Perjalanan Dan Takdir Cinta

Perjalanan Dan Takdir Cinta
Bab 28 - Kunjungan Tak Terduga


__ADS_3

Anindita melangkahkan kakinya lagi menuju kedalam rumah setelah mobil yang dikendarai Faisal tidak terlihat. Lelaki itu pulang karena sudah puluhan kali ponselnya berbunyi, Ferdi tidak bisa menangani semua pekerjaan sendiri hari itu. Tetapi baru saja dia menutup pintu depan dan melangkah menuju kamarnya, terdengar klakson berbunyi didepan rumahnya yang membuatnya langsung membalikan badan dan mengintip dari celah gorden.


“Assalamu’alaikum,” lelaki tampan berlesung pipit sudah berdiri didepan pintu.


“Wa’alaikumsalam,” Anindita menjawab salam seraya membukakan pintu.


“Ceklek.”


“Kamu udah baikan?” lelaki itu langsung memburunya dengan pertanyaan.


“Emang saya kenapa Pak?” kening gadis itu mengkerut tidak mengerti arah pembicaraan.


“Lho, kata Rinda kamu sakit hari ini makanya ga masuk,” Hadi balik mengkerut dan memicingkan matanya penuh curiga.


“Oh itu tadi, hmmm iya,” jawabnya bingung.


“Mmm masuk pak, mari,” Anindita mempersilahkan lelaki itu masuk.


Tanpa banyak basa-basi lelaki berwatak lembut itu masuk, kemudian duduk berselonjor di ruang tengah yang sudah dirapikan kembali oleh sang empunya. Hadi memperhatikan sekeliling ruang tengah, hanya ada sebuah meja tv dan lemari hias minimalis. Memang rumah tersebut terbilang kecil, Anindita hanya mampu mencicil perumahan sederhana dengan luas tujuh puluh dua meter. Rumah tersebut hanya memiliki dua kamar tidur, satu ruang tengah, dapur dan sisa tanah untuk dibangun teras.


“Pak, silahkan diminum,” Anindita memberikan secangkir kopi panas pada Hadi.


“Tau saja saya suka kopi,” ujar lelaki itu sambil melirik kearah Anindita.


“Saya kan sering lihat Bapak ngopi kalau diruangan, kebangetan kalau saya ga tahu Pak,” Anindita terkekeh.


“Oh ya, kamu beneran gak kenapa-kenapa kan?” tanyanya lagi.

__ADS_1


“Engga Pak, saya hanya sedikit kelelahan habis beres-beres sampai larut,” ujar Anindita.


“Syukurlah kalau begitu, berarti sore ini kalau saya minta tolong kamu bisa kan?” pancing Hadi sambil tersenyum manis yang membuat lesung pipitnya kentara.


“Bisa Pak, mau minta tolong apa?” Anindita menjawab selayaknya anak buah akan dimintai tolong oleh atasannya, datar tanpa menaruh curiga.


“Tolong temani saya makan ditempat yang kemarin itu, saya ketagihan satenya, kayaknya bakal sering-sering mampir kesana,” ucap Hadi sambil menyeruput kopinya yang kepulan asapnya mulai memudar.


“Hmmm, baik Pak,” Anindita akhirnya menyetujui ajakan Hadi setelah berfikir sejenak, dia menimbang apakah Faisal akan datang mengunjunginya lagi atau tidak, akan tetapi sepertinya mustahil lelaki itu datang lagi karena baru beberapa waktu yang lalu meninggalkan rumahnya.


***


“Mba, pesen satenya dua porsi, sambalnya sambal kecap saja tapi pakai jeruk limau, jeruknya biar wangi ya, minumnya es kelapa muda,” ujar Hadi kepada pelayan di warung lesehan, setelah pelayan tersebut meletakkan satu piring kecil buah potong sebagai menu selamat datang.


“Anin pesannya apa?” Hadi melirik kearah gadis yang duduk disampingnya, mereka memilih sebuah saung lesehan dengan view taman, jadinya duduk sejajar agar bisa melihat kerlap-kerlip lampu taman menjelang malam.


“Saya pesen satenya satu porsi saja Mba tapi pakai lontong satu, minumnya lemon teh hangat ya Mba,” ujar Anindita. Pelayan itu mengangguk sambil mencoretkan pesanan mereka pada kertas yang dipegangnya.


“Ada lagi Mba, Mas,” pelayan itu bertanya sambil menatap mereka bergantian.


“Saya mau pakai lontong juga Mba, dua,” ujar Hadi sambil menunjukkan jarinya membentuk hurup V.


“Ga salah Pak?” Anindita membelalak mendengar orderan makanan super jumbo sang atasan, baru kali ini dia bisa melihat sisi lain dari seorang Hadi Adi Praja yang selalu tampil sempurna dan keren. Hadi hanya menjawabnya dengan kekehan ringan sambil kembali tangannya fokus pada ponsel yang di genggamnya.


“Anin, mau ada yang saya bicarakan sama kamu,” setelah hampir lima menit terdiam, Hadi mengubah posisi duduknya menjadi menghadap Anindita.


“Apa Pak?” Anindita menoleh sekilas, dengan cuek dia melanjutkan kembali makan buah potong yang memang tersedia disetiap meja ketika ada pengunjung datang.

__ADS_1


“Saya pernah bilang, kalau diluar tidak usah panggil Bapak, usia kita tidak jauh berbeda Anin, hanya terpaut beberapa tahun saja,” ujar Hadi.


“Hmmm,” Anindita hanya mengangguk dengan menoleh sekilas memperlihatkan senyum singkatnya.


“Anin, tapi apapun nanti yang akan saya sampaikan, saya mau kamu menjawabnya dengan jujur,” ujar Hadi.


“Emang mau ngomong apaan sih serius gini Pak, jadi gak enak perasaan saya,” Anindita mulai merasa ada yang berbeda dari arah pembicaraan atasannya tersebut.


“Ya sudah kalau kamu memang nyamannya panggil Bapak,” lelaki itu tampak sedikit kecewa mendengar kalimat yang terlontar spontan dari gadis yang sekarang berjaran beberapa puluh senti dari hadapannya.


“Saya mau kamu memberikan saya kesempatan untuk mengenalmu lebih jauh, bukan hanya sekedar sebagai atasan dan bawahan, bukan hanya sebagai rekan kerja di kantor, saya menginginkan lebih dari itu,” ucapannya terjeda, Hadi mengumpulkan keberanian ketika Anindita mulai menoleh dan menatapnya serius.


“Saya mau kamu memberikan kesempatan untuk saya mengenalmu sebagai seorang wanita, jujur saya menemukan sesuatu yang berbeda dari dalam diri kamu yang membuat saya ingin mengenal lebih dekat, dan semoga kamu bisa merasakan hal yang sama dengan saya,” ujarnya lagi, kemudian kalimatnya terhenti ketika kedua bola mata mereka saling terkunci.


“Maksud Bapak?” Anindita memastikan apa yang didengarnya.


“Saya menyukaimu sebagai seorang lelaki terhadap seorang wanita, apakah kita bisa memulai hubungan yang berbeda ini?” Kalimat itu lolos terlontar dari mulut Hadi, menghempaskan semua beban perasaan yang sudah dipendamnya selama ini.


Anindita terdiam, otaknya masih berusaha mencerna semua kalimat dari Hadi. Dirinya masih tidak percaya jika semua kalimat itu keluar dari seorang Hadi untuk gadis seperti dirinya. Hadi, seorang manager keren yang memiliki segalanya, bahkan Anindita tahu jika ayahnya Hadi memiliki beberapa perusahaan, namun lelaki tersebut memilih mencari sendiri jalan kehidupannya dengan bekerja pada orang lain. Sementara dirinya, hanyalah seorang gadis miskin yang datang merantau ke kota mengadu nasib. Tidak memiliki apapun untuk dibanggakan. Tidak memiliki siapapun yang membanggakannya kecuali Winah dan Ibunya. Gadis itu tiba-tiba teringat dengan Faisal, sekarang statusnya bukan lagi gadis lajang yang bebas, tetapi secara status sudah terikat dengan seseoarng meski belum sepenuhnya yakin dengan perasaannya terhadap lelaki itu, tetapi Faisal adalah kekasihnya.


“Hmm, Pak Hadi maaf, mungkin Bapak tidak tahu kalau saya sudah memiliki kekasih,” ujar Anindita sambil menatap mata Hadi yang memancarkan binar harapan.


“Saya tahu, tapi bukan kesalahan saya jika memiliki perasaan ini, selama kamu masih belum terikat dengan akad, kamu masih bisa dimiliki siapapun dan kamu masih berkesempatan untuk bebas memilih siapapun,” ujarnya sambil menatap lekat wajah Anindita.


***


TERIMAKASIH YANG UDAH MAMPIR KE NOVEL INI.

__ADS_1


TETAPI JANGAN LUPA UNTUK LIKE, KOMEN DAN VOTE YA... DAN KASIH BINTANG LIMA JUGA... .MAKASIH.


__ADS_2