Perjuangan Cinta Reyna

Perjuangan Cinta Reyna
Tidak Menemukan Titik Terang


__ADS_3

Setelah beberapa jam di ruang rawat, barulah Bu Wati sadarkan diri.


"Reyna-ayah, bagaimana kondisi anak-anak? apakah mereka baik-baik saja?" tanyanya lirih.


"Ibu, nggak usah khawatir. Kondisi anak-anak baik kok, sekarang ini jangan banyak pikiran dulu. Fokus saja untuk kesembuhan ibu ya," ucap Reyna merasa iba melihat ibunya yang lemah tergolek tak berdaya di brankar.


Tak berapa lama tiba-tiba datang Exel dengan membawa Komisaris Besar Joy untuk menginterogasi Bu Wati.


"Maaf, Bu. Aku sengaja membawa Pak Joy kemari untuk meminta keterangan dari ibu selaku korban penusukan. Aku ingin pelaku segera di tangkap supaya tidak berkeliaran di luaran sana," ucap Exel.


Bu Wati hanya merespon dengan menganggukkan kepalanya seraya tersenyum.


"Bu Wati, pada pukul berapa anda mengalami tragedi penusukan tersebut, dan apakah anda masih ingat adalah teman dari pelaku? intinya ada berapa pelaku?" tanya Komisaris Besar Joy dalam penyelidikannya.


"Pada waktu itu sekitar jam pulang sekolah, tapi tepatnya jam berapa saya tidak ingat Pak. Yang saya ingat dua orang memegangi tangan saya kanan kiri dan satu orang menusuk perut saya begitu saja."


"Lantas saat itu juga saya tidak sadarkan diri, sempat saya berteriak minta tolong dan sepertinya sebelum saya sadarkan diri saya sempat melihat security melawan tiga pelaku tersebut, Pak."


"Baiklah kalau begitu, terima kasih atas informasinya ya Bu. Mohon maaf telah mengganggu istirahat ibu sejenak. Dan ini saya ada beberapa foto para narapidana yang telah keluar dari penjara dan juga di cap sebagai buronan, mungkin ada salah satu dari mereka yang mungkin bisa dikatakan sebagai pelakunya. Coba ibu lihat baik-baik foto-foto ini ya Bu." Komisaris Besar Joy memperlihatkan beberapa foto tersebut pada Bu Wati, tapi tidak ada yang ia kenali sama sekali.


"Oh iya pak, saya hampir lupa. Ketiga pelaku tersebut mengenakan penutup muka dan memakai pakaian serba hitam sehingga saya tidak bisa mengenali bagaimana wajah mereka,' ucap Bu Wati lirih.

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu Bu, terima kasih. Saya permisi dulu karena akan memeriksa TKP kemungkinan bisa menjadi barang bukti untuk bisa menangkap pelaku yang telah menyakiti ibu."


Saat itu juga Komisaris Besar Joy berlalu pergi dari ruang rawat Bu Wati beserta Exel. Tanpa sepengetahuan Reyna dan orang tuanya, Exel telah memerintahkan beberapa anak buahnya untuk selalu waspada dan berjaga-jaga di sekitar ruang rawat Bu Wati dan juga di rumah dimana ada anak-anak.


Tak berapa lama sampailah Exel dan Komandan Komisaris Joy di TKP yakni tepatnya di pelataran sekolah Dika dan Romy. Mereka langsung menemui security menanyakan apakah ada CCTV dan ternyata ada.


Saat itu juga mereka mengecek CCTV yang ada di pelataran sekolahan tetapi tidak ada bukti yang kuat untuk bisa menangkap pelaku penusukan karena memang apa yang dikatakan Bu Wati itu benar adanya. Tiga pelaku menggunakan penutup wajah dan memakai pakaian serba hitam sehingga tidak bisa dikenali identitasnya sama sekali.


"Bagaimana ini Pak Joy, tidak ada bukti yang kuat untuk bisa menangkap para pelaku?" tanya Exel seolah meminta sebuah saran yang tepat.


"Kita coba dulu untuk memperbesar dan memperlambat rekaman CCTV ini, untuk melihat apakah ada suatu tanda dari salah satu pelaku yang bisa kita kenali sehingga kita bisa menangkapnya," saran Komisaris Besar Joy.


"Maaf Mr Exel, sepertinya memang sulit untuk menangkap jejak pelaku karena tidak ada bukti yang kuat sama sekali jadi saya tidak bisa untuk melanjutkan kasus penyelidikan penusukan ibu mertua anda. Sekali lagi saya minta maaf."


"Hanya satu pesan saya, setelah kejadian ini saya harap anda selalu waspada baik dimanapun berada sekiranya selalu memberikan pengawalan khusus bagi seluruh anggota keluarga anda juga anda sendiri. Karena saya yakin pelaku pasti akan berkeliaran untuk mencelakai salah satu dari keluarga anda ataupun anda sendiri."


Mendengar apa yang dikatakan oleh Komandan Komisaris Joy, sebenarnya Exel sangat kecewa. Tetapi dia berusaha tidak memperlihatkan rasa kecewanya tersebut padanya, dia pun hanya mengangguk seraya menyunggingkan senyumannya pada Komandan Komisaris Joy.


"Baiklah Pak, anda tidak perlu merasa bersalah seperti itu. Saya juga akan menuruti saran dari anda untuk selalu waspada," ucap Exel.


Sementara di suatu tempat seorang pria paruh baya merasa sangat kesal kepada anak buahnya karena apa yang telah ditugaskan olehnya gagal total.

__ADS_1


"Kenapa kalian bertiga begitu bodohnya, melaksanakan tugas sekecil itu saja tidak berhasil! Aku meminta kalian bukan hanya menusuk ibu itu tetapi juga membunuhnya dan pula membunuh dua anak kecil itu! tetapi kenapa kalian hanya menusuk satu kali si ibu lalu kalian pergi? padahal saat itu tidak ada pengawalan khusus pada diri mereka, ini kesempatan besar untuk bisa melakukan itu tetapi kenapa kalian tidak melakukannya? dasar bodoh, padahal kalian ini bertiga sedangkan ibu itu hanya seorang diri!" umpatnya lantang.


"Percuma aku bayar mahal kalian bertiga, jika melaksanakan suatu tugas sekecil ini pun tidak berhasil!" ucap ya kesal.


"Maafkan kami bos, pada saat itu kami panik karena tiba-tiba kami diserang oleh security yang ada di sana sehingga terpaksa kami melarikan diri karena kami takut apa yang kami lakukan diketahui olehnya."


"Dan juga sempat ada warga sekitar yang menolong si ibu. Jika kami tetap berada di sana kemungkinan kami bisa tertangkap basah dan itu juga akan merugikan anda, bukannya seperti itu bos?"


Salah satu anak buah tersebut membela diri di hadapan bosnya, tetapi sang bos bukannya mengerti dia malah mendekati anak buah tersebut dan langsung menamparnya dua kali.


Plak Plak


"Masih bisa kamu membela diri dan merasa dirimu ini benar, dasar pecundang! percuma kamu mempunyai badan besar seperti itu tetapi tidak ada nyali sama sekali!" ejek pria paruh baya tersebut.


Anak buah yang telah ditampar pipinya tersebut hanya diam tertunduk, dia tak bisa berkata-kata lagi karena tak ingin mendapatkan hukuman yang lebih parah lagi daripada itu.


"Kenapa kamu diam, coba kamu berkilah lagi, membela diri lagi! Aku ingin tahu apa yang ingin kamu katakan padaku lagi!" bentak pria paruh baya tersebut.


"Maafkan saya bos iya saya mengakui saya salah," ucap salah satu anak buahnya seraya tertunduk lesu.


"Sudahlah pergi kalian dari hadapanku, muak aku melihatnya! hanya badan doang yang kalian banggakan, tetapi otaknya otak tempe tidak bisa menjalankan tugas dengan baik. Kali ini aku tidak akan membayar kalian karena tugas kalian yang telah gagal total!"

__ADS_1


__ADS_2