
“Kakak, Bapak ingin bicara sebentar, bisa tunggu,” gadis itu mengejarnya dengan langkah tergesa.
Faisal menoleh, alis tebalnya tampak bertaut penuh tanya. Sejak kapan mantan lurah itu mengenalnya. Setelah diam beberapa saat akhirnya lelaki itu berbalik dan mengikuti Lia menuju teras rumahnya kembali yang sudah mulai sepi. Dia duduk di sebuah bangku panjang yang menghadap ke pelataran, sambil menunggu sang empunya rumah datang. Tak berapa lama gadis itu keluar dengan membawa sebuah nampan berisi dua gelas jus jeruk. Dia sajikan dihadapan Faisal.
“Silahkan Kak diminum dulu sambil menunggu Bapak, dia sedang menerima telepon sebentar,” ujarnya dengan senyuman yang tersunggung. Lia mendahului meneguk jus jeruk yang ada digelasnya agar Faisal mengikutinya. Sudut matanya memicing penuh kelicikan. Faisal masih bergeming dalam posisinya. Lia menyodorkan gelas itu lebih dekat kepadanga.
“Ayo Kak, mumpung masih dingin, seger,” ujarnya lagi seolah tak sabar melihat lelaki itu meminum jus buatannya. Faisal hanya melirik sekilas dengan malas.
“Lia!” terdengar suara seorang perempuan memanggilnya dari dalam rumah.
“Saya permisi dulu Kak, dipanggil Ibu,” gadis itu berlalu dan meninggalkan Faisal.
“Mas, Maaf calon menantunya Bu Wanti ya?” tiba-tiba suara seseorang yang terdengar berat memanggilnya dari belakang.
“Iya, ada apa?” Faisal menoleh kearah datangnya suara, tampak seseorang berpakaian lusuh tengah berdiri dengan wajah tertunduk. Sebagian wajahnya tertutup kain ikat kepala yang dijuntaikan tak beraturan.
“Tadi Bu Wanti meminta saya agar menyuruh Mas nya cepat pulang, ada hal mendesak katanya,” lelaki itu sambil masih menunduk.
“Baik makasih Pak, tapi saya masih menunggu Pak Lurah, dia mau berbicara dengan saya,” ujar Faisal.
“Oh maksudnya pak Harnan, dia tadi saya lihat sedang mengobrol di pos ronda, sebaiknya Mas segera pulang, kasian calon mertua Mas menunggu lama, lain kali saja, ayo!” Lelaki itu setengah memaksa Faisal.
“Tapi saya belum pamitan,” ujar Faisal sambil hendak menuju pintu rumah yang setengah terbuka.
“Tidak usah Mas, nanti saya yang bilangin ke non Lia, dia pasti mengerti,” tegas lelaki yang masih menundukkan kepalanya tersebut.
__ADS_1
Akhirnya Faisal mengalah dan segera berangkat pergi meninggalkan teras rumah yang sudah sepi. Lelaki berpakaian lusuh itu tampak menatap punggungnya sampai sosok tinggi tegap itu menghilang dibelokan. Tangan lelaki itu kemudian menukarkan tempat jus jeruk milik Lia, setelah itu dia membuang setengah jus jeruk yang kini berada ditempat Faisal duduk. Kemudian dia pergi meninggalkan teras itu dengan jalan terpincang-pincang dan menghilang dibalik semak dan tetumbuhan yang berjarak tidak terlalu jauh dari situ. Matanya mengawasi ke arah pintu rumah Pak Harnan yang setengah terbuka, sampai sosok Lia muncul kembali kali ini dengan pakaian seksi. Gadis itu terlihat kaget melihat tempat duduk Faisal yang kosong, namun sekilas terlihat senyum mengembang di bibirnya melihat setengah jus jeruk yang tersisa. Kemudian dia menghampiri tempt duduknya kembali dengan mengatur posisi duduk yang menantang sehingga belahan rok yang sampai setengah paha memperlihatkan kemolekan kaki jenjangnya.
“Kak Faisal!” Lia menoleh kanan kiri, sambil memanggil Faisal, tangannya mengambil jus jeruk miliknya dan diteguknya perlahan sampai tersisa hanya seperempat gelas.
“Kak Faisal!” gadis itu berlenggok ke halaman, dia mengira Faisal sedang mencari angin diluar.
“Tidak mungkin kan dia pulang tanpa pamit,” gumamnya sendiri setelah hampir lima menit menunggu lelaki itu kembali. Dia mulai merasakan sesuatu yang aneh menjalar disekujur tubuhnya. Perasaan panas dan birahi yang membuatnya mulai gelisah. Otaknya tidak bisa berfikir jernih, matanya kian sayu namun tak ada seorangpun disana.
“Non Lia,” Suara seorang lelaki tiba-tiba mengagetkannya dari belakang.
“Ardan,” suara gadis itu mendesah penuh nafsu dan menatap seorang pemuda yang tak lain adalah anak tukang kebunnya. Lia berdiri dan mendekat sampai tak menyisakkan jarak yang membuat Ardan terperanjat dengan mata membelalak sempurna. Bagaimanapun dia menaksir anak majikannya itu sudah sejak lama tapi berada dalam jarak sedekat itu membuatnya tak bisa berfikir dan berbuat apa-apa.
Lia mengalungkan lengannya keleher lelaki itu dan mendesaknya sehingga tubuh Ardan terpentok ditembok. Sepertinya obat dalam dosis tinggi yang dia masukkan kedalam minuman Faisal bereaksi dengan cepat. Tangannya sendiri membuka satu persatu kancing kemeja Ardan. Nafasnya memburu dengan cepat dan dia menarik piyama kancing kemejanya sendiri yang memang tidak sampai menutup keatas.
“Non Lia,” suara serak Ardan yang sudah mulai tersulut birahi, namun sekelebat kesadaran memaksa tangannya mendorong tubuh Lia untuk menjauh.
“Lia! Ardan!” terdengar teriakkan kencang yang membuat kesadaran Ardan kembali kedalam jiwanya. Sontak lengannya mendorong tubuh Lia untuk menjauh. Wajah lelaki itu memucat sempurna ketika dilihatnnya Pak Harnan bersama Pak Irfan yang tidak lain adalah ayahnya Romi sedang berdiri. Wajah Pak Harnan memerah menahan amarah, ditariknya lengan anak gadisnya sambil berteriak.
“Ibu, kurung dia di kamar, memalukan!” teriak Harnan. Seorang wanita tergopoh membuka pintu dengan senyum tersungging samar dia menghampiri suaminya. Namun senyuman itu berubah menjadi gemeretak ketika mengetahui lelaki yang tertangkap basah itu bukannya Faisal melainkan anak pembantunya sendiri.
PLAKK
“Kurang ajar,” dengan mata membulat sempurna sebuah tamparan mendarat diwajah Ardan. Kemudian wanita setengah baya itu menarik paksa tangan Lia untuk masuk kedalam rumah.
“Pak Harnan, dia tidak layak menjadi menantuku, pertunangan Romi dan Lia saya batalkan,” Pak Irfan dengan suara tegas dan mengintimidasi membatalkan pertunangan anaknya Romi yang sudah terjalin beberapa waktu ini.
__ADS_1
“Ardan, suruh orang tuamu kesini, Saya akan menikahkan kalian sebelum membuat aib lebih jauh,” suara Pak Harnan tegas dengan raut wajah diliputi kekecewaan. Dia meninggalkan Ardan dan masuk menyusul istri dan anaknya. Bantingan keras pintu mengakhiri kejadian malam itu. Sementara sebuah senyuman kemenangan tersungging dari sosok lelaki yang memakai pakaian lusuh yang sejak tadi memperhatikan kejadian itu. Kemudian lelaki itu menjauh dengan keadaan jalan terpincang-pincang meninggalkan kediaman mantan lurah tersebut.
***
“Assalamu’alaikum” Faisal mengucap salam ketika tiba dikediaman calon mertuanya, pintu rumah masih tertutup setengah dan suara TV masih terdengar.
“Baru pulang Bang?” seorang gadis membukakan pintu sambil menyambutnya dengan senyuman.
“Ibu mana?” Faisal mencari-cari Bu Wanti karena teringat pesan orang yang tidak dikenal tadi kalau ada hal mendesak.
“Sudah tidur dari tadi Bang, kecapean,” ujar Anindita sambil memberikan jalan untuk lelaki itu masuk ke dalam rumah.
“Tadi bukannya nyuruh orang untuk meminta abang pulang cepat?” kening Faisal berkerut.
“Engga Bang, emang siapa yang bilang gitu?” Anindita ikut mengerutkan dahi tanda heran.
Faisal teringat sosok lelaki tadi, sekilas dia melihat lelaki itu berjalan terpincang. Apakah itu lelaki yang selama ini mengawasi kediaman rumah mertuanya. Tetapi dia hendak memastikannya sendiri, dalam otaknya mulai menyusun rencana untuk menangkap lelaki itu dan membawa kehadapan calon istri dan calon mertuanya sendiri.
“Sayang, liburan disininya kita tambah beberapa hari ya, nanti kamu minta cuti tambahan ke kantor,” ujar Faisal sambil mengelus pucuk kepala Anindita.
“Kenapa?” ucapan gadis itu terhenti ketika Faisal tiba-tiba mengecup dahinya.
“Udah ga usah banyak tanya, selamat malam,”ujarnya sambil kemudian dia mengambil gulungan karpet dan menggelarnya kemudian merebahkan tubuhnya disana. Sementara Anindita hanya menatapnya sambil menggeleng-gelengkan kepala.
***
__ADS_1
TERIMAKASIH YANG UDAH MAMPIR KE NOVEL INI.
TETAPI JANGAN LUPA UNTUK LIKE, KOMEN DAN VOTE YA... DAN KASIH BINTANG LIMA JUGA... .MAKASIH.