Perjodohan Yang Tertunda

Perjodohan Yang Tertunda
eps 25


__ADS_3

Tak ada yang mengira kalau di salah sudut cafe itu, diam diam ada seorang yang juga tengah merekam aksi jennifer bernyanyi sambil memainkan gitar. Dia hanya melihat jennifer duduk di seberang seorang diri dan kedua orang laki laki dan perempuan mungkin temannya itu duduk bersebelahan.


Tapi sayangnya wanita yang duduk di samping pria itu tak terlihat. Pikirnya tak apa, dia hanya ingin merekam seorang wanita yang tengah mencuri atensinya sejak memasuki cafe tersebut.


Jennifer setelah selesai bernyanyi ia terlihat menutup matanya dengan tangan kirinya, cukup lama. Ia meredakan amarah yang tengah di rasakannya karena teringat akan andrew. Setelah keadaannya sudah membaik, ia mengusap usap wajahnya. agar terlihat biasa saja.


Mely dan Adam yang tahu akan kondisi jennifer hanya diam memperhatikan. Mereka tidak mau menanyai permasalahan itu karena mereka sudah tahu dan memperkeruh hati jennifer. Mereka tahu sifat jennifer yang tertutup akan masalah hatinya, nanti jika jennifer sudah tak kuat menahannya ia akan bercerita dengan sahabatnya mely.


"uudaah... malu maluin tau gak lo kalo cengeng, lemah kayak gini. Mana jennifer yang garang itu." kata mely setelah menyeruput minumannya hingga tandas.


"siapa juga yang cengeng." kilah jennifer. "udah belum handphone'nya?" tanyanya ke adam yang sedari tadi masih bergelut dengan dua handphone di tangannya.


"bentar lagi bos cantik.. sabar.." jawabb adam.


"blokir juga nomor itu. hapus juga semua tentang dia, aku mau semua tentangnya bersih." perintah jennifer setelahnya ia meminum jus jambu yang di pesannya.


"ke gor yuuk... cari keringat.." ajak mely. ia sangat menyukai olah raga basket jadi ia mengajak kesana.


"ckk,, lo lupa di rumah gue ada ring basket kan bisa main disana." sahut jennifer.


"kurang enak... enak di gor, siapa tahu dapet cowok cakep disana. Ini kan hari minggu pasti banyak yang olah raga disana." jawab mely.


"ck,, dam lihat tuuh temen lo, kalo sama laki kayak cacing kepanasan.."kata jennifer lalu ia kembali melanjutkan kata katanya dengan bahasa daerah dari kota kelahiran mely. "kon iku sethelen a karo lanangan.."


Mely langsung menonyor kepala jennifer bisa bisanya ia disamakan dengan cacing. "sembarangan kon leh ngomong, di ambung wedus kapok kon." jawab mely sambil mengerucutkan bibirnya.


Adam yang gak tahu bahasanya hanya diam menengok sekilas jennifer dan mely yang tengah berbicara lalu melanjutkan aktifitasnya.


"hahhahaha... wiidiih,, omongan lo serem amat M. kalau gue di cium kambing beneran gimana?" tanya jennifer menahan tawanya.


"serah lo.." jawab mely bangkit dari duduknya. "lo mau ikut nggak, kalo enggak ya udah." katanya lagi.


"hhahahhahaa... ikutlah mely sayaang.. " kata jennifer juga ikut berdiri.


"Laah,, ini gimana bos.. belum selesai loo.." kata adam yang tahu bosnya akan pergi.


"lo urus aja... nanti anterin ke rumah gue." jawab jennifer. Lalu pergi meninggalkan cafe masuk ke mobil milik mely.


"hermmzz... gini nih kalau jadi bawahan bos yang se enaknya aja. padahal kan ini hari libur, harusnya gue di rumah selonjoran." adam ngedumel sendiri karena di tinggal oleh dua orang cewek yang sangat berpengaruh di perusahaan tempat ia bekerja.


Tak lama suara pesan notifikasi pesan masuk di ponsel adam. Ia menghentikan aktifitasnya lalu mengecek pesan itu. Sebuah pesan dari Mely yang menunjukkan info transferan uang ke rekening miliknya. Sebuah senyuman tersungging di bibirnya. Lalu ia mengetikkan pesan balasannya.


terima kasih bu bos cantik.

__ADS_1


Adam tahu, walaupun semenyebalkannya bosnya itu, ia akan tetap memberikan upah atas apa yang telah dilakukan adam. Lalu ia melanjutkan lagi memindai data data di handphone jennifer yang lama ke yang baru.


"papa sudah bangun?" tanya steve saat melihat papanya mengerjapkan matanya.


"heermm" hanya di balas dengan deheman. "dimana jennifer?" tanyanya saat melihat sofa yang sudah kosong dan tak ada siapa siapa disana.


"jennifer sudah pulanh bersama mely. mereka menitipkan salam ke papa. semoga lekas sembuh." kata steve sambil meletakkan ponselnya di atas meja. "jennifer tadi lapar dan dia tidak bisa makan di ruangan rumah sakit." terangnya lagi.


"ooh... hehehe.. sama persis dengan mamamu yang tak bisa makan di ruangan rumah sakit, katanya sih bau obat obatan padahalkan ini ruangan VVIP, papa rasa gak tercium juga bau obat obatannya tapi mamamu selalu merasa mencium bau itu." kata papa jacob saat teringat istrinya yang juga tak bisa makan saat di ruangan rumah sakit.


steve hanya membalas dengan senyuman. ia jarang berbicara dengan papanya tidak sedekat dengan mamanya.


"papa ingin kamu dengan jennifer bersama." kata papa jacob.


"aku tidak mau memaksakan kehendak papa. biarlah berjalan waktu. toh sekarang dia juga sedang terpuruk dengan kisah cintanya, kalau aku masuk mungkin aku akan menjadi pelariannya saja. Sedangkan aku sendiri. sekarang juga mempunyai kekasih pa. jangan memaksakan kehendak papa sendiri. " jawab steve.


" haaah... padahal papa ingin sekali mempunyai menantu seperti dia. Sudah cantik, pintar, punya ilmu bela diri pula, dan lagi dia ternyata........." papa jacob tak melanjutkan perkataannya karena ia sengaja menggantung ucapannya agar steve penasaran dengan jennifer dan akhirnya mencari tahu siapa jennifer.


"ternyata apa pa?" tanya steve.


"gak pa pa.. papa gak akan kasih tahu kamu, toh kamu kan gak mau sama dia. " jawab papanya.


"yaa sudah kalau papa tidak mau memberi tahu, steve bisa cari tahu sendiri. " jawab steve sedikit ngambek ke papanya seperti anak kecil.


"kok papa tahu?"


"hahahaha.. jadi anak papa ini udah mencari tahu dulu.. gimana gimana hasilnya.?"


steve mengangkat kedua bahunya. "radit belom juga kasih kabar, katanya sulit melacak informasi mengenai jennifer."


"hahahha... papa yakin kau akan kesulitan jika menggali informasinya melalui dunia maya. Data datanya sangat di amankan dan dia juga sangat handal dalam dunia cyber kau tau itu.." penjelasan papa jacob cukup mengagetkan steve tapi ia berusaha masih tenang.


"papa tahu darimana semua itu??" tanya steve.


papa jacob hanya mengendikkan bahunya. acuh akan pertanyaan anaknya. "kalau kamu mau menikahi dia, papa akan jawab semua pertanyaanmu itu. "


"sudahlah.. aku keluar sebentar dulu... " kata steve meninggallkan papanya. Ia berjalan keluar kamar dan menuju taman yang ada di rumah sakit itu.


apa bener yang papa bicarakan.? pikirnya. Lalu steve teringat akan angkasa group karena tadi ia melihat data itu ada di laptop jennifer.


apa dia bekerja disana?


akan aku pastikan dulu.

__ADS_1


Lalu steve menelfon asistennya radit.


^ halloo


~ hallo dit, saya mau tanya sesuatu. Siapa pemilik dari perusahaan angkasa group?


^ erhm,, mungkin pak Adam tuan. Karena beliau yang selalu hadir dalam metting dan saat penandatanganan kontrak pak Adam juga yang datang." (tapi radit tak mengetahui kalau di bawah nama Adam saat tanda tangan itu ada nama J'A Group).


~oh,, oke. ya sudah dit.


^ iya...


percakapan dengan radit pun selesai. steve mengira jennifer mungkin salah satu karyawan disana.


Saat steve keluar dari ruangan rawat papanya. Ternyata papa jacob menelfon bundanya jennifer, mereka merencanakan sesuatu setelah nanti papa jacob pulih dari sakitnya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.HAPPYYY. REAADIIINGG


__ADS_2