Perjuangan Cinta Reyna

Perjuangan Cinta Reyna
Pubia Darah


__ADS_3

Pada saat Reyna akan menyingkirkan tangannya dari wajah Exel, dengan sigap Exel meraih tangan Reyna dan mengecup lembut tangannya.


"Tata, tadi seperti ada yang mengusap wajahku. Siapa ya kiranya orang itu?" Exel sengaja menggoda Reyna, sebenarnya dia tahu jika yang melakukan itu adalah Reyna.


"Hem, mungkin kamu mimpi," ucap Reyna mencoba menutupi rasa malunya.


"Tapi aku begitu merasakan sentuhan seorang tangan wanita yang halus dan lembut. Mengusap pipiku, mataku, alis, dan bibirku ini," ucap Exel seraya mengedipkan matanya ke arah Reyna.


"Hheee, jadi kamu nggak tidur ya? huhhh pura-pura tidur."


"Nggak juga sih, Tata. Aku sempat tertidur pulas, tetapi pada saat aku menghirup aroma wangi tubuhmu aku ingin membuka mataku, tapi sejenak aku ingin merasakan di manja olehmu dengan sentuhan tanganmu itu di wajahku," ucap Exel terkekeh.


"Hem, ternyata suamiku sudah mulai nakal ya?" Reyna mulai menggelitik Exel hingga suaminya itu tertawa ngakak.


"Hhhhaaaaa.... ampunan....Tata....sayang....sudah...geli...


Suaranya nyaring hingga terdengar oleh orang tua Reyna. Ayah dan ibunya hanya tersenyum seraya menggelengkan kepala mereka.


"Kelakuan anak dan menantu kita memang seperti anak kecil ya, Bu?" ucap Ayah Darmawan terkekeh.


"Biarkan saja, ayah. Mending mendengar mereka tertawa ngakak, dari pada mendengar mereka bertengkar," ucap Bu Wati.


"Iya juga sih, bu."


"Ih norak banget kamu, sayang. Sudah di bilang jangan tertawa keras-keras, malah seperti itu. Nanti terdengar apa nggak malu," ucap Reyna.


"Hhee nggak apa-apalah, kan kita sedang bercanda ria bukan sedang berantem. Lagi pula kamu kan yang memulai dulu pake acara menggelitik perutku. Sudah tahu jika aku ini paling anti di kelitik," ucap Exel terkekeh.


"Aku mau ke dapur ya, kamu mandi dulu gih," pinta Reyna.


"Nggak mau, aku ingin kita jalan-jalan sore bersama mengelilingi rumah ini," ucap Exel.


"Kamu nggak usah masak, biar para asisten rumah tangga yang melakukan hal itu. Karena aku sengaja menambah beberapa asisten rumah tangga supaya kamu atau ibumu tidak terlalu cape," ucap Exel.


Reyna tak berani membantah apa yang di katakan oleh suaminya. Dia pun menuruti kemauanmya, dan saat itu juga mereka keluar dari kamar.


Pada saat melangkah ke pelataran, Reyna sengaja tak mengenakan alas kaki membuat Exel bertanya.

__ADS_1


"Tata, kenapa kamu nggak menggunakan alas kaki?" tanyanya heran.


"Lebih sehat tanpa alas kaki, kata orang yang berpengalaman bagus untuk kesehatan ibu hamil," ucap Reyna tersenyum.


"Tapi aku khawatir kakimu menginjak sesuatu, Tata."


"Hist, sudahlah nggak perlu terlalu khawatir. Setiap hari kan sekeliling halaman kita bersih," ucap Reyna.


Hingga pada akhirnya, Exel pun hanya diam tak berkata lagi. Dia merangkul istrinya melangkah secara perlahan mengitari sekeliling halaman apartement Exel yang sangat luas.


Bercerita ngalor ngidul seraya memandang rimbunnya pepohonan yang terkena desiran angin sepoi-sepoi.


Pada saat baru sampai di samping rumah, tiba-tiba Reyna menjerit kesakitan.


"Aduh... kakiku...."


Dia pun menghentikan langkahnya, karena merasakan ada yang menancap di kaki kirinya.


Sontak Exel langsung khawatir pada saat melihat kaki kiri Reyna berdarah dan ada pecahan kaca menancap di kakinya.


"Aduhh, tuh kan Tata. Sudah aku nasehati bahwa kamu harus mengenakan alas kaki."


Dia lekas menelpon dokter pribadinya untuk segera datang ke rumah. Dan hanya beberapa menit saja, dokter itu datang dan mengobati luka di kaki Reyna.


"Sudah selesai, Mr. Lukanya sudah saya obati, tak usah khawatir lagi," ucap sang dokter tersenyum ramah.


"Terima kasih, dok. Jujur saja saya itu pubia dengan darah, dok. Makanya saya sangat takut pada saat melihat kaki istri saya terluka parah," ucap Exel dengan jujurnya.


Dokterpun berpamitan pulang setelah selesai mengobati luka telapak kaki Reyna.


"Tata, lain kali kamu harus menuruti perintah suamimu ini. Jangan seperti tadi ya, jangan bandel," goda Exel mencolek pipi istrinya.


"Iya, bos," Reyna terkekeh.


"Sayang, ini hanya luka kecil tetapi kenapa kamu terlihat khawatir sekali," ucap Reyna menatap manja suaminya.


"Jelas aku khawatir karena begitu sayangnya aku padamu dan anak ini, baby boy yang sudah tak sabar ingin aku gendong." Exel beberapa kali mengusap perut Reyna yang sudah terlihat membesar.

__ADS_1


Reyna tak pernah berhenti mengucapkan rasa syukur pada Allah, karena telah di pertemukan dengan suami sebaik Exel.


********


Waktu berjalan begitu cepatnya, hingga tak terasa sudah waktunya Reyna melahirkan.


"Tata, apa kamu tak apa-apa?" Exel begitu khawatir melihat Reyna yang terus menahan rasa sakit pada saat kontraksi.


"Nggak apa-apa, sayang. Ini sudah wajar di rasakan bagi ibu yang akan melahirkan anaknya, jadi kamu tak usah khawatir akan hal ini," Reyna berusaha tersenyum di saat diri nya menahan rasa sakit karena kontraksi.


"Tara, sebaiknya kamu tak usah melahirkan secara normal. Bagaimana kalau operasi Caesar saja, biar kamu tak merasakan sakit seperti itu,' ucap Exel tak tega.


"Aku nggak mau, aku ingin melahirkan secara normal saja."


Tak berapa lama dokter memeriksa kondisi Reyna, dan ternyata sudah waktunya untuk dia melahirkan.


"Sayang, sebaiknya kamu keluar saja," pinta Reyna karena dia tahu jika suaminya pubia darah.


"Nona, tidak apa-apa jika suami anda ingin mendampingi proses melahirkan. Kami tak akan melarangnya," ucap sang dokter.


"Tapi dok..


"Iya, sayang. Aku ingin menemanimu melihat pada saat anak kita di lahirkan jadi kamu jangan melarangku, dokter saja mengizinkannya," ucap Exel menyela perkataan dari Reyna.


"Hem, ya sudah terserah kamu saja kalau begitu."


Saat itu juga Reyna berjuang melahirkan anaknya dengan dia mengikuti arahan dokter dalam proses melahirkan tersebut.


"Oek oek oek"


Exel begitu ngeri pada saat melihat darah keluar dari jalan lahir dan juga melihat anaknya penuh dengan darah. Dia langsung menutup wajahnya dengan kedua tangannya, hal ini membuat dokter dan para perawat merasa heran.


"Maaf, dok. Suami saya pubia darah, jadi dia seperti itu. Makanya tadi saya melarang dia untuk menyaksikan proses melahirkan ini, tapi dia malah memaksanya," ucap Reyna menjelaskan.


"Sebaiknya anda keluar saja dulu, Tuan.Dari pada anda semakin ketakutan seperti itu," pinta sang dokter.


"Biar kami membersihkan tempat ini terlebih dahulu supaya anda nyaman dan tak melihat darah lagi," ucap dokter lagi.

__ADS_1


Hingga pada akhirnya Exel pun keluar dari ruangan bersalin. Tetapi dia merasakan kepalanya teramat pusing karena melihat darah yang begitu banyak.


"Budi, lekas kamu belikan aku obat sakit kepala dan air putih. Kepalaku sakit sekali," pintanya pada asisten pribadinya.


__ADS_2