Perjuangan Cinta Reyna

Perjuangan Cinta Reyna
Gangguan Dari Rony


__ADS_3

Rony merasakan lelah dengan pekerjaan kasarnya sehingga dia memutuskan untuk berhenti saja.


"Sebaiknya aku berhenti saja kerja bangunan, dan aku jual saja mobilku untuk modal usaha. Biar aku ganti memakai sepeda motor saja yang terpenting ada kendaraan yang bisa aku pakai," batin Rony.


Saat itu juga Rony membawa mobilnya ke sebuah dealer mobil untuk dia jual sebagai modal usaha. Setelah itu dia membeli motor second untuk transportasi dirinya.


"Aku akan membuka suatu usaha percetakan saja karena kebetulan rumahku dekat dengan sebuah universitas," batin Rony.


Dia juga menjual rumahnya dan membeli rumah baru yang letaknya tak jauh dari apartement Mr Exel. Dia sengaja melakukan hal itu supaya bisa lebih leluasa dalam memantau kehidupan Reyna.


"Dengan seperti ini aku bisa memantau segala aktivitas yang Reyna lakukan dan aku juga bisa mendekati Romy supaya membantuku mendapatkan cinta Reyna kembali," batinnya sumringah.


Rony sangat keras kepala, padahal sudah sangat jelas jika dia sudah di tolak mentah-mentah tetapi masih saja dia berusaha dan terus berusaha untuk bisa menggapai cinta Reyna.


*****"**


Beberapa hari kemudian, di kala ada waktu luang. Dia diam-diam mengikuti mobil Reyna menuju ke sekolahan Romy.


"Tumben Reyna hari ini tidak di dampingi sopir pribadi yang barbar itu! tapi ini merupakan keuntungan dariku bisa leluasa mengikuti Reyna. Sebenarnya aku malu juga karena sudah tak punya apa-apa hanya motor ini dan rumah kecil yang ada tak jauh dari rumah Reyna. Tapi nggak apa-apa, setidaknya semangatku untuk mendapatkan Reyna tak pernah padam," batinnya senang.


Saat itu juga Rony menghampiri Reyna yang sedang menuntun Romy melangkah ke mobilnya.


"Romy, apa kabar? papah kangen banget denganmu, nak. Sini mendekat pada papah karena papah ingin peluk kamu."


Rony mencoba meraih tangan Romy, tetapi Romy secepat kilat bersembunyi di balik punggung Reyna.

__ADS_1


"Mas, untuk apa sih kamu terus saja berusaha mengganggu kami?" bentak Reyna lantang.


"Aku tidak menggangu, justru aku merindukan Romy. Apakah salah seorang papah ingin bertemu anak kandungnya?" ucap Romy menatap sendu Reyna.


"Memang tidak salah, tetapi anaknya yang tak mau bertemu denganmu. Dia malah ketakutan, jadi jangan di paksa, pergilah mas. Atau aku telpon seluruh anak buah suamiku supaya menyeret atau bahkan menghajarmu sekalian!" ancam Reyna lantang.


"Reyna aku mohon padamu, beri aku waktu untuk bicara sejenak," pintanya.


"Bukankah dari tadi aku telah memberimi waktu, sudah cukup waktu yang aku berikan. Permisi aku akan pulang," akan tetapi pada saat Reyna akan masuk ke dalam mobil, Rony menghadangnya.


"Ada apa lagi sih, mas? apa kamu nggak mikir, kita sudah punya kehidupan masing-masing, aku sudah punya suami dan bahkan sebentar lagi akan punya anak. Kamu juga pikir saja istri dan anak-anakmu! nggak punya pikiran apa!" bentak Reyna sudah tak bisa mengendalikan emosinya.


"Reyna, kamu salah. Aku sudah bercerai dari istriku bahkan kedua anak ikut ibunya. Sudah tidak bada lagi penghaleng untuk kita bisa bersama lagi."


"Reyna, kita bisa mulai dari awal. Aku tak masalah jika saat ini kamu sedang hamil bukan anakku. Mari kita rawat bersama, apa lagi ada Romy anak dari hasil cinta kita berdua."


"Mas, kamu itu bodoh. Sudah punya dua anak dan punya istri malah bercerai, dan untuk mengejar aku yang telah bersuami. Kamu pikir aku akan mau kembali padamu setelah apa yang dulu pernah kamu lakukan padaku. Ah sudahlah, tak usah kamu sia-siakan waktumu hanya untuk hak yang tak mungkin terjadi."


Reyna tak ingin lagi mendengar apa yang di katakan oleh Rony, dia pun lekas masuk ke dalam mobilnya dan segera melajukannya.


"Sayangku Reyna, tunggu jangan pergi. Setidaknya aku ingin ngobrol dan bermain dengan Romy," teriaknya namun tak di dengar sama sekali oleh Reyna.


"Dasar orang aneh, sudah punya istri dan anak masih saja ganggu kehidupan aku. Nggak ingat pada saat dulu menyia-nyiakan aku begitu saja," batin Reyna kesal karena harus bertemu dengan Rony.


"Hidupku jadi nggak nyaman dengan datangnya Rony lagi. Semoga urusan Hanny lekas kelar hingga aku ada yang mengawal lagi," batin Reyna.

__ADS_1


Dia sudah nyaman sejak adanya Hanny yang menjadi asisten pribadinya. Dan benar-benar menjaga dirinya dari gangguan orang-orang seperti Rony.


Tak berapa lama, sampai juga Reyna di rumah. Dan dia terhenyak kaget pada saat di teras halaman sudah ada Mr Exel yang sedang menatap dirinya seraya berkacak pinggang.


"Sayang, kok kamu sudah pulang?" tanya Reyna memicingkan alisnya melihat raut wajah masam suaminya.


Mr Exel hanya diam masih saja menatap Reyna tak berkedip.


"Romy, kamu masuk ya ganti pakaianmu dan temui nenek. Kebetulan nenek ada di belakang."


"Iya, mah." Romy lekas masuk ke dalam rumah tapi terlebih dulu dia mendekati Mr Exel.


"Papah....keep smile dong. Kalau seperti itu aku jadi takut," ucapnya hingga membuat Mr Exel menyunggingkan senyum keterpaksaan dan menciumi Romy.


"Heee dasar anak pintar, sana masuk ya. Papah ingin ngomong dulu sebentar sama mamahmu," ucap Mr Exel.


"Pah, janji ya ngomong saja jangan ngomelin mamah," ucapnya seraya tersenyum dan menangkupkan kedua tangannya di dada lantas berlari masuk ke dalam rumah.


Mr Exel pun terkekeh begitu pula Reyna. Setelah itu Mr Exel menghampiri Reyna begitu dekatnya hingga tak ada jarak sedikitpun. Dia langsung memeluk pinggang Reyna begitu eratnya.


"Sayang, kenapa tadi kamu murung padaku? jika aku punya salah mohon maaf," ucap Reyna menatap sendu pada suaminya.


"Sebenarnya aku ingin marah padamu, tetapi gara-gara Romy sudah mengingatkan supaya aku tak ngomel padamu, jadinya niatku aku urungkan," ucap Mr Exel seraya mencolek hidung mancung Reyna.


"Memangnya apa yang menyebabkanmu marah padaku?" tanya Reyna penasaran.

__ADS_1


"Berapa kali aku ingatkan padamu, supaya jangan sekali-kali pergi sendirian. Karena di luar sana ada Santika dan mantan suamimu yang berniat tak baik. Tapi kamu sama sekali tak menghiraukan perkataanku. Jika Hanny sedang ada urusan dan tak bisa mendampingi dirimu, kan banyak anak buahku. Kamu bisa minta salah satu anak buahku untuk mendampingi dirimu," ucap Mr Exel.


"Sayang, apa kamu lupa. Jika kamu tak suka kan aku di dampingi oleh pria, makanya kamu memilihkan seorang wanita untuk mendampingi aku. Karena dari itu aku tak berani meminta padamu untuk meminta satu anak buahmu mendampingi aku," ucap Reyna.


__ADS_2