
Jen memasuki rumahnya seorang diri karna steve tengah menelpon seseorang di luar rumah. Jen mencari keberadaan bundanya, yang ternyata sedang duduk di meja makan yang tengah meminum obatnya.
"bundaaaa.... " duduk didekat bundanya.
"iyaaa.. kenapa?" jawab bunda.
"ehm niih buat bunda.." menyeerahkan amplop yang dibawanya tadi. "buat uang bulanan, besok kan udah awal bulan." kata jen.
"Looh,, tumben, biasanya kamu yang transfer ke meika dulu." tanya bunda.
"iyaa gak papa... tadi juga udah aku transfer ke rekening meika, nanti kalo meika ngasih uang ke bunda, uangnya kasihkan aja ke ibu pengurus rumah singgah." perintah jen.
Melihat raut muka jen yang biasa biasa saja. "kamu dapet uang darimana jen, kok sebanyak ini?" penasaran.
"yaa kerja lah bunda... masak jen nyolong.. bunda ini ada ada saja.." jawab jen.
"iya bunda tau, kamu kerja. Tapi kan gak masuk di akal, katamu kamu hanya karyawan biasa, tapi kok bunda liat ini uang kamu banyak.?" masih penasaran dan ingin tau lebih banyak informasi.
"bundaaa... aku kerja,, dan aku selalu sisihkan uangnya untuk ditabung. ya ini tabunganku..." masih tenang memberikan jawabannya.
"terus itu gimana sama cicilan mobilmu itu?" menarik kursi mendekat ke arah jen. "jeen, kamu boleh bantu orang lain, tapi juga pikirin diri kamu juga. Bunda tau kamu kerja keras selama ini, menyekolahkan adik adikmu, mengurus rumah butikmu, mengurus resort peninggalan ayah, belum lagi masih mengurus kebun teh itu. Jangan memforsir dirimu jen, kalau lelah istirahatlah. Kamu sudah berjuang buat keluarga kita semenjak ayah tiada. Mengorbankan diri kamu sendiri demi kami. Sudah cukup jen, ibu dan aadik adikmu sudah hidup layak sekarang. Yang bunda mau sekarang, kamu memikirkan hidupmu. Kamu sudah berumur 27 waktunya nikah membangun rumah tanggamu." kata bunda menasehati.
Tersenyumm semanis mungkin di hadapan bundanya. "Bundaaa,,, selamanya bunda, meika dan aprillia adalah prioritas jen. Kalo bunda kuatir dengan kesehatan jen, alhamdullilaah jen masih diberi kesehatan sama Allah swt. Masalah rumah butik udah ditangani meika dan santi, kalo resort ayah udah diurus sama danang, kebun teh kan sudah diawasi bunda sama si Asep. Jen disini cuma mengontrol perkembangan semuanya. Kalau masalah kerjaan jen di kota, jen hanya karyawan biasa. Bunda gak usah mikirin lagi. Yang terpenting itu kesehatan bunda. oke. Dan lagi kalau masalah nikah, iya jen akan menikah jika sudah cocok dengan pasangan jen." tuturnya panjang lebar.
"Itu bunda udah nyariin steve buat kamu. Kamu mau yang gimana lagi??" kata bunda.
"oooooo.... jadii bunda maunya aku cepetan nikah gitu sama steve.?? ngomong muteer muter daritadi ujung ujungnya bahas nikah." sahut jen menimpali sambil tersenyum menaik turunkan alisnya.
"huusshh,, bukan begitu anak kesayangan bunda.. bunda cuma memberikan jalan, siapa tau steve jalan yang akan kamu lalui. " jawab bunda.
"heheheheheee... iya iya bunda.. jen akan menikah dengan steve." memberikan jeda sebentar "kalo kita udah saling mengenal lebih dalam. hahahahahhaaaa" imbuhnya.
"kamu itu yaaa,,, selalu.bikin bercanda terus.." mencubit pipi jen gemas.
"hahahahaaa... ya udah bunda istirahat, tidur yang nyenyak, mimpi yang indah bersama ayah. mmuuiaachhh... " berdiri, mencium kening bunda. "Jen akan ke gazebo, aprillia tadi merengek minta barbeqiu'an.." kata jen hendak pergi ke arah kamarnya untuk ganti baju dulu.
Dan tanpa diketahui oleh bunda dan jen, sejak tadi ada seseorang yang mengawasi perbincangan keduanya, yaah siapa lagi kalau bukan steve. Dia tadinya hendak pergi ke gazebo tapi mendengar bunda dan jen berbicara, dia menguping pembicaraan tersebut.
aku harus mencari tau siapa kamu jen, kalau di pikir pikir memang aneh sih. Kamu dengan mudahnya memberikan uang kepada orang lain. padahal kamu hanya bekerja sebagai karyawan biasa, berapalah gajimu itu.. gumam steve.
.
.
.
__ADS_1
Jen hendak menuju gazebo belakang rumah, dia melihat steve yang tengah bersender di dinding dengan satu kaki ditekukkan ke dinding. "kamu gak ikutan kesana steve?" tanya jen.
"iya ikut, sekalian biar deket sama kamu. " jawabnya.
"iidiiihh... ngrayu teruussss... " kata jen.
"hahahhahaaaa... biar kita cepet deketnya, kamu mengenal aku, dan aku mengenal kamu lebih jauh." sahut steve.
"gombaaL... alesaan ajaa.. oiya.. mana baju jersey kamu, harus pakek jersey kalau ikutan." kata jen.
"yaa mana aku bawalah jen... aku kan tanpa persiapan.." saahutnya.
"aku punya jersey cowok, kamu mau pakek?" menaik turunkan alisnya.
"boleh kalau kamu gak papa" jawab steve.
"ayoo ikuut aku.." melangkahkan kaki menuju kamarnya lagi. Kamar jen tidak gabung dengan rumah induk, ada lorong kecil yang menyambungkan antara rumah induk dan kamarnya.
Jen membuka kamar dan menyuruh steve masuk, jen menuju lemari pakaian mencari apa yang dicari. Sedangkan steve dia mengamati seisi kamar jen itu, meneliti setiap sudutnya. Kamar jen bercorak biru laut, dan ada boneka boneka karakter hewan laut dan di ranjangnya terdapat boneka dolphin raksasa yang hampir memenuhi separuh dari ranjang tersebut. Steve berpikir mungkin jen menyukai suasana laut. Di sudut kamar itu ada foto foto jen masih bayi hingga dia dewasa. Dan juga saat sekolah dari tk sampai universitas. Ada yang mengganjal di mata steVe saat melihat foto sma jen, walaupun beramai ramai tapi difoto itu jen berdekatan dengan seorang pria, tangan kanan pria itu merangkul pundak jen dan tangan kanannya memegang dagu jen tapi dengan tetap mata mengarah ke kamera, sedangkan tangan kiri jen berada di pinggang laki laki itu dan tangan kanan jen membentuk angka 2 yang berarti peace.. Melihat foto itu sedikit membuat gejolak dihati steve. siapa laki laki itu?? pikirnya.
Tak lama jen datang membawa baju jersey untuk steve. ia menyuruh steve untuk berganti baju. Steve mengambilnya dan akan menaikkan kaos yang dipakainya.
"heeiii... mau ngapain kamu?" tanya jen.
"ya ganti baju lah.. tadi kamu nyuruh ganti pakek jersey itu" jawab steve enteng.
"kelamaan... emang kenapa kalau aku ganti disini. toh suatu saat nanti cepat atau lambat juga kita akan nikah, dan setelah nikah kamu akan sering melihatnya." jawab steve sambil menahan senyumnya.
"iiiichhh... udah deech.. sana ganti baju.di kamar mandi... gue anak gadis tau begituan bisa kesurupan gue.." kata jen menunjuk arah kamar mandi.
"hahahahahhaaaa... masak siih.. coba aku pengen tau kalau kamu lagi kesurupan." dia membuka kaosnya, terlihatlah tubuh steve yang putih bersih, dadabyang sispeck, otot otot yang menunjukkan dia sering olah raga, serta bagian perut yang berbentuk. Seringai muncul di bibirnya.
Jen yang mengetahui steve membuka bajunya langsung menuttup mata dengan tangannya. "dasaar orang gilaa.." serunya.
"hei.. aku bukan gila.. kamu aja yang sudah berfikiran kotor. dasar mesum.." ejek steve.
"enak aja, kamu bilang apa tadi? gue mesum? heh... " tidak terima.
"yaa apa namanya kalau gak mesum. orang aku cuma ganti baju aja kok.. atau kamu inginnya aku buka semua.." kelakarnya.
"jangan ngaco... cepetan udah belom siih?" tanya jen.
"udah" berbohong, tetap masih tanpa memakai baju, bertelanjang dada.
jen membuka matanya dan terpampang lah badan steve didepannya, jen sampai bengong melihat ketampanan steve yang menggoda imannya. Seringai steve muncul dia tersenyum lebar, mengetahui mangsanya terpukau dengan tubuhnya.
__ADS_1
"kenapaaa.... mau pegang??" katanya tersenyum penuh kemenangan.
"......" masih diam belom tersadar dari lamunannya. Sesaat dia baru ingat kalau hal itu sungguh memalukan. Jen mengambil boneka karakter bintang laut yang berada di sofa dan melemparkannya ke arah steve. "pakai bajumu cepat..." tegasnya menutupi hal memalukan yang iya lakukan.
"aduuchhh... iya iya ini aku pakek.. jadi cewek kok kasar amat siih.. " sahut steve sambil menggunakan kaos jersey pemberian jen. "ngomong ngomong ini baju siapa.. kok kamu punya baju jersey cowok?"
"bukan punya siapa siapa.. dulu sengaja beli couple'an cewek cowok. tapi tetep aku simpen aja dilemari. "jawabnya..
"hahahahahahhahaaaa.... gak punya pacaar yaa kamu.. duuch kaasian anak mami ini.. beli barang couple tapi gak punya pasangan. duch duuh..." tertawa menghampiri jen menepuk nepuk pundaknya.
"sialan... udah aach... ayo ke gazebo,,, mereka udah nungguin daritadi.." ajak jen keluar.
"oke.. ech ngomong ngomong kamar lo gede, bersih, wangi, nyaman banget tidur disini yaa...." membaringkan badannya diranjang jen. boneka dolphin raksasa sebagai tumpuan kepalanya..
"iiich... kok lo tidur di kasur gue siih... aaiiiishhhh" tak terima memasang wajah cemberut.
"kenapa?? ada yang salah.. cuma bentaran dong kok.." jwabn steve.
"ya nggak gitu steve, kalo lo tidur disitu berarti lo cowok pertama yang tidur disitu tau... iiiichhhh.." masih tak terima.
"hahahahaa... nantinkan aku juga bakalan tidur disini, kan aku calon suami kamu..." jawab steve tanpa rasa bersalah.
"udah dech.. terserah lo... gue mau ke gazebo." membuka pintu kamar san melangkah keluar.
Steve tersenyum. gak papa sekarang kamu nolak aku, tapi nanti kalau udah jadi istriku kamu gak akan bisa kabur dariku.
akhirnya ia keluar kamar dan mengikuti jen menuju gazebo.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.HAPPY REEAADIINGGGG