
Pagi ini dikantor Roy baru saja mendapat semua laporan dari anak buahnya tentang Monik dari masa lalu hingga semua yabg dia lakukan pagi ini.
''Brenggsekkk....!!!!!'' umpat Roy sambil membating map itu diatas meja.
''Jadi Daniel mantan kekasih Monik yang dia ginggalkan dulu??'' kata Roy pada ora suruhannya
''benar Tuan''
''Dan dia sekarang sedang mencoba mendekatinya lagi terlepas dari apa yang aku perentahkan. Jadi ****** itu mau berkhianat rupanya''
''Apa perlu saya singkirikan wanita itu Tuan??''
''Jangan dulu aku masih memmbutuhkannya beberapa hari lagi akan ada investor dari jepang dan dia meminta untuk bertemu dengan Monik karena dulu pernah dia melihatnya'' jelas Roy
''Biarkan saja dulu urusan ini biar aku yang tangani'' lanjutnya.
''Rupanya kamu mau main main denganku yaa, tak semudah itu lepas dari Roy Monik'' gumam Roy setelah orang suruhannya pergi.
.
.
Pagi ini Dara sedang menikmati sarapan pagi bersama suaminya dengan diiringi obrolan obrolan ringan memubuat suasana menjadi hangat dan harmosi.
Tiba tiba perhatiannya teralihkan oleh dering ponsel Dara tertera nama Sisil disana.
Dreettt dreeettt
''Sisil gak biyasanya dia telfon pagi pagi'' gumam Dara sebelum mengangkat telfon
''Halo Sil ada apa ??''
__ADS_1
''......''
''Gak mungkin !! lo jangan bercanda yaa??? Dara dengan nada yang mulai bergetar
''......''
.
.
Setelah mendapat kabar dari Sisil tanpa pikir panjang Dara bergegas menyusulnya.
Dengan langkah lebar Dara menyusuri koridor Rumah Sakit
''Sayank hati hati ingat kamu sedang hamil, jaga emosi kamu'' Daniel yang mengingatkan
''Ahkhh ya maaf'' kata Dara yang hampir melupakan kondisinya.
''Ini gak mungkin kan, Vio kita gak mungkin melakukan itu kan??'' tanya Dara dalam pelukan Sis il keduanya menangis terisak
''Kenapa bisa kaya gini ??''
flash back
Waktu menunjukan pukul lima pagi Vio pulang kerumah setelah beberapa hari menginap ditempat Ricko.
''Non Vio?? non dari mana saja??'' tanya Bik Sumi pembantu yang membukakan pintu rumah.
''Dari rumah temen Bi'' jawabnya singkat
Dengan raut muka yang layu dan pandangan kosong Vio memasuki rumah dan berjalan menuju kamarnya.
__ADS_1
Saat didepan kamar kedua orang tuanya dia berhenti sejenak dan menghela nafas seperti dugaannya.
Kedua orang tuanya tak ada yang dirumah bahkan mungkin tak ada yang mencari atau menghawatirkannya saat dirinya tak pulang.
Dengan perasaan yang hancur Vio masuk kedalam kamar mandi dan menyalakan air shower.
Membiarkan dirinya basah dan menggosoknya seperti terkena noda yang tajam dengan air mata yang bercampur dengan air bayangan dirinya ketika melayani Ricko seperti wanita murahan selalu berputar putar diotaknya.
Menangis dan berteriak dalam kamar mandi berharap bisa meluapkan rasa kecewa dan hancurnya saat ini.
''Kotor hiksss hikssss hancur hiks hikss hikss'' berbagai kata dan umpatan Vio lontarkan untuk dirinya sendiri.
Hingga setelah beberapa jam Vio keluar kamar mandi dengan langkah gontai berjalan kearah ranjang disana dia melihat pisau buah.
Diambilnya pisau itu dan dilihat dengan tatapan kosong entah apa yang ada di pikirannya saat itu hingga Vio menggoreskannya pada nadi pergelangan tangannya.
beberapa saat kemudian Vio jatuh ke lantai dengan darah yang sudah mengalir deras.
Hingga bik Sumi yang datang ingin memberitahunya untuk sarapan mencoba mengetuk pintu beberapa kali tapi tak ada jawaban tapi entah kenapa perasaan dia mengatakan untuk masuk saja.
Dengan langkah pelan bik Sumi membuka pintu dan masuk kekamar nona mudanya baru bebrapa langkah dia dikagetkan dengan keadaan Vio.
''Aaaaaaa Non non Vio !!!!!! histeris Bik Sumi
''Tolong tolong pak Satpam mang Ujang tolonggggg !!!!'' terika bik Sumi mencari pertolong
Mereka bergegas membawa Vio Kerumah Sakit.
Dengan Tangan yang bergetar dan tangisan bik Sumi mencoba menghubungi kedua orang tua Vio tapi nomernya masih belum aktif.
Kemudian dia teringan dengan Sisil sahabat Vio yang memberinya Nomer beberapa hari lalau.
__ADS_1
Bik Sumi memberitahunya pada Sisil dengan tangisan.