Perjalanan Dan Takdir Cinta

Perjalanan Dan Takdir Cinta
PTDC2 - Resign


__ADS_3

“Abang ihh, hati-hati, kayak anak kecil aja,” Anin menyodorkan minum sambil mengerucutkan bibirnya. Faisal hanya terkekeh dan meneguk air putih yang diterimanya.


Setelah acara makan selesai, Faisal bergegas mengantarkan Anindita menuju rumah sakit untuk memastikan apakah diagnosa para ibu tadi di meja makan itu benar adanya. Sementara Fardan, Winah dan Rizki langsung menuju Bandara, mereka tidak bisa tinggal lama-lama di Jakarta karena Rizki sudah mulai sekolah. Anak itu paling tidak mau jika harus tidak masuk sekolah. Sementara Bu Wanti langsung pulang juga ke kampungnya. Menyisakan Bu Windarti, Mang Omon dan Bi Tati sebagai penghuni tetap rumah itu.


Anin dan Faisal sudah tiba disalah satu rumah sakit terbaik di jakarta. Mereka langsung mendaftar untuk bertemu dengan dokter kandungan. Anin terlihat begitu lemas, karena dalam minggu terakhir ini dia memang tidak makan dengan benar. Kebanyakan yang dimakannya hanyalah salad dan buah-buahan saja. Asupan karbo begitu kurang, ditambah aktivitas kerja dengan jarak tempuh yang jauh cukup menguras energinya juga.


Setelah mendaftar seorang suster mengarahkannya untuk menimbang berat badan. Kemudian mengecheck tensi darah Anindita. Faisal hanya duduk di depan ruang praktek dokter sambil memperhatikan istrinya.


“Ibu Anindita,” seorang suster memanggil namanya, Anin berjalan menuju pintu ruangan yang bertuliskan dr. Irnawati Spog.


“Silahkan Mba,” dokter yang berusia setengah baya itu mempersilahkannya dengan ramah. Anindita duduk disertai Faisal yang duduk disampingnya.


“Apa yang dirasakan?” dokter Irna bertanya.


“Akhir-akhir ini terasa mudah lelah, terus nafsu makan berkurang, hanya sukanya makan yang seger-seger saja dok,” jawab Anin.


“Terakhir menstruasi kapan?” dokter Irna bertanya lagi.


“Satu setengah bulan yang lalu dok,” jawab Anin. Faisal hanya menyimak dan mendengarkan.


“Silahkan Mba,” dokter memberinya sebuah tespeck. Anindita menerimanya kemudian bangkit untuk pergi ke toilet yang ada didalam ruang itu.


“Faham kan cara pakenya?” dokter Irna memastikan. Anindita mengangguk.

__ADS_1


Setelah beberapa menit didalam toilet, Anindita keluar dengan membawa tespeck ditangannya. Dia tersenyum sambil menunjukkan dua garis merah pada suaminya yang disambut oleh senyuman yang mengembang.


“Sekarang Mba Anin tiduran dulu, kita check usia bayinya,” dokter Irna mengarahkan Anindita untuk tidur diatas ranjang pasien.


Setelah wanita itu terbaring, dengan dibantu oleh seorang suster yang mengolesi cream pada bagian bawah perutnya. Alat USG itu mulai digerak-gerakkan. Sesekali dokter Irna berhenti dan mengcapture gambar pada layar sambil menjelaskan.


“Usia kandungannya memasuki minggu kelima, ini bayinya masih sebesar biji kacang ya,” ucapnya sambil menunjukkan titik yang tidak terlihat jelas itu. Faisal memperhatikannya dengan seksama.


“Pada trimester pertama di usahakan jangan terlalu banyak berhubungan suami sitri, terlebih jika kondisi kandungannya lemah, terus jangan terlalu banyak kegiatan yang membuat lelah dan stress, sering-sering ajakin istrinya refreshing Mas,” ucap dokter Irna melirik kearah Faisal. Lelaki itu hanya mengangguk.


“Ini saya resepkan vitamin nya, diminum setiap hari satu, terus untuk jadwal kunjungannya lagi ditanggal ini ya,” dokter memberikan sebuah kartu kunjungan dan selembar resep untuk di tebus di apotek.


“Makasih dok,” Faisal menggandeng istrinya menuju ke bagian apotek untuk menebus resep.


Keduanya berlalu meninggalkan ruangan dokter Irna. Lelaki itu terlihat begitu bahagia mendapati kenyataan yang sebetulnya begitu cepat, dia akan segera menjadi seorang ayah.


“Sayang, mulai besok tidak usah berangkat kerja lagi,” ucap Faisal sambil mengelus-elus pucuk kepala Anindita yang bersandar didadanya.


“Lha kan berdasarkan prosedur harus satu bulan sebelumnya Bang, mana bisa aku mendadak meninggalkan tanggungjawabku,” ucap Anin sambil menjauhkan tubuhnya. Sekilas dia melirik wajah suaminya yang terlihat serius.


“Peraturan itu dibuat oleh perusahaan, dan sekarang pemilik perusahaan sudah membuat peraturan baru, jadi tidak ada permasalahan dengan itu, kamu sudah punya tanggung jawab yang lebih besar daripada sekedar pekerjaan di departement, tanggungjawab kali ini yaitu mengurus pewaris pemilik perusahaan,” ucap Faisal sudah final dengan keputusannya. Anin melupakan sesuatu jika lelaki yang telah menjadi suaminya adalah pemilik perusahaan tempatnya bekerja. Jadi apapun yang dia putuskan tidak akan ada yang berani menentangnya.


Tak berapa lama, nomor antrian mereka dipanggil. Faisal bergegas menuju apoteker dan kembali dengan sebuah kantong plastik. Dia menggandeng lengan Anindita dan langsung mengajaknya pulang. Sesampainya di rumah Bu Windarti sudah tidak sabar, dia sejak tadi mondar-mandir menunggu anak dan menantunya tiba. Ketika dia melihat mobil Faisal sudah memasuki gerbang, dia bergegas berdiri menunggunya diteras.

__ADS_1


“Assalamu’alaikum,” ucap Anin sambil mencium punggung tangan mertuanya.


“Wa’alaikumsalam,” Bu Windarti meraih lengan menantunya dan menggandengnya masuk kedalam.


“Gimana hasilnya sayang?” tatapan penuh harap dari Bu Windarti dijawab oleh senyuman yang mengembang dari menantunya.


“Alhamdulilah Mah, positif, usia kandungannya udah 5 minggu,” ucap Anin sambil tersenyum.


“Alhamdulilah,” wanita paruh baya itu memeluk menantunya. Rasa kebahagiaan terpancar begitu jelas membuat aura cantiknya menyeruak dibalik kulitnya yang mulai keriput.


“Sayang ayo cepat istriahat, pasti kecapean banget, uhh kacian cucu Omah, “ucapnya sambil mengelus perut Anindita yang masih datar.


“Fay, kamu harus jagain istri kamu, jangan buat dia banyak pikiran, mulai sekarang harus belajar jadi suami siaga,” ucapnya keburu terpotong oleh jawaban Faisal. Lelaki itu baru saja menutup pintu sudah langsung mendapatkan ceramah dari ibunya.


“Iya Mah, Fay tau, lagian dokter juga bilangnya gitu, udah deh Mamah ga usah khawatir, ayo sayang,” ucap Faisal sambil meraih lengan Anindita dan menuntunnya menuju kamar untuk beristirahat. Meninggalkan Bu Windarti yang awalnya masih hendak mengeluarkan ceramah untuk putranya. Wanita itu hanya menatap punggung anak menantunya yang berlalu sambil menggeleng-gelengkan kepala.


***


Anindita langsung menghubungi Hadi untuk menginformasikan jika mulai besok dia sudah tidak bisa bekerja lagi dengan teamnya. Mendengar kabar itu, Hadi mengucapkan selamat dan turut bahagia. Dia langsung mengabarkan pada kedua staffnya untuk segera mengambil alih pekerjaan Anindita sampai penggantinya datang. Rinda dan Anita mengerti dan segera mengkontak Anin untuk serah terima pekerjaan. Faisal benar-benar menjadi over protektif, bahkan dia tidak memberikan ijin pada istrinya walaupun hanya ke kantor sehari saja untuk serah terima pekerjaan.


Anindita hanya bisa menuruti kemauan suaminya. Dia pun tidak ingin jika terjadi apa-apa dengan bayi yang di kandungnya. Anin tidak menunda untuk menyebarkan kebahagiaan itu pada Kakak dan Kakak iparnya serta ibunya. Setelah urusan kantor selesai Anin mengabari Bu Wanti yang disambut dengan isakan tangis haru, kemudian mengabari Winah dan Fardan yang disambut dengan teriakan senang dari Rizki. Dan Rizki sudah mulai merengek untuk minta tinggal di jakarta biar bisa ketemu dengan dede bayi.


👣👣👣👣👣👣👣👣👣👣👣👣

__ADS_1



⭐⭐⭐⭐⭐


__ADS_2