
DEG
Ponsel yang ditangannya hampir terjatuh ketika pandangan matanya terkunci pada sosok yang menoleh kearahnya. Lelaki berwajah tampan itupun sama-sama terkesiap ketika melihat wanita yang beberapa hari ini mati-matian dicarinya tengah menatapnya dan yang paling mengejutkannya ketika dia menyadari jika gadis itu sedang mengenakan sebuah kebaya pengantin.
“Rio,” dengan bibir gemetar, Anin menyebutkan lelaki yang masih terkesima menatapnya.
“Anin,” Rio berjalan tergesa menghampiri wanita itu.
Mereka hanya berpandangan ketika jarak hanya menyisakkan beberapa puluh cm diantara mereka. Terlihat lelaki itu sedang mencoba menguasai diri. Beberapa kali menarik nafas panjang, tatapan mata tajamnya membuat Anin hanya mampu menunduk tanpa berani membalasnya.
“Boleh bicara sebentar Nin,” ujar Rio masih menatap lekat, gadis itu mengangkat kepala. Belum sempat ia memberikan jawaban, tiba-tiba suara yang sangat dia kenal muncul dari arah belakang Rio.
“Sayang, lihat,” ucapan Faisal tidak tuntas ketika lelaki yang tepat berada didepan calon istrinya menoleh dan beradu tatap dengannya. Minuman yang diangkatnya tadi diturunkannya perlahan sambil mencoba menanangkan hatinya kalau semua akan baik-baik saja.
“Oh jadi kau,” salah satu sudut bibir Mario terangkat, dan dengan tatapan sinis dia mengintimidasi Faisal. Namun lelaki yang sudah memiliki umur lebih tua beberapa tahun darinya itu segera membalas perlakuan Mario terhadapnya.
“Ya, kenapa?” Faisal menyenggol bahu Mario dan melewatinya, tangannya langsung merengkuh pinggang gadisnya kedalam pelukannya.
“Anin, bisakah kita bicara, kamu berhutang penjelasan padaku atas semua ini,” Rio kembali menatap wanita yang pernah dan masih mengisi relung hatinya sampai detik itu.
“Apa yang harus aku jelaskan, bukannya kamu sendiri yang memulai semuanya?” Ucapan dari Anindita membuat Mario mengerutkan dahi.
“Sepertinya ada kesalahfahaman yang terjadi, aku hanya ingin meluruskan sesuatu meskipun itu tidak bisa mengubah semuanya tetapi setidaknya kau harus tahu, kalau sampai detik ini dirimu masih sama untukku seperti dulu,” ucapan Mario melemah dan mencoba menyembunyikan kepedihan hatinya.
Anindita terdiam sebentar, dia masih menunduk. Tanpa memberikan jawaban, dia berbalik dan masuk kembali keruang ganti. Sierra bergegas mengikutinya. Sementara Faisal kini mengintimidasi Mario. Dia memicingkan mata dan mengangkat satu sudut bibirnya.
“Dia tidak mau lagi berbicara denganmu, untuk apa kau masih disini,” ucapan sinis Faisal.
“Aku tidak akan pergi sebelum berbicara dengannya,” Mario bersikukuh, bagaimanapun dia masih harus meluruskan sesuatu. Termasuk mengetahui alasan, kenapa gadis itu memilih lelaki lain dan menghilang dari hidupnya.
“Kau!” Faisal terlihat geram, tangannya mengangkat kerah baju Mario dengan mata yang membulat besar. Dia tidak suka seseorang mengusik miliknya, apalagi itu adalah orang yang sangat dicintainya.
“Bang, hentikan.” Suara Anindita membuat fokus kedua lelaki itu beralih, terlihat gadis itu sudah mengenakan kembali pakaian biasanya dan melepas kebaya pengantin yang tadi dicobanya.
__ADS_1
“Sayang,” suara Faisal melemah.
“Biarkan aku bicara sebentar dengannya Bang,” ucap gadis itu sambil melirik kearah Mario.
“Rio, sebaiknya kita mencari tempat, tidak menarik perhatian disini,” Anin melangkah mendahului lelaki itu keluar dari butik.
“Sayang,” Faisal mencoba menghentikan langkah gadisnya yang semakin menjauh. Sementara Mario menepis kasar lengan Faisal yang masih memegang kerah kemejanya. Lelaki itu memutar badannya dan mengikuti langkah Anindita yang sudah beberapa langkah didepannya. Baru saja Faisal hendak mengikuti mereka, namun tangan seseorang memegang pundaknya.
“Kak Fay, mau kemana? siapa Rio?” Sierra mencari tahu sesuatu.
“Mau mengikuti mereka, dia,” kalimatnya terjeda beberapa detik.
“Dia adalah lelaki yang dicintai Anin waktu dulu,” ujarnya.
“Oh, jadi yang selama ini dicarinya itu Kak Anin, beruntungnya jadi Kak Anin dicintai orang-orang baik seperti mereka.” Tak terasa Sierra bergumam sendiri.
“Biarkan mereka Kak, berikan waktu untuk mereka,” lengan Sierra kembali menahan Faisal yang sudah melangkah hendak meninggalkannya. Faisal berhenti, minuman yang dibawanya dilempar sembarang. Tangannya mengacak rambutnya kesal, dia menjatuhkan diri di kursi tunggu dan memandang nanar kedepan.
“Huh,” hanya dengusan kesal yang disusul beberapa kali tarikan nafas panjang, sebelum akhirnya lelaki itu tanpa sadar entah berbicara pada siapa.
“Aku terlalu mencintaimu, bagaimana kalau dihatimu masih ada dia?” Gumamnya sambil menengadahkan kepala seolah menghalau cairan bening yang tiba-tiba tergenang dikedua kelopak matanya. Sierra hanya menatapnya iba, baru pertama dia melihat sisi rapuh seseorang yang masih ada dihatinya sampai hari itu. Seseorang yang hatinya sudah dilabuhkan pada wanita lain dan hendak menikah, namun entah bodoh atau memang seperti itulah cinta, dia masih saja tidak bisa melepaskan perasaan itu sepenuhnya.
***
“Anin,” Rio mempercepat langkahnya dan menjejeri Anindita.
“Kita ngobrol disana saja,” Anin menunjuk salah satu foodcourt yang terlihat agak sepi. Mario hanya mengikuti langkah wanita itu dengan perasaan berkecamuk tak karuan.
“Mba, Mas pesen apa?” seorang pelayan menghampirinya.
“Teh lemon hangat,” ucap mereka bersamaan. Pelayan tersebut menatap takjub akan kekompakan pasangan tersebut, sementara Anindita mencoba mengalihkan pandangan ke tempat lain ketika Mario tersenyum menatapnya.
“Makannya Mba, Mas?” pelayan itu kembali bertanya, kali ini ada jeda sebelum akhirnya Anindita menjawab ketika lelaki yang ada didepannya hanya diam saja.
__ADS_1
“French fries saja Mba satu porsi,” ucap Anin karena tidak enak jika hanya memesan minum saja.
“Baik Mbak, ditunggu ya.” Pelayan itu berlalu meninggalkan mereka berdua dalam suasana canggung luar biasa.
“Ada apa?” Anin berhenti karena ucapannya bersamaan kembali dengan lelaki yang ada diepannya.
“Kenapa?” Mario pun berhenti tak meneruskan perkataannya.
“Kamu dulu,” Mereka kembali mengucapkannya berbarengan menambah suasana semakin canggung.
“Ini Mba, Mas pesanannya.” Pelayan datang dengan membawakan pesanan mereka dan memecah keheningan.
“Terimakasih,” lagi-lagi mereka kompak mengucapkannya yang membuat si pelayan tersenyum dan menggodanya.
“Baru jadian ya Mba, kompak bener,” ucapnya tersenyum sambil kemudian berlalu ketika tak ada sahutan dari tamunya.
“Anin, bisakah kemu menjelaskan kenapa semua ini terjadi, apakah memang kamu bener-bener ga bisa nunggu aku?” Mario memulai percakapan setelah terjadi keheningan beberapa detik.
“Kamu pikir aku ga tau yang kamu lakuin disana?” Ujar Anin sambil menelan salivanya.
“Yang aku lakuin?” Mario mengerutkan dahinya sambil menatap meminta penjelasan lebih dari wanitanya.
“Kamu ga usah pura-pura lagi Rio, kamu pikir aku ga tau hubungan kamu sama Luna, photo-photo mesra kamu, kebersamaan kamu dengannya?” ujar Anin dengan nada penuh emosi tanda luka dihatinya benar-benar belum sembuh.
“Darimana kamu bisa menyimpulkan semuanya seperti itu? kenapa kamu tidak bertanya padaku?” Dengan spontan Rio menggenggam lengan Anindita yang terletak diatas meja.
“Apa kamu pikir aku bodoh Rio, sebegitu banyak kemesraan kalian yang di umbar di semua akun sosial media wanita itu, terus aku masih bisa berpikir semua baik-baik saja?” Anin tak kuasa menahan genangan airmata yang sudah menyeruak.
***
ditunggu jejaknya yaa...
semoga syukaaaa 🥰🥰🥰
__ADS_1