
Rara terus saja mendapatkan ejekan dari Papahnya, hal ini karena rasa iri dirinya setelah melihat sendiri Reyna memiliki suami yang sangat kaya dan juga tampan.
"Pah, kenapa sepulang dari rumah Mas Rony. Papah menjadi seperti ini padaku, memojokkanku," ucap Rara dengan mata berkaca-kaca.
"Aku tidak memojokkanmu tapi berkata yang sebenarnya. Ah sudahlah, percuma ngomong denganmu!'
Papahnya berlalu pergi begitu saja meninggalkan Rara. Sementara mamahnya hanya bisa melihat hal itu dengan menggelengkan kepalanya.
"Mah, kenapa hanya diam dan tak membelaku?" protes Rara menghampiri mamahnya yang sedang menggendong anak bungsu Rara.
"Bukankah kamu susah tahu jika papahmu itu sifatnya keras, percuma saja jika mamah ikut bicara tidak akan di dengarnya yang ada mamah akan mendapatkan omelan dari papahmu. Makanya lebih baik mamah diam saja. Cuba kamu usaha dengan mencari pasangan hidup lagi yang sesuai dengan kriteria papahmu," ucap mamahnya.
"Kok mamah ikut memojokkanku?"
"Nak, mamah bukan ikut memojokkanmu. Tetapi apa yang di katakan papahmu itu ada benarnya. Lagi pula jika kamu bisa mendapatkan pria kaya, kamu juga kan yang akan bahagia. Reyna saja yang janda dua kali bisa mendapatkan pria kaya raya dan masih lajang. Masa iya kamu yang janda satu kali tak mampu. Kamu ini berpendidikan tinggi berbeda dengan Reyna yang SLTA saja nggak tamat. Seharusnya kamu lebih pintar darinya," ucap mamahnya lagi.
"Mah, sudahlah jangan seperti ini. Mamah bukannya menyelesaikan masalahku tapi malah menambah masalah," ucap Rara.
Mamah berlalu pergi begitu saja karena dia sudah tak ingin berdebat dengan Rara. Bahkan ia memberikan cucunya pada Rara.
"Ini semua gara-gara Reyna, dia yang membuat orang tuaku sendiri memojokkanku," gumamnya kesal.
*******
Sore menjelang, sudah waktunya Exel pulang dari kantor. Dia pun pulang dengan rasa senang karena selama di kantor hanya Erlan yang selalu menjadi pusat perhatiannya.
Dia sudah tak sabar lagi ingin bermain bersama anaknya itu. Dia pun buru-buru untuk pulang.
"Budi, ayok kita lekas pulang karena aku sudah ingin lekas sampai di rumah," pinta Exel langsung saja masuk ke dalam mobil.
Budi lekas saja melajukan mobilnya menuju arah pulang ke apartement mewah Exel.
__ADS_1
"Hem, aku senang sekali jika melihat wajah bahagia majikanku ini," batin Budi seraya melirik dari kaca spion.
Tak berapa lama mereka telah sampai di apartement milik Exel. Langsung saja Exel melangkah ke kamar untuk membersihkan tubuhnya sebelum mendekati Erlan.
Hanya beberapa menit saja, Exel telah memakai baju santai dan ia segera mencari keberadaan Erlan.
"Erlan sayang...kamu di mana, nak?" Exel melangkah ke kamar Erlan, tapi ia tidak ada di tempat.
"Tata sayang, kamu dan Erlan ada dimana?" Exel mencari kembali istri dan anaknya.
Dan ia pun akhirnya menemukan keberadaan anak dan istrinya di ruangan khusus bermain.
"Ya ampun, papah cari-cari ternyata ada di sini." Exel langsung menggendong anaknya seraya menciuminya.
"Pah, aku kok nggak dengar ada mobil masuk? makanya aku tak tahu jika papah sudah pulang," ucap Reyna.
Mereka melangkah ke luar dari ruangan tersebut.
Exele membawa anaknya keteras halaman, sementara Reyna membuatkan kopi kesukaan Exel.
Pertumbuhan Erlan begitu cepat, umur satu tahun sudah bisa berjalan walaupun belum begitu lancar. Dengan penuh kegirangan Erlan mulai melangkah mengejar Exel. Jika sudah berada di pelukan Exel, ia akan melepaskan pelukannya dan ia mundur beberapa langkah supaya Erlan berjalan ke arahnya lagi. Demikian seterusnya di lakukan berkali-kali dengan sesekali Baby Erlan Tertawa riang.
Tak berapa lama, Reyna telah datang dengan membawa kopi dan beberapa macam cemilan. Karena sudah menjadi kebiasaan Exel jika sepulsng kerja pasti minum kopi dan ngemil.
"Pah, ini kopinya sama cemilannya ya. Aku ambil makanan untuk Erlan dulu sebentar ya, pah."
Reyna meletakkan kopi dan cemilan di meja, ia pun masuk kembaki ke dalam rumah menuju ke ruang makan untuk mengambil makan sore untuk Erlan.
"Pah, biar Erlan sama mamah dulu. Papah istirahat gih, Erlan mammak sore dulu."
Erlan sedang senang berjalan-jalan, hingga Reyna menyuapi anaknya sambil menjaganya di saat anaknya terus saja berjalan.
__ADS_1
Exel begitu senang, di saat dia duduk sambil makan cemilan dan meminum kopinya sedikit demi sedikit. Ia sembari melihat istrinya lari-lari mengejar Erlan untuk menyuapinya.
"Luar biasa kasih sayang seorang ibu. Reyna aku sungguh beruntung mendapatkan dirimu, apa lagi saat ini ada buah cinta kita. Reyna begitu sabar dalam mengurus Erlan, tidak pernah mengeluh sama sekali," gumam Exel seraya terus menatap istri dan anaknya.
Selagi asik menyuapi Erlan, tiba-tiba Reyna merasakan kepalanya pusing dan ia tak sadarkan diri saat itu juga. Hal ini membuat Exel yang melihatnya langsung berlari ke arah Reyna.
Exel lekas memanggil ibu mertuanya, dan semua orang karena rasa paniknya.
"Bu-ibu, tolong kemari! Mamang-Bibi,"
Semua orang pun datang dan Bu Wati langsung menggendong Erlan.
"Kenapa dengan, Reyna?" tanya Bu Wati.
"Mamang panggil Budi suruh bawa mobil kemari karena aku akan membawa istriku ke dokter." Pinta Exel panik dan cemas.
Mamang lekas memanggil Budi dan security juga lekas membuka pintu gerbangnya. Setelah mobil ada di pelataran, Exel lekas mengangkat tubuh Reyna masuk ke dalam mobilnya.
Tanpa menunggu perintah dari Exel, Budi melajukan mobilnya arah rumah sakit terdekat. Dan hanya beberapa menit saja, mereka telah sampai di rumah sakit terdekat.
Reyna langsung di bawa ke ruang pemeriksaan untuk mendapatkan penanganan intensif. Beberapa menit kemudian, dokter sudah keluar dari ruang pemeriksaan tersebut. Exel pun langsung menghampirinya.
"Dok, bagaimana kondisi istri saya?" tanya Exel panik.
"Selamat ya, Mr. Anfa tak perlu khawatir karena saat ini istri anda sedang hamil empat Minggu. Kondisinya baik-baik saja," ucap sang dokter.
"Serius, dok? tapi tadi istri saya tiba-tiba pingsan begitu saja, makanya saya sangat panik dan cemas," ucap Exel masih belum percaya dengan apa yang di katakan oleh dokter.
"Sangat serius, Mr. Istri anda pingsan karena perubahan hormon pada dirinya," ucap dokter.
"Tapi waktu hamil anak kami yang pertama, ia tak pingsan seperti ini," ucap Exel.
__ADS_1
'Tidak setiap kehamilan itu siklusnya sama dan hormon yang di produksi sama. Gejala kehamilan juga tidak semua sama, Mr." Ucap dokter meyakinkan pada Exel bahwa kondisi Reyna tidak apa-apa itu hanya gejala awal dari kehamilan.