
Suara adzan shubuh terdengar. Anindita menggeliat melepas pegal, namun ada sesuatu yang melingkar di pinggangnya. Anindita menepisnya dengan cepat karena terkejut.
“Ada apa, sih Yang?” suara serak terdengar begitu dekat.
“Astagfirulloh, aku lupa Bang,”Anin menangkup wajahnya malu.
“Lupa apa?” Faisal terbangun karena tidurnya terganggu.
“Lupa kalau udah punya suami,” gadis itu berbicara masih dengan menutupi wajahnya. Faisal terkekeh.
“Ya udah biar ga lupa, kita lakuin sekarang yuck,” ujarnya berbisik sambil meraih pinggang istrinya.
“Udah adzan shubuh Bang,” Anin terkesiap ketika tangan lelaki itu bergerilya.
“Masih ada waktu,” bisik Faisal lagi sambil menindih tubuh mungil wanitanya.
“Bang,”Anin mencoba bernegosiasi.
“Sebentar aja, ya, ya,” Lelaki itu sudah ******* bibir ranum yang selama ini selalu menggodanya. Dan akhirnya pergumulan itu tidak bisa di elakkan lagi. Mereka berdua hanyut dalam gairah masing-masing. Melepaskan segala kehausan yang dipendam selama ini.
Hampir setengah jam waktu shubuh berlalu. Keduanya bergegas bergantian membersihkan diri. Setelah selesai, mereka melakukan sholat shubuh berjamaah. Faisal membuka lembaran Al-qurán. Untuk pertama kalinya dia mengajak tadarrus bersama. Dia menatap lekat wajah istrinya yang sedang melantunkan ayat demi ayat menyambung surat yang belum diselesaikannya. Begitu tenang dan menyejukkan terasa dalam dada.
“Semoga kebersamaan dan kebahagiaan ini selalu menjadi milik kita, Abang akan berusaha menjadi imam yang baik untukmu, membimbingmu dan selalu menyayangimu, tapi tolong ingatkan Abang jika khilap, jika kadang berbuat tidak seharusnya.” Faisal berkata dengan lembut setelah Anindita menyelesaikan bacaan Al quránnya. Gadis itu hanya mengangguk dan tersenyum.
“Sayang, kamu lebih cantic kalau mengenakan kerudung, Abang mau kamu belajar mengenakan jilbab ya,” Faisal mengusap pucuk kepala istrinya yang masih tertutup mukena.
“Iya Bang, tapi belum siap untuk saat ini,” Anin menjawab sambil menunduk.
__ADS_1
“Iya pelan-pelan saja, abang mau kita bahagia dan bersama tidak hanya di dunia saja, abang ingin nanti kamu jadi bidadari untuk abang di surga, dan hanya wanita yang berjilbab yang ada disana,” Faisal mengambil telapak tangan wanitanya dan digenggamnya erat-erat.
“Iya Bang, aku pasti akan belajar memperbaiki diri, beri aku waktu,” Anin menatap dua pupil hitam yang sedang lekat memandangnya.
Cup
Faisal mengecup kening Anindita. Kemudian merengkuh istrinya dalam pelukannya. Anin melingkarkan tangannya memeluk tubuh tegap yang mulai saat ini akan menjadi sandarannya. Seseorang yang telah dia pilih untuk membimbingnya dan menjalani pahit manis kehidupan.
“Bang, aku mau nyiapin sarapan dulu ya, abang mau kopi atau hot chocolate?” Anin melepas tangannya dan menjauhkan tubuhnya. Dia segera melipat mukena dan disimpannya diatas nakas. Dia duduk di depan meja rias sambil merapikan rambutnya.
“Abang mau, hmm itu,” memang sifat usilnya tidak pernah berubah.
Cup
Lelaki itu mencuri sebuah ciuman singkat di bibir Anindita. Gadis itu terbelalak mendapatkan serangan mendadak. Dicubitnya perut Faisal yang berada disampingnya.
“Ampun hahaha, ampun sayang, hahaha,” Faisal sudah kabur dan menghilang dibalik pintu.
Anindita bergegas merapikan tempat tidur. Dia berjalan pelan karena masih merasakan sedikit nyeri di bagian inti tubuhnya. Dia berlalu menuju dapur membantu Bi Tati yang sudah bangun sejak tadi dan menyiapkan sarapan.
“Bi, Anin bisa bantu apa?” Anin datang dan menepuk pundak Bi Tati.
“Ga usah Non, ini udah mau selesai, tinggal nyiapin minum aja,” ucap Bi Tati sambil membawa roti bakar yang sudah di olesi selai dan beberapa potong sandwich.
“Ada nasi Bi?” Anin melongo, melihat kedalam tempat nasi.
“Ada Non, mau dibuatin apa?” tanya Bi Tati setelah menata sarapan di meja makan.
__ADS_1
“Nasi goreng mentega, pake sosis, telor ama baso,” ucap Anin sambil menyendok nasi kedalam wadah.
“Sini Non, Bibi buatin, tunggu ya,”Bi Tati hendak mengambil wadah nasi tersebut.
“Aku mau buat sendiri Bi, Bibi bantu panasin air aja, aku mau buatin cokelat panas buat Bang Faisal,” ucap Anin sambil tersenyum.
“Baik Non,”Bi Tati membantu menyiapkan segala bahan yang diminta Anin. Dia juga langsung menyalakan kompor memanaskan air. Sebetulnya ada air panas di dispenser, cuma Anindita maunya air yang tingkat panasnya benar-benar panas.
Anin mulai memasak, dituangkannya mentega kedalam wajan yang sudah setengah panas. Setelah itu dimasukkan bumbu-bumbu yang sudah dirajang. Di aduk-aduknya sampai wanginya tercium. Dia masukan telur, di orak-arik, kemudian sosis potong dan ba’so. Setelah beberapa menit, dia masukkan nasi yang tadi sudah diangkatnya. Dia tambahkan bumbu-bumbu, garam, merica, sedikit gula pasir, penyedap rasa dan kecap.
“Wah wanginya enak ya Non?”Bi Tati menghampiri menantu majikannya itu dengan mata membulat.
“Iya dong, aku kan dulu anak kosan, jadi masak kayak ginian udah biasa Bi, nih ini buat Bibi sama Mang Omon ya,” Anin menyendok nasi dalam wajan menjadi tiga bagian.
“Lha Den Faisal?” Bi Tati mengernyit karena Anin tidak memberikan jatah buat suaminya.
“Itu kan Bibi udah buat roti bakar sama sandwich, sayang kalo ga kemakan,” ucap Anin dengan cueknya.
“Bilang aja, kamu mau sepiring berdua sama abang, iya kan?” Ternyata Faisal sudah berdiri di sampingnya dengan mata berbinar menatap nasi goreng.
“Wani piro?” Anin malah menggoda Faisal, Bi Tati segera menjauh dan membawa cokelat yang sudah ditambahkan air panas itu ke meja.
“Berapapun kamu minta,” ucap Faisal sambil mengambil piring nasi goreng itu pergi.
“Eh, abang kalo mau bikin sendiri,” Anin menarik kaos Faisal.
“Hahaha, engga mau,” ucapnya sambil kabur ke taman belakang membawa nasi goreng yang sudah di amankannya.
__ADS_1
(Jadikan favorit ya biar kalau up muncul notifnya, makasih udah mampir, jangan lupa tinggalkan jejak Jempol, bintangin lima ratenya, komenin gituh kasih saran membangun, kalau ada poin lebih boleh kasih vote biar semangat)