Perjuangan Cinta Reyna

Perjuangan Cinta Reyna
Ibu Am Meninggal


__ADS_3

Setelah tak sengaja bertemu dengan, Reyna. Rudy terus saja memikirkannya.


"Sepertinya aku tidak akan mungkin bisa mendapatkan cinta Reyna lagi. Dulu kami menikah juga karena aku yang telah merudal paksa dirinya hingga hamil. Jika saja anak kami tak meninggal, pasti ada sedikit harapan bagiku untuk bisa kembali bersama, Reyna."


",Ya Allah, Reyna sekarang begitu berubah. Parasnya semakin cantik dan kulitnya semakin putih mulus bersih. Dulu memang sudah cantik dan putih. Tetapi ini lebih cantik lagi dan lebih menggoda."


"Haduh, pusing sekali kepalaku. Aku tak punya harta, tak mungkin aku bisa mendapatkan cintanya. Aku kalah di bandingkan dengan suami Reyna yang sekarang."


"Dia kaya raya dan gantengnya minta ampun, sedangkan aku ini sudah terlihat lusuh seperti ini."


Terus saja Rudy menggerutu di dalam hatinya. Dia ingin menggapai Reyna tetapi dia sudah pesimis dulu pada saat melihat Mr Exel. Tetapi dia tak bisa melupakan Reyna begitu saja.


Selagi asik melamun, ponselnya berdering yang ternyata dari bapaknya di kampung.


Kring kring kring kring


Rudy lekas mengangkat panggilan telepon dari bapaknya tersebut.


"Rudy, kamu bisa pulang sekarang kan?"


"Pulang, memangnta ada apa? aku kan sudah di usir oleh ibu, apakah ibu sudah berubsh pikiran?"


"Iya, Rudy. Ibumu yang meminta bapak untuk menelpon dirimu dan memintamu pulang sekarang juga."


"Aku sedang kerja, pak. Di sini aku belum lama kerjanya, jika aku pulang yang ada aku malah nanti di pecat. Memsbgby ada apa sih, pak? cerita di telpon saja kan bisa."


"Ibumu sedang sakit parah dan ingin ketemu kamu. Katanya juga ingin meminta maaf. Cepatlah pulang, jangan sampai kamu menyesal dikemudian hari."


Belum juga Rudy mengiyakan, panggilan telpon sudah di tutup sepihak. Rudy menjadi gelisah setelah mendapatkan telpon dari bapaknya.


"Aneh, sejak aku di usir oleh ibu beberapa bulan yang lalu. Baru kali ini bapak telpon, sekalinya telpon malah mengatakan hal seperti itu. Apa ya aku harus pulang yang ada nanti aku di pecat dari restoran. Tetapi aku juga ingin tahu kondisi ibu sekarang bagaimana."

__ADS_1


Akhirnya Rudy memutuskan untuk pulang kampung saat itu juga. Dia lekas mengemasi semua pakaiannya. Dan tak lupa menelepon mensger restorannya untuk meminta izin pulang kampung.


"Selamat malam pak, mohon maaf mengganggu. Saya ingin izin untuk beberapa hari tak kerja karena ada hal penting yang menyebabkan saya harus pulang kampung."


"Cari kerja itu susah, kamu belum lama kerja tapi sudah seenaknya saja seperti ini. Jika kamu nekad besok tak kerja, saya anggap kamu sudah keluar!'


"Pak, mohon kebijakannya sedikit saja. Saya janji setelah urusan saya di kampung selesai saya akan langsung kembali bekerja. Bapak telpon katanya ibu saya sakit dan ingin segera bertemu dengan saya. Saat ini saya khawatir dengan kondisi kesehatan ibu saya."


"Ya sudah kamu pulang saja sama, dan tungguin saja ibumu. Kamu tak usah bekerja saja!"


Setelah mengatakan jal tersebut, manager restoran dimana Rudy bekerja menutup telponnya dengan sangat kasar.


"Yah, alamat aku benar-benar di pecat. Tapi tak mungkin juga aku mengindahkan permintaan bapak. Sudahlah, besok-besok aku cari kerja lagi."


Rudy lekas pergi dari kontrakannya dan menuju ke halte bis. Hanya beberapa detik saja, dia sudah mendapatkan bos jurusan ke kampungnya.


Perjalanan memang sangat melelahkan karena bukan cuma naik kendaraan bis saja. Setelah tiga jam perjalanan, bjs berhenti di sebuah terminal angkutan umum. Dan Rudy mencari angkutan umum jurusan ke rumahnya.


Setelah naik angkutan umum, satu jam perjalanan barulah dia sampai di jalan menuju rumahnya. Tetapi dia begitu terkejut karena pada saat sampai di rumah sudah ada bendera putih dan banyak tamu berdatangan memakai pakaian ada yang serba putih dan ada yang serba hitam.


"Iya Rudy, ikhlaskan saja ya."


Rudy mendapatkan dua kali tepukan di bahunya dengan kata-kata yang sangat membuat hatinya bertambah gelisah dan cemas.


Pada saat Rudy sudah ada di ambang pintu, dia pun menghentikan langkahnya seolah kakinya sulit sekali untuk melangkah.


Rudy terbelalak matanya dengan air mata menetes begitu saja. Saat dia melihat seseorang terbujur kaku dengan seluruh tubuh ditutupi oleh ksin kafan.


Dan dia melihat bapak nya sedang tertunduk dengan sesekali menyeka sudut matanya yang sembab karena tetesan air mata.


"Ibu...." barulah Rudy berlari memeluk tubuh ibunya yang sudah di tutup ksin kafan.

__ADS_1


"Pak, bukannya beberapa jam yang lalu menelpon aku? lantas kenapa ibu sudsh seperti ini?" tanya Rudy tak percaya ibunya telah meninggal dunia.


"Iya, Rudy. Pada saat bapak telpon memang ibumu masih hidup, tetapi setelah bapak selesai menelponmu ibumu baru mengatakan jika dia sudah tidak kuat lagi untuk menanti kepulanganmu."


"Ibumu hanya berpesan supaya kamu mau memaafkannya dan ibumu meminta supaya kamu mencari keberadaan Reyna. Dan katakan permintaan maaf ibu padanya."


Mendengar akan hal itu, Rudy sejenak terdiam. Satu pesan terakhir almarhumah ibunya akan sangat sulit di kabulkan karena suami Reyna pasti sama sekali tak mengizinkan jika dirinya mendekati Reyna.


"Pak, memangnya ibu sakit apa? setahuku selama ingin ibu baik-baik saja?" tanya Rudy penasaran.


"Ibumu kena kanker hati, dan bapak tak bisa membiayai setiap ibumu kontrol ke rumah sakit. Jadi ibumu hanya beberapa kali kontril ke rumah sakit. Biayanya sangat mahal," ucap bapaknya.


Setelah perbincangan tersebut, saat itu juga ibunya di makamkan.


*******


Keesokan harinya, barulah Rudy mengatakan sesuatu tentang Reyna pada bapaknya.


"Pak, jika pesan terakhir ini tidak aku kabulkan bagaimana ya?' tanya Rudy bingung.


"Pesan yang mana, kan ibumu hanya berpesan supaya kamu mau memaafkan dia yang telah mengusirmu dulu," ucap bapaknya.


"Bapak batu saja semalam, sudah lupa. Jika itu aku sudah memaafkan ini, lagi pula itu aku yang salah bukan ibu. Pesan yang supaya aku menyampaikan permintaan maaf pada, Reyna. Sepertinya itu akan sulit aku kabulkan, pak," ucap Rudy tertunduk lesu.


"Lah kok bisa begitu, apa kamu ingin almarhumah ibumu yang tak tenang di alamnya?"


"Bukan seperti itu, pak."


Rudy pun menceritakan pertemuannya dengan Reyna pada saat kerja di restoran.


"Kalau begitu, biar bapak yang menemui Reyna. Biar bapak yang meminta maaf padanya atas nama ibumu. Nanti jjika urusan ibu telah selesai, kita ke kota bersama dan temui Reyna ya," ucap bapaknya dengan sangat antusias.

__ADS_1


"Iya, pak. Tapi aku juga belum m tahu dimana rumah Reyna yang sekarang. Karena pada saat itu kami tak sengaja ketemu di restoran, pak," ucap Rudy.


"Kita bisa mencari alamat rumah tanya orang kan bisa," ucap bapaknya.


__ADS_2