Perjalanan Dan Takdir Cinta

Perjalanan Dan Takdir Cinta
Bab 45 - Hari Pernikahan (Session 1 Selesai)


__ADS_3

Semuanya duduk teratur di teras masjid, hanya keluarga inti dan saksi yang duduk berkumpul dengan kedua mempelai. Mahar yang berupa seperangkat alat sholat sudah terhias dengan cantik, satu set cincin pernikahan yang Faisal sudah siapkan jauh-jauh hari terlihat begitu manis dalam kotak yang diletakkan di nampan berhias. Pemuka agama setempat membuka acara dengan prakata alakadarnya dan memastikan jika semua sudah hadir dan lengkap.


“Jika acara sudah bisa dimulai, saya langsung serahkan kepada Bapak penghulu,” ujar pemuka agama tersebut hendak menutup prakatanya.


“Tunggu!” Tiba-tiba Faisal menyela dan berdiri, tatapan matanya menangkap sosok yang begitu tidak disukainya. Semua mata menatap heran kearah Faisal yang kemudian berdiri menghampiri pintu masjid yang terbuka, menuju kearah sosok lelaki tampan dengan setelan kemaja casual yang baru saja datang.


“Rio,” suara Anin tercekat pelan, tatapan penuh kekhawatiran mengikuti punggung lebar Faisal yang semakin mendekat kearah Rio. Anindita segera berdiri dan mengikuti langkah Faisal, dia khawatir kedua lelaki itu akan membuat keributan. Ferdi mencoba menenangkan semuanya karena dia tahu, sahabat sekaligus atasannya itu tidak mungkin berbuat bodoh dan mengacaukan pernikahannya sendiri.


“Siapa dia?” Ferdi berbisik kepada Sierra.


“Mantan Kak Anin,” ujar Sierra sambil matanya menatap mereka yang kini sudah berhadapan.


Semua mata memandang kearah Faisal yang menatap penuh arti kepada rival yang ada dihadapannya. Sementara Anindita mencoba mengangkat kain kebaya yang menjuntai dan begitu menghambatnya berjalan.


“Tenang Bang, aku datang bukan untuk membuat kekacauan,” ucap Rio santai sambil tersenyum dan menepuk bahu Faisal yang tingginya menang beberapa senti daripada dia. Faisal masih bergeming.


“Boleh aku duduk,” ucap Mario lagi.


“Bang,” Anindita meraih lengan Faisal ketika dia sudah berhasil menghampiri kedua lelaki itu, namun tatapan matanya terkunci dengan kedua bola bening yang dulu selalu dia rindukan.


“Selamat ya Nin,” Mario tersenyum begitu tulus dan menatap lembut wanita yang masih menempati bagian spesial dihatinya.


“Sayang, abang tahu kalau selama ini abang egois dan selalu memaksakan agar kamu bisa mencintai abang,” Faisal berbicara pada wanitanya namun tatapannya masih tertuju pada Mario yang sedang menatap lembut calon pengantinnya.


“Sebelum semuanya terlambat, masih ada waktu, sesuatu sudah menyadarkan abang jika cinta memang tidak bisa dipaksakan, apakah masih ada dia dihatimu, jika iya, abang merelakan kalau hari ini akan menjadi hari kebahagiaan untuk kalian.” Faisal kini menatap Anindita yang matanya membulat tidak percaya mendengar perkataan lelaki yang ada disampingnya itu. Semua tamu yang hadir sudah mulai berbisik-bisik. Bu Wanti dan Bu Windarti saling menatap dan terlihat kekhawatiran terlintas pada wajah mereka.


“Apa maksudnya bang?” Gadis itu mencoba mencari kebenaran dari sorot mata Faisal.


“Hei, Bang, jangan membuat kacau acaramu sendiri, kalau kedatangan aku hanya akan mengganggu, lebih baik aku pulang, permisi.” Mario hendak mebalikkan badan, namun lengan kanan Faisal menahan bahunya.

__ADS_1


“Tunggu, aku hanya tidak ingin melakukan kesalahan diawal sebuah ikatan yang harusnya sekali seumur hidup.” Langkah Mario terhenti dan membalikkan kembali badannya.


“Sayang, abang memberimu kebebasan untuk memilih,” ujar Faisal lagi, kini dia menatap begitu lekat kepada wanita yang selama ini mati-matian dipertahankannya.


“Kenapa abang melakukan semua ini?” Anindita menatapnya dengan mata yang sudah digenangi cairan bening.


“Karena abang sangat mencintaimu dan tidak ingin membuat kamu terluka dan tidak bahagia,” ujar Faisal lembut. Anindita tertegun mendengar kalimat yang begitu tulus terucap dari lelaki yang selama ini lebih banyak memaksakan kehendaknya daripada memikirkan perasaannya.


“Hei Bang, aku dan Anin sudah selesai.” Mario kembali menyela.


“Aku tidak butuh penjelasanmu,” Faisal melirik kearah Mario yang menghela nafas panjang.


“Bang, Mario adalah cinta pertamaku, tidak ada yang bisa memungkiri itu.” Kalimat Anin tercekat oleh sesuatu yang mulai menyesak. Dia kembali melanjutkan kalimatnya setelah keheningan terjadi beberapa saat dan semua mata memandang kepadanya.


“Tapi benar yang dikatakan Rio, kami sudah selesai,” ucapnya sambil kembali menelan salivanya untuk membasahi kerongkongan yang tiba-tiba terasa mengering.


“Pernikahan bukan untuk main-main Bang, aku sudah meyakinkan hatiku untuk menjalankan ibadah panjang ini bersamamu,” ucap Anindita sambil menyeka sudut matanya dimana tetesan bening mulai berjatuhan.


“Kedua mempelai, apakah acaranya bisa dilanjutkan?” Terdengar suara pemuka agama membuyarkan ketagangan yang sedang terjadi. Faisal membalikan badan dan mengangguk. Dia berjalan menggandeng Anindita menuju ke tempat acara.


“Terimakasih sayang sudah memilih abang,” ucapnya berbisik sambil kemudian duduk kembali untuk melanjutkan ijab kabul.


“Silahkan Pak penghulu untuk mengambil alih acara,” suara pemuka agama menutup prakatanya.


Prosesi akad nikah berlangsung dengan khidmat. Faisal akhirnya bisa menyelesaikan ijab qabul dengan satu tarikan nafas. Acara diakhiri dengan doa dan halal bilhalal. Setelah acara selesai semua tamu undangan dipersilahkan untuk kembali ke kediaman mempelai untuk menikmati hidangan prasmanan yang sudah disiapkan dihalaman belakang rumah mewah itu. Tak terkecuali Mario, kini lelaki itu tengah duduk berhadapan dengan Sierra di salah satu meja bundar yang terpisah.


“Rio, terimakasih, aku banyak mengambil pelajaran dari ketulusanmu,” Sierra memulai percakapan sambil menyuap puding ke mulutnya.


“Aku hanya melakukan apa yang seharusnya aku lakukan, tapi kamu jauh lebih hebat, bisa menahan semuanya padahal setiap hari kalian bertemu, terimakasih sudah tidak menyakiti Anindita, dia gadis yang terlalu baik untuk terluka.” Mario tersenyum dan menepuk lengan Sierra pelan yang tergeletak diatas meja.

__ADS_1


“Aku tidak sejahat itu lah,” Sierra menyunggingkan senyum manisnya, akhir-akhir ini gadis itu memang terlihat lebih dewasa dari biasanya.


Sementara dari balkon atas ada dua pasang mata yang memperhatikan mereka. Kedua mempelai yang baru saja selesai mengganti kostum dan mengenakan pakaian biasa. Faisal mengajak Anin untuk menghampiri semua orang yang sedang menikmati hidangan di taman belakang.


“Aku harus berterimakasih padamu,” Suara Faisal membuat Mario dan Sierra menoleh bersamaan.


“Tidak perlu Bang, aku tidak melakukan apapun untukmu.” Mario berdiri dan menghampiri pasangan pengantin baru tersebut.


“Kamu cukup jaga dia Bang, dia tidak pernah menangis selama bersamaku kecuali saat kesalahfahaman itu terjadi, jika kamu mau melukai dia, aku salah satu orang yang akan menentangmu dan jangan salahkan jika saat itu aku akan merebutnya darimu.” Ucap Mario penuh penegasan dengan tatapan memicing.


“Hahahaha, kamu tidak perlu mengajariku.” Faisal menepuk-nepuk bahu Mario. Sierra hanya berdiri menatap mereka dan menyimak percakapan mereka.


“Anin, aku sekalian mau pamit, sore ini aku kembali ke singapura, semoga bahagia selalu ya,” Mario menatap Anindita yang berdiri disamping Faisal ada desir pedih sebetulnya yang terselip dihatinya ketika mengetahui jika pencariannya berakhir sia-sia.


“Iya Rio, sampaikan salamku untuk Renata dan permintaan maafku untuk Luna atas prasangkaku selama ini.” Anin terliha memaksakan diri untuk tersenyum, bagaimanapun tidak semudah itu dia menghadapi semua yang terjadi saat ini.


“Bang, Anin, Rara, aku pamit ya, assalamualaikum.” Mario menatap mereka bergantian kemudian melangkah pergi meninggalkan para tamu undangan yang lain yang masih menikmati hidangan.


Sierra memandang punggung lebar yang kian menjauh itu dengan nanar. Sepertinya pertemuan singkat dengan Mario begitu berkesan untuknya. Dalam waktu dekat dia menemukan banyak hikmah dan banyak pelajaran dari lelaki yang merupakan mantan kekasih dari rivalnya. Sierra memejamkan mata dan berpamitan untuk pergi kekamar kepada pasangan pengantin baru itu.


Anindita dan Faisal memilih kursi yang tadi diduduki Sierra dan Mario. Mereka melepas rasa lapar dengan menikmati sajian hidangan. Ada pancaran sinar kebahagiaan dari setiap garis senyuman yang melengkung dari bibir lelaki itu. Sebuah kebahagiaan dan kelegaan karena yang selama ini dikhawatirkannya tidak terjadi. Gadis yang dicintai itu kini menjadi miliknya, meskipun dia tahu masih butuh waktu untuk membuat gadis itu mencintai seutuhnya akan tetapi dia akan melakukan apapun untuk mendapatkan itu.


***


soundtrack nya lagu Armada ya Gaess


Harusnya Aku Yang Disana, dampingimu dan bukan dia....


Session satu - SELESAI -

__ADS_1


PTDC session satu selesai dulu ya,


__ADS_2