
Anindita sedang memilih menu makan malamnya. Disebuah restoran jepang kini dia berada. Sakit hatinya melihat adegan siang tadi membuatnya akhirnya memutuskan untuk menerima ajakan Hadi. Dalam benaknya masih terbayang-bayang dada bidang yang pernah dia sentuh itu dijadikan sandaran untuk wanita lain. Itulah Anindita yang terkadang menarik dan memutuskan kesimpulan sendiri.
“Udah aku pesenin ya,” ujar lelaki berlesung pipit itu sambil tersenyum menatap wanita yang ada dihadapannya.
“Oh makasih Pak,” ujar Anindita tetap memanggil atasannya tersebut dengan formal. Sebetulnya dia merasa bersalah menerima ajakan Hadi hanya sebagai pelarian hatinya yang sedang tidak baik-baik saja.
“Itu ponselnya bergetar terus, ga diangkat?” Hadi memicingkan mata melihat tingkah aneh gadis itu.
“Oh ini ga penting Pak, paling Rinda,”ujar Anin berbohong, sebetulnya sudah puluhan panggilan tak terjawab sejak dia mengabaikan pesan Faisal yang mengajaknya menonton.
“Sepertinya kamu sedang tidak baik-baik saja, ok habis ini kita kemana?” tanya Hadi sambil menyodorkan makanan yang baru saja diantarkan oleh pelayan.
“Terserah Bapak,” jawab Anindita, karena dirinya sama sekali tidak tahu mau kemana.
“Ok, nanti saya akan ajak kamu ke suatu tempat, Citra dulu sangat menyukai tempat itu,” ujarnya sambil mempersilahkan Anindita untuk menyantap makanannya.
Mereka makan dalam diam. Tidak banyak obrolan yang terjadi. Anindita masih terjebak dalam pikirannya, bayangan yang menyakitkan itu membuatnya benar-benar terluka. Dia baru merasakannya, apakah itu artinya Faisal sudah mulai memiliki tempat istimewa dihatinya atau hanya perasaan terkhianati. Setelah selesai makan, mobil yang ditumpangi mereka berdua melaju kesuatu tempat.
“Taman hiburan?” Anindita menoleh kearah Hadi sambil mengernyit.
“Ya, Citra sangat menyukai taman hiburan, sudah lama saya tidak pernah pergi ke tempat seperti ini,” ujar Hadi, sambil membuka seatbelt dan turun dari kendaraan. Anindita mengikutinya.
“Kamu mau naik apa? atau mau cari makan saja?” Hadi bertanya pada wanita yang ada disampingnya.
__ADS_1
“Kan tadi udah makan, beli minum saja,” ujar Anindita, kemudian mereka menuju seorang tukang jus buah yang sedang ramai pengunjung. Belum sampai mereka ke tempat tersebut tiba-tiba seseorang tanpa sengaja menabrak Anindita.
“Aduh,” Anindita mengaduh, badannya terhuyung tetapi tidak sampai jatuh. Hadi dengan sigap menangkap tubuh gadis itu agar tidak limbung.
“Mba kalau jalan hati-hati dong,” wanita muda itu malah marah padahal yang terkena tumpahan jus itu bukan dia saja, Anindita malah lebih parah.
“Maaf, Mba bukannya Anda yang menabrak teman saya, bajunya sampai kotor,” Hadi menatap tegas gadis yang ada diepannya, jus yang dipegangnya tumpah sampai tinggal seperempat.
“Huh,” gadis itu mengerucutkan bibirnya. Sementara Anindita tidak menggubrisnya, dia sibuk membersihkan pakaiannya yang terkena tumpahan jus dengan tissue. Tiba-tiba suara laki-laki datang dari belakang mereka.
“Kenapa Ra?” suara yang begitu familiar.
“Kak Fay, mba ini nabrak Rara,” dengan manja gadis itu memburu kearah lelaki tersebut dan menggelayut manja. Sementara Anindita dan Hadi menoleh serempak kearah suara yang mereka kenali.
“Pak Faisal, Selamat malam” Hadi menyapa hormat.
“Sayang!” samar namun jelas, Hadi mendengar Faisal memanggil Anindita dengan panggilan itu.
“Mungkinkah Pak Faisal,” gumamnya perlahan sambil menatap kearah dua orang itu yang saat ini terlihat sedang berdebat di tepi taman hiburan dengan jarak belasan meter dari tempatnya berdiri.
“Mas ini siapa?” Sierra memicingkan mata, akan tetapi Hadi tidak megacuhkannya. Dia meninggalkan Sierra sendirian dan duduk ditepi gerobak penjual jus melanjutkan pesanannya.
***
__ADS_1
“Kenapa pesan dan telepon abang kamu abaikan?” Faisal memegang kedua bahu Anindita yang meronta.
“Aku kira abang udah lupa, bukankah sejak kemarin abang sedang sibuk dengan dia?” Anindita memicingkan mata dan menunjuk kearah Sierra yang masih berdiri dalam jarak belasan meter dari tempat mereka.
“Maksud kamu apa?” Faisal mengernyit karena belum menangkap arah pembicaraan kekasihnya.
“Yang harusnya nanya aku bang, maksud abang apa berpelukan dengan wanita lain didepan umum, dan hari ini, hari ini abang berdua-duaan dengan dia, bermain di taman hiburan.” Air matanya sudah menggenang tertahan.
“Dia, dia, maksud kamu Sierra?” Faisal berhenti sebentar sebelum kemudian menjelaskannya.
“Sierra itu anaknya om abang Nin, kamu salah faham, tolong jangan menyimpulkan sesuatu sendiri tanpa kamu cari tahu kebenarannya,” ucap Faisal.
“Dan hari ini rencananya abang mau mengajak kamu ke tempat ini bersama Sierra, agar kalian bisa saling kenal, tapi abang ke rumah kamu ga ada, pesan dan panggilan telepon abang kamu abaikan,” ujar Faisal dengan kedua alis tebalnya yang bertautan.
“Abang sayang kamu Nin, ga mungkin ada celah buat wanita lain disini,” tegasnya sambil menunjuk kearah dadanya, kedua lengan kekarnya merengkuh tubuh Anindita dalam pelukannya.
“Maaf,” gadis itu berucap hampir tidak terdengar sementara tangisnya berderai tidak tertahan, akhirnya dia kini mengerti kalau perasaannya sudah mulai terbuka untuk lelaki yang sedang memeluknya. Tidak ada lagi dominasi dari seorang Mario Chandra Dewa. Kini hatinya telah perlahan menerima.
Setelah meluruskan kesalah fahaman tersebut, Faisal menggandeng lengan gadisnya. Jari jemarinya saling bertautan seolah hendak menunjukkan pada dunia bahwa gadis itu adalah miliknya. Sementara mata sierra menatapnya dengan berkaca-kaca, dia masih tak percaya secepat itu bertemu dengan wanita yang membuatnya patah hati. Meskipun kemarin sudah berjanji dengan Faisal untuk menganggapnya hanya sebagai kakak,akan tetapi cinta tidak semudah itu beralih.
Disisi lain, lelaki berlesung pipit itu menghela nafas panjang. Beban yang dia rasakan seolah sangat berat. Dia tahu saingannya adalah bukan orang biasa, akan tetapi dia tidak menyangka jika pemilik perusahaan tempat bekerjalah saingannya. Seorang Faisal Andra Dinata yang sudah terkenal di dunia bisnis, yang dulu selalu menjadi senior kebanggaan di kampusnya. Hadi adalah adik kelas Faisal ketika sama-sama berkuliah pada jurusan industrial. Hadi tahu jika Faisal adalah rekanan bisnis keluarganya. Dia memejamkan mata, bagaimanapun perusahaan ayahnya banyak terbantu setelah bekerja sama dengan salah satu anak perusahaan milik keluarga Andra Dinata meskipun itu dulu sebelum Faisal menjabat sebagai CEO di perusahaan nya.
***
__ADS_1
TERIMAKASIH YANG UDAH MAMPIR KE NOVEL INI.
TETAPI JANGAN LUPA UNTUK LIKE, KOMEN DAN VOTE YA... DAN KASIH BINTANG LIMA JUGA...