
"huuufttt... lelahnya... aku ingin tiduur sebentar. " ucap lelaki tampan yang tak lain adalah steve.
Di salah satu kamar hotel ternama di Jepang. Pria itu tertidur dengan nyenyaknya. Seharian ia sibuk meeting dengan beberapa investor dan rekan bisnisnya.
Sudah empat hari ia berada di negara yang di juluki bunga sakura itu. Ia merasa sangat merindukan seseorang, wanita yang telah memberi warna baru di hatinya sampai sampai ia hanyut dalam mimpinya. Dan ia melupakan hubungannya dengan Saphira si model yang tengah naik daun itu.
Tiba tiba pintu kamar di ketuk oleh seseorang. Steve yang masih tertidur merasa terganggu dengan bunyi itu. Ia sangat malas sekali meninggalkan ranjangnya. Mengerjap beberapa saat, mengembalikan nyawanya.
Masih terdengar bunyi pintu di ketuk dengan tidak sabar.
tok.. tok.. tok.. tok... tok..
"siapa sih.. ganggu orang aja.." gerutunya. Lalu steve melangkah turun dari ranjang guna membuka pintu kamarnya dan betapa terkejutnya dia melihat Saphira yang berada disana. "Saphira" ucap steve bingung.
"iya aku... aku kangen banget sama kamu, steve.." ucap Saphira sambil memeluk tubuh steve. Lalu ia berjalan masuk ke dalam kamar dan duduk di sofa.
Steve masih terdiam. Ia masih mematung. "kenapa kamu ada disini?" tanyanya.
"aku kangen kamu steve sayang... Lagian hari ini kan hari perayaan satu bulan kita, masak kamu lupa.." kata saphira, ia merajuk. Mensedekapkan kedua tangan di dada.
"mana hadiah buat aku.?" katanya lagi.
Steve merasa bersalah. "maafkan aku... Aku lupa sayang. sungguh, mungkin gara gara pekerjaaan yang tiada habisnya ini jadi aku lupa. " ujar steve sambil menggaruk kepala belakang padahal juga tak gatal.
"tunggu... aku akan mandi sebentar. Lalu kita makan malam bersama." ucapnya sambil berlalu mrninggalkan Saphira sendiri.
"jangan lama lama steve.. aku masih kangen kamu!" teriaknya menggoda.
Lalu tiba tiba terdengar handphone milik steve berbunyi, menampilkan nama disana. Nama yang sepertinya tak asing bagi Saphira jennifer ❤...
siapa yaa... pikirnya.. setelahnya ia menggeser ikon warna hijau lalu meletakkannya di telinga.
"hallo.."
"kamu siapa?"
"aku kekasihnya, dan sebentar lagi akan menjadi tunangannya. "
" seriusly? kenapa aku tak mempercayai ucapanmu yah.. lalu siapa namamu?"
"sangat jelas. namaku Saphira, kau tahu kan model yang tengah naik daun itu.? Dan jika kau masih ragu, aku bisa membuktikan."
" hah,, jangan sombong. Kau bisa jadi model terkenal sekarang ini hanya karena kau *menggunakan tubuhmu itu kan? "
" jaga ucapanmu.. aku bisa laporkan kamu*!" terlihat steve keluar dari kamar mandi. Saphira mendekatinya, masih menggenggam ponsel milik steve yang di sembunyikannya. " sayang,, aku kangen kamu" ucapnya dengan manja dan menggoda. Dan stevee membalasnya "iya, aku juga."
Lalu setelahnya Saphira meraih dagu steve, tanpa menunggu lama ia langsung menempelkan bibirnya ke bibir steve. Mel****nya perlahan hingga sampai keduanya ikut terbawa nafsu bersama. Tapi saat steve menginginkan lebih, Saphira menghentikannya. Lalu berbisik "aku akan ke kamar mandi dulu, nanti kita lanjutkan." ucapnya dengan nada parau.
" bagaimana ? kau mendengarnya ? Menjauhlah, karna hanya aku wanitanya yang ia cintai saat ini. " ucap Saphira saat ia sudah berada di kamar mandi.
"hmm,, baiklah. terima kasih telah membukakan mata saya lagi. "
"*maksut kamu?"
"tidak ada."
"baiklah,, dan aku peringatkan kamu sekali lagi, jangan ganggu hubungan kami lagi. jangan ganggu calon tunangan aku."
"baiklah*"
.
.
"oke.. saya tutup rapat ini. terima kasih." ucap Jennifer berdiri dari duduknya lalu melangkah pergi keluar menuju ruang kerjanya.
Mely berjalan di belakang jennifer. Juga ikut masuk ke dalam ruangan sahabatnya itu. "pembukaan restoran akan dibuka tiga hari lagi. lo dateng kan?" tanyanya.
Jennifer tersenyum, restoran yang kali ini adalah ide dari pemikiran jennifer sendiri tentunya ia akan datang secara langsung untuk pembukaannya. "pastilah... sekalian gue undang bintang juga buat ramein acara." ucapnya.
"wiiih... artis bar bar itu... hahahaha.. pinter juga lo.." sahut mely sambil membuka ponsel miliknya yang tadi sempat di silent karena adanya rapat.
"jelas... penggemar dia kan cukup banyak.. biar pada dateng dong ke resto aku." ujar jennifer.
__ADS_1
"yah.. yah.. serah lo dech.." berdiri meninggalkan sofa yang di dudukinya. "oya jangan lupa, besok ada peninjauan di kota XXX." kata melY mengingatkan.
"oke" ucap jennifer.
Belum lama mely keluar dari ruangannya. Kini pintu itu di ketuk lagi.
tok.. tok.. tok..
"maaf bu bos cantik ganggu sebentar." kata Adam yang baru saja masuk ke dalam ruangannya.
"ada apa dam?" tanyanya masih tetap memandangi layar komputter di depannya.
"saya mau memberitahukan bahwa asisten yang bu bos cantik pesan sudah siap. Besok bisa langsung bekerja dengan bos." ucap Adam.
Jennifer menoleh. "good... bawa dia kesini kalau besok sudah masuk. Dan jangan lupa beritahu dulu kewajiban kerja dia disini. oya besok sekalian mau saya ajak peninjauan di kota XXX" kata jennifer tegas. Saat berada di area perusahaanya Jennifer memang selalu terlihat tegas, disiplin dan menjaga imege'nya. Tak jarang dia malah terlihat garang dan sok angkuh guna membuat karyawannya takut terhadapnya.
"siap bu bos cantik." kata Adam sambil bergaya memberi hormat dengan tangan. Memang hanya Adam, laki laki di kantor ini yang terkenal dekat dengan bu bos mereka. Adam sama seperti mely yang sangat setia dengan pimpinannya itu. Bahkan mereka sudah seperti bersaudara. Dulu Jennifer yang memang memberikan uluran tangan bagj keduanya, jadi bisa di bilang iini adalah hubungan timbal balik yang menguntungkan.
.
.
"Jadi bagaimana perkembangan pembangunan ini pak..?? kapan bisa tereliasikan..?" kata Jennifer yang tengah berada di suatu komplek perumahan yang sedang di buat. Ia juga tak lupa memakai safetty helm yang berada di kepala.
"mungkin tiga sampai empat bulan lagi bu.. Bagian blok belakang masih dalam proses pembangunan." jawab orang itu.
"jangan sampai mundur lagi." perintahnya. "Ran jangan lupa catat yang perlu." ucapnya pada asisten barunya itu.
"baik bu bos.." sahutnya.
Yah namanya RANI. perempuan yang di tunjuk oleh Adam sebagai asisten barunya Jennifer.
Karena untuk peninjauan hari ini Mely tidak ikut, ia di tugaskan untuk menangani proyek yang lain.
Hari sudah sore saat Jennifer dan Rani menyeselesaikan tugasnya. Hendak melajukan mobilnya menuju perjalanan pulang. "Ran,, kamu pernah masuk club malam?" tanya jennifer.
Ia menanyakan terlebih dahulu agar tak membuat Rani si asisten barunya kaget.
"hahahhaaa.. adam memang the best.. dia tahu yang aku inginkan. Kamu dari rumah singgah yang di ketuai adam?" tanyanya.
"iya bu bos... kehidupan saya dulu hampir sama seperti adam. " jawab Rani.
"ooh.. saya pengen ke club malam, lagi suntuk. Kamu tahu club malam terkenal di daerah sini?"
"tahu bu bos.. dulu saya pernah kesitu, yah hanya beberapa waktu saja."
"oke.. kita kesana. oya, kalau disana nanti jangan panggil saya bu bos, apalagi membuka kedok pekerjaan saya."
"baik.."
Tak lama mereka pun sampai di tempat tujuan. Lalu memasuki club malam itu. Jennifer tidak terlalu kaget dengan para manusia disana yang memang mencari kesenangan. Tapi sepertinya di club malam ini sedikit horor alias para wanita malam pekerjanya terlihat lebih ganas. Jennifer menyapu pandangan ke seluruh ruangan itu. Dia ingin minum untuk merilexkan pikirannya dengan suasana yang tidak terlalu ramai. Tapi disini sepertinya terlalu ramai.
"Ran,, minta sama manager'nya kasih ruangan VIP. ini terlalu ramai." kata jennifer memberikan perintah.
"baik bu bos.." jawabnya.
"Ran,, lo lupa..? mau gue potong gaji lo.." sahut jennifer.
"hehehe.. maaf maaf.. saya lupa. ehm,, saya panggil mbak aja yaa.." Kata Rani. Lalu ia melangkah mencari manager agar mempermudahnya untuk mendapatkan tempat VIP.
Jennifer masih berdiri menunggu kedatangan Rani sambil tetap melihat ke sekitar ruangan. Tiba tiba matanya seperti menemukan sesuatu yangn menyita atensinya. Sosok pria yang terlihat sangat berkharisma. Pria itu sedang bersender di dekkat tangga dan setiap wanita yang melewatinya selalu memberikan senyuman menggoda untuknya. Dan pria itu membalasnya dengan berbalik tersenyum. sangat menawan. Jennifer masih memandangi pria itu sampai pria itu merasa ada yang memperhatikan. Pria itu balik memandang Jennifer, tapi jennifer mengalihkan pandangannya ke sembarang arah. Saat pria itu tak melihatnya, jennifer kembali mencuri pandang ke arahnya.
Tak lama Rani datang bersama dengan manager tempat itu dan langsung mengajak ke ruangan lantai dua dimana letak ruangan VIP berada.
Rani meneguk wine miliknya. Ia mengamati bosnya yang sedari tadi tengah mencuri pandang ke lawan jenis. Rani mengikuti pandangan Jennifer yang tertuju pada salah satu pria. Pria yang telah menyita atensi bosnya. lalu ia tersenyum. Bosnya memang tak salah pilih pikirnya.
"namanya Gagas mbak... pemilik clib malam ini" kata Rani.
Jennifer menoleh ke arah Rani lalu kembali lagi ke sosok pria itu. "kamu kenal?" ucapnya.
"gak kenaL secara langsung, hanya mengetahui saja." jawab Rani.
"seberapa tahu kamu tentang dia.?" tanya jennifer penasaran.
__ADS_1
"mbak naksir.?"
"nggak. cuma penasaran aja. tuh liat,, walaupun di kerubungi wanita dia tetap menjaga dirinya. gak asal nyosor kaya laki laki lain. " ujar jennifer sambil memperhatikan sosok itu. "menurut aku sih dia gak putih Ran, tapi tuh liat tuh berkharisma banget, tubuhnya sangat perfect."
Rani hanya mengelengkan kepalanya. Bosnya itu ternyata juga bisa sedikit bar bar padahal dari cerita Adam bosnya itu cuek dan jarang mengomentari seseorang. "dia juga raja jalanan mbak. sering ikut balapan motor." sahut Rani.
"kok kamu tahu?" balasnya cepat.
"saya dulu kan juga anak jalanan mbak.. dia sering balap liar di jalan." kata Rani.
Jennifer menarik bibirnya ke atas. Dia semakin penasaran dan tertarik dengan pria itu. "menarik" ucapnya sambil menyesap minumannya. "cari tahu lebih dalam tentangnya Ran.."
Rani hanya mengangguk. bagaimanapun bosnya telah memberikan perintah dan dia harus melaksanakannya.
Tak jauh di situ ternyata pria itu juga tengah mencuri pandang ke arah jennifer. Yang memang sejak awal tadi ia sedikit juga tersita atensinya terhadap sosok perempuan yang sedari tadi mengamatinya.
Jennifer memutuskan untuk menginap di hotel terdekat guna mengistirahatkan tubuhnya. Saat akan pulang jennifer menabrak seseorang karena ia merasa sedikit pusing jadi membuat jalannya tak seimbang. Rani yang tengah di belakangnya sedikit kaget tapi ia tersenyum karena melihat bosnya yang tengah di rangkul pinggangnga oleh seorang pria yang sedari tadi di bicarakan.
"maaf" kata jennifer sambil berdiri tegak setelah tadi tubuhnya di selamatkan oleh pria itu.
"hati hati.." ucap seorang pria.
"iya. makasih." jennifer tersenyum canggung. ia ingin mengenal pria itu tapi ia gengsi untuk memulainya.
"masih bisa jalan." tanyanya.
"masih. hanya sedikit pusing." ujar jennifer.
"ooh... sepertinya kamu baru pertama kali kesini." ucapnya.
"iya.. ada pekerjaan di daerah sini. saya bukan orang sini."
"oh pantes.."
"oke.. saya permisi." jennifer melangkah pergi. Tapi sebelum benar benar menghilang dari pandangan pria itu memanggil lagi.
"tungguu..." berlari ke arah jennifer dan Rani. lalu mengeluarkan ponselnya. menyerahkan ponsel tersebut ke jennifer. "boleh minta nomor kamu."
Jennifer tersenyum ia mengambil ponsel tersebut, lalu mengetikkan beberapa angka disana. "ini... " mengembalikkan ponsel tersebut. lalu tangannya terangkat lagi. "jennifer."
Laki laki itu tersenyum lalu membalas uluran tangan jennifer. "Gagas" setelahnya ia menekan tombol hijau menelfon nomor itu.
Tak lama ponsel milik jennifer bergetar. "sudah masuk yaa.." ucap jennifer sambil menunjukkan ponsel itu ke arah Gagas.
"oke" ucap Gagas. "see you" tersenyum berlalu pergi.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
. HAPPPYYY REEAADIINGGG
__ADS_1