
Setelah mendengarkan penjelasan dari dokter, Exel langsung masuk ke ruang pemeriksaan untuk menemui Reyna.
Kebetulan pada saat itu Reyna telah sadarkan diri dan dia mengulas senyum kepada suaminya yang sedang menghampiri dirinya.
"Tata, kamu saat ini sedang hamil. Aku sangat senang sekali pada akhirnya Erlan akan memiliki seorang adik." ucap Exel seraya menggenggam kedua tangan Reyna dan tak lupa mengecup keningnya.
"Alhamdulillah, iya sayang. Aku juga sudah tahu tentang hal ini dari dokter barusan."
Tiada hentinya Reyna mengulas senyum kebahagiaan begitu pula dengan Exel. Mereka saat ini merasa sangat senang karena akan di anugerahi seorang anak kembali.
"Ingat loh, kamu tak boleh capek-capek. Kalau perlu aku akan mencari baby sitter untuk menjaga Erlan supaya kamu tidak terlalu lelah," ucap Exel.
Karena selama ini Reyna murni merawat anaknya sendiri tanpa ada bantuan dari seorang baby sitter.
"Sayang, aku tidak ingin anak-anak kita dirawat oleh baby sitter. Aku ingin dengan tanganku sendiri membesarkan mereka, jika perlu aku akan berhenti total dari aktivitasku," ucap Reyna.
"Apa kamu yakin dengan ucapanmu itu, Tata?" tanya Exel ragu.
"Aku sangat yakin sayang, aku percaya sepenuhnya padamu karena kamu adalah suami terbaik dan ayah yang baik bagi anak-anakku."
"Aku tidak akan melakukan aktivitas di luar rumah, aku akan sepenuhnya mengurus Erlan dan anak yang saat ini ada dalam kandunganku."
"Biarlah salon dan restoran yang aku punya aku serahkan sepenuhnya padamu. Jika kamu tidak sanggup mengurusnya aku ikhlas jika akan dijual."
"Karena aku yakin, hasil dari jerih payahmu saja mampu untuk menafkahi keluarga kita."
Mendengar apa yang di katakan oleh Reyna, membuat hati Exel trenyuh. Dia tak menyangka jika istrinya akan berkata seperti itu dengan menyerahkan dua usaha yang di gelutinya dari nol, padanya.
"Tata, aku tidak akan menjual usaha yang kamu rintis dengan susah payah dari nol. Justru akan tetap berjalan, aku yakin mampu kok mengelolanya."
"Aku kan punya banyak orang kepercayaan yang bisa di andalkan. Bagiku sayang jika restoran dan salon yang sedang berkembang pesat di jual begitu saja."
"Ini bisa di jadikan sebagai investasi jangka panjang untuk kelak bisa kita wariskan ke anak-anak kita. Karena aku sangat tahu jika jaman sekarang sangat susah untuk mencari sebuah pekerjaan.
Exel seorang pengusaha dan pembisnis, hingga ia tahu sekali pahit manis dalam berbisnis. Ia tidak akan begitu saja menjual salon dan restoran milik Reyna. Itu sangat di sayangkan menurut dirinya. Karena ia paham bagaimana susahnya merintis usaha dari nol.
__ADS_1
"Ya sudah, terserah kamu saja sayang. Aku membuat keputusan seperti itu karena aku tak ingin kamu terlalu cape dan terlalu sibuk dengan urusan kantor dan urusan salon serta restoranku."
'Aku ingin sesekali kamu luangkan waktu untuk keluarga. Aku pikir jika restoran dan salon di handle olehmu pasti akan semakin bertambah sibuk hingga tak ada waktu untuk keluarga."
"Sayang, bagiku harta yang paling indah dan berharga itu keluarga. Tapi bukan keluarga Cemara loh ya?"
Ucap Reyna terkekeh, ia pun segera meminta suaminya untuk menanyakan pada dokter apakah ia di izinkan untuk pulang ke rumah.
"Sayang, dari tadi kita ngobrol terus. Coba kamu tanyakan pada Dokter apakah aku di izinkan pulang saat ini juga, karena aku sudah tak betah di sini," pinta Reyna.
"Oh ya, aku juga hampir lupa. Dokter tadi mengatakan kamu boleh langsung pulang kok. Tapi aku tebus resep obatnya dulu ya?"
Pada saat Exel akan melangkah pergi, Reyna meraih lengannya.
"Sayang, tunggu dulu. Aku nggak mau di tinggal sendirian di sini. Aku ikut ya, sekalian kita jalan pulang," pinta Reyna memelas.
"Memangnya kamu nggak lemas saat berjalan?" tanya Exel ragu.
"Aku lemasnya saat kamu hajar di kasur," canda Reyna terkikik membuat Exel menyunggingkan senyuman.
"Aauhh... kenapa di cubit sih, seharusnya mah di cium." Exel menunjuk ke pipinya sendiri seraya mengerlingkan satu matanya.
Keduanya tak sadar jika banyak yang melihat aksi mereka dengan senyam senyum yakni para perawat yang melintas serta para pengunjung rumah sakit.
"Wah, romantis sekali mereka. Sudah yang cowoknya sangat tampan dan perempuannya juga cantik memikat hati."
"Aissssttt so sweet sekali mereka, aku jadi iri dech. Coba saja ada satu pria seperti itu tersisa untukku, pasti aku sangat bahagia dech."
"Waaaahhhh asik betul mereka, hem bikin ngiler gwe dan bikin iri saja dech."
Demikian beberapa perawat atau pengunjung rumah sakit yang sempat terpesona dan terhipnotis melihat keromantisan antara Exel dan Reyna.
Exel melangkah ke bagian apoteker dengan merangkul mesra Reyna sedangkan Reyna mengapit pinggang Exel. Hanya beberapa menit saja mereka menebus obat di dalam apoteker. Setelah itu mereka melangkah bersama menuju ke pelataran rumah sakit di mana Budi sudah menanti di depan kemudinya.
Keduanya langsung masuk ke dalam mobil dan Budi langsung melajukan mobilnya menuju ke apartemen mewah milik Exel.
__ADS_1
Hanya beberapa menit saja mereka telah sampai di pelataran apartement mewah Exel. Mereka disambut oleh Ayah Darmawan serta Ibu Wati yang dari tadi sudah menunggu kepulangan mereka.
"Reyna, apa yang dikatakan oleh dokter apa kamu baik-baik saja?" tanya Bu Wati panik.
"Iya Reyna, kamu tidak memiliki penyakit yang serius bukan?" tanya Ayah Darmawan ikut panik juga seperti istrinya.
"Ayah-ibu, kalian tak perlu cemas dan panik seperti itu. Justru ada kabar gembira buat kalian berdua, karena saat ini aku sedang hamil lagi," ucap Reyna sumringah.
"Alhamdulillah ya Allah." Kedua orang tua Reyna langsung memeluknya.
"Syukurlah kalau begitu, kami berdua sempat panik karena memikirkan kondisi kamu yang tiba-tiba pingsan begitu saja," ucap Ayah Darmawan.
"Selamat ya, Nak Exel. Sebentar lagi kamu akan memiliki momongan kembali." Ayah Darmawan menepuk bahu menantu kesayangannya itu.
"Iya, ayah. Terima kasih ya."
"Ya sudah sana kamu istirahat, kebetulan Erlan sedang tidur," pinta Ayah Darmawan.
Saat itu juga Exel merangkul lembut Reyna membawanya melangkah masuk ke dalam rumah menuju ke kamarnya. Setelah sampai di dalam kamar, Exel mengecup lembut bibir Reyna yang membuat Reyna horny.
Ia begitu rakus membalas kecupan dari Exel membuat suaminya sempat heran dengannya.
"Sayang, aku mau," rengek Reyna.
Exel heran dengan tingkah Reyna yang tiba-tiba meminta bercinta.
"Tata, apa nggak apa-apa?" tanya Exel ragu.
"Bukankah pada waktu hamil Erlan, juga dulu kita tetap melakukannya kan?"
"Iya aku tahu, tapi kamu kan tadi pingsan."
"Hem, pingsannya kan tadi bukan sekarang."
Hingga pada akhirnya mereka melakukan percintaan dan Exel melakukan dengan sangat hati-hati mengingat istrinya sedang hamil muda.
__ADS_1