Perjalanan Dan Takdir Cinta

Perjalanan Dan Takdir Cinta
PTDC2 - Masa Lalu


__ADS_3

Faisal sudah duduk di kursi taman belakang dengan membawa nasi goreng yang berhasil direbutnya dari sang istri. Tak berapa lama, sang istri muncul dengan membawa secangkir cokelat panas dengan sepiring sandwich. Udara diluar masih terasa sejuk-sejuk manja membelai kulit mereka. Sesekali ada hembusan angin pagi menyibak rambut Anindita yang setengah kering.


Faisal menyambut sang istri dan menarik satu kursi untuknya duduk didepannya. Meja bundar itu lumayan kecil namun masih cukup jika hanya untuk menampung dua piring lebar yang berisi sarapan mereka pagi itu.


“Nasi gorengnya enak Yang,” ucap Faisal yang sudah mulai menyendok nasi ke mulutnya ketika istrinya baru saja duduk.


“Iya lah enak, kan masaknya pake cinta,” ucap Anin sambil mencebik, merasa kesal karena Faisal membawa lari nasi gorengnya.


“Oh, jadi kamu masakin pake cinta buat Mang Omon sama Bi Tati?” Faisal menggoda istrinya.


“Bukannya gitu Bang, ya kan aku ga enak, Bi Tati udah kayak ngiler gitu, tadinya mau masakin Abang sama Mamah, tapi dipikir-pikir Bi tati udah siapin roti bakar juga ama sandwich,” ucap Anin masih cemberut.


“Aaaa,” Faisal mengarahkan sendok berisi nasi goreng itu ke mulut istrinya, seketika seulas senyum menyambut kedatangan nasi goreng yang diinginkannya.


“Ammm,” dan sendok itu bermanuver kembali ke mulut yang mengantarnya. Dengan spontan tangan Anindita menarik ujung hidung Faisal dengan gemas.


“Aww,” tangan lelaki itu menepis jemari mungil yang mendarat tanpa permisi.


“Awas ya, pembalasannya nanti malem,” Faisal menyeringai jahil. Anindita hanya menanggapinya dengan mencebik. Dia memakan sandwich yang dibawanya tadi.


“Nih Yang,” kali ini Faisal terlihat serius menyendokan nasi untuk istrinya. Anindita tampak mempercepat kunyahan sandwichnya dan segera menyambut sesuap nasi itu sebelum suaminya berubah pikiran.


“Abang khawatir anak kita ngiler,” ucapnya sambil menyerahkan piring yang berisi stengah lagi. Dia mengambil piring sandwich yang ada di depan Anin.


“Apaan sih Bang, mana ada, emangnya aku ngidam?” ucap Anin sambil menarik piring nasi goreng yang diserahkan suaminya.

__ADS_1


“Ya semoga aja langsung jadi,” ucap Faisal sambil tersenyum. Dia melanjutkan sarapannya dengan menghabiskan sandwich sisa Anindita.


“Sayang, untuk resepsi, abang sudah minta Ferdi yang urus, kita adain di hotel di jakarta aja ya, atau mau dimana?” ucap Faisal.


“Terserah abang,” ucap Anindita sambil fokus menghabiskan nasi gorengnya.


“Ya udah kalo gitu, nanti kita terima beres aja lah, abang juga males urus ribet-ribet, biar Ferdi aja yang urus semuanya,” ucap Faisal sambil menyeruput cokelat hangatnya.


“Kamu udah ga usah kerja lagi sayang, nanti urus ya pengajuan pengunduran dirinya,” ucap Faisal.


“Hmmm, aku masih mau kerja Bang, sampai nanti kalau udah punya bayi baru aku berhenti, bosen lah Bang di rumah seharian mau ngapain,” rengek Anindita.


“Ya kan kamu bisa pergi shopping-shopping atau ke salon, ikut kelas senam, jumba, kayak gitu,” Faisal memberikan ide.


“Abang yakin ngajarin istrinya boros kayak gitu?” Anin mendelik, karena memang dia tidak menyukai hal-hal seperti itu. Shopping dia hanya sesekali dan ke salon pun Cuma jika hendak potong rambut saja.


“Aku akan berusaha balance Bang, nanti kalau merasa capek aku pikirkan untuk mengajukan pengunduran diri lebih cepat,” ucap Anin sambil tersenyum.


Suasana pagi itu begitu terasa istimewa bagi dua sejoli yang baru saja resmi terikat dengan status suami istri. Gerbang awal pernikahan yang memang selalu terasa indah meski masih harus mengenal satu sama lain. Matahari kian menghangat menyentuh kulit mereka yang masih belum beranjak setelah sarapan. Anindita masih cuti seminggu lagi, sementara Faisal sudah melimpahkan semua pekerjaan pada sahabat sekaligus sekretarisnya, Ferdi.


Setelah sarapan, Anin bergegas bersiap-siap karena Faisal akan mengajaknya jalan-jalan menghabiskan waktu hari itu. Sementara Faisal sedang duduk di ruan tengah sambil menonton berita terhangat yang mengabarkan kejadian-kejadian terbaru dari seluruh pelosok negeri. Tiba-tiba matanya menangkap sosok seseorang yang beberapa tahun terakhir ini menghilang begitu saja.


“Reymond Ronggales, putra salah satu pejabat pemerintah, terbukti menerima suap sebesar 5 trilliun dalam project yang ditanganinya, imbasnya tidak hanya berdampak pada bisnis dan karirnya di dunia politik, namun terhadap hubungannya dengan model dan artis terkenal Felisha Anastasya. Felisha sudah menyampaikan pada wartawan jika dia meminta pembatalan pernikahan yang awalnya akan dilaksanakan akhir tahun ini.” Faisal mematikan televisi ketika sorot kamera menangkap sosok wanita cantik dan anggun itu pada layar kaca. Wanita yang menorehkan luka yang membekas sampai saat ini.


Trrt Trrt Trrt

__ADS_1


Faisal mengambil ponselnya yang tergeletak diatas meja dan membuka sebuah notifikasi pesan masuk dari nomor tak dikenal.


“Hai, apa kabar?” pesan itu terpampang pada layar.


“Maaf ini siapa?” Faisal mengetik pesan balasan.


“Ahhh, rupanya kamu benar-benar sudah melupakan semua tentang kita,” sebuah kalimat diakhiri emoticon sedih.


“Langsung saja pada topik, saya tidak suka berbasa-basi,” Faisal membalas kembali.


“Kalau kamu penasaran, kita ketemuan di cafee XXX sore ini, kutunggu ya,” tulisan itu terpampang di layar.


“Maaf, hari ini saya ada acara dengan istri saya,” Faisal membalas lagi.


“Wah kamu udah nikah ternyata, aku terlambat, selamat ya, dari seseorang di masa lalumu, Felisha.” Mata Faisal membulat sempurna, baru saja diberitakan di televisi, gadis itu sudah langsung menghubunginya kembali.


“Dia pikir, dia siapa?” Faisal menarik sudut bibirnya, tersenyum sinis memandang layar ponselnya.


“Bang, kenapa liatin HP kayak gitu?” suara Anindita membuatnya terkejut, langsung dia memasukkan ponsel ke saku celananya.


“Udah siap Yang?” Faisal balik bertanya. Anindita mengangguk tanpa menaruh curiga jika sesuatu telah terjadi disana.


“Ayo,” Faisal beranjak dari duduknya dan meraih kunci mobil. Mereka berjalan beriringan.


“Tunggu disini aja Yang,” Faisal meminta Anindita untuk menunggunya di teras rumah. Sementara dia mengambil mobil ke garasi. Mang Omon yang sedang menyirami tanaman bergegas membukakan pintu garasi dan berdiri disana untuk menutupnya kembali.

__ADS_1


“Makasih Mang,” Faisal menganggukan kepala. Mang Omon membalas anggukannya. Faisal mengemudikan mobilnya dan berhenti di teras rumah, menjemput sang bidadari pilihannya. Sementara Mang Omon berlari menuju pintu gerbang dan membukakan untuk majikannya.


Faisal melajukan mobilnya, hari itu dia akan mengajak istrinya untuk quality time sebelum honeymoon. Mereka berencana akan mengunjungi tempat-tempat wisata atau tempat hiburan di sekitar Jakarta.


__ADS_2