Perjuangan Cinta Reyna

Perjuangan Cinta Reyna
Rony Pergi Dari Rumah


__ADS_3

Mendengar apa yang di katakan oleh Rara, justru membuat amarah Rony memuncak. Karena dia sudah tak tahan lagi hidup bersama dengan istri yang tukang ngadu seperti Rara.


"Kamu sadar diri nggak sih, dengan apa yang pernah kamu lakukan padaku selama ini? mentang-mentang aku kerja di perusahaan papahmu, kamu selalu saja merendahkan aku. Kamu pikir aku tak bisa hidup tanpamu? kamu pikir aku tak bisa mencari pekerjaan lain?"


Terus saja Rony menyerang Rara dengan segala perkataan yang pedas. Selama ini Rony hanya diem tak berkutik, paling jika sedang di serang oleh mertuanya dia hanya berlalu pergi begitu saja.


"Mas, jika sedang ada masalah tolong jangan seperti ini. Kita kan bisa bicara baik-baik, masa iya langsung ambil keputusan pisah?" Rara mencoba membujuk Rony.


"Kenapa baru sekarang kamu mengatakan akan hal ini? sebelumnya kamu kemana hah? wanita yang tukang ngadu itu cuma kamu saja tahu nggak?"


"Karena yang lain itu justru menutupi aib suami di hadapan orang tuanya sendiri. Silahkan kamu mengadu pada orang tuamu lagi tentang apa yang barusan aku katakan!"


Setelah mengucapkan banyak Rony segera melangkah ke kamar, entah kenapa dia tiba-tiba menata semua pakaian dia di dalam koper. Hal ini membuat Rara menjadi bertambah cemas dan panik.


"Mas, kamu mau pergi lagi? mas, duduklah dulu dan kita bisa bicara baik-baik supaya pikiranmu tenang tidak seperti ini," bujuk rayu Rara.


Hingga akhirnya Rony luluh dia pun duduk di tepi ranjang dan Rara ikut duduk pula di tepi ranjang di samping suaminya.


"Cepat kamu katakan saja karena waktu aku tak banyak!" bentak Rony ketus.


"Mas, aku itu cinta dan sayang padamu. Apa lagi setelah kita di karuniai dua orang anak yang sangat lucu. Rasa cintaku malah semakin bertambah, jadi aku takkan bisa berpisah denganmu," ucap Rara mulai menitikkan air matanya.


"Nggak usah drama dech kamu! kamu pikir tangismu itu akan membuat aku merubah segala keputusan aku, jelas tidak! selama ini aku sudah menahan rasa sakit ini. Sakit pada saat papahmu merendahkan aku, dan kamu malah diam saja seolah mendukung apa ya dilakukan oleh papahmu."


Mendengar akan hal itu, Rara hanya bisa diam dengan air mata masih membanjiri pipinya. Dia pun menyadari semua kesalahannya.


"Mas aku minta maaf ya, tolong jangan seperti ini padaku. Aku takkan bisa hidup tanpamu, anak-anak kita masih kecil mas," bujuk rayu Rara.


Selagi mereka bersi tegang, papah mertua dan mamah mertuanya datang.


"Rara, kamu dimana ?" teriak papahnya.


"Ya, pah. Aku sedang ada di kamar."

__ADS_1


Rara lekas keluar dari kamarnya.


"Lagi apa kamu, mana anak-anak?" tanya papahnya.


"Tidur, pah."


"Ra, kamu kenapa? wajahmu terlihat murung dan sedih seperti itu


?" tanya Papahnya menyelidik.


"Tidak ada apa-apa, pah. Hanya saja aku merasa hari ini lelah sekali," ucapnya singkat.


"Rony mana? tadi papah ke kantor tapi tak ada Rony," tanya papahnya celingukan mencari keberadaan Rony.


"Sedang ada di kamar, pah," ucapnya kembali tak banyak kata-kata.


"Ya ampun, siang-siang begini kok tidur? akhir-akhir ini suamimu papah lihat tak bersemangat kerja nya. Sering kali libur kan?" ucap papahnya.


Rara mulai kumat dia tak bisa kontrol supaya tidak membuka aib keluarga malah membuka nya.


"Apa, jadi selama ini pergi dari rumah dengan alasan ngantor tapi malah entah kemana? lantas kamu di perlakukan seperti ini hanya diam saja! biar aku yang hadapi dia, cepat panggi Rony! bentak papahnya hingga perkataannya terdengar hingga kamar dan Rony sempat mendengarnya.


"Baru saja ngomong, tapi sudah berulah lagi. Tak bisa banget sih mulutnya itu di bungkam sendiri!" batin Rony merasa geram.


Dia pun keluar dari kamar dan langsung menemui papah mertuanya.


"Ada apa mencariku, pah?" tanya Rony ketus.


"Kamu selama tidak ke kantor ngapain saja di rumah?" tanya papah mertuanya.


"Pah, bisa nggak ya jangan turut campur urusan rumah tangga kita? dan kamu Rara kenapa kamu masih saja tak berubah? jika seperti ini, aku akan tetap pada pendirian aku." Ancam Rony.


"Aku jelas ikut campur, jika kamu tak benar. Masa iya aku suruh diam saja ya nggak lah," ucap papahnya Rara.

__ADS_1


"Rara, kamu jangan menyalahkan aku ya. Saat ini juga aku akan keluar dari rumah ini, dan aku juga tidak akan lagi mengurus perusahaan papahmu yang sok turut campur urusan orang ini."


Rony berlalu pergi begitu saja tanpa menghiraukan adanya papah mertuanya.


Rony melangkah kembali ke kamarnya hanya untuk mengambil kopernya. Lantas dia berlalu pergi begitu saja tanpa menghiraukan lagi teriakan Rara.


"Rara, biarkan dia pergi. Tak usah di kejar pria kere seperti dia. Papah malah senang jika memang kamu pisah dengannya. Jadi untuk apa kamu tangis pria yang tak berguna seperti Rony."


"Kamu bisa kok mendapatkan suami lagi yang lebih baik dari Rony. Jadi untuk apa kamu bersedih. Dimana harga dirimu, karena sebenarnya derajatmu dengan Rony tinggi kamu."


Namun Rara terus saja menangis melihat kepergian Rony. Seumur hidup baru kali ini Rony begitu marah hingga membawa semua pakaiannya.


"Ra, kamu dengarkan papah ya. Tak usahlah kamu tangisi Rony lagi!" bentak papahnya.


"Biar nanti papah yang urus perceraianmu ya! kamu tak usah khawatir!"


"Pah, aku tak mau cerai dari Mas Rony. Karena ada dua anak, pah. Bagaimana nanti masa depan mereka jika tanpa adanya seorang ayah?" ucap Rara.


"Kamu ini ngomong apa sih, Ra? kamu masih saja keberatan dengan perginya Rony? kamu ini masih muda, jadi tak usah khawatir. Mati satu tumbuh seribu," ucap Papahnya.


"Pernikahan itu bukannya suatu permainan, jika sudah tak cocok lantas cerai dan nikah lagi dengan pasangan yang baru. Hal ini membuat kita harus adaptasi lagi," ucap Rara ketus.


"Ra, pada dasarnya Rony itu tak punya apa pun kan? papah dulu hanya melihat jika papahnya Rony teman sekolah papah. Makanya Papah izinkan kalian menikah waktu itu."


"Kamu tahu sendiri kan, selama ini dia hanya bermodalkan dengkul saja!"


Mendengar hinaan papahnya terhadap Rony, Rara langsung protes dan tak terima.


"Pah, jangan hina Mas Rony! bagaimana pun dia adalah papahnya anak-anak," ucap Rara ketus.


"Jika kamu ingin tetap bersamanya dan tak dengarkan apa yang papah katakan, saat ini juga kamu kemasi barang-barang mu dan sana kamu ikuti Rony.


Rara tak bisa berkutik lagi, dia takkan mungkin bisa berbuat apa pun juga, jika papahnya sudah marah.

__ADS_1


__ADS_2