Perjalanan Dan Takdir Cinta

Perjalanan Dan Takdir Cinta
PTDC2 - Memberi Jalan


__ADS_3

“Aku lagi ada perlu, oh iya gimana kabar Rio, kapan kalian akan menikah, duhh sejak dia pergi kuliah ke singapura udah ga pernah ketemu kalian lagi,” Felisha masih menggenggam lengan Anindita.


“Ehmmm” deheman Faisal menyadarkan dua wanita itu karena telah mengabaikan keberadaan seseorang.


“ Oh iya Mba Fel, maafin aku ga ngabarin, aku sudah menikah, tapi bukan dengan Rio,” ucap Anin sambil melirik Faisal yang sedang menatapnya.


“What? kalian putus?” kedua pupil wanita bermata cokelat itu membesar, seolah tidak percaya akan apa yang didengarnya.


“Iya Mba, kami tidak berjodoh, dan ini mba kenalin, Bang Faisal suamiku,” Anin meraih lengan Faisal dan menepuk-nepuknya sambil tersenyum. Sementara lelaki itu masih diam terpaku. Kini bukan hanya pupil cokelatnya yang membulat, Felisha menutup mulutnya yang menganga lebih tidak percaya lagi.


“Kenapa Mba kho keliatan kaget, Mba Felisha kenal sama Bang Faisal?” Anin bertanya.


“Emh, kami dulu,” ucapan Felisha tiba-tiba dipotong oleh Faisal.


“Kami teman satu kampus dulu,” ucap Faisal dengan mata menatap dingin pada wanita yang masih berdiri disamping istrinya itu.


“Emh iya, kami teman,” ucap Felisha dengan senyum yang dipaksakan. Walaupun dia merasa bersalah karena meninggalkan Faisal dulu tapi hati kecilnya masih ingin diakui jika dia pernah menjadi wanita yang berarti di hati lelaki itu.


“Icha, saya ada meeting akbar hari ini, kalau sudah tidak ada perlu, kami permisi,” ucap Faisal sambil menarik lengan Anindita, membuat wanita itu ikut melangkah tergesa mengikuti langkah panjang kaki suaminya.


“Mba, maaf ya,” Anin mengatupkan tangan sebelum kemudian dia memasuki lift yang tidak jauh dari tempat resepsionis.


“Kamu kesini sama siapa?” Faisal menatap lekat wanitanya.


“Sama Pak Hadi, aku Cuma mau buktiin ejekan temen-temen aku,” ucap Anin cemberut.


“Ejekan apa?” Faisal menautkan alisnya tanda bingung.


“Emang Abang beneran CEO di company Dinata Group?” Anin menatap tajam wajah suaminya yang tingginya jauh berbeda dengannya, sehingga dia harus sedikit mendongak untuk bisa mengetahui kebenaran dari mata lawan bicaranya.


Cup

__ADS_1


“Iya,” Faisal menjawab singkat, setelah sebuah ciuman singkat mendarat di bibir mungil wanitanya.


“Ihhhh, abangggg,” Anindita mencubit perut Faisal karena kesal.


“Aduh, sakit sayang, ampun, ampun,” Faisal meringis sambil tertawa usil, ditariknya lengan Anin yang masih mencubiti perutnya dan didekapnya tubuh wanita itu.


Tring


Tiba-tiba pintu lift terbuka. Disana ada Hadi dan dua orang staff administrasi yang sedang berdiri hendak menggunakan lift.


“Ah, maaf Pak,” Hadi memalingkan tatapan ke sembarang arah, merasa tidak nyaman dengan pemandangan di hadapannya.


“Bang,” Anin mendorong tubuh Faisal menjauh, wajahnya sudah bersemu merah menahan malu yang luar biasa. Faisal hanya terkekeh dan melanjutkan berjalan menuju ruangannya setelah mengangguk pada Hadi dan kedua staff yang akan memasuki lift. Hadi dan kedua staff itu pun mengangguk sambil memasuki lift setelah menekan tombol tujuannya masing-masing.


Setibanya di ruangan, Anin menjatuhkan tubuhnya di sofa yang berada disana. Sementara Faisal menekan tombol telepon menyambungkan ke bagian pantry. Dia meminta dibawakan teh lemon hangat dan makanan ringan untuk istrinya.


“Abang kenapa ga cerita semuanya ke aku?” Anin menatap Faisal yang sudah duduk kembali di mejanya, waktu untuk meeting tinggal sebentar lagi dan masih banyak berkas yang harus dia periksa.


“Bang, iiihhh,” Anin cemberut, namun setelah beberapa saat dia mengamati sebegitu banyak tumpukan kertas yang menumpuk di meja suaminya, dia merasa tidak tega.


“Ada yang bisa kubantu Bang?” Anin mendekati dan memperhatikan Faisal yang tengah fokus pada kertas-kertas itu.


“Boleh sayang, tolong masukin ke file meeting ini ya untuk dokumen yang udah abang check itu, ini masih banyak, harus segera abang selesaikan tandatangannya sebelum meeting, karena kalau tamu jepang itu biasanya random checking, jadi kita mesti siapkan semuanya,” ucap Faisal tersenyum sekilas ketika menoleh kearah istrinya.


Anin sudah terbiasa bekerja di kantor. Dia dengan sigap membantu menyiapkan semua berkas yang suaminya butuhkan untuk meeting. Sebetulnya semua itu biasanya akan diselesaikan oleh Ferdi dan staff-staffnya namun karena Ferdi sedang ditugaskan mandat besar yaitu mengurus resepsinya akhirnya dia harus mengecheck sendiri satu-satu berkas itu.


Waktu bergulir cepat. Terdengar announcement dari resepsionis mengingatkan para peserta meeting untuk segera menuju ruang meeting utama. Faisal sudah berangkat lebih awal. Sementara Anin lebih memilih beristirahat sambil menikmati cemilan dan teh lemon hangat yang baru saja diantarkan oleh office girl.


Trrrt Trrt


Vibrate ponselnya menarik perhatiannya. Diambilnya dan diusapnya layar itu.

__ADS_1


“Anin selamat ya atas pernikahanmu,” Felisha.


“Iya Mba makasih, yang sabar ya, aku udah lihat kasus Mas Reymond, semoga segera selesai kasusnya,” Anin.


“Iya, beruntung aku belum resmi menjadi istrinya, oh iya jangan bilang suamimu aku WA ya,” Felisha.


“Kenapa Mba?” Anin.


“Dia tidak akan menyukainya,” Felisha.


“Apapun yang terjadi dengan kalian di masa lalu Mba, aku ga pernah tahu itu, dan kini aku harap Mba Felisha juga bisa maafin suami aku jika perlakuannya kurang mengenakkan,” Anin.


“Bagaimanapun itu bukan salahnya, ya udah ga usah di bahas, aku sebentar lagi sampai gedung mau ada pemotretan, tadi mampir kesitu memang betul-betul cuma mau minta maaf,” Felisha.


“Oh iya Mba, masih kerja di rumah model Papahnya Rio?” Anin.


“Ya masih lah, aku mengawali karir darisana, dan kenal kalian juga berkat event-event kampus yang sering melibatkanku, mana bisa aku move on ke tempat lain,” Felisha.


“Aku mau minta bantu ponakanku, sudah hampir seminggu dia sibuk ngejar-ngejar casting buat jadi model, mungkin Mba Feli bisa bantu,” Anin. Dia teringat sehari setelah pernikahannya resmi, Sierra pergi dari rumah dengan alasan mengejar casting untuk masuk ke dunia entertain. Kalau dilihat dari status WA nya kadang dia ikut casting di PH A, B, C dan lain-lain.


“Ok, kasih aja nomernya ke aku, nanti aku yang urus, sebagai permintaan maafku pada suamimu,” Felisha.


Anin segera mengirimkan nomor Sierra. Meskipun dia tidak mengerti jika sebetulnya Sierra memang sedang berusaha masuk ke dunia entertain sejak dia tahu kalau ayahnya Rio memiliki bisnis PH dan modelling. Sierra sebetulnya sedang mencari cara untuk bisa satu langkah lebih dekat dengan Rio.


“Semoga kamu bisa bahagia Rio, aku melihat sesuatu yang istimewa terpancar dari tatapan Rara buat kamu,” Anin memejamkan mata ketika tiba-tiba sekilas terbayang bagaimana tatapan Sierra pada Rio di hari pernikahannya. Anin menghela nafas panjang hendak mengusir bayangan seseorang yang belum sepenuhnya menghilang.


***


" Iya lho Aninnnn, namanya cinta pertama emang susah dilupain.... berusaha lahhh" (author)


Like, komen, saran, rate bintang lima juga yaaa.... Vote? Boleh kalau mau.

__ADS_1


__ADS_2