
Sebetulnya kondisi Murod belum baik-baik saja, memar-memar di tubuhnya masih menyisakan warna biru. Namun karena desakan keluarganya akhirnya hari itu lelaki bertubuh kurus itu ikut dengan Faisal dan Anindita ke Jakarta. Faisal tetap mendesaknya untuk test DNA karena dia begitu yakin jika Murod adalah saudara kembarnya yang hilang. Sebuah gelang kecil bertuliskan huruf F yang Bu Wanti simpan selama puluhan tahun kini diberikannya pada Murod, mungkin gelang itu salah satu petunjuk untuk menemukan siapa orang tua kandungnya. Faisal masih ingat, bentuk dan rupa gelang itu sama persis dengan gelang yang disimpan Bu Windarti dilaci kamarnya, sebuah gelang dengan inisal huruf F untuk mewakili nama Faisal.
Proses test DNA Murod dengan Bu Windarti diurus oleh Ferdi, sementara Faisal dan Anindita menuju bandara untuk menjemput Winah dan Rizki yang kemarin dimintanya untuk datang ke jawa. Perjalanan tidak memakan waktu lama, kebetulan jalanan kota jakarta menjelang siang sedikit lengang, terlebih ketika sudah memasuki tol menuju bandara. Tidak banyak percakapan yang terjadi, Anindita masih termenung dengan pikirannya sendiri. Sementara Faisal tidak ingin mengganggu kekasihnya.
Mereka sudah tiba di pintu kedatangan domestik. Tak berapa lama menunggu sosok yang telah lama begitu Anindita rindukan kini ada dihadapannya. Keharuan tak terelakkan, bertubi-tubi ciuman menghujani Rizki, balita montok yang berwajah rupawan. Setelah puas melepas kerinduan, Anindita memperkenalkan Faisal kepada kakak iparnya tersebut. Winah melirik Faisal, raut wajahnya tampak kaget melihat lelaki yang menemani adik iparnya tersebut. Wajahnya memiliki begitu banyak kemiripan dengan suaminya.
“Ini Bang Faisal, Kak Winah jangan kaget kalau wajahnya begitu mirip Bang Murod, ceritanya panjang, nanti Anin ceritakan di mobil ya,” ujar Anindita.
“Faisal,” dengan ramah Faisal mengulurkan tangan dan memperkenalkan diri kepada wanita yang berdiri disamping kekasihnya.
“Winah,” sambut Winah.
“Dek, salim sama Om,” ujar Winah sambil mengelus pucuk kepala Rizki. Anak itu menuruti perintah ibunya dan menghampiri Faisal untuk mencium tangannya.
“Ayo, nanti keburu terkena macet jam pulang kantor,” ajak Faisal sambil membantu membawakan koper Winah dan Rizki.
Mereka berempat segera memasuki mobil yang terparkir tidak jauh darisana. Anin meminta ijin untuk duduk di kursi belakang bersama Winah karena banyak hal yang ingin diceritakan kepada Kakak iparnya tersebut. Dia ingin bercerita semua dan hendak meminta agar wanita itu bersedia kembali tinggal di rumah yang dulu ditinggalkannya. Bersedia kembali menerima Murod sebelum lelaki itu yang memintanya.
***
Selama menunggu hasil test DNA keluar, Bu Windarti meminta Murod, Winah, Rizki serta Anindita untuk tinggal di rumahnya. Murod tidur di kamar terpisah sementara Anindita memilih tidur sekamar dengan keponakan dan Kakak iparnya yang begitu dia rindukan. Sierra sudah beberapa hari liburan ke jogja, gadis itu seperti menghindari keramaian dari orang-orang yang menurutnya asing. Karenanya ketika mendengar kabar tentang Murod dan keluarganya yang akan tinggal disana diam-diam dia sudah membeli paket liburan ke beberapa tempat di Indonesia, jogja salah satunya.
__ADS_1
“Hmm, Winah, apakah tidak ada kesempatan untuk kita bersama lagi?” ucap Murod pada suatu senja di halaman belakang rumah.
“Ada Bang, dengan satu syarat, keluargaku akan menerima siapapun suamiku sekarang asalkan aku tetap tinggal disana, di rumah keluarga besar,” ucap Winah sambil menatap sosok yang sebetulnya masih memiliki sebagian besar hatinya.
“Abang ingin menebus dosa pada ibu, abang ingin menjaganya di sisa usianya, apakah tidak ada celah untukmu kembali tinggal bersama kami?” tanya Murod lagi.
“Kepercayaan keluargaku sepenuhnya tidak ada untukmu Bang, apalagi setelah bertahun-tahun mereka tahu aku dan Rizki terlantar, mereka hanya tidak ingin membuat kami mengulangi penderitaan yang berulang,” ujar Winah sambil menarik nafas panjang.
“Aku ingin Rizki merasakan memiliki seorang ayah Nah,” ucap Murod seraya matanya terpejam, tak kuasa ada cairan bening menetes.
“Sebenarnya aku sudah bertunangan Bang,” ujar Winah sambil menunjukkan sebuah cincin yang melingkar di jari manisnya.
DEG
BRUK
Seseorang memeluknya dengan erat dari belakang. Wanita itu tidak lain adalah Bu Windarti. Beberapa menit yang lalu Ferdi memberikan hasil test DNA. Sebuah hasil yang akhirnya mengembalikan satu nyawa yang berpuluh-puluh tahun sudah dianggapnya menghilang. Air matanya mengalir bak hujan membasahi kaos yang dikenakan Murod saat itu.
“Fardan, anakku, Fardan Andra Dinata,” tangis Bu Windarti pecah meluapkan segala kebahagiaan dan kepedihan untuk putranya yang baru saja ditemukan.
Murod yang masih terkaget sekarang bertambah kaget. Dia hanya diam mematung, tak ada reaksi apapun yang dia lakukan. Tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya. Pikirannya yang kosong melayang tak memijak bumi. Satu datang dan satu akan pergi. Hari itu dia mendapatkan seorang ibu kandung yang dulu melahirkannya, akan tetapi disaat bersamaan dengan dia akan kehilangan seseorang yang melahirkan anaknya. Winah menatap penuh haru, dia begitu mengerti bagaimana perasaan Bu Windarti. Faisal, Ferdi dan Anindita yang menggendong Rizki turut menghampiri.
__ADS_1
“Panggil saya mama,” ujar Bu Windarti sambil masih terisak dan memeluk Murod.
“Mama,” suaranya begitu samar dan hampir tak terdengar.
Faisal membangunkan ibunya dan mendudukannya di kursi sebelah Murod. Dia gantian memeluk lelaki bertubuh kurus itu dan menepuk-nepuk bahunya berkali-kali. Tak ada airmata yang menetes hanya tatapan hangat penuh ucapan selamat datang. Faisal begitu bahagia mengetahui kalau saudara kembarnya selama ini masih hidup dan sekarang ada di depannya.
“Selamat datang, Fardan Andra Dinata, selamat datang di rumah kita,” ucapnya sambil melepas pelukannya dan bergantian memeluk Bu Windarti yang masih sesekali menyeka airmata.
“Winah, Rizki, tinggalah selamanya disini bersama kami, bersama Fardan, cucuku harus mendapatkan kehidupan terbaiknya setelah semua yang dia lalui,” ujar Bu Windarti menatap Winah.
Winah menghela nafas panjang. Kini dia dihadapkan dengan sebuah pilihan yang sulit. Wanita itu sejenak memejamkan mata dan mengumpulkan keberanian untuk menyatakan kebenaran yang belum dia utarakan. Kemudian dia menjelaskan mengenai status apa yang dimilikinya sekarang. Dia adalah wanita lajang yang sudah ditunangkan. Winah menceritakan bagaimana kepercayaan keluarganya sudah menghilang.
“Apakah masih ada sedikit rasa yang tersisa untuk suamimu Nak,” Bu Windarti menatap wanita yang masih menunduk menyembunyikan kepedihannya. Hanya sebuah anggukan perlahan tanpa suara yang ia dapatkan sebagai jawabannya.
“Fardan, apakah kamu akan membiarkan kehilangan mereka untuk kedua kalinya?” Kini tatapan Bu Windarti berubah menjadi begitu tajam menatap putranya.
“Mereka terluka karena kesalahanmu dimasa lalu, berjuanglah untuk mendapatkan mereka kembali kedalam hidupmu dan tebus semua kesalahanmu dengan mebahagiakan mereka,” ujar Bu Windarti sambil menatap Murod yang kini sudah mulai bisa menguasai dirinya.
“Pergilah, temui orang tua Winah, yakinkan mereka kalau kamu bisa menghidupinya dengan layak, Faisal dan Ferdi sudah mempersiapkan satu anak perusahaan untuk kamu kelola,” ujar Bu Windarti dengan menatap penuh perintah. Murod masih menunduk, terlalu cepat baginya untuk berubah status dari seorang buruh menjadi seorang pengusaha. Dia belum bisa mencerna sepenuhnya statusnya yang berubah dari seorang Murod menjadi seorang Fardan Andra Dinata.
***
__ADS_1
TERIMAKASIH YANG UDAH MAMPIR KE NOVEL INI.
TETAPI JANGAN LUPA UNTUK LIKE, KOMEN DAN VOTE YA... DAN KASIH BINTANG LIMA JUGA... .MAKASIH.