Perjalanan Dan Takdir Cinta

Perjalanan Dan Takdir Cinta
Bab 43 - Mengetahui Kebenaran 2


__ADS_3

“Apa kamu pikir aku bodoh Rio, sebegitu banyak kemesraan kalian yang di umbar di semua akun sosial media wanita itu, terus aku masih bisa berpikir semua baik-baik saja?” Anin tak kuasa menahan genangan airmata yang sudah menyeruak.


“Aku dan Luna, tidak seperti yang kamu pikirkan, apakah kamu tahu kalau Luna sudah bertunangan dengan sepupuku?” Rio menatap tajam pada Anindita yang kini tengah menunduk dan menyeka airmatanya yang sudah mulai berjatuhan.


“Photo-photo itu untuk membantu tugas kuliah tunangan Luna yang memang ambil jurusan sebagai professional photografer, dia meminta kami untuk menjadi modelnya,” Rio meneruskan kalimat yang tadi terhenti. Sementara airmata gadis itu semakin deras berjatuhan.


“Terus kenapa ketika aku mengirimmu pesan, tidak ada balasan sampai berhari-hari dan tidak ada pertanyaan apapun darimu?” Anin mencoba mengangkat wajahnya, menguatkan hati yang kini mulai merasa bersalah.


“Nasib naas menimpaku disana, ponselku hilang, ketika aku sedang mencoba mengurusnya untuk mendapatkan kembali nomorku, aku kecelakaan, aku koma berbulan-bulan, karena itu setelah malam itu aku tidak menghubungimu lagi,” Mario dengan suara berat menjelaskan semuanya.


Tangis gadis itu tak terbendung, perasaan bersalah semakin membuatnya terluka. Dia menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Isakan-isakannya terdengar begitu menyakitkan. Rio memindahkan kursi yang didudukinya untuk berjejer dengan Anindita. Lengannya menepuk-nepuk lembut pundak wanita itu.


“Maafin aku Rio, Maafin aku,” terdengar samar ditengah isakan suara permintaan maaf dari Anindita. Mario hanya menarik nafas panjang, entah apa yang harus dia katakan, memaafkan itu masalah gampang akan tetapi masalah hati tidak bisa dikesampingkan. Dia masih seutuhnya mengharapkan gadis itu bisa hidup bersamanya. Setelah beberapa lama dia membiarkan Anindita meluahkan perasaannya. Mario menatapnya intens.


“Lalu apakah artinya dengan kebaya pengantin tadi? apakah aku sudah benar-benar tidak ada kesempatan?” Rio menatapnya lekat yang hanya dijawab oleh isakan.


“Besok aku akan menikah.” Dengan suara serak, Anindita mengucapkan sebuah kebenaran yang begitu menyakitkan bagi lelaki yang ada disampingnya.


“Sudah, jangan menangis lagi, jika dengan itu kamu bahagia, aku akan mencoba untuk ikhlas walaupun sebetulnya aku masih begitu mencintaimu,” ucap Mario sambil menarik nafas panjang.


“Maafkan juga aku, mungkin ini karena ketidaktegasanku memintamu, dulu aku berkata demikian karena aku yakin akan mimpi-mimpi yang seringkali kita rangkai bersama-sama waktu dulu, tetapi aku salah.” Mario menghentikan kembali ucapannya, isakan itu masih terdengar perlahan. Matanya terlihat sembab dan membengkak.


“Apakah besok aku boleh datang ke pernikahanmu?” Dengan lembut Mario meminta persetujuan wanita yang ada disampingnya. Anindita hanya mengangguk masih sambil terisak. Mario memanggil pelayan untuk meminta tissue, sedari tadi gadis itu mengusap airmatanya dengan lengan baju.


“Bolehkah aku memelukmu untuk terakhir kali? mulai besok, kamu sudah akan menjadi istri orang,” ucap Mario sambil berdiri dan merentangkan tangannya setelah menghapus sisa-sisa airmata diwajah gadis itu dengan tissue. Anindita mengangguk dan membiarkan lelaki itu memeluknya. Membiarkan hati mereka berkelana dengan segala pemikirannya sendiri. Hati yang masing-masing tergores dengan lukanya sendiri.


Sementara itu ada dua pasang mata yang menatap mereka dari kejauhan. Lelaki itu menatap tajam adegan demi adegan yang membuat sayatan-sayatan perih dihatinya. Dia mencoba menahan diri untuk tidak berlari dan menarik lengan gadis itu untuk kembali kedalam pelukannya. Seseorang dengan setia berdiri disampingnya, menepuk-nepuk bahunya, berharap lelaki yang dicintainya itu bisa sedikit merasa lebih baik dengan kehadirannya.


“Kembalilah, lelaki itu pasti sedang menunggumu, terimakasih atas waktunya,” Rio melepas pelukannya pada gadis itu.

__ADS_1


“Kirimkan alamat dimana pernikahanmu berlangsung, ini nomor baruku, share saja lokasinya, setidaknya aku bisa memastikan kalau kamu benar-benar bahagia dan sudah ada yang menjaga sebelum aku kembali ke singapura,” ujar Mario sambil meletakkan sebuah kartu nama ditangan Anindita. Kemudian lelaki itu menuju kasir untuk membayar makanan yang telah mereka pesan.


Anindita melangkah gontai menuju butik dimana dia meninggalkan Faisal dan Sierra disana. Pikirannya begitu kosong, hatinya terombang-ambing entah karena perasaan bersalah ataukah memang sebetulnya lelaki itu masih memiliki tempat dihatinya. Terlihat Faisal dan Sierra tengah duduk didekat ruang ganti yang tadi dia tinggalkan. Senyum hangat lelaki itu menyambut kedatangannya kembali. Faisal berdiri menyambut Anindita dengan senyuman, seolah tidak terjadi apa-apa, dan seolah dia tidak mengetahui apa-apa.


“Gimana masalahnya udah selesai?” tanyanya lembut. Anindita hanya mengangguk.


“Ayo, lanjut lagi pilih baju pengantinnya,” ajaknya, namun gadis itu menggeleng.


“Yang tadi aja Bang, udah pas kho dibadan aku,” ucap Anindita dengan tidak bersemangat. Faisal menarik nafas panjang.


“Baiklah, kamu kelihatan lelah, kita pulang saja ya,” ajaknya yang dijawab oleh anggukan Anindita.


“Ra, ayo,” Faisal menoleh kearah Sierra, namun gadis itu menggeleng.


“Rara masih ada keperluan lain Kak Fay, Kakak duluan saja sama Kak Anin,” Sierra mencoba memasanga senyuman termasninya.


“Hallooo,” sapa Sierra ketika seseorang sudah mengangkat panggilannya.


“Halo, siapa ini?” suara seorang lelaki menyahut.


“Rio, aku Sierra,” ujar Sierra lagi.


“Jadi wanita yang kamu cari selama ini dia, aku tahu caranya, kita bisa kerjasama, ,” ujar Sierra lagi.


“Maksudnya?” tanya Rio dari seberang telepon.


“Temui aku sore ini di cafe XXX,” Sierra memberikan penawaran.


“Ok,” jawab lelaki itu singkat, sebelum kemudian mengakhiri panggilan.

__ADS_1


Tidak banyak waktu yang tersisa, mengingat pernikahan itu akan dilaksanakan esok hari. Sierra bergegas memilih beberapa pakaian yang menurutnya cocok untuk dikenakan di acara akad dan resepsi. Setelah membayar semua belanjaannya di kasir, dia bergegas menuju sebuah cafe yang letaknya tidak begitu jauh darisana.


Sierra datang lebih awal dari waktu yang dia janjikan dengan Mario. Dia memilih area yang sedikit lengang, setelah merasa mendapatkan tempat yang cocok dia segera memesan satu cangkir coffee dan beberapa makanan ringan. Hampir tiga puluh menit dia termenung sendirian dan hanya memainkan ponsel sambil sesekali menatap kearah pintu masuk cafe.


“Hai!” Akhirnya orang yang dinantikan terlihat muncul dengan wajah kuyu dan mata lelah. Lelaki itu membalas lambaian tangan Sierra.


Mario berjalan mendekati meja yang sudah dipesan wanita itu. Sierra mempersilahkannya untuk duduk. Setelah memesan minuman, tanpa basa-basi Sierra langsung merujuk ke pokok permasalahan.


“Kamu masih mencintainya?” tanya Sierra.


“Tentu,” jawab Mario singkat.


“Kita berada dipihak yang sama, akan ditinggal menikah oleh orang yang kita cintai,” kalimatnya terdengar berat. Mario menatapnya meminta penjelasan lebih lanjut.


“Aku mencintai Kak Fay, sudah mencintainya sejak lama, awalnya aku sudah hendak merelakannya untuk Kak Anin, karena aku tahu dia wanita baik, tetapi setelah melihatmu, aku memiliki harapan baru,” ujar Sierra lagi.


“Kamu tidak berpikir untuk mengacaukan pernikahan mereka kan?” Mario memicingkan mata kearah gadis itu.


“Aku hanya ingin mengajakmu kerja sama untuk mendapatkan kembali cinta kita yang hampir hilang, ini belum terlambat Rio, kita masih punya waktu,” ucap Sierra penuh harap.


“Aku teramat sangat mencintai Anindita, jika dengan melepasnya dia akan bahagia, maka tidak ada alasan untukku merebutnya dari lelaki itu.” Mario berucap panjang lebar penuh ketegasan dan penekanan yang membuat Sierra terdiam beberapa saat.


“Tapi, apakah kamu sudah yakin kalau Kak Anin akan bahagia dengan Kak Faisal? Bukankah kalian sudah menjalin hubungan lebih dulu sebelum akhirnya mereka bertemu?” Sierra masih belum kehabisan akal untuk mempengaruhi lelaki yang ada didepannya. Mario tertegun meresapi kata-kata wanita yang ada didepannya.


***


TERIMAKASIH YANG UDAH MAMPIR KE NOVEL INI.


TETAPI JANGAN LUPA UNTUK LIKE, KOMEN DAN VOTE YA... DAN KASIH BINTANG LIMA JUGA... .MAKASIH.

__ADS_1


__ADS_2