Perjuangan Cinta Reyna

Perjuangan Cinta Reyna
Menyerah


__ADS_3

Setelah bayi dan Reyna sudah di pindahkan ke ruang rawat khusus pasca bersalin, barulah Exel berani menghampiri lagi.


Tak lupa Exel mengazani anak lelakinya itu, dan memberinya nama Erlan.


Berlimpah-limpah kebahagiaan kini sedang dirasakan oleh rumah tangga Exel dan Reyna.


"Tata, aku pikir orang melahirkan itu tidak mengeluarkan darah sebegitu banyaknya, ya ampun aku masih ingat begitu ih ngeri sekali deh," ucap Exel yang membuat Reyna sempat terkekeh.


"Makanya tadi kan aku memintamu untuk keluar tapi kamu memaksa saja. Hingga pada akhirnya kamu melihat apa yang kamu takutkan selama ini kan?"


"Aku begitu pusing, pandangan mataku tiba-tiba berkunang pada saat melihat darah yang begitu banyaknya. Ternyata begitu besar ya perjuangan seorang istri seorang ibu untuk bisa melahirkan seorang anaknya," ucap Exel menghela napas panjang.


"Makanya itu kamu harus setia pada istrimu ini dan sepenuhnya harus selalu menyayangi istri dan anakmu," celoteh Reyna menahan rasa ingin tertawa.


"Aku pasti tidak akan mengecewakanmu, tak perlu kamu memintaku untuk setia atau bertanggung jawab. Aku pasti akan melakukan semuanya itu dan menjalankan peranku sebagai seorang ayah dan suami dengan sebaik-baiknya," ucap Exel.


Waktu berjalan begitu cepatnya tak terasa kini usia Erlan sudah genap memasuki umur satu tahun. Pada saat Exel ingin mengadakan pesta ulang tahun untuk anaknya kembali lagi Reyna mengingatkannya.


"Pah, tak perlu adanya pesta-pesta seperti itu sebaiknya kita pergunakan uang untuk hal-hal yang positif. Misalnya untuk bersedekah di panti asuhan atau pada orang-orang yang lebih membutuhkannya."


"Aku ingin kita mengajarkan kepada anak kita supaya mempunyai jiwa welas asih yang tinggi. Aku tidak ingin kelak anak kita terbiasa dengan menghambur-hamburkan uang."


Mendengar apa yang dikatakan oleh Reyna tidak lantas membuat tersinggung ataupun marah padanya. Tetapi ia justru meminta maaf karena dia hampir melupakan pesan Reyna waktu itu.


"Maafkan aku, mah. Hampir lupa akan pesanmu waktu itu. Baiklah acara ulang tahun untuk Erlan sebaiknya kita gunakan untuk beramal di beberapa panti asuhan bukan satu panti asuhan saja tapi beberapa panti asuhan," ucap Exel dengan penuh antusiasnya.

__ADS_1


Saat itu juga Exel memerintahkan anak buahnya dan beberapa asisten pribadinya untuk mengatur segalanya. Dalam waktu satu hari itu, Exel mempergunakan waktunya untuk beramal ke beberapa panti asuhan dan tak lupa mengadakan syukuran doa bersama di rumah.


"Terima kasih ya Allah. Aku mempunyai suami yang sangat bijaksana penuh kasih dan sayang. Dia sama sekali tidak mudah tersinggung dan tidak pernah egois bahkan dia selalu mendengarkan teguran positif dariku. Semoga rumah tangga kami selalu langgeng untuk selamanya," ucap syukur Reyna di dalam hati.


Kebahagiaan yang dirasakan oleh Reyna justru membuat Rony semakin terbakar api cemburu hingga dia pun memutuskan untuk pindah dari rumahnya karena dia tak ingin setiap hari melihat keromantisan kemesraan antara Reyna dan Exel.


"Aku sudah tidak bisa lagi berada di sini, lebih baik aku pergi dari sini daripada setiap hari makan hati melihat bahagianya Reyna bersama suaminya itu, sementara aku tidak bisa menggapai Reyna karena keterbatasan ekonomiku."


Saat itu juga Rony mengemasi semua pakaiannya dan dia juga telah menawarkan rumah tersebut kepada salah satu temannya. Kebetulan teman tersebut langsung bersedia membeli rumahnya dengan harga yang telah ditawarkan olehnya.


Dia pun pindah ke kota lain lagi, tanpa dia ingat dengan anak kandungnya dari pernikahannya bersama Rara. Rony masih punya satu anak bungsu dari Rara. Akan tetapi dia tak pernah sekalipun ingat untuk menjenguk atau memberi nafkah pada anak bungsunya. Padahal usahanya lumayan menghasilkan.


Yang dia pikirkan hanyalah Reyna dan Romy saja. Hal ini membuat orang tua Rara semakin membenci Rony.


"Nggak pernah, mah. Sejak meninggalnya Aris, dia sama sekali tak pernah menghubungi aku lagi. Aku pikir dengan meninggalnya Aris, dia akan berubah lebih perhatian pada si bungsu. Tapi sama saja, pah," ucap Rara.


"Lantas setelah kamu tahu seperti itu kamu berdiam diri saja? nggak datangi dia dan meminta hakmu itu?" tanya papahnya lagi.


"Nggak, pah. Aku malas ke sana apa lagi rumahnya itu tepat di seberang rumah mantan istrinya," ucap Rara.


Mendengar apa yang dikatakan oleh Rara, papahnya semakin bertambah emosi saja.


"Apa, jadi selama berpisah denganmu Rony tinggal tepat di seberang rumah mantan istrinya yang dulu itu? lantas kenapa kamu diam saja dan tak menceritakan hal ini pada papah."


"Bisa jadi Rony melakukan hal itu karena dia masih mempunyai perasaan pada mantan istrinya, sehingga dia mengutamakan mantan istrinya dan menelantarkan kamu dan anakmu."

__ADS_1


"Ini tidak bisa dibiarkan Rara, seharusnya dari awal kamu bercerita pada papah supaya papah yang akan menyelesaikan hal ini dengan menegur Rony, supaya dia tidak berbuat seenaknya saja padamu dan anakmu."


Saat itu juga papahnya Rara berlalu pergi dari hadapan Rara dia pun berinisiatif untuk menemui Rony di rumahnya. Setelah terlebih dahulu dia mendapatkan alamat rumah Rony dari Rara.


"Papah mau ke mana? sebaiknya tak usah pergi ke rumah Mas Rony. Biarkan saja dia bersikap seperti itu. Aku juga sudah lelah menghadapi dirinya, Pah," teriak Rara akan tetapi tak dihiraukan oleh papahnya.


Dia tetap akan menyambangi rumah Rony untuk memberikan sebuah teguran. Perjalanan ke rumah Rony memakan waktu beberapa jam lamanya.


"Jadi ini rumah Rony, dan menurut Rara di seberang rumah Rony adalah rumah mantan istrinya. Sementara di seberang rumah ini hanya ada rumah mewah megah bak istana. Apa iya itu rumah mantan istri Rony?"


Papah Rara lekas mengetuk pintu rumah Rony, akan tetapi tidak ada sahutan sama sekali. Bahkan dia berkali-kali mengetuk pintu rumah tersebut. Karena tidak kunjung mendapatkan balasan dari dalam rumah. Papahnya menyambangi rumah tetangga yang ada tepat di samping rumah Rony untuk menanyakan keberadaannya.


"Maaf, Bu. Saya mengganggu waktunya sebentar." Papah Rara menangkupkan kedua tangannya di dada seraya mengulas senyuman pada tetangga tersebut.


"Ada apa ya, pak?" tanyanya heran.


"Bu, apakah tahu dimana pemilik rumah di samping rumah ibu ini?" tanyanya.


"Oh, Mas Rony. Dia baru saja pindah beberapa jam yang lalu," ucapnya.


"Pindah, apakah ibu tahu pindah kemana?" tanya papah Rara kembali.


"Maaf, pak. Saya tidak tahu, tadi Mas Rony hanya berpamitan akan pindah rumah tanpa memberi tahu dimana pindahnya," ucapnya.


Papah Rara menjadi kecewa karena jauh-jauh dia datang tapi tak membuahkan hasil yang positif. Hingga pada akhirnya dia memutuskan untuk pulang ke rumah saja. Dia enggan untuk mencari berkeliling dimana saat ini Rony berada.

__ADS_1


__ADS_2