
“Oh jadi karena dia, kamu ga mau abang jemput pulang?” Sorot matanya yang tajam membuat gadis itu hanya terpaku dan diam.
“Bukan gitu Bang, ayo masuk dulu,” Anindita dengan canggung melangkah menggandeng lengan lelaki itu dan mengajaknya masuk. Meskipun dengan sorot mata yang masih tidak bersahabat lelaki itu mengikutinya.
Ceklek
Pintu terbuka, Anindita menggelarkan sebuah karpet, mempersilahkan lelaki berwajah dingin tersebut duduk. Dia masih harus menjelaskan sesuatu tetapi harus meredakan dulu emosi yang terlanjur meluap. Dia pergi ke dapur, mengabil sebotol air mineral dari dus-dus yang masih bertumpuk. Niatnya untuk membereskan rumah malam ini otomatis akan terhambat karena kehadiran lelaki itu. Kemudian dia kembali ke ruang tengah dimana ada Faisal yang sedang memainkan ponselnya.
“Kenapa kamu seperti ini, apa abang tidak ada artinya buat kamu Nin?” Suara Faisal terdengar sudah lebih lembut, tetapi mengucapkannya dengan getaran amarah yang tertahan.
“Anin bisa jelasin Bang, yang tadi itu,” belum selesai gadis itu dengan kalimatnya, Faisal memotongnya cepat.
“Yang tadi itu atasan kamu kan di kantor, kamu meminta dia membantumu pindahan sementara abang tidak kamu kasih tahu, sebenernya yang kekasih kamu itu siapa? dia atau abang?” Suaranya menegas kembali dengan tatapan penuh amarah.
“Kamu menyukai dia?” tegas Faisal.
“Bang, dengerin dulu, Anin belum selesai,” gadis itu menarik nafas untuk meredakan emosinya, khawatir terpancing marah, kondisi tubuhnya sudah cukup lelah karena acara pindahan hari ini. Lelaki itu masih menatapnya tajam, kali ini emosinya sudah sedikit tenang setelah dia meneguk air mineral yang diberikan Anindita.
Akhirnya Anindita memiliki kesempatan untuk menjelaskan kronologis kejadian siang tadi sehingga akhirnya Hadi menjadi terlibat dalam acara pindahannya kali ini. Dia jelaskan sedetail-detailnya termasuk perdebatan dengan Anita mengenai tempat makan yang mereka pilih, hingga akhirnya Faisal melihatnya diantar pulang dalam keadaan selarut ini. Perlahan lelaki itu mulai mencerna penjelasan wanitanya dengan pikiran yang jernih, tubuhnya sudah lebih rileks dan bersandar pada dinding. Dia menarik nafas perlahan sebelum akhirnya berhasil mengeluarkan satu pertanyaan.
“Kenapa kamu merahasiakan rumah ini dan kepindahan ini, apa untuk menghindari abang?” tanya Faisal.
“Kenapa Abang bicara seperti itu, apa Abang meragukan keputusan yang sudah aku ambil? Anin tidak merahasiakannya cuma memang belum memberitahu saja, akan ada waktunya Anin ajak Abang kesini, Anin hanya tidak ingin dibilang wanita manja dan tidak mandiri jika hanya menyelesaikan pindahan yang seperti ini harus melibatkan Abang. Rumah Abang jauh, jadwal kerjaan juga pasti penuh, Anin hanya tidak ingin merepotkan saja.” Anindita berbicara panjang lebar kepada lelaki dihadapannya.
__ADS_1
“Abang hanya takut kamu berencana meninggalkan abang disaat mamah sudah terlihat begitu menyayangimu,” ucap Faisal, emosinya sudah melandai, direngkuhnya kepala gadis yang sedang bersimpuh disampingnya dan menghadapnya tersebut.
“Cup” sebuah ciuman singkat didaratkan dipucuk kepala gadis yang sangat dia cintai, didekapnya tubuh mungil itu erat-erat, matanya terpejam mengusir segala kekhawatiran yang dia pikirkan. Anindita membiarkan tubuhnya bersandar pada dada bidang lelaki tersebut beberapa saat, sebuah pelukan yang membuatnya merasa nyaman dan merasa terlindungi. Untuk kali pertamanya dia bisa mendengar detak jantung lelaki itu berirama, dan ini merupakan pelukan pertama sejak dia resmi menerima lamarannya. Anindita mencoba menjauhkan tubuhnya setelah dirasa jika lelaki itu sudah tenang.
“Abang tidak perlu memikirkan apa yang ada diluar kendali kita, biarkan saja semua berjalan sesuai ketentuan-Nya, jika memang kita berjodoh maka tidak akan ada alasan untuk kita saling meninggalkan,” ucap gadis itu, matanya menatap sekilas kilauan pupil lelaki yang ada disampingnya.
Tiba-tiba lengan kekar itu mencakup kedua pipinya, jarak diantara mereka hanya tertinggal beberapa jengkal, mata itu menatapnya kian lekat seolah menghipnotisnya. Desiran-desiran aneh mulai menjalar, berlarian menuju perut dan dada, detak jantung semakin bergemuruh tak karuan. Wajah tampan itu kian mendekat, mendekat dan mendekat hingga Anindita bisa merasakan hembusan nafas Faisal yang mulai terdengar cepat. Jaraknya hanya tinggal beberapa senti, mata lelaki itu menatap bibir lembutnya.
“Bang,” Anindita perlahan mengerjapkan matanya sambil mendorong dada lelaki itu untuk menjauh. Terlihat rona kaget bercampur kecewa dari wajah lelaki tampan itu.
“Maaf, bukan Anin menolak, walaupun Anin bukan wanita dengan agama yang baik, tapi Anin hanya ingin melakukan itu dengan lelaki yang sudah sah menjadi penanggung jawab Anin dunia dan akhirat,” ucapnya sambil menunduk.
“Abang ga akan minta lebih,” wajah Faisal kembali mendekat yang ditahan oleh kedua telapak tangan Anindita dengan mencakup kedua pipinya.
“Abang bangga padamu sayang, di kota sebesar ini masih ada gadis sepertimu, abang akan sabar menunggu sampai kamu halal bagi abang,” Kedua tangan Faisal mencakup kembali pipi Anindita yang sudah merona merah.
“Cup” sekali lagi kecupan didahi gadis itu dengan cukup tenang dan lama hingga akhirnya lelaki itu benar-benar melepaskannya dan beringsut menggeser duduknya untuk sedikit memberikan jarak.
“Abang takut khilaf,” kekehnya sambil bergeser menjauh, Anindita tersipu dengan senyum mengembang, hatinya merasa bahagia karena lelaki itu menghormati pilihannya.
“Bang, Anin harus beres-beres sekarang, nanti kemaleman, besok Anin masih harus kerja,” ujar gadis itu sambil beringsut mendekati kerdus-kerdus besar dan mulai membukanya sebelum lelaki itu memberikan jawaban apapun.
“Abang bantuin beres-beres ya, biar cepet, kalau kemaleman besok ambil cuti saja, kerja juga kalau kurang tidur mana bisa fokus,” ujarnya sambil menghampiri Anindita dan turut memindah-mindahkan barang-barang tersebut.
__ADS_1
“Udah abang pulang aja udah malem, Anin bisa sendiri kho,” ujar gadis itu sambil menatap jam yang sudah menunjukkan pukul 23.15.
“Sssttt, jangan menolak, abang ikhlas bantuin, lagian disini perumahannya juga masih belum penuh terisi, jadi jangan takut ditangkep kawin paksa,” ucap Faisal sambil tersenyum penuh makna kearah gadisnya.
Akhirnya Anindita tidak lagi banyak berdebat, dia menuruti saja kemauan lelaki itu. Lagipula memang pekerjaannya menjadi sangat terbantu. Hampir dua jam kedua orang tersebut membereskan rumah, menata barang kedalam lemari, membereskan dapur, memasang TV, terakhir menyapu dan pel semua lantai setelah semua barang berpindah pada tempatnya.
“Nin, abang lapar,” Faisal melirik kearah gadisnya yang baru selesai menyimpan kain pel.
“Anin ga punya makanan Bang, jam segini udah ga ada warung buka juga,” Anindita melirik jam dinding yang sudah rapi terpasang sudah menunjukkan hampir pukul setengah dua.
“Buatin mie rebus saja, tadi abang lihat ada mie instan di rak makanan, abang belum makan malam soalnya” ujarnya dengan memasang wajah memelas, sifat kekanak-kanakan dan manjanya kembali terlihat. Faisal benar-benar kelaparan karena sore tadi dia memang sengaja mau memberikan kejutan kepada Anindita dengan mengunjungi kontrakannya untuk mengajak makan malam keluar, namun malah dia yang dikejutkan karena gadis yang dicarinya sudah pindah beberapa waktu yang lalu. Beruntung dia pernah mengikutinya dan Hadi waktu itu, hingga akhirnya dia pergi menyusul ke area perumahan tersebut.
“Ok, tunggu ya,” gadis itu beranjak menuju dapur untuk menyiapkan makanan.
Tak berapa lama Anindita sudah keluar dari dapur dengan membawa semangkuk mie rebus dengan asap yang masih mengepul. Akan tetapi lelaki tersebut sudah terlelap dengan telentang diatas karpet tanpa bantal. Wajahnya terlihat lelah. Gadis itu bingung apakah harus membangunkannya atau membiarkannya. Ditatapnya mie rebus yang dia letakkan di dekat meja TV, asapnya masih mengepul. Akhirnya dia memberanikan diri membangunkan lelaki itu.
“Bang, bangun,” Anindita menepuk-nepuk lengan Faisal, tetapi yang dibangunkan sudah menjelajah alam mimpi, berkali-kali dia coba tetapi lelaki itu hanya menggeliat dan melanjutkan tidurnya. Akhirnya Anindita menyerah dan meninggalkannya, dia menuju kamar dan segera mengistirahatkan seluruh tubuhnya yang luar biasa lelahnya. Sementara mie rebus itu sedang meratapi sendiri nasibnya yang mendingin tanpa ada yang menyentuhnya.
***
TERIMAKASIH YANG UDAH MAMPIR KE NOVEL INI.
TETAPI JANGAN LUPA UNTUK LIKE, KOMEN DAN VOTE YA... DAN KASIH BINTANG LIMA JUGA... .MAKASIH.
__ADS_1