
drrt,,, ddrrttt... suara ponsel milik jennifer bergetar tanda notifikasi pesan masuk. Dari sebuah nomor baru.
💌 'apa tidurmu nyenyak??
Tadi malam aku kirimin bidadari untuk jaga tidur kamu.. Eh, dianya buru buru balik. Katanya, "Ah, masa bidadari di suruh jagain bidadari?" hehehhe...
Jennifer membuka pesan itu, membacanya dengan seksama. Lalu Tersenyum setelah membacanya. ya ampuun,, pagi pagi udah di gombalin, siapa sih? gumamnya di dalam hati. Lalu ia teringat akan pria kemarin yang dia temui di club malam. apa Gagas? masih penasaran. Tiba tiba telfon video dari Gagas, jennifer sempat kaget lalu ia menjawabnya.
"hay..." jawab jennifer sambil melambaikan tangannnya.
"*hay... selamat pagi.. apa aku mengganggu waktumu? "
"oh,, tidak sama sekali. ada apa*?" tanya jennifer lagi.
"*mau breakfast bareng aku?"
"ehm,,, boleh*.." tersenyum.
"*oke,, aku jemput, share lock yaa.."
"oke."
tut... tut... tut*...
Panggilan pun berakhir. Jennifer bergegas mandi dan merias wajahnya. Saat ia berada di depan cermin barulah ia tersadar akan tindakannya. "astaga.. apa yang aku lakukan. hah,, dia hanya mengajak sarapan jadi tak perlu riasan tebal. " pikir jennifer.
Tiba tiba pintu di ketuk, jennifer membukanya. Tetnyata Rani yang juga sudah siap untuk memulai aktifitasnya. "mau balik sekarang mbak?" tanya Rani saat masuk.
"ehm, nanti aja dech Ran.. aku masih ada janji. kamu udah makan belum?" tanya jennifer.
"belum mbak, aku sengaja kesini dulu ngajak mbak sekalian makan." jawab Rani.
"kamu makan sendiri aja.. aku mau bertemu dengan seseorang." ujar jennifer sambil memasukkan dompet dan keperluannya ke dalam tas.
"Loh,, mau keluar. sama siapa mbak?" tanyanya kepo.
"hahahhaa.. kepo luh..." sahut jennifer yang sudah siap. Ia mengotak ngatik handphonenya menunggu notifikasi dari orang yang di tunggunya.
"buat jaga jaga aja mbak.. perlu pengawalan gak?" tanya Rani lagi.
"gak usah... " jawabnya cepat. lalu ponselnya bergetar, jennifer langsung membukanya.
💌 'aku sudah di depan lobby.
ternyata pesan itu dari Gagas yang mengatakan ia telah sampai di tempat yang di tuju.
💌 oke.. aku turun..
"Ran... gue cabut dulu yaa... kalo Mely telfon tanya tentang gue, bilang gue keluar bentar. Kamu urus dulu semuanya bisa kan? " tanya jennifer.
"oke.. bisa mbak.." jawab Rani. "mbak, turunya barengan yaa.. sekalian aku mau makan di bawah."
"oke" jawab jennifer. Lalu mereka baerjalan ke bawah. Saat sudah sampai di lantai bawah Rani melangkahkan kaki ke arah restoran yang berada di hotel itu tapi ia bersembunyi dulu di balik tembok guna melihat bosnya itu keluar bersama siapa. Karna dia harus memastikan setiap kondisi yang terjadi dengan bosnya dan melaporkannya kepada Mely. Mely sudah mewanti wanti Rani sebelum ia bertemu dengan jennifer.
Jennifer berjalan ke arah lobby yang disana terdapat seorang pria berpostur badan tinggi, gagah, dan sangat berkharisma. Siapa lagi kalau bukan laki laki yang di temuinya semalam.
"hay Gas,,, udah lama?" tanya jennifer saat sudah di depan laki laki tersebut.
"hay... enggak.. ayoo.." jawab Gagas tanpa basa basi, lalu ia menggandeng tangan jennifer untuk berjalan di sebelahnya.
__ADS_1
Jennifer mengernyitkan kening saat mereka berhenti di parkiran motor, bukan mobil seperti pikiran jennifer. Karena biasanya para laki laki akan memamerkan apa yang ia miliki dengan berbagai jenis mobil. Lalu kini Di depannya bertengger kokoh benda besi bergerak yang sangat keren menurut jennifef. sebuah motor sport berwarna merah metalix dengan aksen hitam. Yang membuat jennifer tertarik akan pesona motor itu.
"naik ini?" tanya jennifer.
gagas hanya tertawa melihat ekspresi jennifer. lalu ia menaiki motor itu. "iya... kenapa? gak kaya ekspetasi kamu?" ucapnya.
"bukan begitu... aku kira kamu kayak pria lainnya yang akan membawa mobil termewahnya demi menarik pasangan lawannya. tapi kamu beda.." masih tetap mengawasi motor sport itu, karena memang sangat keren. "Jangan kira aku gak bisa bawa motor ginian yaa..." ujar jennifer lagi tidak terima.
Gagas sempat terkaget dengan ucapan jennifer. "kamu bisa naik motor kaya gini?" tanyanya.
"bisa lah... kecil ini mah..." jennifer langsung menyambar ucapan gagas. membanggakan dirinya. "ehm,, tapi aku gak jago kalo pakek motor. kalo mobil jangan di tanya,, aku libas deeh.." ucap jennifer lagi.
"waow... boleh dong kapan kapan jalan bareng." ucap gagas sambil mengangkat jempolnya. "uhm, boleh dong liat ke'jagoan kamu kalo naik mobil.?"
"boleh aja... tapi aku gak punya motor kaya gini.. di rumah adanya cuma motor matic, soalnya juga buat asisten rumah tangga aku juga biar kemana mana gak jalan kaki." kata jennifer. ia mengambil helm yang di berikan gagas lalu naik ke atas motor itu dengan ancang ancang tangannya di taruh di pundak gagas.
"hehehe... kalau di belakang gini aku kayak terbang deh.. tinggi banget.."
Gagas tertawa dengan omongan jennifer. "kamu ngelawak?" tanya gagas. "udah siap belum?? "
"udah.. let's go.." sahut jennifer. "ehm,, aku pegang gak papa kan?" tanyanya.
"ya memang harus pegangan jen.." ucapnya.
Lalu jennifer berpegangan di sisi kanan kiri pinggang gagas, tapi saat gagas menambah kecepatannya jennifer merubah tangannya ke perut Gagas. Jadinya ia memeluk gagas..
heemmmzzz, pantes,,, jalan sama gagas ternyata.. cepet banget geraknya.. hahahha.. gumam Rani saat sudah berjalan menuju restoran setelah ia mengetahui dengan siapa bosnya itu keluar.
.
.
kenapa gak di angkat sih daritadi. kamu kemana sih jen, ada apa? gumamnya dalam hati.
Lalu ia membersihkan diri menuju kamar mandi. Mengganti baju kerjanya yang seharian tadi telah di pakai. Steve menggunakan kaos polos berwarna putih dan celana pendek. Lalu membuka lemari pendingin minuman mengambil sekaleng bir di dalamnya. Ia duduk di sofa meminum bir itu hingga tandas setengahnya. Menyenderkan punggungnya di sofa mencari tempat ternyamannya.
Setelahnya terdengar pintu di ketuk dari luar.
*siapa lagi siih..?
tok.. tok.. tok..
ceklek* .
"kamu lagi.." ujar steve saat sudah membuka pintu itu. Dan mengetahui siapa orang yang telah mengetuk pintu itu.
"kenapa sayang.." Saphira lalu berjalan masuk ke dalam. Bahkan dia belum mempersilahkannya masuk.
" kenapa kesini lagi.. kamu gak kerja.. katanya kamu kesini ada kerjaan disini." ucap steve setelah menutup pintunya.
"pemotretan aku udah selesai.. ya aku kesini lah. masak ketemu pacar harus ada alasannya?" kata Saphira saat sudah duduk di sofa.
Sebenarnya Steve sudah sangat malas menanggapi Saphira akhir akhir ini. Tapi dia tidak memiliki alasan yang tepat untuk memutuskan hubungannya dengan Saphira.
"aku tidur disini yah... " ucap Saphira manja.
"terserah kamu." kata steve lalu ia berdiri melangkah meninggalkan kamarnya. Hendak menuju kamar Radit untuk tidur disana lagi semenjak Saphira menginap di kamar hotelnya.
"kamu mau kemana? " tanya Saphira lagi.
__ADS_1
"ke kamar Radit." sahut Steve. Cuek.
"kamu kenapa sih sayang.? aku kesini itu pengen ketemu sama kamu. Kamunya malah pergi gitu ajah.. " sahut Saphira.
"ada yang harus aku kerjakan dengan Radit disana." jawab steve malas.
"halah.. alesan kamu ajah itu. ato jangan jangan karena wanita itu kan kamu jadi berubah kayak gini ke aku." kata Saphira lagi menaikkan satu oktav suaranya.
"wanita siapa?"
"wanita yang telfo...." Saphira tak melanjutkan perkataannya saat dia tersadar dari ucapannya.
Steve juga sudah mulai curiga dengan Saphira. "jangan bilang kalau kamu angkat trlfon aku."
Saphira hanya diam tak menjawab.
"Jadi bener??" steve sudah menggeram. mengeraskan rahangnya. pantes,, seharian ini jennifer tak mau mengangkat telfon aku, mungkin gara gara Saphira.
" apa yang kamu ucapkan ke dia?" tanya steve.
"aku gak bilang apa apa. Hanya mengatakan kalau kamu itu milikku. Dan dia menerima itu." ujar Saphira.
"kamu..." steve tak melanjutkan kata katanya. ia menarik rambutnya kebelakang, frustasi. Lalu ia menarik nafas panjang lalu menghembuskannya. "Saphira, sepertinya aku gak bisa lanjutin hubungan ini sama kamu."
Saphira shock, memelototkan matanya. "gak mau.. apa salah aku sama kamu. kita gak ada masalah sebelumnya. lalu tiba tiba wanita itu datang trus kamu jadi berubah gini." kata Saphira panjang lebar.
"Sebelum aku mengenalmu, dan menjalin hubungan denganmu aku sudah mengenal wanita itu. Dan asal kamu tahu, dia itu calon istriku yang telah di amanatkan denganku oleh mamaku." kata Steve.
"bisa bisanya yaa kamu tega sama aku steve." ujar Saphira sudah menjatuhkan air mata buayanya. Berharap steve akan luluh oleh tindakannya yang memelas itu.
"ini udah jadi keputusanku. kuharap kamu mengerti." ucap steve lalu berjalan keluar kamar menutup pintu itu meninggalkan Saphira sendiri di dalam kamar.
sialan. umpat Saphira dalam hatinya. Belum pernah ia terkalahkan oleh wanita lain.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.HAAPPYY. REEEAADIINGGGG
__ADS_1