memisahkan diri dan mencari sendiri gaun yang dirasa cocok untuk menghadiri akad nikah dan untuk acara resepsi nanti. Mata Faisal menangkap satu kebaya putih yang terlihat berbeda dan ada beberapa hiasan berlian disekitar dadanya.
“Mba boleh coba ambil yang itu, yang ini dan yang ini,” dia memilih tiga kebaya yang sama-sama berwarna putih.
Pelayan dengan sigap mengambilkan pilihan Faisal dan mempersilahkan Anindita untuk mencobanya di ruang ganti. Gadis itu tak membuang waktu lama, setelah memanggil Sierra untuk membantunya dan mengajaknya masuk keruang ganti, segera dia mencoba satu persatu gaun itu. Sementara Faisal menunggu diluar.
Setelah beberapa menit diruang ganti Anindita keluar dengan balutan kebaya yang begitu menawan, potongan pas badan yang membentuk lekuk tubuhnya membuat kesan seksi. Sementara kain panjang yang menjuntai menambah kesan elegan. Namun ketika tirai terbuka, mereka tak mendapati Faisal disana. Anindita merogoh ponselnya untuk menghubungi Faisal, sementara Sierra membantu mencarinya dengan menyapu seluruh penjuru butik dan lorong jalur lalu lalang orang didepannya.
“Haiii!” Sierra tiba-tiba berteriak memanggil seseorang. Anindita menoleh kearah lambaian tangan Sierra.
DEG
Ponsel yang ditangannya hampir terjatuh ketika pandangan matanya terkunci pada sosok yang menoleh kearahnya. Lelaki berwajah tampan itupun sama-sama terkesiap ketika melihat wanita yang beberapa hari ini mati-matian dicarinya tengah menatapnya dan yang paling mengejutkannya ketika dia menyadari jika gadis itu sedang mengenakan sebuah kebaya pengantin.
“Rio,” dengan bibir gemetar, Anin menyebutkan lelaki yang masih terkesima menatapnya.
***
TERIMAKASIH YANG UDAH MAMPIR KE NOVEL INI.
TETAPI JANGAN LUPA UNTUK LIKE, KOMEN DAN VOTE YA... DAN KASIH BINTANG LIMA JUGA... .MAKASIH.
__ADS_1